Rangga dan Rara (Mencintai Anak Mantan)

Rangga dan Rara (Mencintai Anak Mantan)
36. Tidak akan meninggalkanmu


__ADS_3

...Happy Reading...


May berlari dengan cepat menuju jalan raya, dengan kedua tangan menenteng sepatu dan dompet pesta. Dia terus berlari tanpa henti seperti maling yang kedapatan mencuri terus di kejar-kejar. Dia hanya ingin cepat meninggalkan kawasan ini dan menjauh dari orang orang di dalam sana. Keadaannya sangat kacau. Beberapa mobil membunyikan klakson untuk memberi tumpangan, menganggap dirinya wanita malam. May mengabaikan dan terus berlari.


500 m berlari, May mendapatkan sebuah halte di dekat perempatan. May segera duduk karena capek, telapak kaki sakit, sepertinya ada yang terluka karena terkena kerikil kecil tajam. May mengatur nafasnya yang memburu cepat tak beraturan. Peluh membasahi wajah leher dan lengannya.


"Wanita jahat, beraninya dia menampar dan mempermalukan ku di depan orang!" umpatnya kesal pada Rachel. Wajahnya kembali mendung mengingat kejadian tadi. Air matanya kembali jatuh. Dalam hidupnya di tengah keluarga, tidak pernah mendapatkan kekerasan dan perlakuan kasar. Tapi Rachel berani melakukan itu padanya. Bukan hanya sekali, tapi sudah berulangkali.


Tapi dia lega karena keberadaannya di hotel itu tidak ketahuan oleh Riez, pamannya. Jika pamannya sampai tahu, entah apa yang bakal terjadi pada Rachel. Dan jika sampai papa dan kakeknya ikut tahu, bukan hanya Rachel saja, sudah pasti perusahaan Rangga akan kena imbasnya.


Suara klakson yang berulang mengagetkan May. Dia segera melihat ke arah mobil. Sean tampak keluar dari mobil dan mendekatinya.


"Nona May.....!"


"Tuan Sean!" ucap May lirih. Dia segera berdiri dan memeluk lengan kanan Sean. Terus menangis. Dia hanya ingin menumpahkan kesedihan dan segala emosi yang di rasakan saat ini. Dia butuh bahu untuk bersandar memberi kekuatan. Sean mengusap rambutnya lembut.


"Aku minta maaf karena tidak bisa menjaga mu. Seharusnya aku di sana dan melindungi mu dari mereka yang menyakitimu. Seharusnya aku ikut bersama mu ke toilet, dan bukannya membiarkanmu pergi sendiri!" kata Sean merasa bersalah dengan kejadian yang menimpa May. Dia baru mendapatkan informasi atas apa yang terjadi beberapa saat yang lalu. Dia mengumpat Rangga dan menyalahkan pria itu atas apa yang terjadi pada May akibat perlakuan Rachel.


Beberapa saat kemudian, May menarik diri setelah merasa tenang.


"Anda tidak bersalah. Karena kemauan ku yang ingin pergi sendiri ke toilet!" kata May, masih terisak kecil. Dia menyapu pipinya yang basah. Wajahnya tampak berantakan. Pengaruh menangis, membuat eyeliner luntur dan mengotori bawah matanya. Sean mencoba membersihkan dengan sapu tangan, tapi belum bersih benar. Masih ada tersisa eyeliner menempel.


"Terimakasih!" kata May berusaha tersenyum."Aku capek, bisakah anda mengantar ku pulang?" pinta May.


"Baik, mari kita pulang!" kata Sean. Gadis ini butuh ketenangan setelah apa yang terjadi.


Keduanya segera naik mobil dan menuju apartemen. Beberapa menit kemudian mereka tiba.


"Terimakasih sudah mengantar ku!" ucap May.


"Apa kau sudah tenang? Bagaimana biar ku temani kau malam ini. Aku tidak tega membiarkan mu sendiri! Karena apa yang terjadi padamu tadi sebagian karena salahku. Jika aku tidak memaksa mu datang ke acara itu, kau pasti tidak akan mengalami kejadian buruk tadi!" kata Sean.


May kembali memaksa tersenyum."Anda jangan khawatir, aku sudah lebih baik dan merasa tenang! Aku sangat capek dan mengantuk. Aku ingin istirahat!" kata May.


"Benar? Kamu tidak berbohong kan Nona? Aku khawatir, kau akan menangis jika sampai ke kamarmu! Kau tenang saja, aku tidak akan macam macam!" kata Sean kembali menawarkan diri untuk menjaga May.


May tersenyum lebar."Yang ku ingin kan setelah sampai di kamar ku hanyalah bantal guling dan memejamkan mata! Karena aku ingin tidur! Seharian ini aku kerja, terus pergi ke acara pernikahan. I' tired and l'm sleepy! Anda tidak perlu khawatir dengan keadaan ku! Sebaiknya anda pulang saja. Ini sudah mau hampir jam 12! Anda juga harus istirahat." kata May lagi.


