Rangga dan Rara (Mencintai Anak Mantan)

Rangga dan Rara (Mencintai Anak Mantan)
24. Belum menikah


__ADS_3

...Happy Reading....


May segera ke ruang ganti untuk mengambil alat kebersihan. Begitu tiba di ruangannya, tubuhnya langsung melorot terduduk di lantai. Dia menaruh wajahnya di antara lutut yang di tekuk. Di peluk kedua lututnya, terus nangis.


Dia hanya ingin menangis untuk menumpahkan segala kesedihan, kekesalan dan kemarahan yang membuat dadanya sesak, dan sakit atas perlakuan dan kata kata kasar ketiga manusia itu. Dia merasa dirinya begitu bodoh, tidak bisa bersikap sedikit hati hati hingga melakukan kesalahan lagi.


Beberapa saat kemudian, May mengangkat wajah karena teringat Rad, yang menjadi tujuannya ke sini. May menghapus air matanya. Dia tidak mau menyerah. Secepatnya dia mengambil peralatan bersih dan menuju ruang kerja Rangga. May menurunkan tubuhnya, memungut pecahan gelas.


Karena terburu-buru, telunjuk kanannya terkena pecahan gelas. May meringis. Darah merembes jatuh ke lantai. Kemarin jari kirinya terluka, kini jari kanan lagi. Karena panik May tak sadar menyapu darah dengan kain lap yang kotor. Lalu menekan luka untuk menghentikan pendarahan. Tapi tetap saja cairan merah itu merembes keluar


"Kenapa kau tidak hati hati?" Rangga yang dari kamar ganti melihat jarinya berdarah.


May kaget mendengar suaranya. Dia menoleh melihat kedatangan Rangga. Pimpinannya itu terlihat fresh semakin tampan dan gagah dengan setelan jas abu-abu. Dia tak menjawab perkataan Rangga karena masih kesal dan rasa kecewa pada pria itu. Dia kembali memungut pecahan kaca, mengabaikan luka dan darah yang terus menetes.


Rangga membuang nafas kasar. Dia tahu gadis ini masih marah kepadanya. Segera dia menurunkan tubuh dan jongkok di dekat gadis itu, terus memegang jari May.


May kaget, reflek menarik tangannya. Tapi kembali di raih oleh Rangga. Dia membersihkan darah di jari itu dengan telapak tangannya. Terus di tekan."Tidak usah di kerjakan lagi." katanya.


"Tidak apa apa. Ini hanya luka kecil." kata May seraya menarik jarinya hingga lepas dari pegangan Rangga.


Rangga melihat wajah May sembab bercampur emosi."Luka kecil tetap harus di obati." katanya. Lalu kembali memegang kembali jari May.


May kembali menarik tangannya.


"Gak usah, jangan sentuh." menatap tajam.


"May, lukamu perlu di obati, kalau tidak darahnya tidak akan berhenti keluar." kata Rangga.


"Gak perlu, biarkan saja. Gak usah peduli padaku." jawab May ketus.


"May....!" kata Rangga dengan suara meninggi akibat keras kepala gadis ini."Apa kamu masih marah sama aku?"


"Tidak. Saya hanya sadar diri yang hanya seorang karyawan rendah sangat tidak pantas untuk dekat apalagi di sentuh oleh bos dan pimpinan perusahaan ini, orang yang mempunyai jabatan dan kekuasaan tertinggi di perusahaan ini." kata May sinis.


"May.....!" Rangga terkejut. Dia sampai memegang lengan gadis itu.


"Bukankah bapak sendiri yang berkata begitu?" kata May masih dengan suara bergetar, tatapan tajam namun berkaca.


Rangga terdiam.


May melepas pegangan tangan Rangga."Sebaiknya Bapak pergi dari sini biar saya bisa segera menyelesaikan pekerjaan ini." kata May lagi. Melap cepat lelehan bening yang sudah jatuh. Lalu kembali memungut pecahan kaca.


Rangga termangu. Dia maklum May bersikap seperti ini. Karena kata kata dan perlakuan kasarnya tadi menyakiti hati gadis ini. Rangga segera bangkit berdiri dan melangkah ke meja kerja. Dia menelepon Clara.


