Rangga dan Rara (Mencintai Anak Mantan)

Rangga dan Rara (Mencintai Anak Mantan)
84. Lebihnya Adalah Rindu


__ADS_3

...Happy Reading....


Di ruang pribadi Rachel.


📞"Kau sudah menemukan wanita tua itu?" tanya Rachel pada seseorang yang berada di seberang, tepatnya di Amerika.


📞"Sudah buk, wanita tua itu tinggal di sebuah panti jompo!"


📞"Panti jompo?" wajah Rachel mengernyit.


📞"Namanya panti jompo R², terletak di kawasan X!"


📞"Apa?" Rachel terbelalak. Panti sosial itu kan punya Rangga. Batinnya.


"Ternyata nenek tua itu menyembunyikan dirinya dengan menetap di tempat itu. Kenapa aku tidak mengetahuinya?" batinnya kembali.


Lalu kembali fokus pada orang di Seberang sana.


📞"Apa yang harus kami lakukan pada wanita tua itu? Kami menunggu perintah anda."


📞"Jangan lakukan apapun dulu. Karena aku ingin mengetahui sesuatu dari dirinya. Jaga dan Pastikan wanita tua itu tetap berada di panti sampai pernikahan ku selesai. Awasi terus dan jika ada yang mencurigakan segera hubungi aku."


📞"Baik Bu."


📞"Terus bagaimana dengan laki laki itu? Kalian sudah menemukannya?" tanya Rachel


📞"Anak buah ku masih terus mencari keberadaannya."


📞"Cari sampai dapat. Aku yakin pria itu masih hidup. Dan jika kalian menemukannya, habisi saja dia. Pastikan benar benar mati. Aku tidak ingin meninggalkan bukti apapun."


Telepon di matikan.


Sebentar lagi pernikahannya akan di gelar. Dia tidak mau ada kendala atau sesuatu yang bisa menggagalkan pernikahannya dengan Rangga.


Rachel teringat agenda siang Rangga untuk bertemu dengan CEO dari X Company. Dia segera menghubungi Verdy untuk mengingatkan kembali. Dia ingin sekali mendampingi Rangga, tapi bukan wewenangnya. Karena Verdy adalah sekretaris sekaligus asisten pribadi calon suaminya itu.


"Kami akan segera menuju ke tempat pertemuan." kata Verdy dari seberang.


Pintu ruangannya di ketuk. Masuklah Alicia orang kepercayaannya di kantor pusat RT Sidney Australia.


"Ada apa?"


"Semua dokumennya sudah saya persiapkan, saya sudah menyimpannya di flashdisk."


"Kau yakin tidak ada yang tahu?" tanya Rachel seraya menerima benda kecil itu.


"Tidak ada yang perlu anda Khawatirkan. Semua yang anda rencanakan berjalan lancar dan aman. Tidak ada yang curiga sedikitpun termasuk Pak Verdy." kata Alicia meyakinkan.


"Bagus. Tapi meski begitu, kita tetap harus waspada."


"Saya mengerti." jawab Alicia.


Rachel tersenyum tipis. Tapi kemudian wajahnya berubah datar."Apa kau sudah menemukan pria yang ku cari?"


"Belum Bu, terlalu sulit menemukannya karena kita melakukan pencarian secara sembunyi sembunyi. Tapi aku akan berusaha sebisa mungkin untuk menemukannya."


Rachel membuang nafas kasar.

__ADS_1


"Aku mau keluar. Ada hal penting yang mau ku lakukan. Kau kerjakan apa yang ku suruh tadi." katanya sembari bangkit berdiri dan berjalan menuju pintu. Dia baru mendapatkan pesan masuk dari orang suruhannya.


Alicia membukakan pintu untuknya. Wanita berumur 35 tahun itu melenggang pergi keluar dari ruangannya.


Di kantor pusat RT.


Di depan Rangga berdiri seorang wanita cantik tinggi semampai dengan pakaian formal, berusia 28 tahun. Wanita ini merupakan asisten pribadi Rangga yang di rekomendasikan Verdy saat bosnya itu menjadi Rad. Sebelumnya Verdy telah menjelaskan kepada wanita yang bernama Isabella tentang pekerjaan dan tugasnya. Isabella adalah kerabat Verdy dan bisa di percaya. Dia cerdas dan bertalenta. Rangga merasa Isabella pantas untuk menemaninya selama menjadi Rad. Rangga membayangkan May. Sedang apa gadis itu?


