
...Happy Reading...
Rangga kembali fokus pada Khanza setelah May pergi. Hatinya masih gelisah tidak tenang setelah kepergian gadis itu. Dia bingung kenapa May masih berada di Australia? Bukankah seharusnya telah balik ke Indonesia kemarin sore? Kenapa masih berada disini? Apa yang membuatnya batal pulang ke Indonesia?
Padahal sore nanti dia telah berencana akan pergi ke Indonesia untuk menyusul May. Tentunya dengan memakai identitas Rad. Dia meminta Verdy mencari kan asisten pribadi selama dia menjadi Rad. Dia juga akan meminta bantuan Cindy untuk menunda pernikahan selama beberapa hari. Karena hanya mamanya yang dapat memahami dirinya. Tadi, dia juga telah mengunggah sesuatu di Instagram yang mana dia akan mengunjungi Indonesia, berharap unggahan itu dapat di lihat May. Tapi May malah masih berada di sini. Apa May batal pulang karena dirinya (Rad?).
"Hey, bengong aja!" suara Khanza, juga sentuhan di tangannya membuyarkan lamunannya.
Rangga sedikit gugup, dia kembali melihat wajah cantik di depan yang tampak tersenyum menatapnya.
"Lagi mikirin apa?" tanya Khanza kembali.
"Bukan apa apa." kata Rangga sambil mengurai senyum.
"Apa ini mengenai wanita yang kau lihat tadi?"
"Tidak juga," kata RANGGA, meski yang sebenarnya Iya. "Aku akan menemuinya nanti." sambungnya.
"Rangga__jika kamu ada urusan penting saat ini, aku gak akan ganggu kamu. Nanti kita atur waktu untuk ketemu lagi. Maaf telah memaksamu datang ke sini." ujar Khanza. Dia Khawatir Rangga ada pekerjaan penting. Apalagi setelah melihat orang yang di lihat Rangga tadi. Mungkin saja wanita itu orang yang penting bagi Rangga dan sangat ingin di temuinya.
"Tidak Khanza __ tidak ada, kamu tenang saja." kata Rangga segera. Dia juga tidak ingin membuat wanita ini kecewa.
"Benar ya?" Khanza menatapnya dalam.
"Iya __kamu tunggu sebentar, ada pesan masuk dari asisten ku." kata Rangga. Merasakan getaran pada ponselnya. Dia segera membalas pesan Verdy. Lalu meminta Verdy untuk mengecek apakah May dan Sofi masih menginap di hotel.
Khanza memperhatikan gerakan tangan Rangga yang sibuk mengetik.
"Ga, kamu udah menikah belum?" tanyanya setelah melihat Rangga menyimpan ponselnya di saku.
Rangga termangu mendengar ucapan itu. Beberapa detik berlalu tersenyum.
"Apa putrimu sudah ketemu?" balik bertanya untuk mengalihkan pembicaraan.
"Kamu tahu dari mana mengenai putriku?" Khanza balik bertanya.
"Mamaku." jawab Rangga
"Aku tahu, mama pasti sudah memberitahukan hal itu pada bibi Cindy. Beberapa hari yang lalu, aku di ajak mama ke rumah bibi Cindy. Aku sangat senang berkunjung ke rumah bibi dan berharap bisa bertemu dengan kamu. Tapi kamu gak ada di sana. Kata bibi Cindy, keberadaan mu tidak bisa di tebak.m, selalu berpindah tempat dan negara. Kamu sangat sibuk bekerja hingga tidak pernah pulang dan jarang berkumpul bersama keluarga. Aku hanya melihat foto mu yang terpajang. Aku marah dan kecewa." ujar Khanza Cemberut."Di saat aku butuh seorang sahabat, kamu malah gak ada." keluhnya sedih.
Rangga tidak tahu harus menjawab apa melihat wajah sedih ini. Yang jelas dia merasa bersalah.
"Maaf Khanza." katanya sambil memegang ke dua tangan Khanza.
