Rangga dan Rara (Mencintai Anak Mantan)

Rangga dan Rara (Mencintai Anak Mantan)
55. Di tuduh mencuri 2


__ADS_3

...Happy Reading....


"Bu, cincin berliannya hilang." kata salah seorang pegawai hotel seraya menunjuk satu set perhiasan yang di lihat May Tadi. Semua mata mengarah ke set perhiasan itu. Dan benar, setelah di periksa, perhiasan itu sudah tidak lengkap. Tak ada lagi cincin bersama set perhiasan lainnya.


May terkejut. Dia ikut memeriksa set periksa untuk memastikan. Cincinnya tak ada. Kemana benda itu? May semakin takut.


"Berarti benar, wanita ini telah mencurinya."


seru sala seorang pengunjung menatap tajam pada May.


"Benar. Cepat panggil petugas keamanan."


May kembali menangis. Dia melihat sekelilingnya mencari keberadaan Sean. Tapi pria itu tidak ada. May tidak menemukan keberadaannya.


"Tidak pak, aku tidak mencuri. Gak mungkin cincin itu hilang, tadi ada situ saat aku melihatnya." Dia melangkah hendak menunjukkan set perhiasan itu. Tapi naas baginya, salah satu kakinya tersandung pada sesuatu. Dia hilang keseimbangan. Dia hampir saja jatuh ke lantai jika tidak segera berpegangan pada pajangan etalase. Kesialan kembali menerpanya, set perhiasan itu tak sengaja terjangkau oleh tangannya dan jatuh ke bawah. Dan tidak sengaja salah satu anting terinjak olehnya.


May dan orang orang terkejut. Manager tercengang dan segera memungut setiap perhiasan yang berserakan di lantai di bantu beberapa pegawai. Wajahnya berubah pucat setelah melihat sala satu anting rusak.


"Ya ampun Nona. Anda telah merusak antingnya. Perhiasan ini sangat mahal. 10 tahun gaji ku pun tidak akan bisa membayarnya. Aku tidak mau di marah dan di pecat bos ku. Anda harus ganti rugi. Anda harus membayarnya." manager menyalahkan May dan menuntut ganti rugi. Dia sendiri takut dan cemas saat ini.


May merasa iba melihat wajah manager yang berubah pucat."Maaf Bu, aku tidak sengaja menjatuhkannya." ucap May merasa bersalah.


Sedangkan Rachel tersenyum penuh kemenangan.


"Seharusnya anda tidak perlu kemari dan membuat masalah yang hanya membuat orang lain susah." kata manager hotel menatap tajam.


May semakin sedih. Belum selesai membersihkan namanya dari tuduhan pencuri, kini datang lagi masalah baru.


"Duit dari mana uang untuk ganti rugi? Dia saja mencuri cincin perhiasan itu untuk mendapatkan uang." Cemooh Rachel. Permainan semakin menarik.


"Sebaiknya bawa dia ke kantor polisi. Sekalian tuntut ganti rugi di sana. Hukumannya pasti akan semakin berat."


Petugas keamanan yang terdiri dari beberapa satpam datang setelah mendapat laporan dari salah seorang pengunjung.


"Ini pak pencurinya. Cepat bawa ke kantor polisi dan penjarakan sekalian."


May geleng kepala, air mata jatuh mengalir.


"Bukan pak, saya tidak mencuri cincin itu. Mereka salah menuduh orang. Aku tidak mengambilnya! Sumpah demi Allah!" May berusaha membela diri. Tubuhnya gemetaran, kakinya lemas.


Rachel tersenyum licik."Mampus kau, membusuk lah kau di penjara dasar manusia rendah." batinnya.


"Tunggu apalagi, cepat bawah dia!" kata asisten Rachel.


Kedua satpam segera memegang kedua tangan May."Lepas...! Saya tidak mencuri. Kalian salah menuduh orang. Mana buktinya kalau saya yang mencuri cincin itu."


