
...Happy Reading....
Hotel.
May dan Sofi duduk di atas ranjang saling berhadapan. May tampak gelisah tidak tenang setelah mengetahui kalau kartu kredit yang di gunakan untuk membayar semua barang barang yang di belinya di Mall ternyata bukan kartu kredit miliknya, tapi punya Rangga. Kenapa dia sampai tidak menyadari hal itu? Salah mengambil kartu kredit. Dan lupa kalau belum mengembalikan kartu kredit Rangga.
"Ya ampun Fi, bagaimana nih?"
"Kamu sih gak meriksa dulu. Main tarik saja." kata Sofi.
"Seharusnya aku ingat kalau aku belum mengembalikan kartu kredit pemberian Om Rangga. Aku benar benar lupa." May menepuk jidatnya karena ingatannya yang lumpuh. Dia kembali melihat kartu kredit Rangga berada di lipatan pertama bersama dengan kartu kredit pemberian Sean Gefarin. Sedangkan kartu kredit miliknya berada di lipatan belakang berbaur bersama kartu siswa dan kartu lainnya.
"Ya ampun." keluhnya kembali semakin gelisah. Dia seenak hati memakai kartu kredit Rangga sementara sikapnya sangat keterlaluan pada pria itu. Acuh dan menghindari.
May mulai ingat, dia juga memakai kartu kredit Rangga untuk membayar cincin pernikahan pria itu dengan Rachel bernilai 10 M, dan tadi 3 M. Jumlah yang cukup banyak.
Seharusnya pria itu mengatakan tentang pengeluaran kartu kredit dari pembayaran Cincin pernikahan mereka, tapi kenapa Rangga tidak mengatakan apapun. Kan ada pemberitahuan masuk dari Bank.
"Gimana nih Fi?" May makin kalut memikirkannya.
"Ngapain lo cemas. Kartu itu kan mang di beri pak Rangga untukmu. Untuk kau gunakan buat beli apa saja yang kau mau. Kau bebas menggunakannya."
"Iya, tapi jumlahnya sangat banyak Fi."
"Ya ampun Ra, ngapain khawatir gitu. Pak Rangga saja gak mempermasalahkannya. Kau lihat sendiri, beberapa kali kalian bertemu,dia tidak mengungkit pengeluaran kartu kredit itu. Beliau tidak membahas dan mengungkitnya. Itu memang di kasih ke kamu, untuk keperluanmu. Udah.... nggak usah panik gitu." cerca Sofi menenangkannya.
May ingat perkataan Rangga dulu. Kartu itu memang di beri untuknya. Dan dia bebas menggunakannya. Hanya saja May gak enak karena menggunakan hasil kerja keras Rangga yang jumlahnya begitu besar. Sementara dia dan Rangga tidak punya hubungan apapun selain teman.
"Sudah gak usah cemas gitu. Aku yakin pak Rangga gak marah. Lagian kan kartu kreditnya kau gunakan bukan untuk foya foya, tapi buat bayar cincin pernikahan mereka dan juga buat sedekah!" kata Sofi melihatnya masih tidak tenang."Tapi kalau kautetap khawatir, ya udah hubungi aja beliau. Terus temui dia dan kembalikan kartu kreditnya. Katakan Lo akan mengganti uangnya." kata Sofi memberi saran.
"Menemui dia?" tanya May mendengar saran itu. Dia menatap wajah Sofi lekat.
"Iya, sekalian ngobatin rindu Lo!" Sofi menambahkan sambil senyum senyum menggoda.
"Ihh kamu___!" kata May kesal.
Tawa Sofi pecah."Udah gak usah gengsi gitu mengaku rindu. Nanti kamu bisa mati karena merindukannya!" Sofi tahu sahabatnya ini Rindu pada Rangga. Berusaha sekuat hati melupakan, menjauh dan menghindari. Tetap tidak akan bisa. Siang malam teringat terus pria dewasa itu. Meski May selalu menutupi dan menyembunyikan, juga berkata tidak, hatinya tidak akan bisa berbohong. Sudah terlanjur sayang dan cinta mau bagaimana lagi? Apalagi ini kali pertama May jatuh cinta pada seorang pria.
Wajah May berubah mendung mendengar godaan Sofi, dadanya sesak. Jujur dia selalu merindukan pria dewasa itu. Saat tidak sengaja bertemu di jalan raya dan di Mall tadi, hatinya sangat senang. Tapi begitu menyadari perasaan hatinya adalah salah, dia sadar diri dan menjauh. Sakit terasa, tapi itu yang sepantasnya di lakukan. Menghindar, menjauh dan melupakan.
__ADS_1
May tiba tiba teringat Rafa dan Wisnu."Pantas saja tidak ada pergerakan dari Kakek Wisnu. Ternyata bukan kartu kredit milik ku." Gumamnya. Artinya Rafa dan Wisnu belum mengetahui keberadaannya di Sidney.
Sementara di sebelahnya, Sofi membuka instragramnya. Terus memeriksa laman Instragram Rad. Berharap pria itu menggunggah sesuatu. Dan ternyata ada unggahan Rad yang di kirim beberapa jam lalu. Sofi tersenyum. Pas banget, unggahan Rad bisa mengobati suasana hati May yang buruk.
"Ra, Ra....!" dia menepuk paha Rara.
May menoleh ke padanya "Ada apa?"
"Rad mengunggah sesuatu. Buka Instragram mu." kata Sofi.