"Gak apa-apa. Aku ngerti kok, kamu harus melanjutkan pendidikan ke luar negeri. Terus bekerja keras dan menjadi seorang pengusaha sukses seperti cita cita mu. Kini kamu telah menjadi orang yang sukses dan berhasil." ujar Khanza mengurai senyum.
Rangga ikut tersenyum."Terus, apa putrimu sudah ketemu?" tanyanya lagi teringat putri Khanza
"Belum." jawab Khanza kembali lemah.
"Kenapa? Tuan Sahreza Gracio, suamimu orang yang berkuasa. Terutama papa mu, beliau orang yang sangat berkuasa. Kekuasaannya tersebar ke luar negeri. Gak mungkin mereka tidak bisa menemukan keberadaan putrimu." ujar RANGGA bingung. karena dia tahu begitu berkuasanya seorang Ravendro.
"Papa tau keberadaan Rara. Sejak Rara kabur dari rumah dan keberadaannya sekarang ini."
kata Khanza
"Syukurlah___!" ucap Rangga lega.
"Tapi papa tidak mau mengatakan keberadaannya, di mana Rara tinggal." kata Khanza kesal.
"Kenapa?" dahi Rangga mengerut ingin tahu.
"Papa punya alasannya. Papa hanya bilang, Rara baik baik saja dan tidak perlu mengkhawatirkannya."
"Jika Tuan Ravendro berkata seperti itu, kamu harus percaya. Artinya putrimu dalam pengawasan papa mu. Jadi kamu gak perlu khawatir lagi." kata Rangga meyakinkan keadaan Rara baik baik saja.
Khanza mengangguk membenarkan perkataan Rangga.
"Tapi kenapa putrimu sampai kabur dari rumah?" tanya Rangga kembali. Heran kenapa putri Khanza sampai kabur.
"Ada alasannya, dan itu hal yang pribadi."
"Baik, aku mengerti. Aku tidak akan mempertanyakan alasannya." kata Rangga. Dia melihat tidak ada semangat di wajah Khanza."Kamu kenapa lemas gitu? Kan udah tau putri mu baik baik saja."
"Rara ada di sini, di Australia. Tapi aku dan kak Cio tidak bisa menemukannya." kata Khanza cemberut.
"Dia ada di negara ini?" tanya RANGGA kaget.
Khanza mengangguk lemah dengan bibir manyun.
"Kak Cio sulit menemukan keberadaannya. Sepertinya papa berusaha menghalangi kami untuk menemukan Rara."
"Kenapa begitu?" tanya Rangga semakin heran.
__ADS_1
"Papa punya alasannya! Lagi pula semua juga salahmu!" kata Khanza menatap kesal.
"Kok aku? Kenapa salahku?" Rangga kaget karena di salahkan dengan kaburnya Rara.
"Kamu masih ingat nggak sewaktu aku hamil dan aku berbagi kebahagiaan itu dengan mu. Kamu mengatakan akan menunggu Rai Rara junior sebagai pengganti ibunya yang tidak dapat kau miliki. Kau akan menjadikan dia kekasih mu. Kami akan menikahnya! Seharusnya kamu segera datang sehingga Rara tidak perlu kabur."
"Khanza, itu hanya candaan. Mana mungkin aku menjadikan anak mu kekasihku? Aku sudah seperti paman baginya!" kata RANGGA. Meski hatinya berkata kalau dia telah berbohong mengingat dia mencintai May gadis belia yang sudah cocok menjadi putrinya.
"Tapi aku menganggap serius perbincangan kita waktu itu. Aku mau bertanya padamu, apa wanita yang kau lihat tadi istrimu? atau mantan istrimu?" tanya Khanza kembali.
Rangga termangu mendengar pertanyaan itu.
Apakah dia harus jujur mengatakan kalau dia belum menikah karena Khanza sendiri. Karena terlalu sulit melupakan dan menghilangkan Khanza dari hatinya.