"Alahh, jangan ngeles kamu. Kami perhatikan hanya kau yang melihat dan mengamati perhiasan itu. Sudah pak, bawah saja dia ke kantor polisi." kata asisten Rahel sinis.


"Sebaiknya Nona ikut kami ke kantor polisi. Jelaskan semuanya di sana." satpam mencengkeram lengan May. Tubuhnya di seret dengan kasar. May tak kuat melawan kekuatan kedua satpam itu.


Rachel tersenyum miring. Dia merasa puas. Sebutan pencuri telah di sematkan pada gadis yang sangat di bencinya itu, terus di masukkan ke penjara. Dan tak ada pengganggu dalam penikahannya. Dia merasa lega karena Rangga belum datang dan melihat kejadian ini. Seandainya Rangga ada, pria itu pasti akan membela May.


"Cepat seret dia keluar dari sini, sebelum ada barang lain yang hilang dan rusak. Dasar maling." Rachel kembali tertawa penuh kemenangan.


"APA YANG KALIAN LAKUKAN?" Bentakan keras terdengar dari mulut seorang pria yang berada di belakang mereka."Lepaskan Dia." titah suara itu kembali.


Kedua petugas keamanan dan pengunjung menoleh kebelakang. Petugas keamanan terkejut melihat siapa yang berkata. Keduanya segera melepas May. Dan menunduk ketakutan.


Rachel tercengang melihat Rangga. Dia mendengus geram karena keburu Rangga datang.


May ikut melihat ke belakang. Dia melihat Rangga berjalan mendekatinya bersama seorang pria di belakangnya. Tangis May pecah. Rangga ikut sedih, hatinya sangat sakit melihat air mata May.


May segera berlari ke arahnya. Rangga berjalan cepat untuk menyambutnya. Tapi begitu dekat, May melewatinya dan memeluk Sean.m yang berada tiga meter di belakangnya.


"Tuan Sean." May menangis menumpahkan kesedihan dan rasa malunya.


Rangga terhenyak. Melihat May malah memeluk Sean. Hatinya yang sakit semakin sakit, perih seakan di iris iris.


Sama seperti Rangga, Sean pun terkejut May malah berlari ke padanya dan memeluk. Bukannya memeluk Rangga. Sean melihat sekilas pada Rangga. Lalu membalas memeluk gadis itu.


Rachel juga terkejut, tapi juga senang melihat May yang malah berlari ke arah Sean dan menumpahkan kesedihan pada duda keren itu. Sebelumnya hatinya sempat tidak tenang mengira May akan memeluk Rangga. Tapi dugaannya salah. May malah berlari pada Sean. Rachel tersenyum senang. Dia melihat wajah Rangga yang berubah drastis.


Sedangkan May bukan tanpa alasan lebih menumpahkan kesedihannya pada Sean. Meski dia sangat ingin memeluk Rangga, pria yang sangat di rindukan. Karena dia tidak ingin mendapat masalah dengan kekasih orang. Sudah cukup masalah yang kini tengah menerpanya.


"Maaf Nona May, aku terlambat datang. Semua salahku, hingga membuat mu mengalami kejadian buruk ini!" kata Sean.


"Anda tidak bersalah tuan. Mereka yang menuduh aku sembarangan. Aku tidak mencuri!" kata May terisak. Semakin menekan wajahnya di dada Sean.


Rangga menatap mereka dengan kesedihan yang mendalam. Sungguh sakit hatinya melihat kedekatan mereka. Sebelumnya hatinya sangat senang melihat May, wanita yang sangat di rindukan berada di butik ini. Artinya dugaannya benar, gadis yang di lihatnya tadi pagi dan hampir di tabrak nya benar May. Penglihatannya tidak salah. Dia begitu senang, tapi kesenangan itu berubah drastis menjadi kemarahan mengetahui May di tuduh mencuri dan di perlakukan kasar oleh Rachel dan orang orang. Darahnya terasa panas. Dia berjalan cepat menuju ke tempat keributan tanpa menyadari Sean berada di belakangnya.

