Rangga dan Rara (Mencintai Anak Mantan)

Rangga dan Rara (Mencintai Anak Mantan)
41. Apa yang ku rasakan? Cinta...


__ADS_3

...Happy Reading....


Sejam kemudian May siuman. Wajahnya mengernyit melihat sosok Haris di sampingnya."Anda?" bingung kenapa pria ini ada di sampingnya.


"Syukurlah kamu sudah sadar." kata Haris lega melihat May sudah terbangun.


"Kok bapak ada di sini?" tanya May. Dia melihat sekelilingnya. Yang kini sudah berada di kamar apartemennya. Selanjutnya dia teringat kembali dengan kejadian buruk yang hampir merenggut nyawanya.


"Kakek?" May teringat pada pria yang memeluknya saat dia ketakutan. Dia ingat jelas wajah pria itu, Rafa... kakeknya. May segera bangun dan melihat isi kamarnya. Tapi dia tidak menemukan sosok kakeknya.


"Kamu lagi cari siapa?" tanya Haris.


"Kakekku.....!"


"Kakek mu?" Haris mengernyit.


May mengangguk. Dia turun dari ranjang.


"Mana kakekku?" kembali celingukan.


"Kakek yang mana? Tidak ada siapapun di sini selain saya dan kamu." Haris segera berdiri.


"Aku melihat kakekku sebelum pingsan. Dia memelukku. Aku melihat jelas wajahnya." tegas May karena yakin melihat wajah Rafa saat jatuh ke aspal.


"Itu aku. Mungkin kau salah mengenali orang."


kata Haris.


Dahi May mengerut"Anda? Masa sih?" gumamnya tidak percaya. Dia mengingat kembali wajah Rafa saat memeluknya. Kakeknya itu memakai jas hitam dan berkacamata. May beralih melihat wajah Haris. Pria ini juga berkacamata dan berjas hitam.


"Apa iya aku salah orang?" batin May mulai ragu. Tapi kenapa hatinya mengatakan kalau yang menolongnya tadi adalah kakeknya. Dia dapat merasakan pelukan kasih sayang serta perlindungan kakeknya.


"Terus kenapa Anda bisa berada di tempat itu?" tanya May.


"Aku mau ke suatu tempat untuk urusan pekerjaan. Aku tidak sengaja melihat mu sedang berlari di kejar orang. Aku berhenti ingin menolong mu. Tidak lama kemudian ada kecelakaan. Terus aku melihat kau terduduk ketakutan di aspal. Aku langsung mendekat! Lalu kau pingsan. Terus aku membawa mu ke sini." jelas Haris.


"Jadi orang yang memeluk ku anda? Dan bukan Kakek?" tanya May kembali. Dia masih kurang yakin dengan perkataan Haris. Soalnya hatinya mengatakan pria berkacamata itu Rafa. Apa mungkin karena dia sangat ketakutan hingga salah mengenali orang?


May turun dari ranjang, berjalan menuju jendela dengan pikiran masih pada kakeknya dan juga orang orang yang mengejarnya terus ingin menabraknya."Siapa mereka? Mengapa mereka hendak mencelakai ku?" gumamnya. Jujur saat ini dia masih takut dan ngeri membayangkan kejadian tadi yang hampir merenggut nyawanya. Untung saja ada mobil yang menghalangi mobil yang ingin menabraknya. Mobil siapa yang telah menyelamatkan diriku? Apa itu sengaja untuk melindungi aku? May kembali teringat Rafa. Hanya kakeknya yang bisa melakukan hal itu. Selalu ada untuk melindungi dan menjaganya. Bukan hanya dia, tapi seluruh keluarganya selalu dalam pengawasan dan perlindungan kakeknya.


