
...Happy Reading....
Begitu waktu pulang tiba, May segera turun dan keluar dari perusahaan. Dia menyempatkan diri shalat magrib di mesjid yang biasa. Lalu keluar dan berjalan menuju trotoar untuk mencari taksi di pertigaan jalan sebelah. Dalam langkahnya, sembari membayangkan perkataan Rachel padanya waktu tadi pagi. Saking asiknya melamun, tidak di sadari sebuah mobil mengikutinya dari belakang. Dan berhenti tepat di sampingnya.
May kaget dan segera berhenti melangkah mendengar bunyi klakson. Dia menoleh ke arah mobil di sampingnya.
Kaca mobil di turunkan, lalu muncul seraut wajah pria bule bermata biru, Sean Gefarin dengan senyum menghias wajahnya.
"Nona May...." panggilnya.
"Mr. Sean!" ucap May begitu melihat wajahnya.
"Mau pulang?" tanya Sean.
"Iya, aku mau ke pertigaan di depan untuk menunggu taksi!" kata May sambil menunjuk pertigaan 200 m di depan.
"Naiklah, biar ku antar pulang!" ajak Sean menawarkan diri. Dia segera turun dari mobil dan mendekati May di trotoar.
"Tidak perlu tuan, aku naik taksi saja." tolak May halus.
"Kenapa? Kau takut dan tidak percaya padaku? Jangan khawatir, aku teman dekat bosmu!"
"Tidak begitu tuan. Saya hanya tidak ingin merepotkan Anda!" kata May tersenyum.
"Aku tidak apa-apa, aku malah senang bisa mengantar mu pulang. Aku juga ingin berbicara dengan mu! Silahkan masuk." Sean segera membuka pintu mobil. Mau tidak mau May segera masuk, dan duduk. Terus memasang sabuk pengaman.
Sean juga segera masuk dan memasang sabuk pengaman, lalu segera menjalankan mobilnya.
"Kau tinggal di mana?" Sean memecah keheningan.
"Di apartemen kawasan X!" kata May.
"Apartemen R²?" tanya Sean.
"Iya, anda tahu nama apartemen itu?"
"Tentu saja. Kau tahu siapa pemilik apartemen itu?" Sean balik bertanya.
"Tidak...." May geleng kepala.
Sean tersenyum lebar.
Wajah May mengernyit."Apa itu punya anda?" tanyanya seraya melihat Sean dari samping.
"Bukan, tapi property itu punya bosmu, pimpinan perusahaan tempat kamu bekerja, Tuan Rangga Dionel Alkas! Masa kamu gak tahu." kata Sean.
"Milik pak Rangga?" May kaget.
Sean mengangguk."Masa kamu gak tahu?"
"Aku benar gak tahu." May mulai menyadari sesuatu. Dia mulai mengingat ada beberapa bangunan yang memakai nama R². Seperti perusahaan tempat dia bekerja, hotel tempat di menginap semalam, cafe islami tempat dia makan bersama Rangga dulu, mesjid tempat yang selalu dia singgahi untuk shalat magrib, yayasan panti sosial tempat nenek Michelle tinggal dan juga toko bunga.
May terhenyak setelah sadar akan hal itu. "Jadi semua itu milik Om Rangga?" batinnya.
"Aku melihat ada beberapa bangunan yang bertuliskan R², aku sungguh tidak tahu kalau itu milik pak Rangga!" katanya seraya melihat Sean dari samping.
Sean tersenyum dan menoleh padanya sambil fokus mengemudi."Semua yang bertuliskan R² adalah aset aset miliknya. Jika kau melihat aset berupa tanah, bangunan, serta sarana dan prasarana atau hal lainnya yang bertuliskan R², maka itu adalah milik tuan Rangga, bos mu." kata Sean menjelaskan.
May merasa tertarik dengan penjelasan itu.
"Sepertinya anda tahu banyak tentang bos aku!"
"Tentu saja. Sudah ku katakan, aku sahabat dekatnya."
May menghadap setengah badan padanya.
"Berarti anda tahu tentang pak Rangga?"
"Iya!" Sean mengangguk.
"Boleh anda ceritakan tentang pak Rangga padaku?" penasaran.
"Kau sepertinya ingin tahu tentang dia ya?" tanya Sean tersenyum, merasa heran May bertanya tentang Rangga.
May tersenyum, lalu mengangguk.
"Baiklah, tapi ada syaratnya!" kata Sean.
Dahi May mengerut "Syarat?"