__ADS_1


"Tenanglah Nona, aku percaya padamu! Kamu tidak apa apa?" Sean menenangkan.


May menggeleng masih menangis.


"Tuan, bolehkah kita pergi dari sini?" pintanya. Dia tidak ingin menambah masalah yang nantinya menimbulkan salah paham antara Rangga dan Rachel.


"Heh, mau kabur kemana kamu setelah mencuri?" gertak asisten Rachel.


"Demi Allah aku tidak mencuri!" kata May.


"Alaah, tidak usah bawah bawah nama Allah untuk menutupi kejahatan mu. Apa kamu gak malu dan takut dosa?" terdengar suara pengunjung lain.


"Benar, gadis ini benar-benar telah mencuri. Sebelumnya cincin berlian itu ada di tempatnya sebelum di sentuh olehnya." kata pegawai butik.


Rangga bergerak maju tak tahan mendengar tuduhan tuduhan buruk itu. Meski hatinya sakit melihat May berpelukan dengan Sean, tapi dia lebih tidak terima May di tuduh mencuri.


"Apa kalian melihat Nona ini yang telah mengambil perhiasan itu? Mana buktinya?" menatap wajah mereka satu persatu dengan tajam.


"Benar, jangan menuduh sembarangan jika kalian tidak punya bukti. Bisa bisa kalian sendiri yang akan kena masalah dan berurusan dengan hukum karena menuduh tanpa bukti. Kalian akan kena pasal pencemaran nama baik." gertak Sean ikut pasang badan membela May.


"Aku bersumpah akan menutut kalian dan memasukkan kalian ke penjara jika tuduhan itu tidak terbukti." gertak Rangga mengancam.


Orang orang yang ikutan menuduh May tadi saling berpandangan. Timbul rasa takut setelah mendengar ancaman Rangga dan juga Sean. Karena mereka tidak melihat May mencuri. Mereka hanya terpancing dengan ucapan Rachel dan asisten. Mereka heran kedua pria ini membela May. Sebagian dari pengunjung tahu Rangga dan Sean, yang merupakan orang penting dan cukup berpengaruh, berkuasa di kota Sidney.


Hati Rachel ikut ciut mendengar perkataan kedua Bos besar itu. Bagaimana jika orang orang itu takut dengan ancaman Rangga dan Sean. Terus akan menyalahkan dirinya yang membuat May menjadi tertuduh pencurian.


Rachel segera melirik asistennya. Memberi kode.


"Kalian sudah memeriksa tubuh gadis ini tadi. Apa kalian menemukan benda itu?" tanya Rangga kembali.


Mereka saling berpandangan satu sama lain, lalu menggeleng.


"Tapi cincin itu telah hilang dari tempatnya!" seorang pegawai berusaha bicara.


"Hilang bukan berarti gadis ini yang mencurinya kan? Bisa saja jatuh, tercecer atau malah ada orang lain yang mengambil dan menjebak gadis ini!" Sentak Rangga geram. Dia curiga kejadian pencurian ini ulah Rachel. Karena Rachel sangat membenci May.


"Sebaiknya kita periksa CCTV. Untuk membuktikan kebenarannya. Dari pada hanya asal menuduh." kata Sean.


"Itu benar." pungkas pengunjung.


Rachel mulai tidak tenang, Dia lupa ada cctv di tempat ini. Dia kembali melirik asistennya.


"Iya benar. Kita belum menggeledah tasnya. Cepat periksa tasnya." timpal pengunjung. Karena takut tuduhan mereka salah. Mereka berharap cincin itu ada di dalam tas May.


Hati May memanas."Sudah ku katakan aku tidak mencuri. Kenapa kalian tidak percaya padaku." sentak May keras."Aku tidak mencuri." Dia mempertahankan tasnya yang berusaha di rebut oleh asisten dan seorang pengunjung.


