
...Happy Reading...
Sementara dalam posisi yang saling memeluk, Rangga dan May saling menatap dengan debaran jantung yang tak karuan.
May yang tegang dan takut. Sementara Rangga yang cemas takut May kenapa napa.
"Ya tuhan, Om terkena kopi panas." batin May cemas menatap lekat wajah Rangga yang begitu dekat dengan wajahnya.
"Kau tidak apa-apa?" ucap Rangga hampir tak terdengar. Tapi gerakan bibirnya terbaca oleh mata May.
Tapi suara keras Rachel memecah mengangetkan keduanya."Apa yang kau lakukan?" terdengar suara keras Rachel. Dia bangkit berdiri dan mendekat ke arah Rangga. Menahan amarah dan cemburu melihat adegan di depannya. Clara juga emosi dan cemburu. Dia mendekat. Keduanya menarik tangan May dengan kasar keluar dari pangkuan Rangga.
May panik. Dia segera turun dari pangkuan Rangga dan berdiri.
"Kenapa kamu bisa ceroboh hah?" sentak Rachel menatap tajam dan garang.
"Lihat apa yang kau lakukan, jas Pak Rangga kotor karena ulah mu!" Clara ikut ikutan emosi.
Di antara rasa takut, May terkejut mendengar perkataan Clara yang menyebut Omnya dengan sebutan Rangga. Dia menoleh pada Rangga yang tampak membersihkan kopi pada jasnya.
"Jadi benar, Rangga Dionel Alkas adalah Om? Dan Sebagai pimpinan perusahaan ini?" batinnya.
"Sudah ku katakan jaga sikapmu di depan pimpinan. Jangan membuat kesalahan!" sentak Rachel kembali menarik kasar lengannya.
May kembali panik dan berusaha mundur takut Rachel akan menamparnya seperti kemarin."Maaf bu, tadi aku terlalu terkejut saat melihat wajah pimpinan." kata May berusaha membela diri dengan mengarang cerita bohong."Aku terkejut karena teringat dengan wajah seseorang yang ku lihat di pantai jompo beberapa hari yang lalu. Ibu masih ingat kan saat aku membuat kesalahan pada pak Rangga waktu di panti yayasan? Aku takut saat melihat wajahnya tadi. Aku takut dia masih marah karena kejadian itu dan akan memecat ku! Jadi aku ingin menghindar agar dia tidak melihat wajah ku, tapi tidak tahunya aku malah melakukan kesalahan.....!"kata May terbata bata. Padahal yang sebenarnya, bukan takut karena itu. Dia ingin menghindari Rangga karena tadi berkata berada di apartemen sedang istirahat. Dan akhirnya dia ketahuan berbohong. Dia benar-benar tidak menyangka kalau Rangga pimpinan perusahaan ini.
"Maaf bu.... saya benar-benar tidak sengaja!" memohon pada Rachel. Terus melihat pada Rangga "Tolong maafkan aku O... !" tapi dengan cepat dia menutup mulutnya saat menyadari keadaan dan tahu siapa Rangga sebenarnya. Hampir saja dia kebablasan menyebut Om.
"Kemarin kau melakukan kesalahan, dan hari ini kau berulah lagi. Kesalahan mu tadi sangat fatal. Perusahaan ini tidak akan memberikan toleransi lagi pada mu! Kemas barang mu, keluar dari sini sekarang juga....kau di pecat!" kata Rachel tegas dan kasar menatap tajam penuh amarah.
May tercengang mendengar perkataan itu. Dia terpaku di tempatnya, melihat wajah Rachel yang memerah menahan kemarahan.
"Kenapa kau diam? Pergi dari perusahaan ini, kau di pecat. Apa kau tidak dengar?" sentak Clara mendorong tubuh May kasar.
Tubuh May lemah dan gemetar. Kedua matanya basah. Dia tidak mau di pecat.
"Keluar dari sini sekarang juga!" Clara kembali menyentak seraya mendorongnya, hampir jatuh.
__ADS_1
"Hentikan! Apa yang kalian lakukan?" sentak Rangga menatap tajam Rachel dan Clara bergantian. Lalu melihat May yang mau menangis dengan mata merah berkaca kaca.