"Kau hanya bekerja ketika di minta oleh tuan Rangga." kata Verdy.


"Saya mengerti." jawab Isabella dengan sopan. Dia juga telah membaca isi kontrak kerja. Isabella pamit keluar setelah isyarat dari Verdy.


"Tuan sudah waktunya kita pergi untuk bertemu dengan pimpin perusahaan X."


kata Verdy.


Bayangan May buyar di benak Rangga mendengar perkataan asisten kepercayaannya itu. Dia segera bangkit dari duduknya, keluar dari ruang kerja di ikuti Verdy.


Dalam perjalanan, tak sengaja mata Rangga melihat May tengah berdiri di pinggir jalan. Rangga memperhatikan gadis itu. Meski menggunakan atribut diri palsu dia mengenal wanita itu. Sepertinya May sedang menunggu taksi.


"Berhentilah di depan." Katanya pada Verdy.


"Anda butuh sesuatu?" tanya Verdy sembari menepikan mobil. Tapi kemudian wajahnya berubah mengernyit melihat sosok May di depan mereka. Dia mengerti kenapa tuannya memberi perintah untuk berhenti.


Rangga segera keluar. Dia sangat senang melihat gadis ini. Niatnya hanya untuk sekedar menyapa. Tak lebih. Kalau pun ada lebihnya, itu adalah rindu. Ia__dia rindu pada gadis ini. Perasaan yang tidak bisa dibohongi. Meski berjanji untuk tidak menemui dan menghubungi lagi, tapi hatinya tidak akan mampu untuk mengendalikan rasa itu.


Sementara May, terkejut begitu menyadari keberadaan Rangga."Om Rangga?" gumamnya kaget. Dia mundur beberapa langkah sembari menatap Rangga.


"May __!" panggil Rangga sembari mendekat.


May segera berbalik dan melangkah pergi untuk menghindari.


May tak peduli dengan panggilan, dia malah semakin cepat berlari ke seberang, menerobos arus lalulintas.


Rangga berhenti mengejar. Tak ingin gadis itu kenapa kenapa karena padatnya arus lalu lintas dua arah. Dia melihat May terus berlari dan menyetop taksi, terus naik dan pergi.


Rangga mengeluh sedih. Dia tidak menyangka May tidak mau bertemu lagi dengannya.


Mobil berhenti tepat di sampingnya. Verdy keluar dan membuka pintu untuknya. Dengan langkah gontai Rangga segera masuk. Beberapa saat kemudian mobil melaju dengan kecepatan sedang setelah sang sopir masuk dan menginjak gas.


Di dalam mobil, Rangga melihat nomor telepon May. Di hubungi tapi tidak aktif. Di coba berulang kali tapi hasilnya sama. Sepertinya nomornya masih terblokir. Rangga mengeluh kecewa.


Ponselnya tiba tiba bergetar dengan panggilan yang masuk. Rangga sedikit kaget. Dia melihat layar ponsel. Tertera nama Khanza Rai Rara. Beberapa detik Rangga masih menatap layar ponselnya. Kenapa wanita ini menghubunginya? Apa karena di tidak memenuhi janji semalam?


Rangga segera mengangkat.


📞"Halo Assalamualaikum." suara Khanza dari seberang.


📞"Waalaikumsalam." jawab Rangga.


📞"Apa ini nomor ponselnya pak Rangga?" tanya Khanza.


Wajah Rangga mengernyit mendengar pertanyaan itu."Iya benar." jawabnya kemudian."Kenapa dia masih bertanya begitu?" batinnya.


📞"Apa saya bisa bicara dengan beliau?" suara Khanza lagi.


📞"Kenapa sih dia?" gumam Rangga bingung. Sudah jelas Khanza tahu ini Nomornya dan juga suaranya, mengapa masih bertanya. Dia juga tahu suara di seberang sana adalah suara Khanza.

__ADS_1


📞"Hello, Apa pak Rangga Dionel Alkas ada?" suara Khanza membuyarkan lamunannya.


📞"Kamu kenapa sih? Kamu sudah tahu kalau yang sedang bicara adalah aku, Rangga."


Tawa Khanza pecah di seberang."Aku hanya bercanda pak Presdir."