"Kakek, kenapa hatiku mengatakan itu Kakek? Aku sangat merasakan keberadaan Kakek di samping ku." batinnya."Apa Kakek tahu keberadaan ku di sini dan diam diam menjagaku?" batinnya lagi. Tapi perkataan Haris dan juga keberadaan pria itu di sini meragukan hatinya dengan keberadaan Rafa di sini. Mungkin dia memang salah melihat orang. May menarik nafas dalam-dalam, lalu mengeluarkan pelan. Dia menatap ke luar jendela. Tatapan ke arah luar tapi pikiran masih pada kejadian buruk tadi.


Sementara di tempat duduknya, Haris memperhatikan May. Dia benar benar tidak menyangka kalau gadis ini ternyata cucu penguasa yang sangat terkenal dan begitu berpengaruh di kalangan para pebisnis dunia. Rafa Ravendro Artawijaya. Dan anak dari pengusaha yang tak kalah terkenal dan tajir melintir, Ryu Deva Mayandra. Lalu untuk apa gadis ini bekerja sebagai OB di kantor perusahaan R²? Dan apa tujuannya datang ke Amerika dengan menyamar mengunakan identitas milik orang lain? Seperti yang di katakan Wisnu padanya tadi.


Dan Wisnu mengatakan untuk merahasiakan hal ini dari siapa pun, termasuk pada Rangga dan May. Juga membiarkan gadis itu melakukan apa yang menjadi tujuannya datang ke negara ini.


Sebenarnya Haris tidak tahu menahu tentang kejadian yang menimpa May. Dia terkejut saat mendapat telepon dari Wisnu untuk datang ke apartemen May. Haris yang sangat tahu siapa Wisnu Adi Nugroho, sekretaris pribadi Rafa Ravendro Artawijaya yang juga sangat terkenal di kalangan para pebisnis, pengusaha, dan konglomerat dunia.


Haris seperti mendapat kehormatan dari orang orang yang sangat penting itu, tanpa banyak berpikir dia langsung menuju apartemen May. Di kamar ini, dia mendapati Rafa sedang memeluk May yang masih pingsan. Dia melihat begitu sayangnya sang penguasa itu memperlakukan May. Dan seperti tahu May akan siuman, kedua orang penting itu bergegas pergi 10 menit saat May terbangun. Tapi sebelum keluar, Wisnu masih mengatakan sesuatu padanya.


"Lalu, dari mana Anda tahu aku tinggal di apartemen ini?" tanya May membuyarkan lamunannya.


Haris sedikit gugup"Itu ....aku tahu dari.....!" ucapannya terputus dengan suara pintu di buka. Keduanya segera menoleh ke arah pintu. Begitu benda itu terbuka, tampak muncul sosok Rangga. Pria itu segera masuk dengan buru buru. Wajah tegang penuh kekhawatiran.

__ADS_1


"Saya tahu tempat tinggal mu dari pak Rangga! Beliau meminta ku membawa mu ke kesini." Haris melanjutkan ucapannya."Karena pak Rangga sudah datang, saya permisi dulu." pamitnya. Dia menunduk sejenak pada pimpinannya, lalu segera keluar dan menutup pintu dari luar.


Rangga mendekati May, dan tanpa berkata apapun dia segera memeluk gadis itu."Kau tidak apa apa? Apa kau baik-baik saja?" tanyanya. Dia melepas pelukannya. Lalu memeriksa badan May. Mulai dari kepala, wajah, tangan, badan hingga kaki. Setiap bagian tubuh May di periksa dengan detail.


"Mana yang sakit? Mana yang terluka?" katanya dengan cercaan pertanyaan.


Dahi May mengerut dengan apa yang dia lakukan."Aku baik baik saja. Bapak jangan khawatir." katanya kemudian, melihat kekhawatiran dan kecemasan bosnya itu.


"Syukurlah!" ucap Rangga lega. Dia kembali membawa tubuh May ke pelukannya. Dia sangat bersyukur karena gadis ini baik baik saja. Telepon Haris membuatnya ketakutan, tidak tenang, tegang. Saat bawahannya itu menghubunginya, mengatakan May hampir menjadi korban tabrak lari dan pingsan karena ketakutan. Dia sangat terkejut dan segera meninggalkan pertemuan penting. Dia menyuruh Haris membawa May ke apartemen gadis itu.


