Rangga dan Rara (Mencintai Anak Mantan)

Rangga dan Rara (Mencintai Anak Mantan)
30. Ketakutan


__ADS_3

...Happy Reading...


Sementara di kamar mandi. Rangga sebenarnya sudah selesai mandi. Dia tahu Rachel sedang memeriksa kedua kamar suite. Setelah memastikan Rachel sedang bermain Piano dan bernyanyi, dia kembali masuk ke kamar mandi dan menguncinya. Berpura pura mandi dengan memutar terus air shower agar terdengar bunyi suara gemericik air. Di dalam kamar mandi ada sebuah pintu rahasia yang menyerupai tembok yang terbuat dari kaca. Orang mengira itu hanya sebuah cermin. Tapi yang sebenarnya itu adalah pintu yang bisa di buka dengan cara di dorong ke samping setelah menekan sesuatu. Dan hanya orang yang tahu saja yang bisa membukanya. Hanya dia dan Manager. Di balik tembok itu ada ruang kosong memanjang, yang berkesinambungan dengan kamar mandi kamar suite sebelah. Saat mendapat SMS dari Manager tadi yang mengatakan Rachel sedang naik ke atas, dia segera mengangkat tubuh May dan di sembunyikan di ruang tersebut. Lalu di baringkan di sofa yang terlebih dahulu di ambil dari dalam kamar. Untung saja gadis itu tidak terbangun saat tubuhnya di angkat dan di pindahkan, hanya bergerak dan kembali tidur.


Dan Rangga akan masuk untuk memeriksa gadis itu, apakah masih tertidur. Dia merasa cemas membiarkan May di ruang itu seorang diri. Bagaimana jika May terbangun dan mendapati dirinya entah berada di mana? May pasti akan ketakutan.


Perlahan Rangga mendorong pintu rahasia itu ke samping setelah menekan sesuatu. Dia terkejut melihat May berdiri tepat di depan pintu. Keadaannya yang kacau. Wajahnya yang tampak ketakutan, pucat dan basah air mata. Tubuh gemetaran.


"Om....!" jerit May lirih. Dia langsung memeluk Rangga setelah melihat siapa yang di berdiri di depannya. Suara tangisnya pecah seketika. Dia mengira dirinya telah culik dan di kurung dalam ruang itu. Dia kaget saat terbangun dari tidur melihat ruang yang sangat asing baginya. Setahunya dia sedang berada di dalam mobil bersama Rangga, tapi malah berada di ruang ini sendirian. Tak ada siapapun. Dia sudah berteriak teriak minta tolong tapi tak ada yang mendengar karena ruang itu memang kedap suara. Dia mencari jalan keluar tapi tidak menemukan. Telinganya mendengar suara gemericik air pada tembok. Dia segera berdiri di depan tembok itu dan berteriak-teriak minta tolong. Tapi meski suaranya telah parau dan tenggorokannya sakit, tak ada yang mendengar teriakannya. Dia semakin ketakutan. Mengira dirinya telah di culik, di sekap dan akan mati di dalam ruang ini tanpa ada yang tahu. Untung saja setelah hampir sejam berlalu, ada yang membuka pintu. Dan orang itu adalah Rangga.


"Maaf! Maafkan Om!" ucap Rangga sedih melihat ketakutan gadis itu. Dia merasa menyesal dan bersalah telah menyembunyikan May di ruang ini.


Tangis May semakin keras. Dia semakin memeluk kuat tubuh Rangga.


"Om benar nyulik aku?" kata May di antara tangisnya. Dia teringat percakapan mereka di jalan. Rangga berkata dia akan menculiknya.


"Tidak!" Rangga semakin bersalah mendengar kata itu. May berpikir dia benar telah menculiknya.


"Apa karena pekerjaanku tidak becus dan tidak mau di perintah makanya Om marah dan menghukum aku dengan mengurungku di sini?"


Rangga mendesah sedih."Tidak May, itu tidak benar. Kamu jangan berpikir begitu!" Hatinya semakin sakit mendengar kata kata menyedihkan itu. Tidak tega mendengar tangisan dan merasakan ketakutan May.


"Maafkan Om! Sungguh maafkan Om!" Memeluk kuat May. Kedua matanya basah.


May menarik diri. Mendongak menatap Rangga"Lalu kenapa Om mengurung aku di sini? Aku sangat takut, aku ketakutan. Aku mengira akan mati dan terkurung di sini selamanya tanpa ada yang tahu dan menemukan ku! Huhuhuuu.....!" tangisnya kembali pecah menyayat hati Rangga. Rangga memegang wajahnya, mengusap air mata yang terus jatuh. Hatinya tambah pilu melihat air mata ini."Om bukan bermaksud mengurung kamu di sini. Om hanya ingin menyembunyikan mu sebentar di saat kamu sedang tertidur! Om tidak ada niat jahat atau punya maksud buruk kepadamu! Sungguh, Percayalah pada Om!" katanya menjelaskan. Dia kembali membawa tubuh May kedalam pelukannya.


"Lalu kenapa Om melakukan itu?" May kembali menangis"Aku sudah percaya pada Om, menganggap Om teman dan sama seperti papaku yang akan menjaga dan melindungi ku! Hiks hiks hiks.....!" memeluk Rangga."Jangan berbuat jahat padaku! Aku tidak punya siapa siapa di sini selain Om yang ku percaya!" terisak isak.


