
...Happy Reading....
Sudah hampir sejam May duduk di cafe yang berada di hotel itu. Segelas minuman yang telah di pesannya tak juga habis meski telah cukup lama dia duduk di situ. Pikirannya menerawang entah kemana. Sesekali ia menarik nafas dalam-dalam, wajahnya tampak murung campur sedih. Tatapan matanya yang hampa tertuju pada sendok yang di permainkan di dalam gelas. Karena ada yang sedang di pikirkan.
Apalagi kalau bukan tentang perasaannya pada Rangga.
Pikirannya melamun kan pada peristiwa peristiwa yang telah di laluinya bersama Rangga. Dari awal bertemu secara tidak sengaja, terus perlahan akrab dan semakin dekat hingga menimbulkan getaran dan rasa bahagia pada dirinya. Terbayang dalam matanya segala perhatian, kepedulian, kasih sayang tulus, kelembutan, perlindungan yang Rangga berikan padanya. Bahkan pria itu sangat cemas dan ketakutan bila terjadi sesuatu yang buruk padanya. Rangga telah merubah dunianya merasakan kebahagiaan dan penuh ceria.
May tersenyum membayangkan semua kebaikan dan perhatian Rangga. Juga wajah tampan menawan mempesona pria itu. Dia begitu bahagia memikirkannya. May benar benar tidak menyangka telah jatuh cinta pada pria matang dewasa itu.
Tapi tiba-tiba senyum itu redup, berganti mendung, tak kala wajah Rachel melintas di pikirannya. Dadanya seketika terasa sesak dan sakit.
May menggeleng gelengkan kepala.
"May....May....kau bodoh! Memangnya apa yang kau pikirkan? Apa yang kau harapkan? Mengharapkan bahagia bersama Rangga? Jangan berpura-pura tidak tahu...Pria itu sudah ada pemiliknya. Dia milik Rachel. Apa kau ingin menjadi wanita rendah, murahan tidak punya harga diri perusak hubungan orang? Apa kau tega hadir di tengah hubungan yang telah di bangun bertahun tahun? Di mana hati nurani mu? Di mana perasaan mu sebagai perempuan? Kau tega menyakitinya? Ingat May, kau juga seorang perempuan sama seperti Rachel. Bagaimana jika kekasih yang kau cintai, hubungan yang kau jalin selama bertahun-tahun di rusak oleh wanita lain? Pakai perasaan timbal balik May! Dan ingatlah siapa dirimu? Statusmu sebagai cucu Artawijaya! Kakek nenekmu, papa mamamu pasti akan kecewa padamu." Suara suara itu seolah menyadarkan akan harapan perasaannya pada Rangga.
May mendesah sedih."Begini kah rasanya sakit karena cinta?" batinnya sendu, Mata berkaca-kaca. Menekan dadanya yang terasa sakit.
"Tuhan, berilah aku kekuatan untuk menerima semua ini. Berikan aku kemampuan untuk mengendalikan perasaan ku! Perasaan ini sangat tidak pantas. Hilang kan perasaan ini ya tuhan!" doa May lirih dalam hati dan pikirannya.
Lamunan May buyar ketika pundaknya di tepuk pelan oleh seseorang dari belakang.
"Halo nona May!"
May kaget, lalu menoleh kebelakang.
"Mr. Sean?" sapa nya begitu melihat siapa yang menegurnya. May segera mengurai senyum tak ingin Sean melihat kesedihan di wajahnya.
Pria dewasa ini tampak memakai pakaian kasual. Tampan dan gagah.
Sean tersenyum, lalu mengambil tempat duduk di sampingnya.
"Sejak tadi ku perhatikan kamu lagi melamun. Apa ada masalah?" tanya Sean seraya duduk di sampingnya.
May kembali tersenyum"Hanya masalah pribadi."
"Mau membaginya padaku? Aku bisa di percaya untuk bisa menyimpan rahasia. Kamu jangan khawatir." kata Sean tersenyum dengan kedipan mata. Dia memperhatikan May sejak tadi dari jauh. Melamun dengan ekspresi wajah sedih.
Senyum May mengembang.
Sean terpukau melihatnya, karena senyuman itu membuat wajah May semakin manis. Meski dia tahu, senyuman itu untuk mengalihkan kesedihan.
"Akh....bukan apa-apa tuan Sean!" kata May.
"Baiklah, aku tidak akan memaksa mu! Tapi jika kau butuh sesuatu, beri tahu aku. Kita adalah teman. Aku siap membantu." kata Sean masih dengan senyum di buat genit.
May mengangguk.
"Apa kamu sendirian? Bos mu mana?" tanya Sean. Karena sesuai informasi yang di dapat dari manager hotel, Rangga menginap di hotelnya. Datang bersama dengan seorang wanita, yang sudah diyakininya adalah May. Rangga juga sempat menghubunginya kalau dia dan May menginap di hotelnya. Sean hanya berpura-pura saja menanyakan keberadaan Rangga pada May.
