Rangga dan Rara (Mencintai Anak Mantan)

Rangga dan Rara (Mencintai Anak Mantan)
62. Datang hanya menambah luka di hati


__ADS_3

...Happy Reading....


Sementara May, setelah keluar dari toko jadi sangat tidak tenang. Karena telah menggunakan kartu kreditnya. Dia sangat yakin, kakeknya pasti sudah mengetahui pengeluaran uang tersebut. Dan saat ini kakeknya pasti telah mencari tahu toko perhiasan tadi. Dan tidak lama lagi


keberadaannya di Sidney akan ketahuan.


"Ya tuhan, bagaimana ini?" keluhnya khawatir. Dia jadi menyesal karena telah terpancing dengan keangkuhan Rachel sehingga tidak dapat menahan diri untuk memberi pelajaran pada wanita sombong itu.


"Kenapa juga harus bertemu mereka lagi sih?" gerutunya kesal. Tapi mau bagaimana lagi, semua sudah terjadi, tidak ada yang perlu di sesali. May hanya berharap semoga kakeknya tidak akan mengetahui pengeluaran uang tersebut. Kakeknya mungkin tidak akan mengetahui jika Wisnu tidak akan memberitahu. Karena sekretaris pribadi kakeknya itu lebih tahu segala hal yang mereka lakukan dari pada Rafa, kakeknya. Terus dilaporkan pada kakeknya."Ya tuhan, aku mohon, jangan sampai kakek Wisnu mengatakan pada Kakek Rafa. Buatlah lidah Kakek Wisnu kelu untuk tidak mengatakan pengeluaran penggunaan uang itu." pintanya pada Allah.


Di tengah ke khawatiran mengenai uang itu, May gundah gulana, raganya lemah teringat cincin pernikahan Rachel dan Rangga. Dadanya terasa sesak dan sakit. Kenapa juga dia bisa jatuh cinta pada pria tua itu. Berusaha untuk di lupakan, di jauhi, di hindari malah sering bertemu.


Hari menjelang sore. May segera balik pulang. Bukan pulang ke rumah Sean, tapi apartemen pria itu. Dia tidak tinggal di rumah pribadi Sean lagi. Khawatir Rangga akan melihatnya di sana. Karena kata Sean, Rangga sering datang ke rumahnya.


"Maaf Nona, kita sudah sampai." kata sopir taksi membuyarkan lamunannya.


"Sudah sampai ya?" May kaget. Dia melihat ke luar kaca mobil. Terlihat bangunan tinggi pencakar langit bersusun, yang merupakan gedung apartemen milik Sean. Setelah membayar, May segera turun dan melangkah menuju unit apartemen Sean yang berada di lantai atas.


Sejenak merebahkan diri di tempat tidur. Dengan berbagai unek berkecamuk di kepala. Tubuhnya gerah berkeringat. Ingin mandi tapi terasa malas karena raganya lemas, kepikiran terus pada pernikahan Rangga dan Rachel.


May merutuk dirinya kenapa bisa jatuh cinta pada pria dewasa itu. Hingga membuatnya merasakan sakit seperti ini. Padahal selama duduk di bangku SMA, banyak pemuda tampan seusianya, berasal dari kalangan atas menyukai dan menginginkan dirinya. Tapi tak satupun yang menarik di matanya. Tapi Pria tua itu?


"Huh...Dasar pria tua,, menyebalkan. Beraninya dia membuat ku merasakan sakit begini." pekiknya kesal. Beberapa saat kemudian terdengar Isak kecil keluar dari mulutnya. May menekan dadanya yang sakit. Lelehan bening meluncur jatuh di kedua sudut matanya.


20 menit bergelut dengan rasa sakit dan kesedihan, dia segera bangun dan menuju kolam yang berada di atas atap.

__ADS_1


Sementara Rangga, yang mendapat informasi dari sekertaris Sean bahwa bosnya telah pulang sejak tadi, segera menyusul rekan bisnis sekaligus sahabatnya ke apartemen. Dia menghubungi nomor Sean beberapa kali tapi tidak aktif. Rangga ingin membicarakan sesuatu yang penting dengan duda dua anak itu. Yaitu mengenai kejadian yang terjadi di butik Nesa dua hari kemarin. Karena ada informasi yang aneh di dapatnya dari Verdi, asisten pribadinya. Verdi menemukan hal yang janggal setelah memeriksa CCTV di butik megah itu. Semua rekaman video pada CCTV terhapus.


Karena sudah terbiasa datang ke apartemen ini, membuat Rangga bisa dengan mudah masuk ke hunian mewah Sean. Dia bahkan punya kartu akses masuk dan kode nomor pintu. Melihat lampu setiap ruang yang telah menyala, menandakan ada orang di dalam. Itu artinya Sean memang pulang ke apartemen seperti kata sekretarisnya.


