Rangga dan Rara (Mencintai Anak Mantan)

Rangga dan Rara (Mencintai Anak Mantan)
57. Cinta Yang Rumit


__ADS_3

...Happy Reading....


Dalam perjalanan mengejar taksi yang ditumpangi May, ponsel Rangga berdering. Cindy Yang menghubungi.


📞"Kamu di mana nak?"


📞"Di jalan Ma, ada apa?"


📞"Justru mama yang bertanya, ada apa lagi?" tukas Cindy karena di telepon oleh Rachel. Perbuatan Rangga yang meninggalkannya karena May.


Dahi Rangga mengerut mendengar pertanyaan itu, dia berpikir sejenak untuk mencari tahu maksud pertanyaan itu, dan beberapa saat kemudian mengerti. Rachel pasti telah menghubungi mamanya. Mengatakan apa yang terjadi di butik dan pergi dengan May, meninggalkan dirinya.


📞"Kenapa kamu meninggalkan Rachel di butik. Dan malah pergi bersama gadis itu?" pertanyaan yang terdengar kecewa.


Rangga diam tidak menyahut. Fokus di depan meski saat ini pikirannya bercabang dua, memikirkan May dan mendengarkan suara mamanya.


📞"Kenapa gadis itu bisa berada di Australia Rangga?" Cindy kembali bertanya.


📞"Aku sedang menyetir MA! Bisakah kita bicara di rumah saja?" Rangga mengalihkan pembicaraan.


Meski kecewa, Cindy tetap memikirkan keselamatannya yang lagi menyetir.


📞"Baik, mama menunggu penjelasan mu! Datang lah ke rumah."


Telepon di matikan.


Karena sibuk bicara dengan Cindy, Rangga kehilangan taksi yang di tumpangi May. Dia mencoba menghubungi May, tapi nomor gadis itu tidak aktif.


Rangga mengeluh kecewa. Bingung dengan


keberadaan May bisa ada di Australia, dia tiba tiba teringat Sean. Dia segera menghubungi pria itu. Setelah bicara singkat padat dan jelas, Rangga membawa mobilnya ke kantor Sean. Sean juga baru tiba di kantornya karena harus mengurus kejadian tadi agar tidak merembes keluar.


Belum juga menghentakkan bokong di kursi kebesarannya, Rangga datang dan langsung menarik kerahnya untuk berdiri.


"Hey ada apa?" Sean kaget, memegang tangan Rangga di kerahnya.


"Datang marah marah! Lepas." Sentaknya kesal seraya melepas cengkeraman tangan Rangga. Tapi cengkraman itu sangat kuat.


"Kenapa kau menyembunyikan keberadaan May di Australia? Kau yang membawanya kesini kan? Aku sudah bertanya berulangkali padamu tentang dirinya, Kenapa kau membohongi ku?" bentak Rangga dengan tatapan tajam.


"Oh itu....!" Sean pura pura tidak tahu. Padahal dia sudah tahu Rangga pasti akan menanyakan hal itu setelah melihat May ada di Sidney.


"Sean.....!" bentakan Rangga semakin keras. Kembali dengan cengkraman yang semakin kuat.

__ADS_1


"Kamu tenang dulu, lepas....!" kata Sean sembari menepis kuat tangan Rangga pada kerahnya.


Rangga mendengus geram, tapi perlahan melepas kerah Sean.


"Kamu membuat pakaian ku berantakan!" sentak Sean sambil merapikan pakaiannya.


Rangga tak perduli dengan perkataannya. Dia berusaha menormalkan suasana hatinya yang di kuasai emosi.


"Nona May meminta merahasiakan kepergian dan keberadaan dirinya di Australia dari siapa pun, termasuk kamu." kata Sean selanjutnya.


"Seharusnya kamu memberi pengecualian padaku Sean. Kamu tahu aku sangat cemas dan panik mencarinya." kata Rangga kembali kesal.


