
...Happy Reading....
"Mereka telah bertemu?" tanya Cio mengulang perkataan Rafa. Seakan tak percaya dengan apa yang di katakan Daddy nya. Cio tiba-tiba geleng geleng kepala."Ini gak boleh, Rara masih terlalu muda. Rara gak boleh jatuh cinta dan menetapkan hatinya pada pria itu! Entah siapa dia, statusnya, kepribadiannya. Baik Rara dan kita, tidak mengetahui latar belakangnya. Kali saja dia bukan pria baik, juga berasal dari keluarga yang tidak baik. Yang hanya pura pura mencintai Rara, dan mempermainkannya." katanya menatap Rafa dengan tidak suka.
"Aku tidak setuju Rara jatuh cinta dan dekat dengan pria yang kita tidak tahu bebet bobotnya. Aku sangat menyayangi anak anakku Daddy__ Aku bekerja keras untuk mereka. Selama hidup mereka hanya ku curahi cinta dan kasih sayang. Aku tidak akan menyerahkan putri ku pada pria yang hanya akan memberinya penderitaan." katanya kembali dengan tegas.
"Tapi Daddy setuju Rara bersama pria itu." kata Rafa tegas.
"Daddy__?" Cio terperangah.
"Pria itu sangat mencintai Rara. Dan dia telah cukup lama menunggu Rara untuk di jadikan pendamping hidupnya." jawab Rafa tenang.
Cio terhenyak, begitu pun Khanza. Telah lama menunggu Rara?
"Kau pikir Daddy akan membiarkan Rara hidup menderita? Apa kamu tidak percaya pada Daddy?" Rafa menatap tajam.
"Bukan begitu Daddy___!" kata Cio segera melihat perubahan wajah Rafa.
"Sudahlah, Daddy tidak mau berdebat. Kita hentikan pembicaraan ini dan jangan mengungkitnya lagi." kata Rafa memotong ucapan Cio.
Cio hendak bicara, tapi segera di hentikan Ara dengan isyarat mata. Terpaksa Cio mengunci bibirnya.
"Baik __ Mungkin apa yang papa katakan benar. Aku dan Kak Cio akan percaya pada ucapan papa dan mama." kata Khanza pada akhirnya. Menerima penjelasan papanya.
"Tapi tolong katakan, siapa pria itu? Yang Daddy katakan telah menunggu Rara sekian lama?" tanya Khanza.
"Aku juga ingin tahu." sambung Cio.
"Untuk saat ini papa tidak akan memberi tahu kalian. Tapi satu hal yang pasti, kalian mengenal pria itu. Bahkan sangat mengenalnya." jawab Rafa.
Cio dan Khanza saling berpandangan. Khanza hendak bicara tapi segera di sela oleh Rafa."Papa tidak ingin mendengar pertanyaan apa pun lagi. Yang jelas kalian sudah tahu keadaan Rara baik-baik saja. Rara bahkan baru melihat kalian tadi." kata Rafa.
Cio dan Khanza kembali terkejut.
Wisnu segera menyerahkan ponsel pada Cio. Video rekaman saat Rara melihat mereka keluar rumah dan masuk ke dalam mobil tadi.
Rara tampak melihat pada mereka secara sembunyi sembunyi dari balik pohon. Pasangan suami istri sedih tapi senang melihat putri mereka.
"Bukan hanya kalian yang Rindu pada Rara, tapi Rara juga sangat merindukan kalian." kata Ara.
"Kalau dia rindu, kenapa tidak menemui kami? Raraku sayang.....!" tanya Khanza dengan suara serak, menahan kesedihannya.
"Alasannya sudah jelas seperti yang papa katakan tadi. Kalian sudah melihat keadaannya. Jangan bertanya apa pun lagi." kata Rafa.
"Terus kapan Rara akan pulang pa? Tinggal di mana dia selama ini?" tanya Khanza masih dengan wajah sedihnya.
__ADS_1
"Secepatnya. Setelah dia mendapatkan apa yang dia cari. Rara tinggal di tempat yang nyaman, tanpa kekurangan apapun. Kamu jangan khawatir." kata Rafa.
Rafa mendekati Ara dan mencium keningnya."Sayang, aku mau keluar. Ada urusan penting."