"Suruh seorang karyawan OB ke ruangan ku sekarang juga." katanya dengan emosi yang di tahan. Dia menoleh melihat May yang sedang mengumpul beling beling kaca yang berbentuk pasir.


Rachel dan Clara sudah tak ada di ruang ini. Dia menyuruh ke dua wanita keluar saat dia berganti pakaian. Untuk menyiapkan segala keperluan rapat. Dan alasan lain dia menyuruh ke dua wanita itu keluar agar bisa bicara berdua dengan May untuk menjelaskan kesalahpahaman yang terjadi.


Rangga kembali mendekati May."Hentikan itu. Akan ada karyawan lain yang akan membersihkan." menarik tangan May untuk berdiri.


Tapi May menahan tubuhnya"Itu tidak perlu. Ini tugas dan tanggungjawab saya! Kalau bapak kecewa dengan pekerjaanku, pindahkan aku ke ruang lain! Atau pecat saja sekalian." katanya merajuk campur emosi, kemudian menarik tangannya.


Kedua tangan Rangga terkepal kuat, mulai kesal dengan tingkah keras kepala ini"Kenapa kau keras kepala hah? Lihat, darahnya terus mengalir!" menekan luka di jari karena untuk menghentikan pendarahan yang terus merembes keluar dan jatuh di lantai.


"Bukan urusan bapak. Ini tanganku. Mau terluka, berdarah...bukan urusan bapak. Tak usah perduli pada karyawan rendah sepertiku." kata May menyentak sembari menarik tangannya lagi.


"May.....!" sentak Rangga menatap tajam.


May balik menatapnya."Aku hanya mengikuti perkataan anda. Bukankah anda berkata seperti itu tadi?" teriaknya dengan bibir gemetar, menatap dengan mata berkaca. Berusaha menahan isak tangis yang mau pecah keluar.


Tapi Rangga kembali menariknya untuk berdiri. Dengan memaksa. "Jangan membantah, ikut aku." memegang tangannya kuat.


"Nggak mau!" pekik May menarik tangannya.


Rangga geram. Dengan segera dia mengangkat tubuh May ala bridal style dan di bawahnya ke wastafel.


May kaget. "Turun kan aku!" jeritnya sambil berontak.


Rangga menurunkan tubuhnya begitu tiba di wastafel. Dia memegang tangan May untuk di cuci.


"Lepas...!" kata May, menarik tangannya.


"Jangan keras kepala May. Tangan mu harus segera di obati sebelum terinfeksi." bentak Rangga.


"Sudah ku bilang bukan urusan bapak. Ini tanganku! Mau terinfeksi kek', mau parah kek' bukan urusan anda! Tidak usah peduli padaku." teriak May keras menahan tangis dan berontak menarik tangannya dari kran air.


"May cukup." sentak Rangga keras, tatapan tajam, semakin kuat memegang kedua tangan May yang terus melawan. Dia tidak tahu lagi bagaimana cara meluluhkan hati gadis ini."Cukup.....!" sentak Rangga geram dengan tajam."


Tubuh May bergidik, takut dengan sentakan itu. Dia terdiam, tapi sesaat kemudian terisak, Menangis tersedu-sedu."Hiks..... Hiks.... Hiks....!" dia yang tidak pernah di bentak dengan suara keras seperti ini.


Rangga membuang nafas kasar mendengar isak tangisnya. Dia meregangkan pegangannya setelah menyadari suara keras membuat gadis ini takut."Maaf. Aku benar-benar minta maaf." kata Rangga dengan suara di lembut kan. Lalu membawa tubuh itu ke pelukannya.


"Maafkan Om. Jangan marah!"


Tangis May malah menjadi. Dia jadi cengeng dan manja. Serasa berada dalam pelukan papanya saat ngambek sesuatu dan papanya akan memeluk seperti ini.


"Aku tahu kau marah dan kecewa padaku. Kamu pasti menganggap Om orang jahat dan sombong! Om minta maaf atas kata kata dan perlakuan Om yang menyakitimu!" kata Rangga lagi dengan lembut. Mengusap rambut dan punggung May lembut.