📞"Awas kamu ya.....!" Rangga mengancam sambil tersenyum karena Khanza mengerjainya. Sempat khawatir jika terjadi sesuatu yang buruk pada wanita itu. Dan ternyata Khanza hanya berpura pura dan bercanda.


Khanza kembali tertawa mendengar ancaman itu."Maaf___!"


📞"Di maafkan. Sekarang katakan ada apa?"


📞"Semalam Aku menunggu mu datang ke rumah. Kenapa kau tak datang?"


"Maaf, aku lembur semalam." Kata Rangga berbohong. Lagi pula dia juga tidak janji akan datang. Bukan karena tidak ingin, tapi karena Cio.


"Oh gitu." wajah Khanza cemberut.


"Terus kamu lagi di mana sekarang?" tanya nya kembali.


"Aku sedang dalam perjalanan ke suatu tempat."


"Oh gitu...!" suara kecewa Khanza.


Rangga bisa merasakan kekecewaan itu."Ada apa?"


"Tidak ada apa apa."


"Ada apa Khanza? Apa kau perlu sesuatu?"


"Ehmmm___!" balasan singkat Khanza.


Rangga tidak enak hati dan tidak tega mendengar suara berat itu, bukan hanya kecewa, dia juga tahu saat ini Khanza lagi sedih. Dia sangat tahu tingkah seorang Khanza Ghaniyah saat keinginannya tidak di penuhi."Khanza....? Katakan ada apa?"


"Saat ini aku sedang dalam perjalanan menuju pusat perbelanjaan di kawasan X. Aku ingin kau menemaniku. Aku bosan di rumah terus. Anggap saja sebagai ganti kau tidak datang semalam." kata Khanza berterus terang.


Rangga membuang nafas panjang. Dia sudah dapat menebak Khanza ingin bertemu dengannya. Tapi tidak mungkin dia memenuhi keinginan wanita itu. Karena agendanya saat ini sesuatu yang sangat penting.


"Gak apa apa kalau kamu gak bisa. Aku gak maksa kok! Aku tahu kamu sibuk." kata Khanza dengan kediaman Rangga yang tidak langsung menanggapi keinginannya.


"Aku minta maaf Khanza, aku tidak bisa. Saat ini aku ada agenda penting. Aku ada janji bertemu dengan pimpinan perusahaan X. Dan kini aku sedang menuju ke kantornya." Rangga menjelaskan.


"Iya gak apa apa. Kamu bekerja dulu." suara lemah Khanza."Nanti saja kita ketemu setelah kamu gak sibuk. Maaf mengganggu. Assalamualaikum." Dia juga tidak bisa memaksa Rangga. Telepon di matikan padahal Rangga belum membalas salamnya.


Rangga segera mengirim pesan menjawab salamnya, di selingi emoticon permintaan maaf.


"Verdy, hubungi asisten pimpinan perusahaan X, aku ingin agenda pertemuan di undur 60 menit." katanya pada Verdy.


"Tuan, pimpinan perusahaan X orang yang sangat disiplin, tegas dan sangat menghargai waktu."


"Aku hanya meminta waktu 1 jam. Jika permintaan ku di tolak, batalkan janji pertemuan dengan mereka." kata Rangga tegas.


Verdy terkejut dengan keputusan itu. Karena begitu sulitnya untuk membuat janji dengan pimpinan perusahaan X. Dan kini tuannya malah menyia-nyiakan kesempatan yang telah ada.


"Tuan, anda sendiri tahu sudah terlalu lama kita menunggu untuk dapat bertemu dengan pimpinan perusahaan itu! Dan kini kesempatan itu sudah di depan mata tapi Anda malah.....!"


"Aku tidak ingin membuat Khanza kecewa dan sedih. Aku mengerti keinginannya yang ingin terus bertemu dengan ku setelah perpisahan kami yang begitu lama. Dia juga akan balik ke Indonesia. Aku ingin menyenangkannya selama berada di sini. Hanya itu keinginan dan tujuan ku saat ini." jawab Rangga memotong ucapan Verdy.

__ADS_1


Verdy tidak membantah lagi. Karena dia juga tahu penderitaan yang dialami tuannya selama ini karena Khanza. Menderita karena Rindu. Dan bukan hanya Rangga, tapi juga Khanza mengalami penderitaan itu. Sedih karena kehilangan Rangga. Melakukan berbagai cara untuk dapat menemukan Rangga selama belasan tahun ini.


Bersambung.


__ADS_2