"Kok diam? jawab dong." Khanza mendesak sambil menekan tangannya.
Rangga menelan ludah pahitnya.
"Aku __aku belum menikah." katanya perlahan, ragu ragu.
"Kalau kau belum menikah kenapa tidak datang menemui Rara dan memenuhi perkataan mu dulu?" kata Khanza nge gas kesal. Tapi kemudian dia terkejut."Apa? Kau belum menikah?" terbelalak menatap Rangga seakan tak percaya.
"Kamu belum menikah?" tanyanya kembali.
"Serius? Rangga, jangan bercanda!"
Khanza berhenti bertanya melihat tatapan kejujuran dari mata pria dewasa yang pernah menjadi kekasihnya sehari.
"Whay?" tanyanya ingin tahu.
Rangga kembali menelan ludah. Lalu tersenyum."Aku terlalu sibuk bekerja sehingga lupa memikirkan pernikahan. Aku tidak terlalu memikirkan hal-hal seperti itu. Aku sangat bahagia dengan kehidupan ku, aku senang dengan pekerjaanku. Aku__! sudahlah __ tidak usah bahas tentang diriku. Yang jelas, aku bahagia dengan kesendirian ku." kata Rangga berpura-pura bahagia, meski dadanya sesak saat ini. Dia segera tersenyum."Sekarang ceritakan kembali tentang Rara junior. Apakah dia secantik ibunya? Hmmm? Sudah pasti memiliki mata teduh seperti mamanya!" kata RANGGA berseloroh mengalihkan pembicaraan.
Khanza ikut tersenyum, meski saat ini hatinya merasa ada yang aneh dengan belum menikahnya mantannya ini.
"Iya, Rara sangat cantik." jawabnya pelan.
"Sudah ku duga, siapa dulu dong mamanya?" kata Rangga kembali dengan godaannya. "Pasti banyak pria yang menyukainya bukan? Sama seperti mamanya sewaktu SMA? Dan dia pasti sudah punya pacar."
"Gak ada. Rara gak suka pacaran." kata Khanza.
"Bagus itu, harus fokus sekolah dulu, belajar yang giat dan mengejar cita-cita. Terus sudah kelas berapa?" tanya Rangga kembali tertarik dengan kepribadian Rara junior yang dulu sama seperti Khanza. Tidak mau pacaran, menolak semua pria yang menyukainya di sekolah. Fokus belajar dan sangat cerdas.
"Baru saja lulus SMA!" jawab Khanza.
"Dia kabur, bagaimana mau kuliah?" kata Khanza kesal.
"Kenapa dia sampai kabur? Apa kalian terlalu keras padanya dan mengekang hidupnya?"
"Tidak! Dia sedang mencari dan mengejar sesuatu. Seandainya kau menepati janji mu yang dulu, Rara pasti tidak akan kabur!" Khanza Kembali menyalahkan Rangga.
"Khanza, aku kan sudah bilang __ itu hanya candaan! Aku tidak bersungguh-sungguh."
Rangga kembali tertekan karena terus di salahkan. Karena obrolan mereka waktu itu memang hanya di anggap sebuah guyonan.
"Tapi bagaimana jika candaan itu menjadi kenyataan? Lihat, sampai sekarang kau belum menikah. Mungkin tuhan menutup hatimu selama 17 tahun untuk tidak mencintai wanita lain karena Rara junior. Dulu, kau sendiri yang mengatakan akan menunggunya bukan?"
"Iya __ itu benar! Tapi tidak bersungguh-sungguh Khanza! Aku memang belum menikah tapi bukan berarti tidak punya wanita yang ku cintai." kata Rangga.
"Wanita yang kau lihat tadi adalah wanita yang ku cintai. Aku sangat mencintainya!" kata Rangga dengan kesungguhan hati.
Khanza menatap dalam-dalam."Kamu gak bohong kan? Karena aku tahu, kamu pria yang susah jatuh cinta. Katamu hanya aku wanita yang bisa membuat mu jatuh cinta." tanya Khanza tanpa canggung.
