Rangga dan Rara (Mencintai Anak Mantan)

Rangga dan Rara (Mencintai Anak Mantan)
72. Jangan sampai kehilangan lagi


__ADS_3

...Happy Reading....


May terus berjalan bersamaan dengan air matanya yang terus mengalir. Dia melangkah cepat membawa kehancuran dan kekecewaan teramat sangat. Tak perduli dengan panggilan teriakan Rangga yang terdengar oleh telinganya. Ternyata dugaannya salah. Rangga tidak mencintainya. Pria dewasa itu hanya memanfaatkan dirinya untuk pelampiasan nafsu dan kesenangan.


Betapa malunya May. Seharusnya dia dapat menjaga batasan dengan Rangga yang notabenenya adalah tunangan orang. Cap wanita rendah penggoda yang di sematkan Rachel padanya memang benar. Dia memang wanita rendah karena mencintai pria milik orang. Seharusnya tidak jatuh hati dan mencintai pria matang dewasa itu. Yang hanya mencintai wanita di masa lalunya, yaitu wanita yang menjadi cinta pertamanya yang sulit di lupakan hingga saat ini.


Langkah May tiba-tiba terhenti melihat sosok di depannya. Menatapnya dengan seringai tajam penuh amarah, Rachel.


Rachel mendekati May dan tanpa banyak bicara langsung melayangkan tamparan keras ke wajah May.


May tidak sempat menghindar. Tangan itu mendarat sangat keras di pipi kanannya. May memekik merasakan sakit. Dia meringis menyentuh pipinya yang terasa perih dan panas. Belum sempat melakukan sesuatu, satu tamparan keras kembali mendarat cepat di pipi kirinya.


"Wanita rendah, murahan, penggoda. Kau sampah menjijikan!" caci Rachel penuh kemarahan. Menjambak rambut May sekuatnya.


Sangat sakit hati May mendengar penghinaan itu, menghilangkan rasa sakit di pipinya. May marah hendak membalas. Tapi ciuman antara dia dan Rangga tadi di kamar mandi, muncul dan menari nari di pelupuk matanya. May memendam kemarahannya untuk tidak membalas. Apa yang di katakan Rachel benar. Dia memang wanita rendah, karena mencintai bahkan menanggapi ciuman dan sentuhan Rangga yang merupakan milik wanita ini.


Rachel tersenyum sinis, dapat menebak apa yang ada di dalam pikiran May. Segala bentuk penghinaan nya tepat sasaran. May tidak akan mengelak dan membalasnya seperti kemarin. Dan ini membuktikan kalau May benar mencintai Rangga. Rachel memegang lengan May kasar. Lalu menyeret tubuh May ke tembok di tekan kuat. Dia memegang kuat rahang May.


"Kau pikir aku tidak tahu apa yang terjadi antara kau dan Rangga?" ucap Rachel menatap garang."Kau pikir aku tidak tau apa yang kalian lakukan?" sentaknya keras penuh amarah. Mencengkram rahang May semakin kuat.


May meringis kesakitan. Giginya seakan mau rontok. Dia kesulitan bernapas.


"Cih, wanita murahan. Menggoda Rangga dengan tubuhmu yang hina dina menjijikkan ini." caci maki Rachel.


May tak membalas perkataannya. Membela apalagi membalas. Karena dia memang bersalah. Hanya airmata yang terus mengalir, membenarkan semua caci maki Rachel. May tertunduk lemah.


Dari kejauhan terdengar suara langkah sepatu mendekat dengan cepat."Rachel....." sekaligus seruan panggilan yang di tujukan pada Rachel.


"Hentikan. Apa yang kau lakukan?" suara itu menghentikan pergerakan Rachel yang hendak ingin melakukan kekerasan pada May. Keduanya kaget mendengar suara itu. Terlebih May. Dia sangat kenal dengan suara itu. "Nenek Cindy." batinnya panik. May tidak ingin Cindy melihat dirinya. Saat ini dia tidak memakai topeng. Topengnya terlepas saat di kamar mandi tadi. May panik berusaha melepaskan cengkraman tangan Rachel yang kuat.


Sementara Rachel menoleh pada Cindy. Dia tersenyum melihat ke arah Cindy. Berpikir ini waktu yang tepat untuk mempermalukan May di depan Cindy. Membeberkan kelakuan busuk May yang menggoda Rangga di kamar mandi.


May tahu pikiran buruk Rachel dari senyum licik dan tatapan Rachel. Dia tidak mau di permalukan di depan Cindy. Dan nantinya akan membuat identitasnya ketahuan. Cindy pasti akan sangat kecewa padanya. Dan di laporkan pada kakeknya.

__ADS_1


Cindy semakin dekat. May menutupi wajahnya dengan rambut. Sembari berpikir bagaimana cara melepaskan diri dari cengkraman Rachel yang kuat.


"Apa yang kau lakukan pada wanita itu?" seru Cindy bertanya. Berpura pura tidak tahu kalau yang tengah di sakiti Rachel adalah May.


Rachel tersenyum sinis, dia melihat May, lalu menoleh pada Cindy.


Melihat Rachel lengah, dengan kekuatan penuh, May mendorong tubuh Rachel sekuatnya. Lalu berbalik dan dengan cepat berlari meninggalkan tempat itu. Tidak perduli dengan teriakan kekesalan Rachel.


Sementara Cindy lega melihat May berhasil melarikan diri. Melepaskan diri dari kekejaman Rachel. Cindy mengikuti Rachel keluar dari ballroom diam diam. Dia curiga Rachel mencari May dan Rangga, makanya di ikuti. Dan kekhawatirannya benar, dia melihat perlakuan kasar semena mena Rachel pada May dari kejauhan.


