Rangga dan Rara (Mencintai Anak Mantan)

Rangga dan Rara (Mencintai Anak Mantan)
58. Setelah 17 tahun berlalu.....


__ADS_3

Happy Reading.


Di sebuah toko bunga.


Seorang wanita anggun, cantik mempesona, menggunakan hijab, tampak sedang memilih buket bunga. Setelah mendapatkan bunga sesuai pesanan ibunya, dia segera melakukan pembayaran, lalu keluar menuju mobil yang sedang menunggu di parkiran. Khanza Ghaniya Artawijaya, putri bungsu Rafa Ravendro Artawijaya dan Azahra Radya Almira. Istri kesayangan Sahreza Gracio atau Ryu Deva Mayandra.


Di dalam mobil sudah menunggu Ara, mamanya. Setelah Dia masuk, mobil yang di kemudikan oleh Raka Ravendro Artawijaya, Putra ke tiga Rafa dan Ara, melaju dengan kecepatan sedang.


"Sebenarnya kita mau ke mana Ma?" tanya Khanza yang penasaran mau di ajak mamanya ke mana. Sampai harus membawa buket bunga.


"Mama kan sudah bilang kejutan sayang." kata Ara sembari tersenyum. Saat ini dia tidak menggunakan Niqob karena hanya bersama anak anaknya.


"Kalau di bilangin, bukan kejutan namanya." timpal Raka ikut tersenyum dari depan. Pria dewasa dan matang ini kini telah menjadi seorang ustadz. Dia yang meneruskan kepemimpinan Ara sebagai Direktur Yayasan sosial Azahra. Sikap dan kepribadiannya yang mirip seperti almarhum Raka, suami pertama Ara.


Khanza menanggapi dengan wajah cemberut. Ara dan Raka kembali tersenyum melihat wajahnya. "Lihat saja nanti, mama yakin kau akan senang." kata Ara seraya menyentuh salah satu tangannya.


Cemberut di wajah Khanza hilang berganti cerah mendengar kata Senang dari bibir mamanya. Khanza menatap mereka satu persatu. Tapi perlahan kemudian wajah cerah berubah mendung ketika teringat kembali pada Rara, putrinya. Dia mengambil ponsel dan menghubungi suaminya, Cio. Menanyakan apakah Cio sudah menemukan tempat tinggal Rara di Australia. Tapi lagi lagi jawaban Cio membuatnya kecewa. Hingga detik ini Cio belum menemukan keberadaan Rara. Selama ini Cio, berusaha keras mencari keberadaan Rara. Informasi terakhir yang dia dapatkan, Rara berada di Australia. Tapi dia tidak dapat menemukan tempat tinggal putrinya itu. Entah siapa yang sengaja menghalang halangi dirinya untuk dapat menemukan putrinya. Cio merasa ada seseorang yang menyembunyikan Rara dan tidak ingin dia menemukan putrinya itu. Padahal dia sudah mengerahkan segala kekuasaannya untuk mencari keberadaan putrinya. Dari Eropa, Amerika bahkan kini Australia. Informasi yang di dapatkan Cio kalau Rara berada di Australia. Dia segera meluncur ke negara ini. Tapi hingga kini dia belum menemukan di mana Rara tinggal.


Sempat dia berpikir apakah Daddy Rafa yang sengaja menghalangi dirinya sehingga tidak dapat menemukan Rai Rara? Karena dia dapat merasakan ada yang janggal. Tapi hatinya kembali ragu, untuk apa Daddy Rafa menghalangi dirinya bertemu Rara. Karena sejak kaburnya Rara, mereka sama sama mencari keberadaan Rara hingga detik ini. Cio tidak ingin menaruh prasangka buruk pada pria yang begitu menyayanginya bersama adik kembarnya, Cia. Yang telah menganggap mereka berdua seperti anak kandung sendiri.


Tidak lama kemudian, mobil memasuki sebuah halaman rumah yang luas. Lalu berhenti tepat di depan pintu utama. Khanza memperhatikan bangunan megah kokoh berlantai dua ini. Lalu dia segera turun mengikuti mama dan kakaknya.


Penasaran, tempat tinggal siapa ini?


Mereka segera melangkah menuju pintu masuk. Di depan pintu sudah ada dua pelayan perempuan menunggu mereka. Kedua wanita itu menyapa mereka dengan ramah.


Sementara, sebuah mobil lain baru saja tiba, memasuki halaman rumah. Sang sopir memperhatikan ada tamu. Mobil yang tak lain adalah milik Rangga. Rangga membawa mobilnya ke parkiran samping. Dari dalam mobil dia memperhatikan tamu yang tampak berjalan menuju pintu utama. Dia tidak dapat melihat jelas wajah tamu, karena wajah dua wanita yang satu terhalangi oleh jilbab dan satunya lagi tertutup cadar.


Dari dalam rumah, muncul wanita anggun dan cantik.


"Bibi Cindy....?" pekik Khanza, setelah melihat wajah wanita itu. Khanza kaget sekaligus senang. Dia segera melangkah cepat pada Cindy dan memeluk wanita itu. Sekarang Khanza tahu kejutan yang di beri mamanya ternyata adalah Cindy. Jadi ini adalah kediaman Cindy di Sidney. Dan tujuan mereka adalah berkunjung ke kediaman Alkas.


"Sayang....!" ucap Cindy membalas pelukan Khanza. Dia mengecup ke dua pipi Khanza, mantan kekasih Rangga, putranya. Dia dan Khanza sangat dekat dan akrab, meski mereka tidak jadi menjadi mertua dan menantu. Kasih sayang keduanya tidak berkurang. Makanya Khanza sangat senang bertemu dengannya.