May menatap Rangga dengan menggeleng lemah. Dia tidak mau di pecat. Dia sangat butuh pekerjaan ini. Rachel mengatakan telah memecatnya, tapi keputusan ada di tangan Rangga, karena Rangga pimpinan perusahaan ini. Dia yang lebih berhak menentukan hukuman untuk dirinya. May segera mendekati Rangga, untuk memohon padanya agar tidak di pecat.
"Pak, tolong, jangan pecat aku. Aku sangat butuh pekerjaan ini. Aku benar benar tidak sengaja tadi. Tolong maafkan aku....!" pinta May dengan memelas. Rangga menatapnya tajam dan dingin, lalu melangkah menuju kamar mandi.
"Pak, pak.... tolong maafkan aku!" teriak May. Tanpa sadar mengejar Rangga. Melihat tatapan kemarahan di mata Rangga, dia tahu Rangga marah padanya karena telah membohonginya.
"Heh....mau kemana kamu? Beraninya kamu mendekati pimpinan? Benar benar tidak sopan." teriak Rachel keras melihatnya mengejar Rangga. Clara juga ikutan mengikuti dengan kursi rodanya. Keduanya berusaha mengikuti meski kaki dan tangan sakit terpasang gips. Memang rasa cemburu menghilangkan rasa sakit.
Rangga berjalan cepat ke kamar mandi, May mengejar dengan sedikit berlari tertatih.
"Pak, pak....!" panggilnya berulang.
Rangga mengabaikan panggilannya, dia melepas dasi dan membuka jas. Kulit di lengan dan punggungnya terasa perih akibat terkena kopi panas tadi. Sudah dapat di pastikan kulitnya melepuh. Sampai di dalam dia segera membuka kemeja putihnya. Berjalan cepat ke wastafel, memutar kran dan membasahi lengannya yang melepuh kemerahan.
May ikut masuk ke kamar mandi.
"Pak....pak Rangga, tolong maafkan saya. Jangan pecat saya." pinta May di antara rasa takutnya dan Isak kecilnya. Dia melihat tubuh kekar berotot Rangga yang setengah telanjang tidak memakai kemeja. Pria itu sibuk membasahi lukanya dengan air yang mengalir. Reflek dia mendekat ke wastafel untuk membantu membasuh luka di lengan dan punggung Rangga, karena pria itu tampak kesulitan. May menampung air di telapak tangan, lalu menyiramnya di kedua ke luka itu secara bergantian.
Gerakan tangan Rangga terhenti. Beralih menatap May yang sibuk membasuh luka di lengan dan punggungnya. Dia melihat kepanikan dan rasa khawatir di manik mata gadis itu.
"Apa itu sakit?" tanya May melihat sekilas lalu menyentuh kulit yang terluka dengan pelan.
Lalu kembali menampung air dan menyiram."Maaf, aku terlalu terkejut melihat wajah bapak. Aku benar benar tidak sengaja. Maafkan aku! Dan tolong Jangan pecat aku. Aku sangat butuh pekerjaan ini! Aku.....!"
"Diam, jangan bicara lagi! Diam....!" bentak Rangga keras karena May terus mengoceh. Dia mencengkram kedua tangan May. Menariknya kuat hingga tubuh keduanya menempel tanpa celah. Kedua tangan May yang berada dalam pegangannya menyentuh dadanya yang polos.
May langsung terdiam, hanya nafasnya yang terdengar memburu tak beraturan. Rasa takut menyeruak seketika melihat tatapan menakutkan di depannya. Keduanya saling menatap dengan emosi menguasai hati masing-masing.
Rangga menatapnya tajam."Kenapa kau ceroboh sekali? Hah? Bagaimana jika kopi itu jatuh mengenai tubuhmu? Bagaimana jika terjadi sesuatu yang buruk lagi padamu? Kenapa kau tidak hati hati?" katanya berapi api dengan luapan emosi. Dia marah karena May hampir celaka. Entah apalagi yang terjadi pada tubuh May jika tidak jatuh ke pangkuannya. Dan kopi panas itu pasti mengenai tubuh May jika dia tidak segera memeluk gadis itu. Dia sangat takut dan cemas terjadi sesuatu yang buruk lagi pada gadis itu.
May terperangah. Dia mengira Rangga akan marah dan memecatnya, ternyata malah menghawatirkan dirinya."A- aku.....!" May terbata bata. Mantap wajah Rangga di antara gelembung air mata yang mau tumpah.