Ara mengangguk dan mencium tangan suaminya."Jangan terlalu capek kerjanya." kata Ara setelahnya, lalu mencium tangan suaminya.
"Iya sayang." Rafa menyapu puncak kepala istrinya.
Cio dan Khanza bergantian menyalami Rafa. Meski mereka masih ingin bertanya tentang Rara. Tapi mereka juga tak berani banyak bicara. Rafa segera melangkah keluar dari ruang kerja Ara di ikuti Wisnu. Cio mengikuti Daddy nya karena ingin menanyakan sesuatu, yaitu tentang pertunangan Rangga dan Rachel serta pernikahan mereka yang baru saja diketahuinya.
"Jangan mencemaskan Rara lagi. Percayalah pada papa. Papa lebih menjaga Rara dari pada kalian. Semua gerak geriknya, bahkan kita semua dalam pengawasan papa. Hapus air mata mu. Kau terlalu banyak menangis sayang. Bersenang senang lah di hari bahagia kalian. Sekarang ganti pakaianmu dan bersiap siap. Jangan mencemaskan Apa pun." kata Ara seraya melap sisa air mata di pipi Khanza.
.
.
Restoran X.
Dua jama berlalu, Rangga telah selesai mengakhiri pertemuannya dengan calon klien baru. Rachel masih harus mengurus para klien itu. Dia meminta Rangga dan Verdy turun lebih dulu dan menunggunya di mobil.
Rangga dan Verdy berjalan menuju Lift untuk membawa mereka turun ke bawah. Rangga terus melangkah sambil memikirkan May. Keduanya melewati sala satu ruang privat. Tiba tiba langkah Rangga terhenti saat matanya menangkap sesuatu. Rangga menoleh ke arah kanan. Melihat ke arah meja makan hanya ada satu di ruang itu. Dia melihat sepasang manusia di masa lalunya. Khanza dan Cio. Duduk berhadapan, sangat mesra. Cio tampak memegang sala satu tangan Khanza dan salah satu tangannya membelai lembut pipi Khanza. Di hadapan mereka tergeletak makanan dan minuman mewah, hiasan bunga berbentuk love bertuliskan Anniversary. Rangga tampak berpikir kedua insan ini sedang merayakan ulang tahun pernikahan mereka dengan melihat tulisan Anniversary pada bunga dan kue. Rangga tersenyum melihat kebahagiaan itu.
Cio tiba-tiba bangkit berdiri, berlutut di kaki Khanza. Di tangannya ada kotak perhiasan. Dia menyerahkan pada Khanza, di iringi kata kata cinta. Khanza tersenyum haru. Terlalu banyak hadiah mewah yang di beri suaminya. Khanza kembali terharu. Suaminya sangat romantis dan begitu memanjakannya dengan barang barang mewah. Cio bangkit, dia memakai kan cincin di jari dan kalung berlian ke leher Khanza. Kemudian ke dua pasangan itu berciuman dan berpelukan.
Sungguh pemandangan yang begitu indah, tapi menyakitkan bagi Rangga. Jujur dia telah mengikhlaskan Khanza pada Cio, menghilang kan rasa cinta di hatinya. Dia bahagia melihat kebahagiaan wanita di masa lalunya itu, bahagia bersama suami yang sangat mencintainya. Dia telah ikhlas melepas, merelakan dan melupakan selama belasan tahun, tapi kenapa dadanya sesak saat melihat kemesraan pasangan itu? Rasa sakit itu masih saja ada.
Rangga segera melangkah sambil menekan dadanya yang terasa sakit. Sebelum pasangan yang tengah di mabuk cinta itu mengetahui keberadaannya. Seharusnya dia tidak bertemu mereka. Jujur sangat sulit melupakan wanita itu, hingga membuatnya tak bisa menerima wanita lain. Akhirnya muncullah May yang membuat hatinya kembali hidup dan merasakan kebahagiaan, karena dia melihat sosok Khanza dalam diri May.
Bukannya tidak ingin menyapa, tapi Rangga tidak ingin membuka kembali luka yang telah lama kering. Terlebih lagi dia sudah berjanji pada Cio untuk tidak akan menemui dan menghubungi Khanza selamanya.