May sedikit kaget, Sean tahu dia menginap di sini bersama Rangga. May jadi malu karena ketahuan menginap bersama dengan Rangga. Timbul perasaan khawatir, jika Sean akan mengatakannya pada Rachel.
__ADS_1
"Pak Rangga sedang keluar karena ada urusan penting." kata May. Kepergian Rangga membuatnya sendiri. Tadi setelah Rangga mengaktifkan ponselnya. Ada beberapa telepon masuk dan juga pesan dari Cindy dan Rachel. Dan itu membuat Rangga pamit keluar tiba-tiba meninggalkannya.
May, karena bosan hanya sendiri di dalam kamar, May keluar datang ke kafe ini untuk menghibur diri.
"Anda tahu kami menginap di sini?" tanyanya.
"Tentu saja tahu. Hotel ini punya ku Nona! Aku kebetulan berkunjung dan tak di sangka melihat mu!" kata Sean tersenyum. Sebenarnya dia kemari karena Rangga menghubunginya, memintanya datang untuk menemani May. Rangga khawatir setelah insiden buruk yang menimpa May tadi siang. Rangga khawatir terjadi sesuatu yang tidak di inginkan lagi pada May, jadi dia meminta Sean untuk menjaga May.
Padahal Rangga dan Sean tidak tahu kalau di setiap sudut hotel ini ada anak buah Wisnu tersebar untuk menjaga May secara sembunyi sembunyi yang menyamar menjadi tamu. Bahkan Azhar turut serta dalam penjagaan itu. Dia duduk di meja sebelah bersama dua orang dengan menyamar. Berpura-pura sebagai tamu.
"Ohh...!" ucap mulut May setelah tahu kalau hotel ini milik Sean.
Sean kembali tersenyum melihat mimik wajahnya yang sedikit kaget dengan mulut membentuk O.
Seorang pelayan datang membawa minuman, lalu di letakkan di depan Sean.
"Silahkan tuan!" katanya sopan.
"Terimakasih!" kata Sean. Sang pelayan segera berlalu.
"Kok hanya di aduk? Di minum dong!" kata Sean melihat minuman May yang hanya di aduk aduk.
"Atau kau ingin menggantinya? Akan ku beri tahu pelayan!" Sean menawarkan minuman baru untuk May.
"Akh... tidak perlu tuan! Aku akan akan segera meminumnya!" kata May menolak. Lalu perlahan menyeruput minumannya.
Sean juga ikut meminumnya.
"Tuan Sean. Boleh aku meminta sesuatu?" tanya May dengan ragu ragu.
"Aku ingin keberadaan ku di hotel ini tidak di ketahui oleh siapa pun!" kata May. Dia tidak ingin keberadaannya di sini di ketahui oleh siapa pun, terutama Rachel.
"Baik, sesuai keinginanmu. Sudah ku katakan kan aku bisa di percaya untuk menyimpan rahasia!" kata Sean tersenyum menggoda. Dia mengerti arti maksud permintaan May. Ingin menyembunyikan dari Rachel.
May tersenyum lega."Terimakasih!"
May kembali meneguk minumannya.
"Aku pikir tuan sudah pergi ke Australia." katanya kemudian.
"Kau tidak ikut makanya aku batal pergi!" goda Sean tersenyum.
May tersenyum dengan wajah mengernyit. Seolah tidak percaya hanya karena dirinya Sean batal ke Australia.
"Aku hanya bercanda. Kebetulan aku masih ada urusan penting untuk di selesaikan. Besok pagi jam tiga dini hari aku akan berangkat!" jelas Sean
May mengangguk mengerti.
"Aku masih sangat berharap kau ikut dengan ku ke Australia. Siapa tahu kali ini kau sudah berubah pikiran! Apa kau mau ikut dengan ku?" untuk ke dua kalinya dia mengajak May pergi bersamanya ke Australia.
May diam terpaku. Mungkin ajakan Sean di turuti? Toh, di sini juga dia tidak bekerja lagi. Karena Rachel telah memecatnya, dan Rangga memberhentikannya bekerja. Tidak ada urusan lagi dia ada di sini.
__ADS_1
May menarik nafas dalam-dalam. Dia memikirkan perasaannya pada Rangga. Mungkin dengan pergi ke Australia bersama Sean akan menghilangkan perasaannya pada Rangga. Dia harus menjauh dari Pria dewasa itu sebelum perasaannya semakin dalam dan jauh. Dia juga tidak ingin menjadi orang ketiga di antara hubungan Rangga dan Rachel.
"Mungkin dengan pergi ke Australia adalah cara yang tepat untuk menghilangkan perasaan ku pada Om! Aku yakin perasaan ini hanya perasaan sesaat. Dan akan hilang jika aku tidak lagi bertemu dan bersama dengannya!" batinnya lirih meyakinkan dirinya.
