Rangga dan Rara (Mencintai Anak Mantan)

Rangga dan Rara (Mencintai Anak Mantan)
45. Rencana Pernikahan


__ADS_3

...Happy Reading...


Dengan menggunakan pesawat pribadi milik Sean Gefarin, mereka terbang menuju Australia. Dalam perjalanan, May mengirimkan pesan pada Rangga. Pesan ucapan terimakasih atas segala kebaikan Rangga padanya selama sebulan di Amerika.


Rindu dan kehilangan. Itu yang di rasakan oleh hatinya saat ini. Matanya berkaca menatap wajah Rangga dalam layar ponselnya.


"Selamat tinggal Om. Aku pasti akan selalu mengingat kebaikan Om, juga kenangan indah yang kita lalui bersama. Terimakasih untuk semuanya." batin May lirih. Lalu perlahan memejamkan mata. Berselang beberapa detik, mengalir lah cairan bening membasahi kedua pipinya.


Sean memperhatikannya secara diam-diam. "Apa telah terjadi sesuatu di antara hati mereka?" batin Sean yang melihat lelehan bening itu. Sean menghela nafas dalam-dalam. Merasakan ada sesuatu yang janggal. Soal perasaan Rangga pada May, dia tahu sahabatnya itu menyukai May. Dan May? Apa gadis itu juga memiliki perasaan yang sama pada Rangga? Berat berpisah dan meninggalkan Rangga hingga membuatnya sedih seperti itu? batinnya bertanya pada dirinya sendiri.


.


.


Kemana Rangga pergi setelah mendapat telepon dan pesan dari Cindy? Jawabannya adalah ke kediaman Alkas. Dan dia tidak memberitahu kan hal itu pada May. Dia hanya mengatakan ada urusan penting mendadak.


Begitu tiba di kediaman orang tuanya, di dapatnya sudah berkumpul keluarga besar mereka. Termasuk Dinda, neneknya, ibu kandung Dion. (Raymond Alkas sudah meninggal dunia).


Rangga merasakan sesuatu yang tidak baik begitu melihat ada orang tua Rachel berada di ruang keluarga bersama neneknya, papa dan mamanya. Hatinya semakin tidak tenang.


Cindy segera bangkit dari duduknya begitu melihat kedatangannya.


"Kau sudah pulang nak?" kata Cindy tersenyum lembut.


Rangga mengangguk dan segera mengurai senyum melihat wajah keibuan ibunya. Terus menatap satu persatu wajah mereka yang tampak bahagia.


Dari kursinya, Rachel tersenyum manis, hati senang melihatnya datang, meski hatinya sakit dan marah saat ini karena kebohongan dan penghianatan Rangga.


"Nenek." Rangga segera mendekati Dinda. Menyalami wanita paruh baya yang sangat di sayanginya itu, mencium tangan dan keningnya, memeluk sebentar. Kemudian dia menyalami papa mamanya dan terakhir orang tua Rachel.


"Duduklah nak," kata Dinda, lalu menepuk tempat kosong di sampingnya. Rangga mengikuti perkataan neneknya.


"Kami baru saja membicarakan hal penting. Tentunya sesuatu yang sangat membahagiakan untuk keluarga kita. Terutama untuk kamu dan Rachel." kata Dinda mulai menjelaskan maksud keberadaan mereka di ruang ini.


Dinda meraih tangan kanan Rangga dan menggenggamnya lembut. Dia menatap cucu tertuanya itu dengan senyuman yang tidak lepas dari wajahnya karena sedang bahagia.


"Nenek mau memberi tahukan kabar gembira padamu. Tadi kami sudah membicarakannya, dan semuanya telah setuju. Baik dari pihak Alkas dan juga tuan Dominic!" kata Dinda dengan sumringah. "Minggu depan, Kamu dan Rachel akan menikah." lanjut Dinda kembali.


Deg....


Hati Rangga tersentak seketika. Firasatnya ternyata benar. Kedua keluarga ini sedang membicarakan pernikahan. Pernikahannya dengan Rachel.

__ADS_1


Semuanya tersenyum bahagia. Rachel dan ibunya saling berpelukan. Cindy, Dion juga memberi ucapan selamat pada mereka. Kedua keluarga itu saling berpelukan memberi ucapan selamat.


Terkecuali Rangga yang masih bengong."Menikah?" Rangga bertanya dengan ekspresi terkejut.


Wajah Rachel berubah datar mendengar pertanyaannya. Hati deg degan, takut khawatir Rangga akan menolak rencana pernikahan, terlebih di depan orang tuanya.


Betapa malunya dia dan orang tuanya jika sampai Rangga menolak.


