
...Happy Reading....
Rachel mengetuk pintu kamar Rangga. Kamar suite satunya. Yang bukan di tempati May. Pintu di buka dari dalam.
"Rachel?" wajah Rangga mengernyit melihatnya di depan pintu.
"Hay," balas Rachel dengan senyuman manis. Di perhatikan pria ini masih menggunakan kemeja kantor dan celana yang tadi. Rambut yang acak acakan dan wajah kusut tapi malah semakin menambah ketampanannya.
(Rangga sengaja mengganti pakaiannya dengan pakaian kantor yang di kenakan tadi saat mengetahui Rachel datang, agar wanita itu tidak curiga melihatnya memakai pakaian kasual).
"Boleh aku masuk?" Tanya Rachel seraya memasukan sedikit wajahnya ke dalam kamar, terus melihat ke dalam.
"Atau kau ingin kakiku keram berdiri terus?" katanya lagi.
"Masuklah...!" Rangga terpaksa memberi Izin masuk. Karena selama ini dia tidak pernah mengizinkan Rachel masuk dan menginap di kamar suite pribadinya, kecuali kamar suite yang lain. Rangga segera berjalan ke dalam. Rachel mengikuti dari belakang setelah menutup pintu.
"Kamu belum mandi?" tanyanya. Meski belum mandi, tubuh pria idamannya ini tetap wangi di tangkap oleh hidungnya yang mancung.
"Aku baru sampai dan mau mandi. Tapi kedatangan kamu!" Kata Rangga seraya menuang air putih di gelas.
"Seharusnya kau sudah tiba 30 menit yang lalu setelah mengantar ku! Apa kau masih punya urusan lain?" tanya Rachel menyelidik.
"Ada kecelakaan kecil, jalanan macet hingga menyebabkan antrian panjang!" jawab Rangga, mengarang cerita.
"Oh begitu..!" ucap Rachel percaya, entah benar atau tidak tentang kecelakaan dan jalanan macet. Dia terus melangkah masuk. Matanya memperhatikan keadaan kamar.
"Kamu sendirian disini?" tanyanya.
"Tentu saja. Kau lihat tidak ada siapapun selain kita." kata Rangga, lalu meneguk air minum.
"Mau minum?" tawarnya.
"Nggak!" tolak Rachel. Dia berjalan ke balkon, matanya bergerak cepat memperhatikan setiap sudut ruang ini. Tak ada siapapun.
Rangga segera menyusulnya dengan gelas di tangan."Ada apa kamu kemari? Bukankah seharusnya saat ini kau sedang beristirahat di apartemen mu?" tanyanya. Karena dia sudah mengantar Rachel ke apartemennya.
Rachel mengulas senyum."Apa tidak bisa aku ke sini?" balik bertanya. Meski dia tahu Rangga tidak memperkenankan siapapun masuk dan menginap di kamar suite pribadinya, termasuk dia.
"Kau sudah di sini, aku tidak mungkin mengusir mu." kata Rangga mengangkat gelas setengah badan dan memasukkan satu tangan ke saku celana.
Rachel mendengus kesal dalam hati. Tapi dia segera mengendalikan suasana hatinya yang buruk. Dia tersenyum menatap mesra pada Rangga."Aku tidak bisa tidur karena memikirkan mu, sayang. Makanya aku ke sini!"
Rangga kembali meneguk air minumnya mendengar ucapan itu.
__ADS_1
"Terus, kau tahu dari mana aku berada di sini?"
Rachel kembali menghadap ke arah langit dengan perasaan kesal, karena tak ada tanggapan balik dari Rangga."Aku menelpon Bibi pelayan di toko bunga mu. Katanya kau tidak pulang ke sana. Terus aku hubungi petugas keamanan apartemen, kau pun tak pulang ke sana. Jadi aku yakin kau menginap di sini!" katanya kemudian.
"Ini pertama kalinya aku masuk ke kamar ini! Kamar mu sangat luas dan mewah. Kau tidak pernah mengajak ku menginap di sini." Rachel kembali mengarahkan pandangannya ke setiap sudut, lalu menatap langit lepas agar Rangga tidak curiga gelagatnya yang sedang mengamati dan mencari sesuatu di dalam kamar ini.
"Kamu sudah di sini sekarang! Kalau kau ingin menginap, silahkan....!" kata Rangga memperhatikan dirinya.
"Benarkah?" Rachel kembali membalikkan tubuhnya menghadap Rangga.
Rangga mengangguk."Kau bisa pakai kamar ini, atau kamar suite sebelah. Terserah kau mau yang mana."
