
...Happy Reading...
Di sebuah gedung, tepatnya di ruang penyiksaan. Beberapa orang yang merupakan anak buah Wisnu sedang melakukan interogasi pada dua pria yang berhasil mereka tangkap. Meski sudah mendapatkan penyiksaan yang hebat, kedua pria itu tidak mau mengatakan siapa yang telah menyuruh mereka untuk mencelakai May. Mereka lebih memilih mati daripada buka mulut.
Dari luar ruangan, Rafa dan Wisnu menyaksikan pemeriksaan itu.
"Tuan, sepertinya mereka tidak akan buka mulut meski kita melakukan segala bentuk penyiksaan berat." kata Wisnu.
"Saya yakin, keluarga yang menjadi alasan hingga mereka lebih memilih di siksa bahkan pasrah mati. Keluarga mereka menjadi jaminan. Jika mereka mengeluarkan satu kata saja, keluarga mereka mengalami yang akan menanggung akibatnya!" katanya lagi.
Rafa menghela nafas berat. Dia berpikiran sama dengan Wisnu. Kasus seperti ini sudah sering terjadi saat mereka melakukan interogasi untuk mengorek keterangan.
Ponsel Wisnu berdering. Dia segera mengambil benda itu dari saku.
"Tuan... putri anda, Nyonya Khanza.....!" kata Wisnu setelah melihat siapa yang menghubunginya. Dia segera menyerahkan ponsel begitu mendapat isyarat dari Rafa.
Rafa segera berdiri dan berjalan ke sebelah. Wisnu kembali memberi isyarat pada anak buahnya untuk melakukan pemeriksaan.
📞"Assalamualaikum, papa..." terdengar suara dari seberang. Suara Khanza.
📞"Waalaikumsalam sayang.....!" jawab Rafa lembut.
📞"Papa sudah menemukan keberadaan putriku?" tanya Khanza dengan suara lemah. Dia lemah tak berdaya, hilang semangat hidup, tak bergairah untuk melakukan apapun setelah kaburnya Khanza. Separuh hidupnya terasa mati.
📞"Sayang..... papa kan sudah bilang, Rara baik baik saja. Rara bisa menjaga dirinya dengan baik. Papa yakin itu. Kamu berhentilah mencemaskan dirinya." kata Rafa. Entah sudah berapa kali putrinya itu selalu bertanya tentang keberadaan Rara.
📞"Bagaimana aku tidak cemas, Rara putriku. Dia seorang perempuan. Sendirian di luar sana tanpa ada yang mendampingi. Aku tidak tenang sebelum tahu keberadaannya. Tolong pa, bawa putriku kembali secepatnya. Aku sangat merindukannya. Aku takut terjadi sesuatu yang buruk padanya." kata Khanza mulai terisak. Meski Rafa berulang kali mengatakan Rara baik baik saja, dia tetap cemas khawatir, gelisah tidak tenang sebelum melihat langsung keadaan putrinya. Entah sudah berapa banyak air mata yang keluar menangisi kepergian Rara.
"Sudah sebulan dia pergi tanpa kabar. Tak ada satu pun dari kalian yang dapat menemukan keberadaannya. Hingga saat ini kalian belum bisa membawanya padaku. Bahkan kak Cio, tuan Edgar, dan kakak R pun belum menemukan dirinya. Aku takut pa...aku sangat takut.....hiks hiks hiks!" Khanza mulai menangis lagi.
"Sayang..... Berhentilah menangis. Nanti kamu sakit! Putrimu baik baik saja! Selama ini papa tidak pernah mengecewakan mu kan? Jadi percayalah pada papa." kata Rafa kembali meyakinkan.
"Aku selalu percaya pada apa yang papa katakan. Tapi bisakah papa mengatakan di mana dia berada saat ini? Bisakah papa menunjukkan foto dirinya padaku? Aku ingin melihat keadaan dirinya sedang baik baik dan sehat seperti perkataan papa. Agar aku bisa tenang dan tidak berpikir buruk lagi. Tolong pa, perlihatkan Rara kepadaku!" pinta Khanza tersedu.