Hati Rangga kembali terenyuh. Matanya kembali basah."Tidak sayang, Om sama sekali tidak ada niat jahat sedikitpun sama kamu. Kamu bisa percaya pada Om selamanya. Om bersumpah atas nama Allah!" katanya menyakinkan dan tanpa sadar mengucap kata Sayang. Dia mengusap rambut dan punggung May lembut penuh kasih sayang seperti seorang ayah pada anaknya. Dia memegang wajah May di angkat menatap padanya, mengusap lagi air mata May."Om punya alasan membawamu ke ruang ini. Jangan hilangkan kepercayaan mu pada Om. Karena Om benar benar tulus kepadamu! Kau menganggap Om seperti papamu kan? Om juga menganggap kamu seperti putri Om dan menyayangi mu! Jadi jangan ragu sedikitpun pada Om." katanya serius dengan pupil melebar untuk meyakinkan May.

__ADS_1


May mengangguk pelan. Melihat kejujuran di mata Rangga yang merah dan basah."Aku percaya pada Om!" katanya kemudian. Lalu kembali memeluk dan menenggelamkan wajahnya di dada Rangga yang polos. Dia masih terisak meski sudah sedikit tenang."Jangan lakukan itu lagi tanpa memberi tahu padaku. Aku benar benar sangat takut!"


"Iya sayang! Maaf!" kata Rangga di sertai anggukan cepat. Dia lega May percaya padanya dan mulai tenang. Dia membalas pelukan May, mengecup puncak kepala gadis itu untuk menenangkan. Beberapa saat kemudian, dia mengangkat tubuh May, membawanya ke sofa. Karena tubuh itu tampak lemah gemetar tak kuat berdiri lama. Mungkin karena ketakutan dan bisa jadi juga di tambah rasa lapar karena belum makan malam.


May yang masih takut tak mau melepas pelukannya dan duduk di pangkuan Rangga yang hanya mengenakan handuk. Dia menenggelamkan wajahnya di antara leher dan bahu Rangga. Satu tangan Rangga di dekap nya di dada. Takut Rangga pergi meninggalkannya.


"Terus ini di mana?" tanyanya masih terisak meski sudah tak menangis.


"Di kamar hotel!" jawab Rangga tidak tenang merasakan wajah May dan juga hembusan nafasnya yang mengena di lehernya. Dia merasa geli bercampur merasakan sesuatu yang lain.


Wajah May mengernyit"Kamar hotel? Jadi kita sekarang berada di hotel?"


Rangga mengangguk."Iya, Ruang ini adalah ruang rahasia yang berada di kamar hotel! Aku mau mengajakmu makan tadi, tapi dalam perjalanan, kamu tertidur. Jadi aku langsung membawa mu ke sini. Tapi karena adanya sesuatu yang mendesak, membuatku harus menyembunyikan mu di ruang ini!" kata Rangga menjelaskan.


Wajah May kembali mengernyit. Dia mengangkat wajahnya dan mendongak ke atas."Menyembunyikan aku?"


"Kenapa aku harus di sembunyikan? Apa ada yang ingin berbuat jahat ke padaku?" tanya May.


"Tidak ada. Aku hanya sedikit waspada untuk melindungi mu! Apa kamu sudah tenang?" tanya Rangga teringat Rachel. Karena wanita itu sedang menunggunya dan dia sudah terlalu lama tidak keluar.


May mengangguk.


"Aku mau pakai baju dulu! Kamu disini dulu sebentar, bisa?"


May terdiam. Kembali takut dan ragu. Dia baru menyadari kalau Rangga tidak memakai pakaian dan hanya mengenakan handuk.


"Kamu tenang saja. Tidak ada yang perlu kamu takutkan, ruang ini aman kok!" kata Rangga mengerti apa yang May pikirkan.


"Apa aku tidak bisa ikut keluar bersama Om?"

__ADS_1


Pintanya berharap.


"Om janji akan segera kembali!" kata Rangga menyentuh lengannya.


"Tapi bagaimana jika Om lupa dan tidak datang?"


"Kamu bisa keluar sendiri. Om akan kasih tahu cara keluar dari ruang ini!"


"Baiklah....!" May mengalah meski ragu dan tidak mau. Dia bingung sebenarnya Rangga menyembunyikannya dari apa? Apa di luar ada pencuri? Perampok? Orang jahat?.


May segera turun. Rangga bangkit berdiri. Dia dan membawa May ke pintu. Dia mengajari cara membuka pintu.


"Om, jangan lama lama, cepatlah kembali " kata May lirih.


Rangga tersenyum."Om akan kembali dalam waktu 20 menit. Percayalah!" mengusap kedua bahu May.


May mengangguk lemah."Baiklah...!" wajah cemberut.


Rangga segera keluar. Dia khawatir Rachel akan curiga karena sudah cukup lama dia berada di kamar mandi. Dan benar saja, Rachel sedang memanggil manggil namanya seraya mengetuk-ngetuk pintu. Wanita itu tampak kesal karena dia tidak keluar keluar juga.


Sementara di dalam, May kembali berbaring di sofa. Membayangkan ketakutannya tadi dan juga alasan Rangga menyembunyikan dirinya di tempat ini. Entah di sembunyikan dari siapa. May melihat jam tangannya sudah pukul 12 tengah malam. Perutnya sangat lapar dan terasa nyeri. Jika dalam dua 20 menit Rangga tidak datang seperti yang dia katakan, maka dia akan keluar sendiri. Karena dia tidak tahan lagi menahan rasa laparnya.


Bersambung.


Tinggalkan jejak dukungan....


Like, vote, hadiah seikhlasnya, komentar positif, masukkan ke favorit jika suka.


Terimakasih 😍

__ADS_1


__ADS_2