"Untuk apa? Dia tidak punya hubungan pekerjaan lagi dengan perusahaan mu. Kau dan Rachel sudah memecatnya. Jadi bukan urusan mu lagi kemana dia pergi, bersama siapa dan apa yang dia lakukan!" kata Sean.


"Sean....!" teriak Rangga kembali emosi.


"Aku sudah berjanji untuk tutup mulut!" Kata Sean segera.


"Jangan teriak teriak di kantorku. Kau ini selalu saja marah." kata Sean menatap kesal."Aku tidak memberi tahu mu karena kau akan datang ke Australia untuk opening pembangunan projek X bersama dewan direksi. Aku yakin kalian akan bertemu di sini. Dan dugaan ku benar kan?" jelas Sean.


"Sekarang katakan di mana dia? Kenapa kamu malah pulang sendiri?" tanya Sean. Karena tadi Rangga pergi membawa May, tapi pria ini datang tanpa May.


"Dia meninggalkan ku, pergi menggunakan taksi. Aku sudah berusaha mengejar tapi kehilangan jejak."


📞"Nona May, kamu di mana?" tanya Sean setelah telepon tersambung.


📞"Aku berada di suatu tempat tuan!" jawab May dari seberang.


📞"Dimana itu? Aku menghawatirkan mu!"


📞"Tempat yang aku kunjungi kemarin. Anda tidak perlu Khawatir."


📞"Apa kau baik baik saja saat ini?"


📞"Aku hanya perlu sendiri untuk menenangkan diri setelah apa yang terjadi tadi! Bagaimana dengan masalah di butik?"


📞"Kamu jangan khawatir Nona, aku sudah menyelesaikan semuanya. Kamu bisa berjalan bebas di luar."


📞"Terimakasih tuan. Setelah merasa tenang, aku akan pulang!"


📞"Baik Nona, jika kau perlu sesuatu hubungi aku. Jangan mengirim pesan. Langsung hubungi aku."


📞"Iya tuan."

__ADS_1


Telepon di matikan.


"Syukurlah dia baik baik saja." gumam Sean.


Rangga yang sedari tadi mendengar kan pembicaraan mereka heran, Sean bisa menghubungi May, tapi kenapa dia tidak bisa?


Dia menatap Sean."Apa May punya nomor lain?" tanyanya.


Sean mengalihkan pandangannya dari layar ponsel ke wajah Rangga.


"Aku menghubungi nomornya tapi tidak tersambung!" kata Rangga lagi.


"Sudah ku katakan tadi, Nona May tidak ingin keberadaannya di Australia di ketahui oleh siapa pun, makanya dia mengganti nomor teleponnya!" kata Sean sembari menyimpan ponselnya di saku. Lalu duduk di kursi kebesarannya.


Rangga mengeluh kesal. Pantas saja May susah dihubungi. Sepertinya May memang sengaja menutup akses darinya. Kalau hanya sekedar untuk menjauh, tidak perlu memutus hubungan komunikasi dengannya.


"Rad, untuk apa kamu memikirkan May dan mengurusnya? Kamu dan dia tidak punya hubungan apapun. Hubungan kalian hanya sebatas pimpinan dan bawahan, dan itu sudah berakhir. May sudah tidak bekerja lagi di kantor mu! Jauhi dia, jangan mencarinya lagi. Ingat Rad, Rachel akan terus mengganggu dan menyakitinya jika kau masih terus mendekatinya. Gadis itu akan terus menerus berada dalam masalah!" tekan Sean.


"Sudah ku katakan jika kamu mencintai Nona May, katakan padanya. Kau harus jujur dengan perasaan mu. Mengenai hubungan mu dengan Rachel, kau juga harus jujur pada Rachel bahwa kau tidak mencintainya dan tidak ingin menikahinya. Kau harus tegas dengan perasaan mu, antara memilih May dan meninggalkan Rachel. Atau menikah dengan Rachel dan meninggalkan May, menghilangkan perasaan mu padanya, dan melupakannya selamanya. Jangan mencarinya lagi!" Jelas Sean panjang lebar. Dia juga tidak mau May terus menerus di sakiti Rachel karena sakit hati dan cemburu.