"Kalau kau memang tidak mencuri, kenapa kau tidak memberikan tas mu." Rachel tersenyum sinis.


Rangga sudah dapat menebak kalau ini ulah Rachel. Dia curiga Rachel yang merencanakan semua drama pencurian yang di tuduhkan pada May. Dia mencekal lengan Rahel dan menarik wanita itu ke sebelah.


"Apa kamu dibalik semua ini? Pencurian ini pasti perbuatan mu kan?" kata Rangga menatap tajam.


"Apa katamu? Ulahku?" Rachel marah balik menatap tajam.


"Gadis rendah itu yang mencuri kenapa kau malah menyalahkan ku?" Rachel tidak terima.


"Aku tahu kau membencinya Rachel." sentak Rangga geram.


"Cih, Jangan menyalahkan aku karena kepedulianmu pada gadis itu."


"Hentikan Rachel. Sebaiknya kamu berterus-terang saja kalau kau dalang dari semua ini. Semuanya adalah rencana mu kan?" perdebatan terus berlanjut yang hanya dapat di dengar oleh suara mereka.


Rachel tersenyum sinis.


"Kenapa? Apa kau malu jika terbukti gadis itu memang seorang maling?" ejek Rachel.


Rangga tersenyum sinis."May tidak akan mungkin mencuri! Dan itu sangat tidak mungkin." tekannya tegas tatapan tajam.


Rachel tersenyum sinis."Kau yakin? Kalau begitu tenanglah jika kau beranggapan begitu. Kau tidak perlu marah dan panik seperti ini. Dan sebaiknya kau jangan ikut campur, jika tidak ingin orang orang tahu kamu membelanya karena mencintainya. Jangan sampai orang orang tahu kalau gadis rendah itu adalah seorang penggoda kekasih orang. Satu lagi.... Jangan membelanya karena dia bukan siapa mu." Rachel menyorot tajam, lalu memperlihatkan foto foto Rangga dan May berciuman di hotel. Gambar itu di ambil dari rekaman video CCTV.


"Bukankah foto ini cukup membuktikan kalau gadis itu adalah manusia rendah dan seorang PENCURI. Bukan hanya pencuri perhiasan tapi juga PENCURI MILIK ORANG....!"


Rangga tercengang melihat foto foto itu. Dia tidak menyangka Rachel benar licik. Rangga sangat geram, rahangnya sampai mengeras. Harga diri May akan semakin di rendahkan dan terinjak-injak.


Rachel kembali tersenyum sinis melihat Rangga mati kutu dengan ancamannya.


"Cepat geledah isi tasnya jangan sampai ada yang terlewati." titah Rachel. Dia mencekal mendekati May dan lengan May kuat.


"Sebentar lagi kau akan membusuk di penjara." bisiknya tersenyum sinis.

__ADS_1


Satpam tidak berani menyentuh May, karena mereka tahu siapa Sean dan Rangga. Tapi para pengunjung yang sudah terprovokasi dengan ucapan Rachel bergerak cepat pada May.


Beberapa orang merampas tas May yang berusaha di pertahankan. May terus mempertahankannya karena di dalam tas itu ada data data pribadinya." Tidak, aku tidak mengambil cincin itu."


"Lepas, jangan menyentuhnya. Beraninya kalian melakukan itu padanya. Lepaskan May, kalau tidak aku akan menuntut kalian!" bentak Sean penuh amarah. Mendorong satpam yang menahan May. Dia menarik May dan di taruh di belakangnya. Tapi para pengunjung malah makin kasar dan kembali menarik May. Sebagian menahan Sean.


"Jangan pernah menyentuhnya bre*ngs*k." Rangga yang tak tahan ikut mendorong kerumunan orang orang yang kebanyakan ibu-ibu. Salah seorang dari mereka berhasil mendapatkan tas May.