Rangga mengintari setiap ruang di lantai bawah seraya memanggil nama Sean berulang.


"Sean.....Sean...." Tapi tak ada sahutan.


"Dimana dia?" batinnya bingung.


Rangga naik ke lantai atas, memeriksa ke kamar tidur tapi Kosong. Dia masuk ke kamar sebelah, juga kosong. Tapi dia melihat ranjang yang berantakan. Wajah Rangga mengernyit.


"Sean?" panggilnya kembali. Kali saja pria itu di kamar mandi. Tak ada sahutan. Suasana hening tak terdengar suara apapun. Rangga mengambil ponsel dan menelepon kembali, tapi nomor pria itu belum aktif.


Rangga bingung."Mungkin dia sedang mandi di kolam atas?" teringat kolam di lantai atas. Sean suka mandi dan berenang di kolam atas. Dulu keduanya sering mandi bersama di sana bersama putri kembar Sean.


May sedang duduk melamun di bibir kolam menggunakan bikini two piece warna coklat muda dengan model tali ikat di belakang, rambut di Cepol. Alhasil, punggungnya yang putih mulus terpampang dan terlihat jelas. Gadis ini terlihat begitu seksi dengan penampilannya. Rangga menatap tak berkedip.


Ini bukan pertama kalinya Rangga melihat May berbikini seksi seperti ini. Pertama saat May mandi di kolam pribadinya yang terdapat di hotel miliknya. Tapi tetap saja jantung Rangga di buat berdebar dan tanpa sadar menelan saliva kasar.


"Jadi May tinggal di sini?" batinnya sedikit kaget melihat gadis ini di sini. Dia mengira May tinggal di rumah pribadi Sean.


May yang telah menyadari ada orang di belakangnya segera menoleh ke belakang.


"Pak Rangga?" kaget melihat Rangga, mantan bosnya. Yang berdiri terpaku, masih dengan pakaian kantor lengkap. Pria yang sedari tadi menjadi bahan lamunannya, membuatnya sedih kini ada di depannya.

__ADS_1


"Kenapa muncul lagi di depan ku?" gerutunya kesal. Karena hanya semakin membuatnya sakit dan terluka.


Rangga salah tingkah, berusaha menormalkan debaran jantungnya yang tak menentu.


"Aku, ke sini ingin menemui Sean. Tapi malah menemukan dirimu. Aku tidak tahu kalau kau tinggal di sini." katanya sedikit gugup. Jantungnya semakin berdebar tak kala May berdiri. Keindahan itu semakin terpampang jelas keseluruhan di matanya.


"Ingin menemui tuan Sean?" tanya May kembali. Menemui tuan Sean atau diriku? Entah kenapa pikiran itu muncul di kepalanya. Dia ingin kedatangan Rangga kemari untuk mencarinya. Padahal sebelumnya dia ingin menghindari pria tua ini tak ingin bertemu lagi karena hanya menambah luka di hatinya.


Rangga mengangguk."Iya, aku ada urusan penting dengan nya. Kata sekretaris nya dia balik ke sini. Aku sudah menghubunginya berulangkali tapi nomornya tidak aktif. Jadi ku susul langsung ke sini." katanya. Lalu menyapu kan pandangan ke segala arah.


"Ada siapa saja di sini?" tanyanya kemudian. Khawatir jika ada orang yang melihat penampilan May begini.


"Tidak ada. Hanya aku sendiri. Tuan Sean tidak berada di sini. Nanti malam dia akan kemari." kata May.


Rangga menarik nafas lega. Dia bergerak cepat melepas jas, lalu melangkah mendekati May. Kemudian meletakkan jas ke punggung May.


May kaget dengan apa yang dia lakukan, tapi tidak menolak. Dia teringat dulu Rangga menutupi tubuhnya seperti ini saat hanya memakai bikini di kolam hotel.


"May, bisakah kamu jangan memakai bikini seperti ini saat mandi dan berenang di kolam? Di mana pun itu, apalagi di pemandian umum, jangan menggunakan pakaian yang terlalu vulgar seperti ini." kata Rangga menatap dalam-dalam netra May. Tak suka dengan bikini ini.


Mata May mendelik menatap Rangga, dia tertegun, terdiam mendengar perkataan itu. Dulu juga Rangga memarahinya saat berbikini seperti ini di kolam hotel. Pria ini ternyata masih peduli padanya.


...Bersambung....


Kasih kopi dong buat author, biar semangat nulisnya 😁

__ADS_1


Terimakasih bagi yang sudah mampir 😘


__ADS_2