"Om jahat." cicit May di antara isak tangisnya. Dia memukul dada Rangga, berusaha melepaskan diri."Om jahat."


Rangga sedih dengan tingkah ngambek manja di sertai luapan emosi ini. Dia kembali menarik tubuh May ke dalam dekapannya, di peluk erat."Om tidak bermaksud seperti itu! Maafkan maaf Om. Sungguh!"


"Om berkata begitu karena ada alasannya. Tolong berhentilah menangis." lanjutnya. Dia menangkup wajah May, menyapu air mata di kedua pipi May. Terenyuh hatinya melihat wajah basah penuh oleh air mata.


"Om tidak tahan melihat air mata mu! Tolong berhentilah menangis." katanya lembut. Dia semakin bersalah melihat air mata yang tidak berhenti keluar.


May menatap pria itu. Bersamaan dengan gelembung air matanya yang jatuh membasahi pipi."Om jahat, Om tega sama aku. Om gak tulus sama aku! Hiks...Hiks..... Hiks!"


"Sungguh Om tidak bermaksud berkata begitu. Percayalah, jangan meragukan kebaikan Om. Om benar-benar tulus padamu." kata Rangga lirih. Menyapu air mata May yang tidak ada habisnya keluar.


"Om tidak ingin Rachel dan Clara menyakitimu jika tahu kita berdua saling mengenal. Karena Om tahu mereka tidak menyukai mu!" lanjut Rangga.


Isak tangis tangis May terhenti mendengar ucapannya. Dia memang tahu kalau kedua wanita itu tidak menyukai dirinya. Dan ternyata Rangga juga tahu hal itu? batinnya.


Rangga memegang wajahnya"Kau sudah tahu, Rachel tidak menyukai mu saat pertama kali kalian bertemu di yayasan panti waktu itu! Haris juga berkata, kemarin dia menampar mu karena menyentuh papan namaku! Dan Clara.....dia juga memperlakukanmu dengan kasar karena tidak becus membersihkan ruangan ku. Terus dia juga membuat mu terpeleset di depan pintu lift." tutur Rangga kembali. Menekan kedua mata May yang basah dengan ibu jarinya.


Alis May terpaut mendengar penjelasan itu.


"Jadi Om tahu kejadian itu?"

__ADS_1


Rangga mengangguk."Tentu saja aku tahu. Aku tahu apa yang terjadi pada dirimu Kemarin. Dan Kau tidak jujur padaku dan malah menyembunyikan kebenarannya!"


May mengalihkan pandangannya ke sebelah.


Menghindari tatapan Rangga.


Rangga kembali memegang wajahnya di hadapkan kepadanya."Aku hanya ingin melindungi mu dari mereka berdua! Jika mereka tahu kita dekat dan berteman, aku khawatir mereka akan semakin menekan mu dan berbuat semena mena di belakangku." lanjut Rangga menjelaskan.


May menarik tubuhnya dari pelukan Rangga karena menyadari posisi mereka yang sangat dekat tanpa celah."Tapi kenapa mereka tidak menyukai ku? Aku tidak punya masalah apa pun dengan mereka." tanyanya tidak mengerti dengan sikap Rachel dan Clara yang tidak menyukainya.


"Karena kau OB yang bertugas membersihkan ruangan ku." kata Rangga.


Wajah May mengernyit" Terus kenapa? Aku kerja karena perusahaan ini menerima ku." bingung.


"Kemarin, aku tidak sengaja bertemu dengan seorang pria di taman. Dia tidak sengaja melihat berkas lamaran pekerjaan ku. Terus dia mengatakan perusahaan tempatnya bekerja membuka lowongan kerja untuk OB. Dia menyarankan aku untuk segera datang ke perusahaan. Aku segera datang ke perusahaan melamar kerja ke sini. Dan Alhamdulillah aku di terima. Pak Haris bagian HRD yang menerimaku." kata May menjelaskan.


"Pria itu temanku. Aku yang memasukkan mu kerja di tempat ini melalui dia. Aku menghubungi Haris untuk menerima mu!" jelas Rangga.


May kaget"Jadi Om yang memasukkan ku ke tempat ini?"


