
...Happy Reading....
"Aku sudah bilang tak ada orang lain di sini selain aku." kata May.
"Tapi bagaimana jika Sean datang dan melihat mu begini?"
"Sudah ku bilang dia akan datang nanti jam tujuh." pungkas May.
"Tapi bagaimana jika dia datang tiba-tiba? Bisa saja hatinya berubah kan?" Rangga menatap tajam.
Wajah May mengernyit."Nyatanya tuan Sean tidak datang dan malah anda yang datang kemari tanpa sepengetahuan ku. Anda khawatir tuan Sean melihat ku berbikini seperti ini, tapi kenyataannya anda sendiri yang melihat tubuhku." kata May membalas tatapannya.
Rangga terperangah."Sudah ku katakan, aku tidak tahu kalau kau tinggal di sini dan sedang mandi. Kata sekertaris Sean, Sean pulang ke Apartemen nya, jadi ku susul kemari. Aku sudah menghubungi Sean tapi nomornya tidak aktif. Aku sudah memeriksa lantai bawah tapi tak ada siapapun. Kamar atas juga kosong. Jadi aku mencarinya ke sini dan malah menemukan dirimu! Kamu jangan salah sangka padaku." jelasnya. Dia menatap netra May. Tak ingin May berpikir buruk dengan kedatangannya ke mari.
May menelan ludah.
"Terimakasih sudah peduli padaku. Anda jangan khawatir, aku tidak akan mungkin memperlihatkan tubuh ku yang terbuka ke orang orang dan juga di tempat terbuka. Aku tahu auratku yang harus ku jaga. Sebelumnya, aku sudah mengirim pesan pada tuan Sean akan mandi di kolam ini. Dan memintanya untuk tidak cepat datang." katanya panjang lebar menjelaskan.
Lalu berbalik membelakangi Rangga.
"Bapak sudah tahu tuan Sean tak ada di sini. Sebaiknya anda kembali." ingin melangkah, tapi lengannya di tahan Rangga.
"May. Tunggu sebentar." karena ada yang ingin di tanyakan.
May melihat pegangan itu, lalu melepaskan.
"Sebelum ibu Rachel tahu keberadaan bapak di sini dan membuatnya murka, sebaiknya bapak segera keluar. Aku tidak ingin mendapat masalah lagi!" katanya.
"May." Rangga terperangah. Tapi benar juga yang di katakan gadis ini. Dia pun tak ingin May mendapat masalah lagi.
"Oh ya, Aku doakan semoga pernikahan bapak dengannya berjalan lancar tanpa ada kendala. Dan semoga Allah bahagia kan bapak dengan dia." sambung May kembali dengan bibir bergetar. Lalu melangkah dengan lemah. Hatinya terasa sakit lagi.
Rangga kembali tercengang, ucapan itu menusuk hatinya. Seharusnya dia senang mendapat doa untuk pernikahannya, tapi hatinya malah sakit.
__ADS_1
"May, tunggu sebentar." mengikuti May dengan langkah panjang dan cepat. Lalu menahan tangan kanan May begitu dekat. Keduanya kembali saling menatap.
"Sudah ku katakan Aku tidak mencintainya!"
"Lalu kenapa? Itu bukan urusan ku. Cinta atau tidak, toh kalian akan menikah!" sentak May."Jangan mengikuti ku! Sebaiknya tinggalkan tempat ini." kembali melanjutkan langkah.
"May....!" kembali menahan tangan May.
May menghentikan langkah dan segera berbalik. Dia menarik tangannya."Ih, jangan dekat dan menyentuh ku! Apa bapak tidak dengar yang ku katakan tadi? pergi dari sini." usirnya kesal bercampur sedih.
Rangga menatap wajahnya yang sembab.
"Kamu kenapa? Kamu lagi sedih?" Mengabaikan kekesalan May. Dia heran melihat sikap May yang terlihat lain. Dia menangkap ada kemarahan yang terpancar dari wajah May.
"May, ada apa? Om sudah katakan padamu, kita adalah teman. Pernikahan ku dengan Rachel tidak akan melunturkan hubungan pertemanan kita. Jika kau punya masalah atau butuh bantuan, beri tahu Om." Rangga merendahkan suaranya.
May diam dan tidak menjawab. Hanya melempar pandangan ke arah lain, menghindari tatapan Rangga.