"Iya nak, setelah bertahun-tahun menjalin hubungan, akhirnya kalian akan segera menikah. Rachel telah setuju dan bersedia menjadi istri mu. Tidak ada alasan lagi bagimu untuk menolak. Umur mu sudah tidak muda lagi. Hidupmu juga sudah lebih dari mapan dan sangat sukses. Nenek berharap kau jangan menunda-nunda pernikahan kalian lagi. Sesuatu yang baik jangan terlalu lama di tunda, itu tidak baik. Kita harus segera menyegerakannya! Nenek sangat ingin melihat kau menikah dan punya anak. Nenek sudah tidak sabar ingin meminang cicit dari mu. Mungkin tuhan belum memanggil nenek pergi mengikuti kakek mu karena masih ingin di beri kesempatan untuk melihat mu menikah dan punya anak! Nenek sangat bahagia sekali. Selamat ya nak!" kata Dinda penuh bahagia memegang wajah Rangga, memeluk, Kemudian mencium kening Rangga.


Bibir Rangga terasa kelu, tidak bisa berkata apa-apa, apalagi untuk menolak, melihat binar bahagia di wajah keriput neneknya, wanita tua yang sangat di sayangnya. Dia ingin sekali menolak pernikahan itu, tapi tidak tega melihat rona bahagia wanita tua itu akan berganti kecewa dan sedih. Karena sudah banyak kali neneknya memintanya untuk menikah. Tapi berulang kali dia memberi alasan dia dan Rachel belum siap menikah. Masih ingin fokus bekerja, dan menjadi orang sukses. Kini dia sudah punya segalanya. Memiliki karir yang sukses, berbagai usaha bisnis, uang dan harta, pemimpin dan pemilik pada usaha bisnisnya sendiri. Rachel juga sudah mengatakan sudah ingin menikah. Tak ada lagi alasan yang bisa di pakai untuk menolak pernikahan.


Setelah menyampaikan rencana bahagia itu, Dion segera mengajak Dominic berbincang bincang ke ruang kerja. Keduanya adalah sahabat karib, sekaligus rekan kerja yang telah lama berhubungan, sangat akrab, saling mensuport satu sama lain.


Cindy mengajak Lusia, ibu Rachel ngobrol ke ruang sebelah untuk membicarakan segala persiapan pernikahan. Sekaligus memberi kesempatan kepada Rangga dan Rachel untuk bicara berdua.


Dinda pamit ke kamarnya untuk istirahat karena tidak tahan duduk berlama lama, pinggangnya terasa sakit.


Rangga menyempatkan diri mengantarnya ke kamar. Setelah itu dia pamit pada Rachel untuk mandi sebentar.


Sambil menunggu dia mandi, Rachel menawarkan diri menemani Dinda di kamar. Keduanya mengobrol dengan akrab, karena Rachel sudah dekat dengan Dinda.


Dinda menyukai Rachel karena sikapnya yang santun, mencintai Rangga dengan sabar, dan juga wanita yang membuat Rangga sukses.


Pikirannya tiba-tiba menerawang pada May yang di tinggalkan di hotel Sean Gefarin.


Bagaimana dia menikah dengan Rachel sementara dia mencintai gadis belia itu. Tapi dia tidak bisa menolak keinginan nenek dan orang tuanya yang telah merestui hubungannya dengan Rachel yang telah berjalan 10 tahun.


Dulu, dia menerima begitu saja keinginan neneknya saat di jodohkan dengan Rachel. Alasannya siapa tahu dengan hadirnya Rachel bisa menghilangkan Khanza dari hatinya. Tapi nyatanya, dia tidak bisa bisa melupakan Khanza meski setelah belasan tahun berlalu. Wanita cinta pertamanya itu masih tersimpan di satu sudut hatinya, sangat sulit dihilangkan. Hingga munculnya May masuk ke dalam hidupnya dengan tak terduga dan mengusik ketenangan hidupnya. Gadis belia yang terpaut jauh usia dengannya. Gadis muda yang sudah seperti anaknya sendiri. Gadis polos yang memiliki ketulusan hati, mampu membuatnya mengikis keberadaan Khanza di hatinya secara perlahan-lahan.


Rangga segera menyelesaikan ritual mandinya. Keluar dari kamar mandi dengan hanya menggunakan handuk pendek yang menutupi perut bagian pribadinya. Mengabaikan lelehan air yang mengalir dari rambut terus ke tubuhnya dan jatuh membasahi lantai. Rasa khawatir mengingat May di tinggalkan sendiri di kamar. Entah Sean sudah ada di sana atau belum karena Sean belum menghubunginya sampai saat ini.