"Aku sudah bilang jangan keluar dan tetap di rumah." kata Rangga begitu melepas pelukannya."Kenapa kau tidak mendengar perkataan ku?" menatap tajam wajah May. Saatnya memarahi setelah memastikan gadis ini baik baik saja, tidak lecet sedikit pun.


"Kenapa kau bandel sekali? selalu saja membangkang." kata Rangga kembali dengan marah.


"Aku.....aku bosan di rumah! Gak tahu mau ngapain jadi aku keluar mencari udara segar dan mencuci mata!" kata May gugup, takut melihat kemarahan itu.


"Aku sudah bilang kalau butuh sesuatu atau ingin melakukan sesuatu hubungi aku, beri tahu aku! Ini negara barat, sangat rawan kejahatan!" kata Rangga kembali, suara mulai meninggi.


"Om kan lagi kerja. Aku gak mau ganggu Om!" kata May.


"Kau bisa mengirim ku pesan, jika kau gak enak menghubungiku! Lagi pula Sudah kubilang, kapan saja kau butuh sesuatu beri tahu aku, hubungi aku! Gak masalah bagiku! Untung saja kamu selamat dari kecelakaan itu? Bagaimana jika tidak? Hah?" sentak Rangga. Dia marah tapi juga takut membayangkan terjadi sesuatu yang buruk pada May.


Dia memegang wajah May. Tatapan marah tadi kini berubah lembut, memancarkan kesedihan.


"Tolong jangan buat aku khawatir dan takut. Aku tidak akan bisa memaafkan diriku jika terjadi sesuatu yang buruk padamu. Aku takut.....sangat takut!" ucapnya lirih. Lalu mendekap May dalam pelukannya.


May tertegun mendengar ucapan itu. Dia mencoba mengerti makna dari ucapan itu, juga kekhawatiran dan ketakutan pria dewasa ini. May yakin kalau pria ini telah jatuh cinta padanya melalui bahasa tubuh ini. Pelukan, ciuman, kecemasan, ketakutan, perhatian, dan kepedulian yang di tunjukkan Rangga pada dirinya, menunjukan kalau pria matang dewasa ini benar-benar mencintainya. Hanya saja perasaan itu tidak di ungkapkan lewat ucapan, hanya di tunjukkan melalui tingkah laku dan perbuatan yang tulus.


May tersenyum."Maaf, lagi lagi aku membuat Om khawatir. Om tak perlu cemas lagi. Lihat kan, aku sehat tak kurang apa pun! Aku baik baik saja. Berhentilah menghawatirkan ku!" kata May kemudian, untuk menenangkannya.


30 detik berlalu. May melepas pelukannya karena teringat sesuatu.


"Om bukannya lagi ada pekerjaan penting? Sebaiknya Om kembali bekerja!" katanya kemudian.


"Siapa mereka?" Rangga malah bertanya.


Wajah May mengernyit.


"Orang orang yang ingin mencelakai mu?" kata Rangga menjawab kebingungan May.


"Aku gak tahu. Aku juga bingung!" kata May sambil mengangkat ke dua bahunya. Dia juga tidak tahu siapa orang yang hendak menculiknya, terus ingin menabraknya karena berusaha melarikan diri.


"Lupakan kejadian tadi. Sekarang mari kita keluar!" kata Rangga tidak ingin membahas kejadian tadi, khawatir akan membuat May teringat terus dan trauma.


Dia segera menarik tangan May berjalan menuju pintu.


"Kemana?" tanya May.


"Makan siang!"


"Tapi Om bukannya lagi kerja?"


"Pekerjaan ku sudah selesai!"

__ADS_1


"Benarkah?" May tidak percaya. Karena Haris berkata tadi di kantor, bahwa Rangga sedang ada pertemuan penting di luar, dan akan memakan waktu yang lama, karena membahas projek penting yang bernilai triliun rupiah.