Rachel tersenyum."Kau tidak ingin kita menginap bersama di kamar ini? Sejujurnya aku menginginkan itu sayang!" katanya lemah lembut merayu menggoda. Dia mendekat dan meletakkan satu tangannya di bahu Rangga terus membelai bahu kokoh itu lembut. Satu tangannya masih menggunakan gips. Dia menatap netra berwarna biru."Kita sudah lama bersama, tapi tidak pernah sedekat ini dan melakukan sesuatu yang lebih!"
"Kau tahu itu tidak mungkin!" jawab Rangga pelan, menarik wajahnya mundur ke belakang.
"Kenapa? Apa karena kita bukan suami istri?" Rachel semakin menatap matanya. Ingin melihat perasaan Rangga yang sebenarnya terhadap dirinya.
"Bukankah kita akan menikah? Apa salahnya?" Rachel menatap dengan tatapan menggoda. Jemarinya menelusuri wajah Rangga dan berhenti pada bibir tebal merah alami. Dia membuang rasa malunya, mengesampingkan harga diri sebagai wanita demi bisa memikat pria ini. Pria yang sangat dingin dan sulit di sentuh.
Rangga segera menangkap tangan Rachel. Lalu mundur dan berjalan ke arah kamar mandi.
"Aku mau mandi. Sebaiknya katakan ada perlu apa kau kemari?"
Rachel membuang nafas kasar."Aku merindukan mu sayang!" dia mendekat dan memeluk Rangga dari belakang membuat langkah Rangga terhenti. Dia menekan kedua buahnya yang besar ke punggung Rangga, sembari mencium punggung kekar pria ini. Menyesap aroma wangi campur keringat. Tangannya memeluk perut Rangga, lalu menjalar ke dada Rangga.
"Jika tidak ada hal penting yang ingin kau bicarakan, segeralah kembali ke apartemen mu. Atau jika kau ingin menginap di sini, aku akan menghubungi Manager untuk menyiapkan kamar sebelah!" katanya lagi, menatap dingin.
Rachel mendengus kesal.
"Oke, aku ingin bertanya, kenapa kau menginap di hotel? Katamu tadi kau akan menginap di toko bunga malam ini." Rachel menatap lekat.
Rangga tergagap, tapi cepat mengendalikan keadaan."Aku sangat capek saat mengemudi. Makanya aku mengambil tempat yang paling dekat dari perusahaan!"
"Benarkah?" Rachel kembali menatap menyelidik. Mencari kebenaran dari mata pria ini.
"Tentu saja! Hari ini banyak pekerjaan yang ku tangani sendiri karena kau dan Clara tidak berada di kantor. Aku sangat lelah dan mengantuk." Rangga kembali memberi alasan. Saat ini hatinya tidak tenang.
"Tapi kenapa aku merasa itu tidak benar? Aku bisa melihat dari matamu kalau kau mengarang cerita dan sedang berbohong!"
Rachel mendekatkan wajahnya."Kau tidak sedang menyembunyikan sesuatu dariku kan?" Tanyanya menatap netra Rangga.
"Menyembunyikan apa?" Rangga memberanikan membalas tatapannya, kalau tidak wanita ini akan tahu dia berbohong.
__ADS_1
"Apa sebenarnya yang kau katakan?" tanyanya lagi.
"Aku tidak perlu menjawabnya Rangga, karena kau sudah tahu apa yang ku maksud!" kata Rachel penuh penekanan.
Rangga mengalihkan pandangannya seraya menarik nafas dan membuangnya pelan pelan.
"Aku sama sekali tidak tahu apa yang kau pikirkan! Aku mau mandi sekarang!" katanya kemudian. Lalu melangkah menuju kamar mandi.
"Aku akan menunggumu! Biar aku yang akan menghubungi Manager untuk menyiapkan kamar sebelah untukku!" kata Rachel mengalah. Dia mengikuti Rangga hingga ke kamar mandi.
Deg...Rangga tersentak. Langkanya terhenti.
"Jadi kau akan menginap di hotel?" Dia berbalik dan menatap Rachel.
"Kau belum berubah pikiran kan? Katamu kau tidak keberatan!" Rachel balas bertanya. Melihat wajah Rangga yang berubah. Dia makin curiga ada yang di sembunyikan Rangga.
"Tentu saja tidak!" Rangga mengangguk cepat, seraya mengulas senyum sekilas.
"Sekarang mandilah, aku akan menunggumu sambil bermain piano!" sengaja mendorong tubuh Rangga ke kamar mandi dan masuk. Begitu pria itu masuk ke kamar mandi, matanya dengan cepat menyapu setiap sudut ruang. Tak ada siapapun di kamar mandi luas ini. Lalu dia berbalik dan keluar setelah memberikan senyum manis pada Rangga.