"Baiklah Nona. Tapi izinkan aku mengantar mu sampai di depan kamar! Aku harap kau tidak menolak!"


"Baiklah....!" May segera mengiyakan, tak enak terus menolak kebaikan pria ini.

__ADS_1


Mereka segera turun dari mobil. Lalu segera menuju lift membawa May ke lantai unit kamar apartemennya. Sean kembali turun setelah memastikan May masuk ke dalam. Dia segera pergi dari tempat itu setelah pamit pada satpam. Tujuannya ingin menemui Rangga untuk membuat perhitungan dengan pria yang merupakan sahabat sekaligus kolega bisnisnya.


Ponselnya berdering, panggilan masuk dari Rangga, kebetulan sekali.


"Di mana May!" suara tegas dari seberang.


"Aku ingin bertemu dengan mu. Temui aku di taman dekat kawasan apartemen mu!" Lalu mematikan telepon. Dia melarikan mobilnya ke taman yang berjarak 500 kilo meter dari kawasan apartemen. Taman itu masih termasuk kawasan apartemen R².


Hanya dalam waktu lima menit keduanya sudah bertemu di tempat itu.


"Dasar bajingan! Kau benar-benar seorang pecundang Rangga!" Sentak Sean begitu di hadapan Rangga. Dia mencengkram kerah Rangga kuat. Menyalahkan Rangga atas apa yang terjadi pada May. Selanjutnya terjadi perdebatan, di selingi pertengkaran mulut di antara mereka dengan hati dan kepala di kuasai emosi.


Pertengkaran itu berakhir setelah Sean memberi peringatan pada Rangga dan membuat Rangga terhenyak. Lalu pria bule itu segera pergi meninggalkan Rangga yang mematung di tempatnya. Beberapa detik berlalu, Rangga pun segera berlari meninggalkan tempat itu menuju apartemen R², miliknya.


Dalam perjalanan pulang, ponsel Sean berdering. Dia segera menepikan mobil begitu melihat siapa yang menghubunginya, Rachel.


"Ada apa?" tanyanya dengan suara ketus.


"Maaf mengganggu anda tuan Sean. Aku hanya ingin bertanya, apa OB itu sedang bersama anda?"


"Dia punya nama, May Wulandari. Aku sarankan sebaiknya kamu belajar etika, tata krama dan kesantunan. Agar kamu punya attitude dan tahu menghargai orang tanpa melihat statusnya." katanya Sean menekan, lalu segera mematikan telepon.


Rachel mengeram keras menahan amarah. Dia sengaja menanyakan keberadaan May karena khawatir Rangga pergi menemui gadis itu. Setelah pertengkaran mereka di hotel acara pernikahan, Rangga pergi meninggalkannya dengan alasan masih harus capek mau istirahat. Tapi Rachel ragu akan hal itu. Dia khawatir Rangga malah pergi menemui May setelah kejadian buruk yang di alami May karena ulahnya. Makanya dia menghubungi Sean. Karena setahunya Sean mengejar May tadi. Tapi Sean malah menghinanya, secara tidak langsung menyebutnya orang yang tidak berpendidikan dan tak bermoral. Rachel segera menghubungi salah satu satpam kepercayaannya di apartemen Rangga. Dia menanyakan apakah Rangga pulang ke apartemen seperti yang di katakan Rangga tadi. Dan satpam kepercayaannya membenarkan hal itu. "Mobil pak Rangga baru saja masuk Garasi. Beliau pulang seorang diri."


"Yakin buk, saya melihatnya turun dari mobil sendiri dan masuk lift sendiri di temani kepala petugas keamanan." kata satpam.


Rachel merasa lega. Dia tidak tahu kalau May tinggal di apartemen itu. Satpam juga tidak tahu hubungan dekat antara Rangga dan May.


"Beri tahu aku jika dia turun dan keluar lagi. Kau jangan sampai lengah. Segera hubungi aku jika ada yang mencurigakan!" kata Rachel.


"Baik buk!" kata satpam mengerti.


Rangga segera menuju unit apartemen May yang bertipe 1 BR, kamar yang sangat sederhana. Dengan bantuan kepala petugas keamanan, dia bisa masuk ke kamar May. Rangga mendekati tempat tidur. Di lihatnya, di lantai dekat tempat tidur tergeletak gaun pesta, bra, sepatu dan dompet. Rangga kembali melihat ke tempat tidur, May tampak tertidur pulas. Pakaiannya yang telah terganti tapi makeup belum di hapus.Terlihat wajahnya yang kotor oleh eyeliner. Meski tertidur lelap, terdengar isak lembut keluar dari mulutnya.


Itu karena sebelum tertidur, May masih menangis, teringat kejadian memalukan di hotel serta membayangkan ciuman yang Rangga lakukan. Dan karena lelah menangis, akhirnya dia tertidur.


Rangga merasa bersalah melihat sisa kesedihan di wajahnya.