"Aku minta maaf atas perlakuan Rachel di toko perhiasan tadi." ucap Rangga. Kali saja May sedih dan marah dengan kejadian tadi.
"Aku sudah terbiasa mendapatkan penghinaan darinya. Jadi tidak masalah! Anda tidak perlu minta maaf. Jika anda tidak ingin aku di permalukan oleh calon istri Anda itu, jauhi aku." kata May ketus.
Rangga menghela nafas berat. Merasa gadis ini marah dan sakit hati.
"Seharusnya Rachel tidak melakukan itu padamu. Dia terus menerus_____!"
"Aku mengerti kenapa dia seperti itu padaku!" May memotong ucapannya. Lalu menatap wajah Rangga."Marah, benci dan cemburu. Karena mencintai Anda hingga membutakan mata dan hatinya." kata May menatap tepat ke bola mata Rangga.
"Tapi kebenciannya padamu sudah sangat keterlaluan. Kecemburuannya tidak beralasan. Kau tidak melakukan apapun. Kau tidak bersalah." kata Rangga.
May mendesah kasar.
"Tapi kenyataannya aku bersalah, karena aku memang mencintaimu, Rangga Dionel Alkas. Dan buk Rachel merasakan hal itu. Makanya dia membenciku dan terus menghina dan merendahkan ku setiap ada kesempatan." katanya sendu tapi hanya di dalam hati. Menatap Rangga penuh kesedihan. Dia menggigit bibir bawahnya menahan untuk tidak menangis.
__ADS_1
Sementara Rangga, sama seperti May yang ikut membatin.
"Aku yang salah. Aku penyebab Rachel begitu membencimu. Karena aku mencintaimu. Dia dapat merasakan kalau Aku mencintaimu." batinnya menatap May sedih.
Beberapa saat saling menatap, seolah berbicara melalui tatapan mata yang basah.
May berpaling ke sebelah menghindari tatapan Rangga."Sudahlah, sebaiknya anda pergi. Aku mau membilas tubuh ku. Sebentar lagi magrib." dia melepas jas Rangga, lalu di serahkan yang langsung di terima Rangga.
May berbalik.
"May.....!" Panggil Rangga pelan sebelum gadis itu pergi. Karena yang ingin di tanyakan belum keluar dari mulutnya. Lagi lagi dia melihat punggung May yang putih bersih terpampang di matanya.
"Ada apa lagi?" sentak May karena terus di hentikan untuk melangkah.
"Apa kamu sudah menemukan pria yang kau cari?" tanya Rangga.
May terdiam mendengar pertanyaan itu, dahi mengerut. Lalu beberapa saat kemudian."Iya, aku sudah menemukannya." bohongnya.
Rangga menelan ludah pahitnya."Apa kau mencintainya?" pertanyaan Rangga lagi.
May berpikir sejenak."Tentu saja aku mencintainya. Karena CINTA, membuatku mencari hingga lupa jalan pulang. Karena CINTA membuatku mengejarnya hingga ke sini seperti orang gila." jawabnya serak. Lalu melangkah pergi, seiring air matanya yang jatuh. Sementara dalam hatinya dia menjerit histeris."Kamu yang aku cinta, pria tua. Bukan Rad."
Rangga membuang nafasnya dengan kuat seraya mendongak ke atas melepas segala beban yang menghimpit jiwa. Seketika raganya lemah. Dadanya sesak seperti terhimpit batu besar. Sakit seperti di hantam oleh benda keras. Dia benar-benar kehilangan May dengan pengakuan itu. Sempat berharap May tidak mencintai pria itu, tapi nyatanya May tergila gila padanya.
Di ruang bilas May menangis sejadinya dengan suara tertahan. Tubuhnya yang lemah melorot ke bawah. Air matanya terus mengalir bersama dengan guyuran air shower.
Rangga yang meski raganya tak tersambung, berusaha menguatkan diri pergi ke ruang pemantau CCTV di apartemen ini. Rangga menghapus semua jejak keberadaan May di kolam itu. Meski sangat sedih dan kecewa dengan pengakuan cinta May pada pria lain, dia tetap ingin diri gadis itu terjaga dengan baik. Tak rela tubuh May di lihat oleh siapapun meski itu adalah Sean.
...Bersambung....
Tak henti meminta dukungan dari Readers.
Tinggalkan jejak ya, beri hadiah seikhlasnya.
__ADS_1
Terimakasih.