Rangga membuka semua pakaiannya hingga telanjang polos. Dia tidak tenang. Rachel akan menginap di kamar di mana May sedang tertidur. Rangga mengeram seraya mengusap wajahnya kasar di antara guyuran air shower.
Sementara Rachel tidak ke ruang piano seperti yang dia katakan. Tapi bergerak cepat memeriksa setiap ruang kamar ini sebelum Rangga selesai mandi. Dari lantai bawah hingga ke lantai atas, karena kamar ini memiliki dua lantai. Dia memeriksa setiap sudut ruang dengan teliti. Bahkan ruang gym, mini mar, perpustakaan, tempat perawatan kesehatan, bioskop mini, dan kolam pun tidak luput dari pemeriksaannya. Hal itu di lakukan karena pesan yang di terima dari sala satu pelayan hotel ini, yang merupakan orang kepercayaannya. Pelayan itu mengatakan Rangga membawa seorang perempuan ke hotel, entah siapa. Dan sebelumnya Rangga juga selalu datang ke hotel untuk mengunjungi seorang tamu wanita yang menginap di kamar suite satunya.
Rachel sebenarnya tidak mau percaya dengan laporan itu, tapi dua postingan Rangga yang di unggah pada instragramnya dua minggu lalu membuat kepercayaannya terusik. Unggahan romantis Rangga tentang bunga yang cantik saat di toko bunga, dan unggahan kedua tentang keberadaanya menginap di hotel. Setahunya Rangga tidak pernah menggunggah kalimat romantis di media sosial. Rangga juga jarang sekali menginap di kamar hotel. Dia lebih suka menginap di toko bunga kalau datang ke Amerika. Dan kini pria pujaannya ini mulai bersikap aneh seolah menyembunyikan sesuatu yang membuatnya curiga.
Rachel mengeram karena tidak menemukan siapapun dikamar ini."Mungkin Rangga tahu aku akan kemari dan dia menyuruh wanita itu segera pergi?" gumamnya berasumsi.
Tapi saat dia datang tadi, dia melihat Rangga tampak tenang, tidak kaget dan tidak panik.
"Apa mungkin wanita itu berada di kamar suite yang satunya?" batinnya teringat kamar sebelah. Dia menuju kamar mandi memastikan Rangga apa masih di dalam. Telinganya mendengar gemercik suara air. Itu artinya Rangga masih sementara mandi. Dengan langkah cepat dia keluar dan menuju kamar sebelah. Dia membuka pintu kamar...
Ceklek.... tidak terkunci.
Hati Rachel mulai tidak tenang. Kalau kamar ini tidak berpenghuni, seharusnya terkunci. Tapi ini malah tidak! Itu artinya kamar ini ada yang menempati. Sementara kata Rangga tadi, dia boleh menginap di sini dan terserah menggunakan kamar yang mana.
Apa Rangga sengaja hanya mengujinya agar tidak curiga? Dan yang sebenarnya Rangga tidak ingin dia menginap di hotel ini.
Hati Rachel semakin tidak tenang dan mulai panas. Dengan segera dia mendorong pintu dan masuk, melangkah cepat ke ruang kamar pribadi Rangga. Matanya langsung tertuju pada ranjang. Tak ada apa di sana selain bantal yang tertata rapi. Keadaan ranjang juga tampak rapi. Rachel memeriksa kamar lainnya, berjalan menelusuri setiap ruang dan mengamati dengan cermat setiap sudutnya. Dari bawah hingga lantai atas. Tak ada yang yang mencurigakan, semua terlihat biasa dan tak ada yang mencurigakan.
"Apa pelayan itu salah lihat orang? Mungkin bukan Rangga, tapi tamu lain bersama pasangannya, yang pakaian dan postur tubuhnya sama seperti Rangga!" batinnya ragu dengan laporan pelayan itu.
Rachel segera balik ke kamar Rangga sebelum pria itu keluar dari kamar mandi dan melihatnya tak ada di ruang piano. Dia lega karena Rangga masih di kamar mandi. Dia segera ke ruang piano dan mulai memainkan alat musik tersebut sambil bersenandung menyanyikan sebuah lagu barat. Meluapkan kekesalannya dan menumpahkan isi hati dan perasaannya lewat lagu itu. Walaupun hanya menggunakan satu tangan, dia begitu lincah memainkan alat musik tersebut.
__ADS_1
Bersambung.
Dukung ya....