Rangga mengangguk. Dia lega melihat tak ada lagi air mata yang keluar dari kedua netra indah ini. May tampak serius berbicara dan lupa dengan kemarahannya.


"Kenapa Om bisa tahu kalau aku butuh pekerjaan?" May heran.


"Aku tidak sengaja melihat mu duduk di lobby cafe. Kau sepertinya melamar pekerjaan di cafe itu tapi tak ada lowongan pekerjaan. Saat itu aku sedang bersama teman. Aku menyuruhnya untuk mengikuti mu saat kau ke taman! Dia melihat berkas lamaran pekerjaan mu dan mengatakan padaku bahwa kau sedang mencari pekerjaan." kata Rangga.


May mulai mengerti.


"Kau sangat butuh pekerjaan, jadi aku menyuruh Haris menerima mu sebelum orangnya Clara mendahului mu. Karena dia punya orang untuk di pekerjakan menjadi OB di ruangan ku." kata Rangga menjawab kebingungan May.


"Jadi Itu alasan Bu clara tidak menyukai mu?" tanya May mengerti.


Rangga mengangguk.


May paham. Pantas saja kedua wanita itu tidak menyukainya. Banyak menyuruh, menekan, merendahkannya, tidak menghargainya, dan sangat menjengkelkan.


Tapi dia heran kenapa hanya karena dia bekerja menjadi OB di ruangan Rangga membuat ke dua wanita itu sangat tidak menyukainya.


Sementara Rangga lega melihatnya mulai tenang setelah memahami penjelasannya. Dia segera membawa tangan May ke wastafel dan mencucinya.


May diam dan menurut karena masih kepikiran pada kedua Wanita bule itu.


Rangga mengambil salep dan plester luka di kotak obat yang memang sudah tersedia di ruangan ini.


"Kalau begitu pindahkan aku ke divisi lain. Gantikan dengan OB rekomendasi ibu Clara. Aku tidak mau mencari masalah dan berurusan dengan mereka! Aku ingin bekerja dengan aman dan nyaman. Aku malas dengan mereka, keduanya jahat dan menyebalkan!" kata May dengan wajah cemberut."Keduanya selalu menyuruh ini dan itu yang bukan menjadi bagian dari pekerjaan ku. Aku hanya seorang OB, masa di suruh mengerjakan pekerjaan sekretaris?" omelnya lagi dengan kesal.


"Kau sendiri kenapa mau di perintah oleh mereka?" tanya Rangga tersenyum melihat raut wajah kesal itu.


"Kalau bukan karena kakinya lagi sakit begitu, aku tidak mau membantunya. Dan lebih penting dari itu, aku tidak mau di pecat."


Rangga kembali tersenyum mendengar kejujurannya, di sertai luapan emosi."Meski pun kau pindah ke bagian lain, kedua wanita itu tetap akan menjahatimu jika mereka tahu kau dekat dengan ku," batin Rangga. Karena dia tahu kedua wanita itu menyukainya. Dan keduanya ingin orang merekalah yang menjadi OB di ruangannya.


Dia kaget ketika May tiba tiba memegang tangannya."Om, Aku kerja di bagian divisi HRD saja, pindahkan aku ke sana! Tolong ya Om? Aku kerja di ruang pak Haris saja dan membersihkan lantai 53. Atau.... kerja di bagian mana saja asal tidak dalam wewenang mereka. Aku tidak betah dengan mereka!" lanjut May memelas.


Rangga melirik tangan yang memegang tangannya, kemudian beralih ke mata May.


"Aku sudah bilang kau tidak usah bekerja. Kalau hanya uang yang menjadi alasanmu bekerja, Aku akan memberi berapa pun yang kau mau!" katanya menatap mata May.


May baru menyadari sejak tadi menyebut Om pada Rangga yang merupakan pimpinannya."Maaf, telah lancang memanggil anda Om. Aku sudah terbiasa manggil anda begitu!"


Rangga tersenyum tipis. Kembali memeriksa tangan May.