Rafa menghela nafas, semakin iba mendengar suara tangis putrinya."Papa tidak bisa menunjukan dirinya saat ini. Tapi papa hanya bisa mengatakan putrimu sedang berada di Amerika. Papa tadi melihatnya. Dia baik baik saja dalam keadaan sehat. Apa itu bisa membuatmu tenang?" kata Rafa.
Tangis Khanza berhenti."Benarkah pa? Syukurlah." ucapnya seketika senang.
"Terus, Untuk apa dia pergi ke Amerika?" tanyanya lagi.
"Mencari kebahagiaan hidupnya." kata Rafa.
Wajah Khanza mengernyit."Mencari kebahagiaan?" ulangnya dengan bingung.
__ADS_1
"Mulai sekarang tenangkan hidup mu. Jangan cemas, sedih dan menghawatirkan nya lagi. Nanti kamu sakit lagi. Papa tutup dulu teleponnya, Assalamualaikum !" kata Rafa, lalu mematikan telepon sebelum putrinya itu banyak bertanya lagi.
Khanza masih bingung dengan perkataan papanya. Apa maksudnya itu? Khanza mencari kebahagiaan? Apa putrinya itu sudah memiliki seseorang yang di cintainya? Sementara usianya baru 17 tahun. Dan selama SMA, dia tidak melihat Khanza lagi kasmaran, atau melihat hal aneh tanda orang jatuh cinta.
.
.
Sementara di sebuah ruang apartemen.
Plak
Plak
Terdengar tamparan yang cukup kuat dan keras. Di lakukan oleh Rachel pada dua pria yang merupakan orang suruhannya untuk mencelakai May. Tamparan dan pukulan kembali di lakukan dan berhenti sampai dia puas.
"Bodoh kalian." makinya dengan amarah meluap, tatapan menyorot tajam.
Meski sakit dengan pipi merah berbekas gambar tangan Rachel, Kedua pria itu diam tak bergeming di tempat. Mereka tidak melakukan balasan. Pasrah menerima segala bentuk kekerasan yang di lakukan Rachel.
"Membereskan satu bocah ingusan saja tidak becus. Percuma aku membayar kalian mahal!" gertak Rachel kasar, menunjuk wajah mereka.
"Maaf Bos, sebenarnya kami bisa dengan mudah untuk membunuh gadis itu. Tapi sepertinya ada orang orang yang melindungi gadis itu. Mereka bukan orang sembarangan. Mereka sangat tangguh dan kuat. Bos mengatakan dia hanya bocah kecil dan tinggal sendirian di negara ini, Tapi nyatanya tidak. Dia dalam perlindungan kelompok geng mafia!" kata salah seorang di antara mereka memberanikan diri bicara. Pria itu merupakan ketua dari kelompok orang yang menyerang May.
Rachel tercengang mendengar penjelasan.
"Aku belum terlalu yakin hal itu. Aku hanya berpikir begitu setelah mendapat informasi kalau dua orang anak buah ku tertangkap oleh kelompok orang yang mengejar! Aku belum tahu mereka dari kelompok mana!"
"Jadi anak buah mu tertangkap? Bodoh, goblok kalian. Bagaimana jika mereka buka mulut?" teriak Rachel geram, sedikit was was jika ke dua orang itu buka mulut, dan mengatakan kalau dia dalangnya.
"Anda jangan khawatir. Orang orang ku tidak akan buka mulut meski mereka di siksa sampai mati!"
"Pastikan hal itu benar. Aku tidak mau berurusan dengan pihak berwajib dan juga hukum. Bereskan masalah ini secepatnya. Kali ini kau ku ampuni, Jika tidak aku sendiri yang akan membunuhmu bersama anak buah mu. Dan keluarga kalian akan ikut menanggung akibatnya. Aku akan membunuh keluarga kalian." ancam Rachel seraya menodongkan pistol ke kening sang ketua.
"Baik bos. Anda jangan khawatir. Tolong jangan sakiti keluarga kami." kata sang ketua dengan takut mendengar keluarga mereka di sebut. Di tambah lagi melihat moncong pistol menekan kuat di keningnya. Sedikit saja pelatuknya di tarik, sudah dapat di pastikan kepalanya akan pecah.
