
...Happy Reading....
Pintu di ketuk, lalu terbuka setelah di dorong dari luar.
Rangga segera menoleh ke arah pintu. Melihat Rachel masuk dengan senyum di wajah. Secepatnya Rangga menekan kedua matanya yang basah, lalu bangkit dari duduknya. Rachel menutup pintu kembali. Terus mendekati Rangga.
Lama menunggu Rangga keluar, membuatnya menyusul pria yang di cintainya ini ke kamar.
"Maaf, aku menyusul mu ke mari karena kau lama keluar." Kata Rachel. Dia menangkap wajah sedih Rangga dari matanya yang basah dan merah. Dia dapat menebak kalau pria ini pasti memikirkan pernikahan. Rachel tersenyum sinis penuh kebencian.
Rangga tak menggubris perkataannya, dia berjalan menuju kamar ganti.
"Kamu kenapa? Apa ada masalah?" tanya Rachel pura pura tak mengerti. Mengikuti langkah Rangga.
"Apa yang kau pikirkan? Sehingga membuat wajahmu keruh seperti itu?" Rachel mencegat jalannya dengan berdiri cepat di depan Rangga untuk menghalangi.
"Seharusnya rencana pernikahan kita membawa senyum kebahagiaan di wajahmu." katanya lagi seraya menatap wajah Rangga.
Rangga membalas tatapannya. Pernikahan? Bahagia? Ya itu benar.... seharusnya pernikahan harusnya membuatnya bahagia. Tapi kenapa dia tidak merasakan hal itu?
Perlahan Rachel mendekat lebih dekat, lalu memeluk tubuhnya. Membenamkan wajahnya di dada polos Rangga. Dia sangat senang bisa mendekap dan menikmati aroma wangi tubuh ini dengan leluasa.
Rangga terkesiap, hendak melepaskan pelukan Rachel. Tapi wanita itu malah memeluk erat."Biarkan aku memelukmu. Toh sebentar lagi kita akan menikah. Hanya sebentar saja!" pintanya sangat. Dia tahu Rangga akan menolak dan menghindar. jika di sentuh.
Rangga termangu."Menikah?" batinnya.
"Kau tahu, betapa bahagianya aku saat ini. Mungkin aku wanita yang paling bahagia karena akan menikah dengan mu. Satu hal yang sangat aku impikan dalam hidup ku sebentar lagi akan terpenuhi. Yaitu menjadi istri mu. Aku tidak sabar lagi menunggu hari bahagia itu tiba." Lanjut Rachel tersenyum bahagia. Hidungnya terus menyerap aroma wangi tubuh Rangga, apalagi pria ini baru saja mandi. Kedua tangannya mengusap lembut punggung Rangga yang polos. Untuk pertama kali dia dapat menyentuh kulit Rangga tanpa penghalang. Menyentuh dan mencium tubuh kekar atletis yang terbungkus kulit putih bersih.
__ADS_1
Rachel menarik diri tanpa melepas ke dua tangannya dari pinggang ramping Rangga. Dia tersenyum manis merayu menggoda. Berharap pria ini menerima sentuhannya. Perlahan ke dua tangannya menyentuh dada bidang dan perut kotak kotak Rangga. Maksud hati ingin memancing hasrat pria ini. Dia sangat senang Rangga diam tak menghindar seperti biasanya. Mungkin hati pria ini mulai luluh?
Tapi beberapa detik berlalu, kedua tangannya di pegang Rangga karena semakin menjalar nakal."Jaga batasan mu Rachel!"
Rachel terkejut. Senyum bahagia di wajahnya seketika redup. Perkataan itu menusuk hatinya, memancing emosinya. Darahnya seketika panas meluap. Rachel mengangkat wajahnya melihat wajah Rangga yang saat ini sedang menatap tajam dan dingin padanya.
"Apa kau juga akan berkata seperti itu saat ada wanita lain menyentuhmu?" katanya tersenyum sinis.
Rangga mengernyit dengan pertanyaannya Dia melepas ke dua tangan Rachel, dan mundur.
"Apa maksudmu?" tanyanya tidak mengerti.
"Hah.... jangan berpura-pura bodoh Rangga!" senyum sinis Rahel melebar.
"Aku tahu kau tidak bahagia dengan rencana pernikahan. Kau juga tidak mau menikah dan ingin menolak karena gadis OB itu." lanjutnya.
"Rachel......!" sentak Rangga.
"Sejak kapan Rangga?" Rachel memotong ucapannya."Sejak kapan kau menyukai gadis itu? Sejak kapan kau berhubungan diam diam dengannya?" suara mulai meninggi karena terbawa emosi.
Rangga membalas tatapannya.
"Apa yang kau katakan?" belum tahu kalau kejadian di ruang rapat dengan kedatangan May telah meluas ke seluruh kantor perusahaannya, baik Kantor pusat dan kantor cabang.
"Cih....!" Rachel mendengus sinis. Tatapan semakin tajam. Semakin emosi.
"Jangan berpura-pura menutupi semuanya Rangga. Berani sekali kau membohongi ku! Kau tega mengkhianati ku dengan bermain api di belakang ku! Kau dan gadis rendah itu membodohi ku!" katanya dengan suara meninggi, bibir bergetar menahan amarah.
__ADS_1
"Jaga ucapan mu Rachel, May bukan wanita seperti itu! Dia wanita baik baik." sentak Rangga tidak terima May di sebut gadis rendah.