Rangga kembali mencengkeram kedua tangan gadis itu."Kau tahu kenapa dirimu hampir celaka?" potong Rangga segera, tidak membiarkan gadis ini membela diri dan membuat alasan.
May diam. Meski dia tahu alasannya.
__ADS_1
"Apa kau tahu penyebabnya?" sentak Rangga kembali karena melihatnya hanya diam.
May menunduk tidak berani menatap karena takut. Air matanya seketika mengalir.
Rangga mengangkat wajahnya. Menatap netra yang merah dan basah, membuat mereka kembali bertatap."Karena kau berbohong May Wulandari!" kata Rangga rendah dan pelan tapi marah. Rahangnya mengeras karena menahan kemarahan.
"Kau ingin menghindar dariku karena ketahuan berbohong....kau dengar itu May Wulandari?" menatap tajam.
Isakan kecil keluar berulang dari mulut May. May menelan ludahnya yang terasa pahit.
"Aku minta maaf...aku tidak bermaksud seperti itu Om! Aku tidak bermaksud membohongi Om, Aku__"
"Diam! Jaga ucapan mu. Aku atasan mu, bos mu, pimpinan mu! Jangan menyebutku sembarangan." teriak Rangga kembali mencengkram May, tapi berpindah mencengkeram kasar kedua bahu gadis itu. Sengaja dia berkata seperti itu dan memperlakukan May kasar Karena dia menangkap keberadaan Rachel dan Clara yang muncul di depan pintu. Dia tidak mau kedua wanita itu tahu kedekatan antara dirinya dengan May dengan mendengar May memanggilnya Om. Kedua wanita itu pasti akan semakin menjahati May. Rangga segera memakai kemejanya saat Rachel dan Clara masuk. Dia tidak ingin kedua wanita itu melihat tubuhnya yang telanjang.
Sementara May tercengang mendengar perkataan dan perlakuan Rangga yang kasar. Kesedihan May seketika menyeruak. Dia tidak menyangka Rangga akan berkata kasar seperti itu bahkan meneriakinya. Rangga yang di anggap pria lembut, sebagai pelindung, penyelamat, sangat perhatian padanya ternyata seorang Pria arogan, angkuh dan sombong. Sombong dengan kekuasaannya, sombong dengan jabatan yang di milikinya, sombong dengan status dirinya seorang pimpinan perusahaan ini. Ternyata pria ini tidak tulus padanya.
May mendesah sedih, dia kembali terisak di sertai air mata yang kembali jatuh. Dia sangat kecewa pada Rangga.
"Pergi kau dari sini." Rachel mendorong tubuhnya."Cepat keluar!" Rachel kembali mendorongnya dengan kasar.
"Cukup Rachel! Sebaiknya kau bantu aku!" kata Rangga tidak tahan melihat May di perlakukan kasar seperti itu.
Dia melihat pada May"Dan kau, bersihkan ruangan ku sekarang juga! Lalu buatkan kopi baru untukku." katanya. Sengaja menyuruh May pergi agar tidak mendapat perlakuan dan kata kata kasar dari kedua wanita ini.
"Kenapa kau hanya bengong? Apa kau tidak dengar yang ku katakan? Cepat keluar dari sini kerjakan yang ku perintah." sentak Rangga lagi melihat May termangu menatapnya dengan air mata yang terus mengalir. Hatinya benar benar sakit melihat air mata itu."Maaf May, Om tidak bermaksud berkata kasar begitu." batinnya.
May menatap Rangga diantara gelembung air matanya yang kembali menggenangi pelupuk matanya. Air mata itu tidak berhenti keluar. Dia sangat sedih dan kecewa. Akhirnya dia melihat Sifat asli pria ini. Sifat buruk seperti yang dikatakan Clara, pria arogan temperamen buruk.
Dengan tubuh lemah, May melangkah berjalan keluar dari ruang itu. Rangga menatap kepergiannya dengan perasaan bersalah dan menyesal. Sungguh dia merasa sedih melihat air mata gadis itu. Di tambah lagi melihat langkah May yang tertatih.
"Beritahu setiap divisi rapatnya akan di mulai 30 menit lagi. Suruh mereka bersiap dan segera ke ruang meeting. Kembali lah kalian!" katanya pada Clara dan Rahel begitu tubuh May hilang dari matanya.
Bersambung.
Beri author dukungan ya....
Tinggalkan jejak. Terimakasih bagi yang sudah mampir 😘
__ADS_1