Setelah di geledah, mereka menemukan cincin itu di dalam tasnya. Semua orang terkejut. Termasuk Sean dan Rangga. Meski mereka yakin May tidak mungkin yang mencurinya.


"Dasar maling, ternyata benar kau pencurinya."


"Dia pencurinya, cepat bawah gadis ini ke kantor polisi. Seret dia cepat. Dasar pencuri. Masukkan dia ke penjara." beberapa orang menyeret May dengan kasar. Sampai sampai gadis itu mau jatuh kalau tidak berpegangan pada etalase.


..."Aku tidak tahan lagi papa."...


..."Paman, haruskah kita hanya diam menyaksikan Nona muda di perlakukan seperti itu?"...


...Beberapa suara masuk ke telinga Rafa....


...Mereka melihat May di perlakukan secara tidak manusiawi. Amarah mereka meluap meluap....


..."Jangan melakukan apapun. Aku yakin Rai Rara bisa mengatasi masalahnya. Cucuku bukan gadis lemah. Dia gadis kuat dan tangguh. Dia pasti bisa menghancurkan orang orang yang berbuat jahat pada dirinya. Kita tidak perlu turun tangan untuk saat ini! Ikuti saja alurnya." Rafa menenangkan anak anak dan keponakannya ( Riez, Ryan, Raka, Azhar, Azham, dan Edgar yang melihat adegan yang terjadi saat ini di butik Nesa). Meski dia sendiri saat ini tengah dikuasai amarah teramat sangat....


..."Ingat, jangan sampai Cio dan Khanza mengetahui kejadian ini. Dan juga jangan sampai mereka mengetahui pernikahan Putra Dionel Alkas dan putri Dominic!"...


..."Wisnu, Pastikan Cio tidak akan datang ke pertemuan para direksi dan opening pembangunan projek X. Aku tidak ingin dia bertemu Rangga sebelum tujuan Rara tercapai."...


..."Baik tuan."...


Rachel tiba tiba menarik masker yang menutupi wajah May. May tidak sempat menghindar dan mempertahankannya. Benda itu terlepas dari wajahnya. Terus di buang Rachel ke lantai. Dan di injak-injak.


"Wanita ini sengaja menutupi wajahnya karena untuk menyembunyikan betapa busuknya dirinya. Kalian lihat wajah pencuri ini baik baik sebelum di bawah ke kantor polisi. Lihatlah... agar kalian tahu dan waspada jika melihatnya di tempat lain." Rachel memegang dagu May kasar dan di perlihatkan ke orang orang.


"Padahal wajahnya cantik, dan manis. Tapi pencuri." kata salah seorang pengunjung.


"Cantik cantik kok pencuri.....!" cibir yang lain.


"Wajahnya polos, tapi menipu, dan mencuri! Ya ampun, kasihan banget orang tua mu jika tahu kau seorang pencuri! Apa kau tidak malu?" timpal yang lain.


Tidak sedikit juga yang terkesima melihat wajah May yang cantik dan merasa kurang yakin kalau May seorang pencuri di lihat dari wajah polosnya.


Sementara sang manager sangat terkejut setelah memperhatikan wajah May beberapa saat."Nona muda Artawijaya!" gumamnya hampir tak terdengar. Tapi bahasa tubuhnya dapat di tangkap oleh May. Manager begitu ketakutan, wajahnya pucat seketika. Segera dia menunduk kepala. Dia telah melakukan kesalahan besar dan sudah pasti tidak akan terampuni.


"Nona....!" hendak melangkah mendekati May, tapi dengan gerakan cepat May memberi isyarat dengan tatapan mata. Isyarat untuk menyuruhnya diam.


Ponsel manager tiba tiba berdering. Dia menghentikan langkah dan mengambil ponsel di saku jas. Setelah di angkat dia kembali di buat terkejut setelah tahu siapa yang menghubunginya, Wisnu.


Manager berdiri terpaku di tempat setelah mendengar perkataan singkat Wisnu.