May segera meraih ponselnya di sebelah, dan membuka aplikasi IG. Dia membuka Ig Rad. Benar, Rad mengirim sesuatu yang di unggah 5 jam yang lalu.
"Dadaku sesak oleh Rindu yang terus menggerutu. I Miss You."
"Katanya katanya begitu romantis, Sweet banget." kata Sofi senyum senyum gemas.
I Miss you__May mengulang kalimat itu berulangkali. Kemudian senyum senyum sendiri. Dia lagi merindukan siapa? Siapa wanitanya? Kenapa sih di rahasiakan? Bikin penasaran saja. Gumamnya.
May melihat ada pesan DM yang masuk. Dia segera membukanya. May kaget, senang melihat siapa pengirimnya."Rad?" katanya tanpa sadar.
Sofi menoleh kepadanya."Ada apa"
Sofi segera merapatkan tubuhnya pada May, terus melihat ke layar ponsel May. Keduanya membaca chat yang di kirim Rad.
"Hello......!"
"Ini May kan? May Wulandari dari Bandung, Indonesia?"
"Masih ingat aku nggak? Rad___!"
May dan Sofi saling berpandangan dengan senyum merekah di wajah. May senang sekali. Gak nyangka Rad mengirim pesan secara pribadi padanya.
Sementara di tempatnya, Rangga yang sejak tadi menunggu pesannya di balas May tersenyum melihat pesannya telah terbaca. Dia segera meluruskan punggungnya untuk duduk. Tak sabar menunggu balasan May.
"Cepat balas Ra." kata Sofi.
"Kok aku deg degan ya? Jantung ku berdegup kencang." kata May menyentuh dadanya.
"Perasaan manusiawi Ra. Siapa sih yang gak deg degan di Sapa idolanya secara langsung dan secara pribadi pula!" kata Sofi."Udah cepat balas. Lihat tuh dia lagi online."
__ADS_1
"Gue balas apa ya?" May grogi. Dahinya mengerut sedang berpikir.
"Ya ampun Ra, tinggal balas aja__ Iya benar, Aku May Wulandari dari Bandung Indonesia." kata Sofi menatap judes melihat sahabatnya seperti orang dungu dan bodoh. Tapi lucu juga sih melihat tingkahnya seperti itu.
May mulai mengetik dan membalas pesan Rad seperti yang di katakan Sofi.
"Iya benar, ini May __ ! Tentu saja aku selalu mengingat mu Tuan Rad. Aku gak akan lupa. Aku sangat senang kamu menyapa ku seperti ini." balas May.
Rangga senyum senyum membaca balasan pesan gadis itu."Kamu lagi ngapain?" tanyanya.
"Lagi ngetik kan? balas pesan Anda." balas May.
"Benar juga!" balasan Rangga dengan senyuman lebar.
"Tuan Rad, Aku senang banget kamu DM aku. Ku pikir kau telah lupa sama Aku." kata May.
"Tentu tidak. Hanya saja aku sangat sibuk. Ingat gak sebelum kau meninggalkanku di danau sore itu? Kau meminta ku untuk mengingat nama mu. Dan aku berjanji akan mengingatnya! Kebetulan tadi aku sedang membalas pesan masuk dari beberapa followers ku! Aku teringat dirimu, jadi aku mengirim pesan." kata Rad/ Rangga.
May termangu sejenak. Mengingat kejadian di danau sore itu dan juga pembicaraan mereka. Rad benar. Baik juga nih orang, suka membalas dan menyapa para pengikutnya, gak sombong. Batin May.
"Serius nih, kamu lagi di mana dan ngapain?" tanya Rad. Dia ingin tahu May tinggal di hotel mana dan sedang melakukan apa.
"Aku menginap di salah satu hotel di Sidney. Lagi rebahan sama teman. Kebetulan kami baru kembali dari Mall." jawab May.
"Apa aku mengganggu istirahat kalian?" Rad teringat dia melihat May di pusat perbelanjaan tadi. Gadis itu pasti capek dan butuh istirahat.
"Ah nggak kok." balas May segera karena tidak ingin obrolan ini berakhir.
Obrolan pesan mereka terus berlanjut, hingga akhirnya Rangga meminta nomor telepon dan May memberinya. Ternyata May tidak mengganti nomor. Masih Nomor yang sama yang ada pada dirinya. Hanya saja May belum membuka blokirnya.
Obrolan mereka berlanjut ke WA. Rangga belum berani bicara langsung lewat telepon karena khawatir suaranya ketahuan May.
Di akhir obrolan May meminta untuk bertemu kembali jika dia bersedia."Aku pengen banget ketemu Anda. Boleh kah Tuan Rad?" pinta May berharap.
Rad sangat senang mendengar May meminta ingin bertemu. Rad berpikir sejenak."Nanti aku akan menghubungimu!" katanya kemudian. Dia tidak ingin segera memenuhi keinginan May meski sesungguhnya dia sangat ingin bertemu. Dia tidak mau terburu-buru khawatir jati dirinya sebagai Rangga ketahuan. Dia harus bisa menekan rasa rindu di hati yang menggebu-gebu.
May senyum senyum mendapat jawaban dari Rad. Rad tidak menolak untuk bertemu dengannya. Hanya saja pria itu sangat sibuk sehingga tidak bisa memastikan kapan waktu mereka bertemu. Tak sabar May menantikan pertemuan itu.
Sementara di sebelahnya Sofi sudah tertidur nyenyak karena lelah.
__ADS_1
Bersambung.