"Brengsek." maki Rachel kelepasan May. Dia hendak mengejar tapi Cindy segera mencegahnya."Tidak usah di kejar." cegah Cindy segera.


"Aku tidak akan melepaskannya. Gadis itu.....!"


kata Rachel kesal karena di hentikan.


"Jaga Image mu Rachel. Banyak wartawan di sini. Jangan sampai perbuatan mu menarik perhatian mereka. Kau bukan hanya wakil presiden direktur, tapi juga tunangan Rangga. Jangan membuat sesuatu yang membuat kita semua malu yang nantinya akan mencoreng nama perusahaan. Kendalikan amarahmu." kata Cindy tegas menatap tajam.


"Tapi Tante__!" Rachel tetap tidak terima melepaskan May begitu saja.


Rachel memaki geram. Ingin mengatakan pada Cindy kalau wanita itu adalah May. Dan mengungkap hubungan dekat Rangga dengan wanita itu. Tapi Cindy malah meninggalkannya.


Tapi ada benarnya juga perkataan Cindy. Dia harus menahan diri memendam kemarahan, kebencian dan sakit hati untuk sementara waktu. Karena dia juga tidak ingin wartawan dan publik mengetahui kalau Rangga punya wanita lain. Rachel melihat ke arah May yang telah menghilang. Lalu segera melangkah menyusul Cindy.


.


.


Di depan Rangga berdiri Sosok seorang pengusaha besar ternama yang tak asing baginya. Rafa Ravendro Artawijaya, di dampingi oleh Wisnu Adi Nugroho. Kedua pria yang tidak muda lagi, tapi masih terlihat sehat, bugar, dan sangat berkharisma. Di belakang keduanya, tampak ke-tiga putra Artawijaya, yakni Riez, Ryan dan Raka yang juga telah menjadi orang orang sukses mengikuti jejak ayah mereka.


Rafa memperhatikan keadaan Rangga yang telanjang dada dengan celana yang basah. Mereka semua memperhatikan keadaan Rangga yang tampak berantakan. Verdy asisten Rangga segera melepas Jasnya dan di pakaikan menutupi tubuh atas bosnya.


Rafa dan Rangga saling menatap dalam waktu beberapa detik. Hingga kemudian Rangga menyapa Rafa dengan sopan.

__ADS_1


"Tuan Ravendro!" menunduk sekilas, lalu menatap wajah Rafa.


Rafa tersenyum."Apa yang membuat pemilik R² tampak kacau seperti ini?" kata Rafa sekaligus bertanya.


Rangga diam tak menjawab. Tanpa sadar menelan ludah mendengar pertanyaan itu.


"Apa yang sedang kau cari? Aku melihat mu tampak terburu-buru sedang mencari seseorang." kata Rafa kembali.


"Maaf atas ketidak nyamanan ini Tuan__." jawab Rangga alih alih menjawab pertanyaan Rafa. Dia meninggalkan ballroom mungkin membuat Rafa dan tamu lain kecewa hingga memilih pulang.


Rafa melangkah lebih mendekat pada Rangga."Tuan Rad. Kami pamit dulu. Semoga kita bertemu kembali dalam suasana yang lebih baik." ucapnya menatap tak lepas menatap wajah Rangga. Dia menepuk bahu Rangga. Lalu melangkah melewati Rangga. Wisnu mengikuti Rafa setelah sebelumnya menyapa Rangga dengan gerakan tubuh. Wajah Rangga berubah mendengar panggilan Rad yang di ucap kan Rafa padanya. Dia tidak menyangka Rafa tahu tentang nama RAD'nya itu.


Riez dan Ryan menyapa sekaligus pamit dengan isyarat senyum. Selanjutnya mengikuti langkah ayah mereka.


Yang tersisa di depan Rangga adalah Raka.


Raka berjalan mendekat dan berhenti dua jengkal di depan Rangga.


"Kejarlah terus Jika itu membuat mu bahagia. Jangan berhenti sampai kau dapat. Dan jika sudah di dapat, Jangan kau lepas lagi." kata Raka.


Wajah Rangga mengernyit, bingung. Dia menatap lekat wajah Raka yang tampak tersenyum.


"Aku lihat tadi, kau tampak sedang mengejar seseorang dengan panik. Aku menyarankan begitu agar kau tidak akan kehilangan kebahagiaan untuk ke dua kali. Membuat mu menyesal dan merasakan penderitaan seumur hidup." sambung Raka melihat kebingungan Rangga.


Rangga termangu mendengar perkataan itu. Kata kata yang menyiratkan sesuatu. Seolah Raka mengetahui apa yang sedang di alaminya.


Raka hendak melangkah tapi batal karena teringat sesuatu."Oh ya, kau pasti sudah tau, Khanza sedang berada di Australia. Adikku itu tidak pernah lelah mencari keberadaan mu." Dia menyentuh bahu Rangga, lalu melangkah pergi menyusul ayah dan ke dua kakaknya.


Rangga masih termangu di tempatnya memikirkan perkataan Rafa dan Raka. Matanya terus menatap kepergian keluarga Artawijaya meski sosok mereka tak ada lagi. Hingga semenit berlalu, dia teringat kembali pada May. Rangga kembali panik dan khawatir. Dia bergerak hendak mencari May, tapi batal saat Verdy mengatakan Sean menelepon. Rangga segera mengambil ponselnya dan menerima telepon Sean. Pria bule itu mengatakan kalau May telah kembali ke apartemen dengan menggunakan taksi. Sean menyuruhnya untuk tidak khawatir.


...Bersambung....


Tinggalkan jejak dukungan ya __

__ADS_1


Like, hadiah kopi, vote, rate bintang lima dan masukkan ke favorit jika suka. Terimakasih


__ADS_2