"Kamu seharusnya mengerti, kenapa Nona May memutus semua akses dengan mu? Dia tidak ingin di anggap menjadi orang ke tiga, pengganggu, perusak hubungan mu dengan Rachel. Karena dia tahu kedekatan kalian akan menimbulkan kebencian, kemarahan kecemburuan dan sakit hati bagi Rachel. Sebagai seorang wanita yang punya hati dan perasaan, Nona May bisa merasakan perasaan Rachel yang terluka saat kau dekat dengan nya. Untuk itu Nona May pergi menjauh dari mu. Lebih kau lupakan May, agar dia tidak mendapatkan masalah lagi!" jelas Sean panjang lebar.


"Sebentar lagi kamu dan Rachel akan menikah! Fokus lah pada pernikahan kalian. Kamu bantu Rachel mengurus keperluan pernikahan kalian!" lanjutnya kembali.


Rangga termangu mendengar perkataan Sean. Dia mendesah sedih. Beberapa saat kemudian perlahan bangkit dari duduknya. Berjalan keluar dari ruang kerja Sean tanpa sepatah kata.


Benar apa yang di katakan Sean. Sebaiknya dia menjauh dari May agar gadis itu bisa menjalani kehidupannya dengan aman tanpa masalah. Rachel akan terus menerus menyakitinya.


Lagi pula, untuk apa dia terus berharap gadis itu mencintainya? May tidak benar dan tidak tulus mencintainya. Perkataan May tentang rasa SUKA dan CINTA kepadanya, mungkin celotehan biasa anak kecil terhadap Orang tuanya. Tidak mungkin May, seorang gadis muda belia, memiliki kecantikan sempurna jatuh cinta dan mau menjadi kekasih, apalagi pasangan hidup pria tua seperti dirinya.


Rangga terus melangkah, melangkah dengan lemah, dengan kesakitan hati, netra merah berkaca.


Sementara Sean di ruangan.


"Maaf Rad karena telah mengatakan semua itu padamu! Aku tahu kau sangat menderita. Tapi seandainya kau tahu, Nona May lebih menderita, karena memendam cintanya pada dirimu, cinta yang tidak bisa di miliki. Dia benar-benar tulus mencintai mu, berharap kau menjadi miliknya tapi tak bisa di ungkapkan! Karena kau sudah menjadi milik orang lain." gumam Sean lirih.


Dia tahu May juga mencintai Rangga. Melihat May menangis dalam diam sambil menatap wajah Rangga pada ponsel, saat keduanya berada di pesawat dalam perjalanan menuju Sidney. Bukan hanya itu, dia juga tanpa sengaja mendengar ucapan cinta dan kerinduan dari bibir May sambil menangis. Saat itu dia baru pulang dari kantor dan mencari May. Dia melihat May duduk melamun di taman samping rumahnya. Dia mendekati May. May tidak menyadari keberadaannya di belakang. Keadaan May yang sedih gundah gulana, menatap foto Rangga, terus mengucap "Om, Aku Rindu! Aku sangat Rindu....Aku cinta sama Om. Salahkah aku bila mencintai Om?" Gadis itu terus menekan dadanya yang terasa sakit.


"Cinta yang rumit untuk mereka. Saling mencintai tapi tidak bisa memiliki." gumam Sean.


Seandainya pernikahan mereka belum tersebar ke publik, Sean pasti akan membantu menyatukan keduanya dengan cara apapun. Karena dia pun ini melihat Rangga hidup bahagia dengan wanita yang di cintainya, setelah belasan tahu menderita karena tidak dapat memiliki cinta pertamanya.... Khanza Ghaniya Artawijaya.


Bersambung.

__ADS_1


Dukung author ya....


__ADS_2