Australia.....di mana Rad berada. May teringat Rad. "Yaahh, aku akan ke Australia tempat tinggal sang idolaku. Dia adalah tujuan ku kabur dari rumah." batinnya. Mungkin dia akan bertemu dengan Rad di sana dengan bantuan Sean. Sean pasti bisa membawanya bertemu dengan idolanya itu, mengingat Sean bukan orang sembarangan. Dan setelah tujuannya bertemu dengan Rad terpenuhi, dia akan kembali ke Indonesia dan kuliah.
"Baik, aku akan ikut dengan anda ke Australia!" Katanya kemudian, sambil menatap Sean.
Wajah Sean terkejut, sekaligus senang.
"Benarkah?"
May mengangguk.
"Terus bagaimana dengan pekerjaan mu di sini? Kau harus meminta izin dulu pada atasan mu! Atau kalau kau mau, biar aku yang akan meminta izin pada tuan Rangga?"
"Itu tidak perlu. Karena aku sudah tidak bekerja lagi di tempat itu!" kata May.
Wajah Sean mengernyit"Kau mengundurkan diri?"
May menggeleng"Tidak. Aku di pecat karena pekerjaan ku tidak becus!" kata May tersenyum kecut.
"Benarkah? Tapi kenapa aku tidak percaya dengan kata katamu?" kata Sean merasa aneh dengan pemecatan May. Dia tidak percaya pemecatan May tidak becus bekerja, tapi karena ada hubungan dengan kejadian semalam, di hotel acara pernikahan teman mereka. Di mana Rachel memergoki Rangga memeluk May. Rachel tidak terima dan cemburu dengan kedekatan Rangga dan May. Rachel cemburu dan khawatir Rangga menyukai May dan memiliki hubungan pribadi. Oleh karena itu dia memecat May untuk menjauhkan ke duanya.
"Sudahlah tuan Sean. Tidak usah di pikirkan hal itu. Aku juga tidak ingin bekerja lagi di tempat itu!" kata May membuyarkan lamunan Sean. Jika masih bekerja di perusahaan R² akan terus mendekatkan dirinya pada Rangga. Dan dia tidak akan bisa menghilangkan perasaannya pada bos nya itu. Cara terbaik adalah menjauh dan pelan pelan melupakan.
"Baiklah, Tapi kau harus tetap pamit pada tuan Rangga." kata Sean.
"Itu tidak perlu, tolong jangan menghubungi beliau. Pak Rangga mungkin sedang sibuk saat ini." cegah May. Khawatir Rangga tidak akan mengizinkannya ke Australia.
Sean termangu, dia merasa ada sesuatu yang aneh. Karena dia tahu Rangga menyukai May. Sean sangat tahu pribadi Rangga luar dan dalam, karena keduanya sahabat dekat. Apa yang Rangga suka dan tidak, termasuk urusan perempuan. 17 tahun bersahabat, dia tidak pernah melihat Rangga menjalin hubungan pribadi dengan wanita. Kalua pun ada perempuan yang dekat dengannya itu hanya sebatas teman atau karena tuntutan pekerjaan. Dan Rachel, yang sebagian orang tahu adalah kekasihnya, sama sekali tidak di cintai nya. Setelah 17 tahun berlalu, akhirnya dia melihat cinta dan kebahagiaan di wajah sahabatnya saat bersama May. Dan kalau bukan karena Rangga menyukai May, dia pasti sudah mengutarakan cintanya pada May, menjadikan May kekasih karena jujur dia juga menyukai May. Tapi demi kebahagiaan sahabatnya, dia mengalah.
"Tuan, bisakah kepergianku ke Australia tidak menjadi rahasia kita berdua? Jujur aku punya tujuan ke Australia dan untuk itu aku butuh bantuan anda. Aku tidak ingin di ganggu oleh siapa pun!" pinta May membuyarkan lamunannya.
Sean menatap wajahnya."Punya tujuan?" batin Sean.
"Kalau untuk pak Rangga, biar aku sendiri yang akan menghubunginya untuk pamit!" kata May kembali.
"Sesuai keinginanmu Nona!" kata Sean mengiyakan meski dia merasa aneh dengan sikap May. Dia menangkap kesedihan di wajah May, yang berusaha di tutupi dengan senyum palsu.
May mengulas senyum."Terima kasih. Kalau begitu aku akan ke apartemen ku dulu untuk mengambil barang-barang ku!"
"Biar ku temani. Aku akan mengantarmu!"
"Terimakasih tuan!" kata May basa basi.
Karena waktu sudah hampir larut malam, May segera keluar dari hotel dan pergi ke apartemennya. Mengingat perjalanan ke apartemen memakai waktu dua jam. Sementara mereka akan pergi ke Australia jam tiga dini hari.
Sebelum mereka keluar hotel, Sean memerintahkan sesuatu pada manager hotel.
Bersambung.
__ADS_1
Terimakasih yang masih setia mampir 😘
Tinggalkan jejak dukungan ya.....