"Apa boleh aku manggil Om di kantor? Tapi janji hanya saat kita berdua. Habisnya Aku sudah terbiasa manggil Om. Aku juga janji akan merahasiakan pertemanan kita!" May berkata lagi dengan berbisik sambil nyengir kuda.


Rangga kembali tersenyum."Terserah kamu saja!"


May jadi tersenyum melihat senyuman Rangga. Semakin lama di tatap, Wajah Rad melintas dalam benaknya saat melihat wajah tampan ini. Hampir mirip. Tapi sayangnya bukan orang yang sama.


"Ada apa?" tanya Rangga, aneh dengan tatapan di sertai senyuman itu.


May mengangkat kedua tangannya dan di bawah memegang pipi Rangga.


Alis Rangga terpaut dengan sentuhan ini.


"Mau apa dia?" batinnya mulai tak tenang.


May mengusap pipi Rangga lembut, terus ke mata."Om sangat tampan sama seperti dia." katanya menatap mata Rangga.


"Siapa?" Alis Rangga terpaut."Pria yang kau suka itu?" tanya Rangga dengan mata mendelik. Meski senang di katakan tampan oleh May, tapi kesal di samakan dengan pria itu.


May tersenyum, lalu mengangguk.


Rangga membuang nafas kasar. Tatapan berubah datar. Dia segera menurunkan tangan May dari wajahnya. Mengambil salep. Lalu melanjutkan mengobati jari gadis ini.


"Om wangi banget!" kata May menghirup aroma wangi parfum di jas Rangga. Sedari tadi dia mencium aroma wangi yang menguar dari tubuh pria ini.


Rangga mengabaikan perkataannya, meski dia suka dengan pujian itu. Dia terus mengoles salep di jari May yang terluka.


May tiba tiba teringat sesuatu. Dia kembali melihat wajah Rangga."Kenapa tidak mengatakan padaku kalau Om pimpinan perusahaan ini? Padahal Om tahu aku kerja di sini dan sebagai OB di ruangan Om." tanya May menatap tak berkedip.


"Kau tidak bertanya...." kata Rangga acuh dan seadanya.


Wajah May langsung berubah datar."Ish Om, Apa nanti harus ku tanyakan?" teriaknya dongkol.


Rangga tersenyum di dalam hati melihat ekspresi wajahnya. Akhirnya gadis ini melupakan kejadian tadi. Bersikap biasa, tidak sedih lagi, tidak marah dan tidak takut lagi padanya.


"Menyebalkan...!" lanjut May semakin kesal melihat tak ada reaksi dari Rangga.


Rangga menempelkan plester kejari telunjuk kiri kanan May.


"Dan kau sendiri, kenapa berbohong padaku? Katanya sedang tidur istirahat di apartemen?"


Rangga balik bertanya seraya menatap tajam.


May gugup dan buru buru melihat ke sebelah menghindari tatapan Rangga."Om sudah tahu alasannya. Aku tidak perlu jelaskan lagi." katanya kemudian.


"Aku sudah menyuruhmu untuk tidak masuk kerja, istrahat di hotel saja, Karena di sana semua terjamin. Kau tinggal beri tahu apa yang kau inginkan pada manager hotel. Dari pada di apartemen kau sendirian. Kau ini keras kepala!" kata Rangga marah, mode pura pura.


May menarik tangannya."Jangan memaksa ku. Sudah ku katakan aku tidak mau di labrak istri Om, di permalukan, terus di tuntut karena telah menggoda suaminya." kata May kesal.

__ADS_1


Rangga tak dapat menahan senyumnya mendengar alasan itu. Dia tersenyum lebar.


"Kok senyum senyum?" May menatap aneh "Emang gak takut ketahuan sama istrinya membawa wanita lain ke hotel?"


Rangga menatapnya."Wanita mana?" tanyanya."Kamu?" menunjuk May.


Pertanyaannya membuat May semakin kesal tapi juga salah tingkah."Om, Menyebalkan!" teriak May. Tidak tahan di goda terus. Wajahnya sampai memerah.


"Awas ah....aku mau melanjutkan pekerjaan!" lanjutnya kesal karena ucapannya di anggap sesuatu yang lucu. Dia mendorong Rangga, terus berjalan menuju pintu dengan langkah tertatih.