Rangga terus melangkah hingga masuk ke ruang berikutnya. Secara tak sengaja mata Rangga melihat sosok May di antara para pengunjung yang sedang menyantap makan siang.
Meski memakai rambut palsu keriting, kaca mata hitam dan topi, dia dapat mengenali gadis itu. Posisi meja May berada di dekat jendela. May tidak sendirian tapi dengan seorang gadis. Keduanya tampak menikmati makanan sambil bersenda gurau. Rangga tersenyum senang. Akhirnya bisa bertemu dengan gadis itu. Rangga segera melangkah mendekati May, tapi keberadaannya cepat di ketahui May.
May kaget melihat keberadaannya. Dia sudah berusaha menutupi dirinya tetap saja di kenali oleh Rangga.
"Kamu kenapa sih?" tanya Sofi melihat May menghentikan makannya dan tampak kaget. Sofi mengikuti pandangan."Ra, itu bukannya pak Rangga?" tanyanya ikut terkejut. Sofi sudah mengetahui tentang Rangga dan juga wajahnya karena telah diberi tahu May."Wah Ra.... ternyata Om kamu tuh tampan banget." ucap sofi terpukau. Di lihat secara langsung ternyata lebih tampan dari pada di foto yang di perlihatkan Rara.
May segera bangkit melihat Rangga terus melangkah mendekat."Cepat Fi, kita pergi."
May segera keluar dari meja dan melangkah dengan cepat. Sofi kesal karena makanannya belum habis. Tapi dia segera berdiri mengejar May.
"May __!" panggil Rangga melihat May yang tampak berlari menghindarinya."May....!"
May berlari dan berbelok. Rangga terus mengejar. Rangga kecewa juga kesal dengan sikap May yang terus menghindarinya.
__ADS_1
"Rangga __Rangga __! Rangga Dionel Alkas." tiga panggilan berturut turut menghentikan langkah Rangga yang terburu-buru.
Rangga termangu setelah mendengar suara itu. Karena dia kenal dengan suara itu. Dan sampai kapan pun tidak akan pernah dilupakan.
Beberapa detik berlalu, Rangga segera berbalik. Dia melihat Khanza yang berjalan cepat ke arahnya.
Saat itu Khanza mau ke toilet untuk membersihkan tumpahan minuman pada pakaiannya. Tapi batal berbelok ke toilet. Karena melihat sosok pria yang tak asing baginya, Seperti di kenalnya, yaitu sosok Rangga. Untuk meyakinkan perasaannya, Khanza mengejar Rangga untuk memastikan pria itu karena terdorong rasa rindu ingin bertemu. Dan benar saja, dia melihat wajah Rangga saat menoleh melihat dua gadis di meja makan sana. Khanza sangat senang akhirnya menemukan sahabatnya itu. Dia mengejar Rangga yang tampak mengejar gadis yang tidak diketahuinya adalah Rara, putrinya. Dia tidak dapat mengenali Rara dengan penyamaran Rara seperti itu.
Khanza berhenti pada jarak dua meter. Keheningan melanda seketika. Keduanya saling menatap. Khanza tersenyum."Rangga, Aku tahu itu kamu! Kau pikir aku tidak tidak akan bisa mengenalmu? Aku sangat tahu, pria itu adalah kamu Rangga Dionel Alkas." ucap Khanza ekspresi senang tapi juga sedih. Lalu melangkah mendekat dengan cepat. "Manusia jahat, kemana saja kau pergi selama ini dan tidak memberi kabar sama sekali. Apa kau tidak tahu betapa aku sangat merindukanmu?" kata Khanza dengan marah, mata berkaca-kaca. Dia memukul mukul dada Rangga. Tapi kemudian dia langsung memeluk Rangga.
Rangga terenyuh, kesedihan membuncah seketika. Kedua matanya pun basah mendengar kemarahan itu. Dia membiarkan apa yang Khanza lakukan, yang memeluk nya. Ingin menolak, tapi jujur dia merindukan wanita itu. Wanita yang pertama kali membuatnya merasakan cinta dan kebahagiaan.