Rachel tertawa sinis, sangat sakit mendengar Rangga membela May."Lalu sebutan apa yang pantas untuknya? Katakan....apa yang pantas untuk wanita yang menggoda kekasih orang lain dengan tidur di apartemen bersama mu! Apa gadis itu seperti itu kau sebut wanita baik? Cihh....." cerca Rachel tanpa jeda dengan luapan emosi.
"Kau menutupinya dariku? Kau pikir aku tidak tahu? Kalian berpelukan di hotel, kau menciumnya sebagai sarapan pagi mu hari ini. Dan yaa.... Kejadian tadi pagi saat kau melakukan meeting dari apartemen mu telah menyebar di kantor pusat R²! Semua peserta rapat melihat gadis itu Rangga. Gadis itu berada di apartemen mu, menginap di sana dan tidur bersama mu! Aku malu Rangga, aku menjadi buah bibir mereka. Mereka mempertanyakan status ku sebagai kekasihmu!" teriak Rachel penuh amarah. Matanya menyorot tajam, merah dan mulai berair.
Rangga terkejut.
"Kau dan dia menginap dan tidur bersama di apartemen mu semalam! Kau meninggalkan ku di hotel dan menemuinya. Apa yang kalian lakukan? Kalian memang manusia bajingan dan rendah." jerit Rachel histeris seraya memukul dada Rangga.
"Selama ini aku selalu menuruti ucapan mu, sabar menunggu mu dengan berbagai alasan yang tak masuk akal hingga tak memikirkan usiaku yang terus bertambah. Aku menutup mata dan telinga dari cemoohan, olokan, ledekan dan berbagai cibiran orang karena belum nikah nikah! Aku yang selalu ada untukmu dalam suka maupun dukamu. Menemani dan mendukung mu dari Nol, mencintai mu dengan tulus! Tapi inikah balasan mu padaku?" Cerca Rachel berapi api.
"Seandainya kamu dan keluarga mu tidak memberi harapan padaku sejak dulu, aku tidak akan terus menerus menunggu dan berharap padamu! Dan kini, demi gadis yang baru kau kenal selama sebulan, gadis yang tidak punya hati dan harga diri.... kau tega mengkhianati ketulusan ku dan juga hubungan yang kita jalin selama bertahun-tahun." terus menghina May karena sakit hati marah dan benci.
"Jangan menghina May serendah itu Rachel. Sudah ku bilang May bukan gadis rendah seperti yang ada dalam pikiranmu! Dia tidak pernah menggoda ku. Aku dan dia tidak punya hubungan apapun!" sentak Rangga kembali panas dengan hinaan Rachel pada May.
Hahaha... May tertawa menyeringai.
"Tidak punya hubungan?" menatap tajam sinis."Kalian tidur bersama di apartemen mu dan kau mengatakan tidak punya hubungan dan dia adalah gadis baik baik....? Hahaha! Kau hebat sekali. Kau begitu menyukainya sehingga terus menerus membelanya." lanjutnya dengan suara serak antara sedih dan marah. Betapa kecewanya dia, karena Rangga begitu membela May.
Rangga mendengus kesal."Terserah kau menilai aku buruk apa Rachel, aku terima! Tapi jangan menghina May. Apa yang kau tuduhkan padanya tidak sesuai dengan kenyataan pada dirinya, karena dia adalah wanita baik. Ku akui semalam aku membawanya tidur di apartemen ku setelah penghinaan yang kau lakukan padanya di hotel. Tapi, kami tidak melakukan hal kotor seperti yang ada dalam otakmu! Ku akui bertemu dengannya sebulan yang lalu dan dekat dengannya. Aku juga mengakui menutupi kedekatan kami dari semua orang karena ingin melindunginya darimu. Aku juga yang memasukkan dia bekerja sebagai OB di perusahaan ku. Aku juga tahu dia menyewa apartemen ku! Kami selalu bersama, aku selalu membantunya! Aku mengakui semua itu!" kata Rangga panjang lebar dan terburu-buru karena terbawa emosi. Ya....dia emosi karena tidak suka May di rendahkan.
"Dia hanya orang lain Rangga, tapi kenapa kau begitu perduli padanya?" Rachel tak terima.
"Aku perduli pada May karena dia sendirian di negara ini di usianya yang masih sangat muda, hidup kesusahan mencari pekerjaan ke sana kemari, Luntang lanting mencari pekerjaan dengan menahan lapar. Dan yang lebih penting dari itu kenapa aku perduli dan terus membantunya, karena dia berasal dari negara yang sama dengan ku, tanah kelahiran ku, Indonesia....!"
"Benarkah karena itu?" Rachel kembali tersenyum sinis."Tapi aku merasa dan yakin bukan karena itu, tapi karena kau menyukainya.....kau menyukainya. Aku melihat cinta di matamu untuk dia, cinta yang tidak pernah ku lihat sebelumnya, tidak pernah kau berikan padaku ! Kau mencintainya, kau bahkan begitu menghawatirkannya. Sikap dan perlakuan mu padanya menunjukkan semuanya! Aku tahu itu, meski kau berusaha menutupinya dariku! Kau terus menetap di Amerika karena ada dia disini. Tidak seperti sebelumnya kau sangat suka di Australia. Tapi sejak kau bertemu dengannya, kau mengenalnya, dia bekerja di perusahaan mu, kau sangat betah tinggal di sini, dan enggan untuk kembali ke Australia!" katanya ketus dengan keras.
__ADS_1
Bersambung.