"Enyahlah kalian dari hadapan ku!" sentak Rachel mengusir.
Kedua pria itu dengan cepat pergi dari hadapannya.
"Siapa orang yang melindungi gadis itu? Siapa sebenarnya dia? Sepertinya aku tidak bisa meremehkannya!" Gumam Rachel.
Ponselnya berdering. Rachel segera memungut benda pipih itu dari meja. Di lihatnya Clara yang memanggil.
__ADS_1
📞"Selamat sore Bu." sapa Clara dari seberang.
📞"Ada apa?" tanyanya ketus, karena tidak suka Clara menelepon di saat dia lagi badmood.
"Maaf Bu mengganggu. Saya hanya ingin menanyakan, apa pak Rangga bersama ibu?"
Wajah Rachel seketika mengernyit. 📞"Bukannya kalian lagi bersama?"
📞"Iya, tapi 4 jam yang lalu pak Rangga meninggalkan pertemuan. Dan sampai sekarang belum kembali. Saya sudah menghubungi nomornya tapi tidak aktif."
Wajah Rachel berubah seketika.
📞"Kemana dia pergi?"
📞"Beliau tidak mengatakan pergi kemana. Pak Rangga pergi terburu-buru begitu mendapat telepon dari seseorang. Saya tidak tahu siapa yang menghubunginya. Dia hanya mengatakan kepada saya untuk menghandle para klien."
📞"Kau sudah menelepon kantor?"
📞"Sudah Bu, pak Rangga belum kembali ke perusahaan sejak keluar tadi pagi."
Rachel gusar. Menarik nafas kasar mendengar penjelasan Clara.
📞"Katakan pada klien untuk tidak kecewa. Bicaralah baik baik dan minta maaf pada mereka! Sisanya aku yang urus. Aku akan menemui mereka setelah ini!"
📞"Baik Bu."
Telepon di tutup.
"Pergi kemana dia? Ada urusan apa hingga dia meninggalkan pertemuan penting itu?" gumam Rachel.
Dia segera menghubungi nomor Rangga, tidak aktif. Di coba berulang kali hasilnya sama. Rachel menelepon orangnya di apartemen R². Tapi orang itu mengatakan Rangga belum ke apartemen sejak turun tadi pagi. Rachel menghubungi hotel dan toko bunga. Di sana Rangga juga tidak ada.
"Sialan, pergi kemana dia?" umpatnya geram.
Rachel teringat Cindy. Mungkin saja Rangga menemui orang tuanya di kediaman Alkas. Dengan segera dia menghubungi Cindy. Tapi lagi lagi dia di buat marah dengan jawaban Cindy. Rangga tidak datang ke kediaman Alkas sejak kepulangannya dari Australia. Begitu kata Cindy.
Rachel semakin geram. Pergi kemana pria itu. Tiba-tiba dia teringat May."Apa dia menemui wanita OB itu dan tahu kejadian buruk yang menimpanya?" batinnya. Karena kata Clara Rangga pergi terburu-buru setelah mendapat telepon dari seseorang. Mungkin May yang menghubunginya? Hingga dia meninggalkan pertemuan penting itu?
Berbagai asumsi buruk muncul di pikirannya. Jika itu memang benar, maka dia tidak akan mengampuni May lagi. Dan dia akan segera mempercepat penikahannya dengan Rangga sebelum pria yang di cintainya itu semakin dekat dengan May dan menaruh rasa.
Rachel mengirim pesan pada Clara meminta nomor telepon May. Setelah mendapat kiriman pesan dari Clara, dia menghubungi nomor May. May kembali geram karena nomor May tidak aktif. Rachel curiga dengan ponsel mereka yang sama sama tidak aktif. "Apa Rangga lagi bersama dengan gadis itu?" perasaannya berkata begitu.
"Brengsek." umpatnya meremas kuat ponselnya. Beberapa detik kemudian dia menyambar tasnya dan keluar dari apartemennya.
__ADS_1
Bersambung.
Tinggalkan dukungan ya....