Rangga melepas jas dan dasinya, terus sepatu. Membuka kancing kemeja bagian atas dan di kedua tangannya. Dengan sangat hati-hati, dia duduk di bibir ranjang terus mengamati May. Dia menarik selimut dan menutupi tubuh gadis itu, yang hanya mengenakan kaus tank top se batas pusar, dan short sepaha.


"Wanita jahat, wanita jahat!" kata kata keluar dari mulut May.

__ADS_1


Wajah Rangga mengernyit "Dia bermimpi?Sepertinya kejadian buruk itu terbawa sampai ke alam tidurnya!" gumamnya. Dia ingat May biasa mimpi seperti itu.


Jika May mengalami sesuatu yang buruk dan juga mengalami sesuatu yang membuatnya senang dan bahagia, kejadian itu akan terbawa sampai ke alam tidurnya dan akan di mimpikan.


Rangga merapikan rambut May yang sebagian menutupi wajah May. Dia ingin melihat wajah May keseluruhan. Matanya berhenti pada bibir May, benda kenyal yang di ciumnya tadi karena membuatnya tergoda dan ingin menikmatinya. Perlahan Rangga menjulurkan tangannya mendekati bibir itu. Tapi sebelum tangannya menyentuh benda itu, tangannya di pegang May."Kenapa Om mencium ku?" suara keluar dari mulut May.


Wajah Rangga mengernyit.


"Apa Om menyukai ku?" tanya May kembali.


Rangga kaget, dia melihat mata May yang tampak terbuka melihat kepadanya. Tapi kemudian mata itu perlahan redup dan terpejam kembali." Apa dia bermimpi lagi?" batinnya. Rangga menarik tangannya pelan pelan. Tapi kembali di raih May dan di dekap. "Jangan pergi, temani aku tidur, aku takut wanita jahat itu akan menampar ku lagi!" pinta May. Dia menarik tangan Rangga. Terpaksa Rangga menaikan kakinya ke tempat tidur. Dia bingung dengan keadaan May, apa sadar? Atau bermimpi? Melihat mata May yang terpejam.


May semakin menarik tangan Rangga, hingga pria itu naik ke atas dan berbaring di sampingnya, lalu menjadikan lengan Rangga sebagai bantalan untuk menyangga kepalanya. Untuk selanjutnya dia menyusupkan tubuhnya ke tubuh Rangga dan memeluk, lalu tidur kembali.


Rangga kembali tidak nyaman dengan kedekatan ini. Setiap sentuhan dan gerakan yang May lakukan selalu membuat tubuhnya tegang. Apalagi saat ini May tidak mengenakan bra, otomatis kedua buah kembar itu menyentuh tubuhnya.Tapi lagi lagi Rangga tidak bisa menolak karena tidak ingin May sedih dan kesal. Rangga terdiam dengan nafas yang terasa sesak.


Beberapa saat berlalu, merasa gadis ini telah tidur, Rangga menggeser tubuh May ke sebelah, dan menaruh kepalanya di atas bantal.


Dia hendak bangun, tapi lengannya tertahan oleh pegangan May."Mau kemana?"


"Mau pulang ke apartemen ku!" Jawab Rangga kembali bingung. Gadis ini sadar atau lagi bermimpi?


"Gak boleh pergi! Temani aku di sini. Aku takut sendirian! Ntar wanita jahat itu datang ke sini gimana? Gak ada yang lindungi aku!"


Wajah Rangga mengernyit. Apa dia tahu tentang keberadaan ku di sini? batinnya.


Dia segera duduk.


"May, May.....kamu sadar gak sih? Atau lagi mimpi?" Rangga menepuk pelan pipinya, dan kembali menepuk.


Perlahan May membuka mata mendengar suara dan merasakan sesuatu yang menyentuh pipinya.


Dia menengadah ke atas "Om?" panggilnya pelan."Ini benaran Om?" membuka lebar matanya memperjelas penglihatannya."Om ada di sini?" Wajah May berubah mendung seketika setelah memastikan itu Rangga. May segera menghambur ke pelukan Rangga. Dia menangis."Wanita itu sangat kejam dan jahat. Kenapa Om biarkan dia menampar ku? Aku takut. Jangan tinggalkan aku." kata May terisak. Semakin memeluk kuat.


Hati Rangga tergetar. Tangis May membuatnya sedih dan sakit. Dia merengkuh tubuh May"Tidak ada yang perlu kamu takutkan. Aku tidak akan meninggalkan mu! Maaf, semua salahku hingga membuat mu mengalami kejadian buruk! Aku berjanji tidak akan ada lagi yang menyakitimu, termasuk Rachel!" kata Rangga seraya mengelus punggung May lembut. Tangis May malah semakin menjadi. Tapi hatinya senang mendengar Rangga tidak akan meninggalkannya dan berjanji akan menjaganya.


Bersambung.


Cukup segini dulu ya cerita halusinasi author, semoga suka.


Jangan lupa tinggalkan dukungannya ya

__ADS_1


Like, koment, vote, dan hadiah seikhlasnya. Terimakasih 😍


__ADS_2