May tidak membantah lagi. Dia mengikuti langkah Rangga. Keduanya segera masuk lift, dan turun kebawah.


"Kenapa kau masih datang ke kantor?" tanya Rangga ketika mereka telah masuk mobil dan berjalan meninggalkan kawasan apartemen.


May tak menjawab, percuma karena akan kena marah lagi. Sepertinya pria ini tahu kedatangannya ke kantor tadi.


"Aku sudah bilang untuk berhenti bekerja!" lanjut Rangga melihatnya dari samping.


"Mulai besok kau tidak perlu lagi datang ke kantor untuk bekerja. Aku memberhentikan mu!" lanjut Rangga kembali.


May tercengang."Maksudnya aku di pecat?"


Rangga hanya menjawab dengan tatapan kilat.


"Tapi aku gak melakukan kesalahan Om!" kata May kesal. Dia teringat pemecatan yang di lakukan Rachel padanya tadi. Dan sekarang Rangga pun malah ikut memecatnya.


"Itu sudah menjadi keputusan ku." kata Rangga tegas.


May mendengus kesal."Kalau aku gak kerja, terus aku mau apa? Diam di kamar ku, gitu? Aku gak tahan Om, aku bosan! Pokoknya aku tetap kerja!" May bersikeras. Menatap cemberut.


"Kamu bisa melakukan pekerjaan lain yang menyenangkan, tanpa harus bekerja dikantor! Atau mendaftar kuliah saja. Kau bisa mengisi hari harimu dengan aktivitas kampus. Om akan daftar kan kamu."


"Gak. Sudah ku bilang aku belum mau kuliah. Aku akan melanjutkan kuliah di negara ku! Bukan di sini."


"Ya sudah....kalau gitu baiklah ke Indonesia! Om akan antar kamu."


May tercengang."Aku belum menemukan apa yang aku cari!" katanya tiba-tiba teringat Rad.


"Kekasihmu itu?" tanya Rangga merasa tak suka. Kenapa harus pria itu yang menjadi alasan May tidak mau kembali ke Indonesia dan menunda kuliah. Tidak adakah alasan lain? Jujur hatinya sakit mendengar alasan May karena pria itu


May terdiam. Menatap kosong ke depan.


"Apa kamu begitu mencintainya hingga mengorbankan masa depan mu?" Rangga mulai emosi karena May tidak menjawab pertanyaannya.


"Jawab May.....!" suara Rangga meninggi.


"Entahlah....!" ucap May hampir tak terdengar. Lalu melayangkan pandangannya ke jendela menatap bangunan tinggi pencakar langit.


Rangga menarik nafas dan membuang kasar. Kesal yang di rasakan, tapi tidak ingin bertanya lagi karena tidak ingin mood May jelek. Apalagi gadis itu baru mengalami kejadian buruk.


Mobil terus melaju menuju ke tempat yang menjadi tujuan Rangga.


Dua jam berlalu, mobil berhenti di sebuah tempat membuat May tercengang. Tempat Kuliner Makanan Indonesia.


May segera turun. Dia melongo, sangat senang. Dia menoleh pada Rangga, pria ini menepati janjinya setelah semalam batal karena salah paham. May tertawa senang dan gembira. Dia segera memeluk Rangga."Terima kasih Om! Tempat ini benar-benar membuat aku sangat lapar! Aku akan menikmati semua makanan di sini!" celetuknya tertawa kecil.


Rangga menanggapi dengan senyuman. Hatinya bahagia melihat binar ceria di wajah manis ini. Tak ada lagi ketakutan.


Bersambung.


Maaf baru nongol 🙏 Sangat sibuk dengan orderan kue. Tinggalkan jejak dukungan kalau masih suka dengan karya ini...😘

__ADS_1


Terimakasih yang sudah mampir.


__ADS_2