Rangga mengambil ponsel, hendak menghubungi May. Tapi batal begitu melihat ada pesan masuk dari May. Rangga segera membukanya.


..."Terimakasih untuk semua ketulusan dan kebaikan hati Om padaku selama di Amerika. Canda tawa, sedih, marah, kelembutan, kasih sayang, perhatian, kepedulian dan perlindungan! Aku akan menyimpan semua kenangan yang indah yang kita lalu bersama. Aku sangat senang dan bahagia bertemu dengan Om, mengenal Om, menjadi teman, paman, ayah, sekaligus OB Om! Di lain waktu aku pasti akan membalas kebaikan Om! Om akan selalu ada di hati aku! Semoga bahagia selalu dalam hidupnya! Aku pamit, selamat tinggal!"...


Mata Rangga melebar membaca isi pesan. Dia panik.


"Pamit pergi? Apa maksudnya?"


Segera dia menghubungi nomor May, tapi tidak aktif, di hubungi lagi, hasilnya tetap sama. Rangga semakin panik dan tidak tenang. Dia menghubungi manager hotel. Berjalan mondar mandir dengan tegang.

__ADS_1


Jawaban manager membuatnya mengeram keras. Manager berkata May pergi dari hotel dengan memaksa. May pamit pulang ke apartemen karena tidak ingin berlama lama di hotel. Dia tidak bisa menahan May.


"Bagaimana dengan bos mu? Apa dia ada di hotel? Aku sengaja menyuruhnya ke hotel untuk menemani May!" Rangga masih bertanya di telpon.


"Tuan Sean tadi datang, tapi tidak bertemu nona May karena terlambat 20 menit setelah kepergian Nona May. Tuan Sean menghubungi nomor Nona May tapi tidak aktif. Beliau juga menghubungi nomor anda untuk mengatakan hal itu, tapi nomor anda tidak aktif!" kata manager hotel menjelaskan cerita karangan yang di perintah Sean sebelum pergi tadi.


Rangga mematikan sambungan telepon dengan manager. Dia segera menghubungi Sean. Tapi nomor Sean tidak aktif. Berulang kali di hubungi, hasilnya sama. Rangga memaki pria itu. Lalu menghubungi pengelola apartemen R², orang kepercayaannya.


📞"Selamat pagi pak!" sapa sang pengelola sopan.


📞"Apa May ada di apartemen?" tanyanya terburu buru menahan emosi.


📞"Tadi Nona May datang, tapi kembali keluar. Dia hanya mengambil semua barang barangnya dan menyelesaikan sisa sewa pembayaran kamarnya. Dia pamit selamanya dan tidak akan kembali. Nona May tidak mengatakan alasannya!"


📞"Kenapa kau tidak segera menghubungi ku?" teriak Rangga dengan emosi.


📞"Maaf tuan, saya sudah mencoba menghubungi anda beberapa kali untuk memberitahu kan hal itu. Tapi nomor tuan tidak aktif!" kata pengelola gugup dan takut.


Rangga mengeram keras dan memaki dirinya, semua karena kesalahannya yang menonaktifkan ponselnya untuk menghindari telepon Rachel.


📞"Dengan siapa dia pergi?"


📞"Sendiri tuan. Nona May pergi dengan taksi!"


📞"Apa Rachel datang ke apartemen tadi?" tanya Rangga, khawatir Rachel yang menjadi penyebab May keluar dari apartemen.


📞"Tidak, ibu Rachel hanya mencari tahu keberadaan anda lewat orangnya! Saya mendengar percakapan mereka di telepon!"


📞"Segera hubungi aku jika May kembali, atau jika kau melihatnya di suatu tempat."


📞"Baik tuan."


Rangga segera memutuskan hubungan telepon. Dia membuang benda tipis itu ke sembarang tempat dengan geram.


"Kamu pergi kemana May? Seharusnya aku tidak meninggalkan mu sendiri!" gumamnya lirih merasa menyesal. Dia mengusap wajahnya kasar. Terduduk lesu di bibir ranjang.


"Apa yang membuat mu pergi? Apa aku telah berbuat sesuatu yang menyakiti mu? Atau adakah orang yang mengancam mu?" gumamnya sendu dengan berbagai pertanyaan yang berkecamuk di pikirannya. Tubuhnya terasa lemas, karena merasa kehilangan separuh jiwanya. Nafasnya turun naik tak beraturan, dada bergemuruh kuat menahan kesedihan.


"May.....jangan pergi seperti itu...jangan pergi tanpa pamit secara langsung padaku! Jangan tinggalkan Om!" ucapnya sendu. Kedua matanya berkaca.


Bersambung.

__ADS_1


Tinggalkan jejak dukungan ya, terimakasih 😘


__ADS_2