Rangga kembali tersenyum melihat kekesalannya."Sudah ada yang membersihkan. Sebaiknya kau tidak usah bekerja. Ini perintah dariku. Pulanglah ke hotel. Tinggallah di situ sampai kakimu benar-benar pulih. Manager dan pegawai hotel akan melayani mu dengan baik." kata Rangga seraya mengikutinya.


May mendesis kesal dengan perintah itu. Dia berhenti dan berbalik melihat pada Rangga.


"Kenapa sih Om gak ngerti juga?"


"Gak ngerti apa?" Rangga pura pura tidak mengerti.


"Aku gak nyaman tinggal di hotel Om, terlebih lagi di kamar Om. Tinggal di hotel membuat aku seperti simpanan Om!" katanya ketus.


Alis Rangga terpaut mendengar perkataan itu. Dia tidak menyangka May akan berpikir sampai sejauh itu. Dia kembali tersenyum, tapi hanya di dalam hati.


"Aku juga yakin manager dan pelayan hotel beranggapan begitu. Aku bisa melihat dari tatapan mereka melihat ku! Coba Om bayangkan jika mereka melaporkan aku ke Istri Om." lanjut May menatapnya serius.


Rangga terkekeh mendengarnya."Kenapa kau beranggapan begitu? Memangnya jika seorang pria dewasa dan gadis muda tinggal bersama di anggap memiliki hubungan?" tanyanya.


"Aku hanya melihat itu dari teman teman kelasku." kata May.


Alis Rangga terpaut menyiratkan tanya.


"Waktu aku kelas tiga SMA, ada beberapa siswi yang sekelas denganku menjadi simpanan Om Om hidung belang, pria beristri dan duda. Ini nyata lo Om bukan karangan aku. Aku tidak bermaksud membuka aib mereka, aku hanya ingin mengatakan realitanya seperti itu. Saat pria dewasa memberikan segala kemewahan pada seorang gadis muda, sudah pasti karena punya alasan, punya keinginan dan tujuan gak baik." kata May dengan tatapan serius.


Rangga tersenyum di dalam hati, sebenarnya dia mengerti alasan penolakan May tinggal di kamar hotelnya."Ohh begitu ya?" Rangga mendekatinya.


"Tentu saja. Mereka tidak mau rugi begitu saja setelah memberikan banyak uang dan kemewahan." kata May mengangguk cepat.


Rangga semakin mendekatinya.


May kaget dan mundur, tapi Rangga kembali mendekatinya.Tubuh May membentur pintu, artinya tidak ada lagi ruang di belakang untuk dia mundur. Mau apa pria ini? Apa dia marah aku berkata seperti itu? batinnya.


Rangga berhenti dengan memberi jarak sejengkal di antara mereka. Mengurung tubuh gadis itu dengan kedua tangan di samping tubuh May.


"Om ngapain?" May jadi deg degan dengan kedekatan ini.


"Terus kalau kita dekat seperti ini menunjukkan kita punya hubungan?" tanya Rangga.


May terkejut dengan pertanyaan itu. Tapi kemudian dia menggeleng cepat.


Rangga menatap May dalam dalam.


"Apa kau beranggapan aku seperti pria pria itu? Kau berpikir aku ingin menjadikan dirimu wanita simpanan ku?" tanyanya dengan suara pelan.


May kaget. Dia menganggap Rangga salah memahami perkataannya. May geleng kepala."Tidak begitu Om! Aku hanya tidak ingin manager dan pelayan hotel berpikir begitu pada kita." katanya segera.


"Kau pikir aku sama seperti mereka?" tanya Rangga lagi. Tak berkedip menatap manik mata May yang terlihat tidak tenang dengan kedekatan mereka. Entah kenapa dia merasa tak asing dengan netra indah ini.


Dia dapat merasakan debaran jantung May yang tak karuan, juga nafas memburu cepat, tidak tenang.


May kembali menggeleng."Aku tidak menganggap Om begitu. Om salah paham! Aku hanya tidak ingin mereka menilai dan berpikir buruk pada kita."


"Berpikir buruk apa?" tanya Rangga pura pura tidak mengerti.