Rangga mengalihkan pandangannya ke sebelah untuk menghindari tatapan Khanza. Dia tidak ingin melihat kebohongan dari matanya. Karena memang benar hanya wanita ini yang bisa membuatnya jatuh cinta. Selama belasan tahun tidak bisa di lupakan hingga akhirnya bertemu May.
"Kamu benar, hanya kamu yang aku cintai saat itu. Tapi itu dulu ___ belasan tahun telah berlalu. Aku telah menemukan wanita lain yang aku cintai. Aku sangat mencintainya! Aku serius, lihat ini___!" dia memperlihatkan cincin di jari manisnya yang barusan di pasang secara diam-diam. Cincin itu adalah cincin yang di belinya secara diam-diam untuk dia dan May.
"Ini cincin pertunangan ku. Beberapa hari yang lalu aku telah bertunangan. Dan aku akan menikah!" katanya kembali untuk menghilangkan asumsi Khanza kalau dia susah jatuh cinta dan tidak bisa melupakan Khanza.
"Kau akan menikah?" Khanza menyentuh cincin di jari RANGGA. Dia ikut senang mendengar Rangga akan menikah.
Rangga mengangguk tersenyum, meski hatinya perih karena pernikahan bukan dengan wanita yang dia cintai tapi dengan Rachel.
"Wah selamat ya...! aku turut bahagia dan senang sekali!" Khanza bangkit, mendekat dan memeluk Rangga."Ku kira kau susah jatuh cinta karena tidak dapat melupakan aku. Hhhh ___geer amat aku ya __" kata Khanza tertawa lepas. Rangga ikut tertawa meski hatinya pilu. Dulu tidak dapat memiliki wanita ini dan kini tidak dapat memiliki May karena pernikahannya dengan Rachel.
"Oh ya, tadi kan tunangan mu itu melihat mu dengan aku. Apa dia gak marah? Dia pergi terburu buru tadi. Mungkin dia marah ya, atau cemburu melihat kau bersama dengan wanita lain, aku__!" tanya Khanza teringat wanita tadi.
"Tidak, bukan karena kamu. Jangan khawatir!"
"Benar ya?" Khanza bertanya ingin meyakinkan.
"Iya,, tenang saja." jawab Rangga sembari tersenyum.
"Nanti kenal kan sama Aku ya? Atau bagaimana jika aku mengundang kalian datang ke rumah kami untuk makan bersama?" ajak Khanza.
__ADS_1
"Akan ku pikirkan. Aku akan mengatakan kepada wanita yang ku cintai dulu. Nanti aku akan menghubungimu." kata Rangga.
"Oke....!" Khanza senang.
Rangga teringat ada janji bertemu dengan Cio sore ini. Ponselnya tiba-tiba bergetar."Tunggu sebentar." katanya melihat sekilas pada Khanza. Dia segera mengambil benda pipih itu dari saku jas. Pesan dari mamanya. Di bacanya sebentar, dia tersenyum. Karena mamanya akan membantunya untuk menunda pernikahannya dengan Rachel.
"Pesan dari tunangannya ya? Kamu senyum senang gitu?" tanya Khanza kepo melihat wajah RANGGA senyum senyum membaca.
"Dari mama!" jawab Rangga sembari melihat Khanza.
"Bibi Cindy?" Khanza sumringah."Cepat telepon, aku mau bicara sama bibi." pintanya mendesak.
Mau tidak mau RANGGA menuruti permintaan Khanza. Dia segera menghubungi mamanya, tersambung.....
📞"Ma...ada yang ingin bicara dengan mama!" kata Rangga.
📞"Siapa?"
📞"Bibi, assalamualaikum....!" kata Khanza memperlihatkan wajahnya di layar HP.
📞"Khanza, Waalaikumsalam sayang! Kamu lagi sama Rangga ya..."