"Jadi ini kejutannya? Dan ini benar-benar suprise untuk kku." kata Khanza bahagia.


Mereka tertawa kecil melihat tingkahnya yang seperti anak remaja. Gak dewasa dewasa sesuai usianya.

__ADS_1


Setelah puas melepas kerinduan dengan Cindy, Khanza memberi kesempatan kepada Ara dan Raka untuk menyalami ibu dari mantan kekasihnya ini, kekasih hanya sehari.


Cindy mengajak mereka masuk.


Basa basi sedikit mengawali lepas rindu mereka, kini mereka tengah berbincang di ruang keluarga.


"Aku ingin melihat rumah bibi, bolehkah?" tanya Khanza setelah beberapa saat. Dia tertarik ingin melihat kemewahan rumah Cindy. Ada beberapa titik yang terlihat indah di matanya. Selain itu, dia ingin mencari sesuatu tapi tidak ingin di tanyakan pada Cindy.


"Kenapa masih bertanya? boleh dong sayang, Bibi akan menyuruh pelayan untuk menemanimu!" kata Cindy.


"Tentu saja aku butuh pelayan, rumah bibi sangat besar dan luas, aku takut tersesat!"


Cindy tertawa kecil mendengarnya.


"Ayo silahkan....!" Cindy memberi isyarat pada kepala pelayan menemani Khanza.


Khanza segera pergi di temani pelayan. Ara dan Cindy kembali melanjutkan obrolan.


"Apa putri Khanza belum kembali?" tanya Cindy setelah tubuh Khanza hilang dari hadapan mereka. Mereka tidak ingin membahas kaburnya Rai Rara di depan Khanza, karena tak ingin wanita itu sedih.


"Belum." jawab Ara. Dia bangkit berdiri dan mengambil tempat duduk di dekat Cindy.


"Kak Rafa sudah menemukan dirinya."


"Ah syukurlah. Terus ada di mana putri Khanza sekarang? Kenapa dia belum kembali?" tanya Cindy kembali.


Raka hanya memperhatikan mereka bicara, karena tak baik ikut campur pembicaraan orang tua sebelum di minta.


Ara memegang kedua tangan Cindy.


"Cindy, aku ingin membicarakan hal penting dengan mu. Untuk itu aku datang menemui mu." katanya seraya menatap wajah sahabatnya.


"Hal penting?" dahi Cindy mengerut. Dia ikut menatap wajah sahabatnya yang tampak serius."Apa itu?"


"Ini mengenai Rangga dan Rara!" kata Ara.


Di bawah.

__ADS_1


"Apa mama punya tamu?" tanya Rangga pada salah satu pelayan, meski dia sudah melihat tadi. Wajahnya menengadah ke atas, melihat ke lantai dua.


"Iya tuan, tamu dari Jakarta." kata pelayan tanpa berani menatap wajahnya.


Wajah Rangga mengernyit. Dia segera naik ke atas. "Jakarta? Siapa?" batinnya. Terus naik. Dia kemari karena di minta Cindy untuk menjelaskan kejadian tadi di butik. Rangga pun ingin menjelaskan kejadian yang sebenarnya agar mamanya tidak menyalahkan May dan mendengarkan cerita Rachel yang pasti sudah di bumbu bumbui agar May terlihat buruk dan salah di depan mamanya. Rangga terus melangkah hingga tiba di lantai atas.


"'Buk, di sini siapa saja yang tinggal?" tanya Khanza di sela langkahnya melihat lihat setiap sudut lantai atas rumah Cindy.


"Hanya tuan dan Nyonya Alkas. Mereka kadang menempati rumah ini. Hanya pada saat datang ke Sidney saja." Jawab pelayan.


"Anak dan cucu tuan Alkas?"


"Mereka hanya sekedar berkunjung saja, tapi jarang. Itu pun hanya tuan Rasya dan keluarganya!"


"Terus anak sulung bibi Cindy yang satunya? Maksud aku, saudara kembar tuan Rasya." Khanza sengaja bertanya ingin mencari keberadaan Rangga.


"Maksud ibu Tuan Rangga?" tanya kepala pelayan.


Khanza mengangguk cepat.


"Tuan Rangga hanya sesekali datang ke tempat ini. Terakhir datang tiga tahun yang lalu."


"Terus di mana dia tinggal? Maksud ku, tempat tinggalnya yang sebenarnya."


"Saya tidak tahu. Tapi yang saya dengar, tuan Rangga tidak punya tempat tinggal tetap. Tuan Rangga seorang pekerja keras. Beliau selalu berpindah tempat dan tidak menetap. Beliau punya banyak rumah dan tempat tinggal lainnya di setiap negara yang menjadi usaha bisnisnya." jelas kepala pelayan.


"Terus sekarang ini dia ada di mana?"


"Maaf buk, saya tidak tahu!"


Khanza menghela nafas berat, kecewa karena tidak mendapatkan informasi mengenai Rangga. Kepala pelayan ini tidak bisa membantunya memberi tahu keberadaan Rangga. Dia sangat rindu dan ingin sekali bertemu dengan sahabatnya itu. Selama 17 tahun berpisah tanpa ada kabar dan hubungan komunikasi apapun.


Yang sebenarnya, kepala pelayan tahu keberadaan Rangga, tapi Cindy sudah berpesan untuk tidak memberitahukan pada Khanza jika Khanza bertanya mengenai Rangga.


Langkah Khanza tiba tiba melambat. Melihat Rangga di depannya. Rangga tampak tersenyum menatapnya.


"Rangga...!" ucap Khanza dengan bibir tersenyum. Dia segera mendekati Rangga.

__ADS_1


...Bersambung....


__ADS_2