"Yaah berpikir di antara kita ada SESUATU. Om pasti ngerti maksud aku kan? Mereka akan menganggap Aku wanita simpanan Om yang butuh uang dan kemewahan. Apa Om gak malu ketahuan publik? Apa Om juga gak takut di laporin ke istri Om?"


"Istri yang mana?" Rangga memotong ucapannya melihatnya ingin bicara lagi.


"Ya istri Om...mana ku tahu siapa istri Om!" kata May mendelik sambil mengangkat bahu.


Rangga mendekat kan wajah mereka."Aku tidak punya istri!" bisiknya pelan.


May terhenyak mendengarnya."Tidak punya istri?" tanyanya.


Rangga mengangguk.


"Apa Om duda?" tanya May berpikir ke situ. Barangkali Rangga seorang duda yang di tinggal mati atau hidup oleh istrinya.


Rangga kembali menggeleng.


Wajah May mengernyit dengan jawaban isyarat itu. Beberapa saat dia mengerti akan sesuatu."Apa Om belum menikah?" tanyanya untuk memastikan apa yang di pikirkan oleh otak kecilnya.


Rangga hanya menatap tak menjawab. Lalu mundur diri, menarik tubuh May menjauh dari pintu. Kemudian menarik handle pintu dan keluar.


May yang masih mematung karena mencerna jawaban Rangga, tiba-tiba tertawa setelah mengerti status Rangga yang ternyata belum menikah. Dia segera keluar mengikuti Rangga. Berdiri di depan pria itu dan berjalan mundur di depan Rangga dengan tertatih membuat Rangga memegang lengannya khawatir jatuh.


"Jadi Om belum menikah?" tanyanya seakan tidak percaya.


"Kenapa kau tertawa? Apa kau mengejekku?" Rangga menatap tajam terus melangkah. Dia sudah yakin May pasti akan menertawainya, meledeknya setelah tahu dirinya belum menikah di usia yang tidak muda lagi.


May kembali tertawa melihat wajah dingin, dan tatapan tajam Rangga."Aku bukan mengejek Om, Aku hanya kaget saja! Aku gak menyangka dan tidak percaya, di usia Om yang sudah segini belum menikah. Apalagi Om bukan pria sembarangan." kata May terus berjalan mundur dengan pincang.


"Berbalik ke depan, nanti kau jatuh!" kata Rangga memutar tubuh May untuk melihat ke depan. Meski kesal dia tetap mengutamakan keselamatan gadis ini.


May segera mensejajarkan tubuhnya di samping Rangga."Om jangan marah, sungguh aku gak mengejek Om!" kata May.


"Aku gak nyangka aja, pria tampan, gagah dan sesempurna Om__punya segalanya dan punya kekuasaan, belum menikah. Aku malah sempat berpikir Om punya banyak wanita dengan kekayaan yang Om miliki." ujar May lagi.


Rangga tak menanggapi perkataannya.


"Apa Om punya kriteria khusus terhadap wanita?" May menoleh ke padanya.


Lagi lagi Rangga tidak menjawab.


"Tapi Aku senang lho jika Om belum menikah!" kata May kembali sambil tersenyum.


Rangga menoleh ke padanya. Perkataan ini menarik perhatiannya."Kenapa kau senang?" tanyanya penasaran. Dia berhenti karena May kembali menghalangi jalannya dengan berdiri di depannya.


May meraih kedua tangan Rangga dan di genggam di depan dada mereka."Karena aku bisa bebas bersama dengan Om. Aku tidak akan takut dekat sama Om, teman sama Om Karena gak akan ada yang marah." kata May senang. Dia lega dan tidak takut setelah tahu pria ini masih singel.


Rangga tersenyum tipis mendengar alasannya. Dia menatap wajah yang sangat manis dan cantik dengan hiasan senyum itu. Tak ada lagi kesedihan, kekecewaan dan kemarahan. Selanjutnya dia menggenggam tangan May mengajak melanjutkan langkah.

__ADS_1


Bersambung.


Terimakasih bagi yang setia dengan karya ini. Tinggalkan jejak dukungan ya 🙏😘


__ADS_2