"Kamu jahat Ga, kamu tega kepadaku." kata Khanza di sela tangis kecilnya. Perlahan kedua tangan Rangga terangkat dan memeluk wanita ini. Pelukannya semakin erat tak kala mendengar isak kecil Khanza di sertai ucapan kemarahan dengan nada manja. Tingkah manja ini mengingatkan Rangga pada kenangan masa lalu mereka. Tangis Khanza, kemarahannya, terlebih lagi sikap manjanya. Tingkah Khanza yang dulu dan kini, tidak berubah, masih tetap sama.
Berpelukan beberapa saat melepas kerinduan membuat mereka tak menyadari keadaan dan tempat.
Khanza melepas pelukannya. Dia menatap wajah Rangga dengan kesal. Kemarahannya belum juga reda."Kenapa kau meninggalkanku tanpa pamit? Kenapa kau menghilang dan tidak memberi kabar sama sekali? Kemana saja kau selama 18 tahun ini?" kata Khanza kesal kembali memukul dada Rangga. Air matanya kembali jatuh.
"Katamu kau menyayangiku, kau akan selalu ada untuk ku. Tapi apa?" kata Khanza meluapkan kekesalannya dengan terus memukul Rangga.
"Maaf ___! Maafkan aku! Aku tidak bermaksud begitu." hanya itu yang bisa di ucapkan Rangga sebagai balasan.
Tangis Khanza pecah."Tahukah kau? Aku sangat merindukanmu. Hiks __hiks! kau ingkar janji, kau jahat! Hiks __hiks." kata Khanza di sela isak tangis tak peduli dengan keberadaan mereka.
Rangga menyapu air mata di pipi Khanza, lalu segera memeluknya. Tak tahan melihat air mata Khanza.
"Maafkan aku __!" memeluk erat. Dulu dia memang berjanji seperti itu pada Khanza.
Dari jauh, sepasang mata yang telah basah memperhatikan mereka. Melihat apa yang tengah terjadi meski tidak dapat mendengar apa yang di bicarakan keduanya. Tapi gerakan bahasa tubuh yang begitu dekat merapat tanpa celah mengartikan kalau drama nyata yang sedang berlangsung adalah sebuah pertemuan.
May, merasa hatinya sakit dadanya sesak.
"Apakah wanita itu cinta pertamanya?" gumam May sedih. Karena dia teringat kata kata Sean, Rangga hanya melakukan sentuhan fisik pada wanita yang di cintainya.
May tidak dapat melihat wajah Khanza dengan jelas dan mendengar perkataan mereka. Sebagian wajah Khanza terlindungi oleh jilbab. Pakaian Khanza telah berubah, tidak seperti yang di lihat tadi.
"'Ra__ Om kamu tuh lagi sama siapa? Kok dekat dan mesra amat? Lihat tuh keduanya berpelukan tanpa canggung dan malu. Seperti baru bertemu setelah sekian lama tidak bertemu." tanya Sofi ikut terkejut melihat kedekatan di antara Rangga dan Khanza yang berpelukan tanpa canggung di tempat terbuka.
"Pak Rangga tak canggung memeluknya. Jangan jangan wanita itu wanita yang di cintainya. Maksud aku, wanita di masa lalunya. Kamu kan bilang pak Rangga tidak akan bisa melupakan cinta pertamanya. Dia hanya mau menyentuh wanita yang di cintainya." ujar Sofi kembali teringat perkataan May tentang wanita cinta pertama Rangga.
May mendesah sedih. Berusaha menahan kesedihannya. Dia cepat cepat membuang pandangannya tak kala mata Rangga melihat kepadanya. May segera menarik tangan Sofi dan melangkah pergi dengan terburu-buru.
Rangga terkejut menangkap keberadaan May. Dia mengira May telah pergi. Tapi ternyata May masih berada di tempat ini dan melihat apa yang terjadi antara dia dan Khanza. May pasti semakin membencinya. Rangga jadi panik, hatinya tidak tenang. Dia melepas kedua tangannya yang memeluk Khanza.
...Bersambung....
__ADS_1
Jangan lupa dukung ya.
Tinggalkan like, hadiah kopi, bintang lima, vote dan masukkan ke favorit ❤️ Terimakasih.