May sendiri tidak menyangka kalau manager mengenali dirinya. Karena sebelumnya mereka tidak pernah bertemu. Manager memang belum pernah bertemu May, tapi Nesa sudah memperlihatkan kepadanya anak, keponakan, cucu dan anggota keluarga ke padanya, termasuk May, cucu pertama Artawijaya. Nesa menyuruhnya untuk melayani dengan baik seluruh anggota keluarganya jika datang ke butik ini.


"Kalian lihat sudah melihat wajah ini dengan baik? Waspadalah....dia bukan hanya bisa mencuri benda berupa barang dan uang, tapi juga bisa mencuri orang yang kalian cintai." lanjut Rachel terus menghina dan merendahkan May.


May semakin sedih dan malu mendengar cercaan hinaan Rachel.


"Rachel. Sudah cukup." sentak Rangga geram penuh amarah. Rangga tidak dapat lagi menahan diri. Apa pun yang terjadi, dia tidak perduli lagi. Rangga melangkah mendekati May, menerobos kerumunan ibu ibu sosialita kelihatannya berkelas dan berpendidikan tapi terlihat bodoh. Di bodoh bodohi Rachel. Dengan gerakan cepat Rangga mengangkat tubuh May dan membawa gadis itu pergi keluar dari butik. Orang orang terkejut.


Terutama Rachel.


"Jangan biarkan pencuri itu melarikan diri. Cepat kejar." teriak asisten Rachel.


Sementara Rachel mengeram keras penuh amarah melihat apa yang di lakukan Rangga. Darahnya terasa panas mendidih. Sakit, malu dan benci di rasakan saat ini."Rangga, Rangga!" teriaknya cukup keras. Ingin mengejar tapi dengan cepat Sean mencekal lengannya."Tetaplah di sini Rachel. Kita harus menyelesaikan apa yang telah kau buat." kata Sean tersenyum sinis.


"Lepas!" Rachel geram, menghempaskan tangan Sean.


Sean juga berusaha menghalang orang orang yang berusaha mengejar Rangga dan May di bantu manager.


"Bapak ibu, sudah cukup. Saya yang akan bertanggung jawab atas kejadian ini. Saya akan bertemu dengan pemilik butik untuk menyelesaikan semuanya. Saya yakin gadis itu tidak mencuri. Ada seseorang yang sengaja ingin menjebaknya. Saya akan memeriksa CCTV di tempat ini bersama petugas keamanan. Percayalah pada kami!" Kata Sean seraya melirik Rachel yang tampak berdiri tegang tidak tenang.


Manager juga ikut bicara, akan segera menyelesaikan apa yang terjadi. Dia akan melapor pada pemilik butik. Manager meminta jangan menyebar luaskan ke jadian tadi karena akan merusak citra butik. Manager juga mengatakan tidak perlu Khawatir adanya pencurian. Karena tempat ini terpasang banyak CCTV. Silahkan berbelanja dengan nyaman tanpa rasa khawatir.


Orang orang yang terpancing oleh perkataan Rachel dan asistennya segera bubar dan kembali melanjutkan aktivitas belanja mereka. Sebagian ada yang percaya ucapan manager dan Sean. Karena kejadian pencurian seperti ini tidak pernah terjadi setelah puluhan tahun butik ini berdiri.


..."Selesai....!" kata Rafa....


..."Hapus semua rekaman cctv di ruang itu. Jangan meninggalkan bukti. Biarkan putri Dominic tersenyum menang kali ini. Pastikan kejadian tadi tidak tersebar ke luar. Aku tidak ingin orang orang di luar sana melihat wajah cucuku." titah Rafa....


..."Baik paman!" kata Azhar yang berada di butik Nesa sejak tadi bersama anak buahnya. Tapi tidak bisa bergerak sedikitpun untuk membantu May karena perintah Rafa....

__ADS_1


...Bersambung...


__ADS_2