📞"Iya bi, aku udah ketemu sama Rangga. Akhirnya aku menemukannya. Aku senang banget!" kata Khanza seraya memeluk Rangga dari samping. Menempelkan pipi mereka biar wajah mereka dapat dilihat Cindy pada layar.
Rangga jadi canggung tapi tak bisa lepas. Dia tahu sifat dan karakter seorang Khanza. Tingkah bebas, lepas, apa adanya. Tingkah seperti ini membuat Rangga teringat May. Kedua wanita ini hampir sama.
📞"Bibi ikut senang." kata Cindy dari seberang."Nanti kapan kapan datang lagi ke rumah bibi."
📞"Iya bi, pasti. Aku akan rajin mengunjungi rumah bibi kalau ada Rangga di sana." kata Khanza masih dengan senangnya.
Rangga senyum senyum mendengar celotehan ini. Dan kembali lagi melintas bayangan May yang selalu membuatnya gemas.
📞"Bibi menunggumu. Sudah dulu ya, sayang. Lanjutkan pertemuan kalian!"
📞"Baik bi, assalamualaikum!"
📞"Waalaikumsalam."
Telepon di matikan. Rangga ikut senang melihat rona bahagia di wajah wanita ini. Dia tahu Khanza sangat dekat dengan papa dan mamanya. Khanza sangat menyayangi ke dua orang tuanya dari dulu sampe sekarang.
"Senang banget?!" katanya melihat binar bahagia yang tidak lepas dari wajah cantik ini.
"Tantu saja!" kata Khanza antusias.
Tanpa mereka sadari, sepasang mata menatap penuh kebencian pada mereka dari jauh. Melihat kedekatan yang begitu mesra menumbuhkan amarah dan kecemburuan yang mendalam.
"Khanza, maaf, aku ada janji bertemu dengan seorang__!" kata Rangga teringat janji bertemu dengan Cio.
"Aku mengerti __!" kata Khanza memotong ucapan Rangga.
"Kamu gak apa apa kan?"
"Tentu tidak pak Presdir. Kau orang yang sangat sibuk. Sama seperti kak Cio dan papa yang selalu meninggalkan aku dan mama karena pekerjaan!" kata Khanza.
"Nanti kapan kapan kita bertemu lagi."
"Iya, kita harus bertemu dan selalu bertemu sebelum aku balik ke Indonesia. Aku belum puas melepas rasa rinduku padamu!"
Rangga tersenyum mendengarnya.
"Lihatlah, pak Presdir ku sangat tampan dengan senyum manisnya. Sangat Keren dan gagah." kata Khanza Sembari memberi dua jempolnya.
Senyum Rangga tambah melebar.
"Ayo kita pergi. Aku akan mengantarmu pulang."
"Siap Pak bos. Let's go!" kata Khanza dengan tingkah manjanya.
Rangga tertawa kecil, dia meluapkan May sesaat. Ya,, sejujurnya dia juga sangat rindu dengan wanita di masa lalunya ini dan sangat bahagia bisa bertemu kembali setelah belasan tahun tidak bertemu.
Khanza memegang tangan Rangga di sela langkah mereka. Dan Rangga tak menolak, meski hatinya was was mengingat wanita ini adalah istri orang.
"Semoga kamu akan segera bertemu dengan putrimu, Rai Rara." kata RANGGA teringat kembali pada putri Khanza.
"Aamiin, Dan jika sudah bertemu, aku akan mempertemukan kamu dengan Rara."
"Aku sudah tidak sabar untuk bertemu dengan Rara junior ku....! Wajahnya pasti cantik, juga cerdas seperti mamanya!"
"Tentu saja ___Kau pasti akan tertarik padanya, Lihat saja nanti __aku yakin kau pasti akan jatuh cinta padanya." kata Khanza.
Rangga terkekeh mendengarnya.
Itulah obrolan mereka di perjalanan mengantar Khanza pulang.
__ADS_1
...Bersambung....