"Iya....aku menginginkan bantuan mu!"
"Bantuan apa? Aku hanya seorang OB yang tidak punya apa-apa!" kata May merendah.
"Aku hanya menginginkan apa yang ku katakan di telpon tadi pagi! Aku berharap kau tidak menolak!" kata Sean.
May teringat permintaan Sean yang meminta untuk menemaninya malam ini. Sean mau mengajaknya pergi ke suatu acara sebagai partner karena dia tidak punya pasangan. Tapi May belum mengiyakan karena dia akan di ajak Rangga keluar malam ini.
"Aku akan kasih tahu setelah tiba di apartemen. Karena aku ada janji dengan seseorang malam ini. Aku sudah menghubungi dan mengirim pesan apakah jadi atau tidak, tapi pesan ku belum terbaca olehnya! Jika pesan ku tidak terbalas sampai isya, aku akan pergi bersama Anda." kata May teringat perkataan Rangga yang akan mengajaknya ketempat kuliner Indonesia malam ini. Dia sudah berulangkali menghubungi ponsel Rangga tapi tidak aktif, pesan yang di kirimkan juga belum di baca Rangga. Seharian ini Rangga tidak berada di kantor karena ada pekerjaan penting diluar kantor. Jadi di tidak bisa menanyakan secara langsung.
__ADS_1
Sean senang mendengar perkataan May.
"Baik Nona May, dan terimakasih sebelumnya."
"Tapi tuan Sean, apakah tidak akan ada yang marah jika kita jalan bersama?"
"Maksud kamu?"
"Pasangan mu.... istri atau kekasih! Kau pasti sudah memiliki istri kan?"
Sean tersenyum lebar."Anda jangan khawatir nona May. Aku seorang duda. Istriku meninggal 2 tahun lalu! Dan aku punya sepasang anak kembar berumur 10 tahun." kata Sean.
"Oh.... maafkan aku tuan Sean. Aku sama sekali tidak tahu. Aku turut prihatin dan berdukacita!"
"Tidak apa apa Nona. Kejadiannya sudah lama. Aku sudah bisa bangkit lagi dari kesedihan meski jujur begitu sakit kehilangan orang yang kita cintai! Dan untuk kekasih, aku belum menemukan orang yang tepat sesuai keinginan anak anakku! Karena bagiku kebahagiaan mereka yang paling utama!"
"Wah, anda benar benar seorang ayah yang penyayang, hebat dan luar biasa. Lebih mengutamakan anak. Semoga anda mendapatkan wanita yang benar-benar tulus menyayangi anak anak!"
"Terimakasih." kata Sean."Oh ya Nona, boleh aku tahu kau ada janji dengan siapa malam ini? Apa kekasih anda?"
May tersenyum." Tidak, seorang teman. Tapi maaf, aku tidak bisa mengatakannya!" kata May. Tidak mungkin dia mengatakan kalau Rangga orang itu.
"Aku tidak akan memaksa, karena sepertinya itu privasi"! Kata Sean."Terus, Apa anda masih ingin mengetahui tentang bos kamu itu?"
"Boleh, kalau anda tidak keberatan!" kata May.
"Aku dan dia bukan hanya partner bisnis. Tapi juga sahabat sejak waktu kuliah!" kata Sean mulai menjelaskan.
"Oh gitu, berarti anda juga tahu dengan kehidupannya?"
"Tentu saja. Bukan hanya masalah pekerjaan tapi juga mengenai hal pribadi."
"Benarkah?"
"Kami saling terbuka dalam hal apapun!"
"Termasuk soal asmara?" tanya May tersenyum.
Sean tertawa kecil."Kau gadis yang sangat asik Nona May, makanya aku suka padamu! Kita bisa menjadi teman!"
May ikut tertawa.
"Sepertinya kau tertarik pada bos mu itu?"
tanya Sean kembali menggoda. Karena keinginan tahuan May pada Rangga, sahabatnya.
May kembali tertawa"Tentu saja, siapa sih yang gak suka pada pria tampan dan mapan seperti dia? Semua wanita normal pasti menginginkannya." kata May di susul tawa kecil.
"Aku hanya merasa aneh saja saat tahu dia belum menikah di usianya yang sudah tidak muda lagi. Aku pikir dia telah menikah dan memiliki anak. Tapi ternyata belum. Makanya aku penasaran kenapa dia belum menikah di umurnya yang sudah segini!" kata May.
Sean tersenyum.
"Memang banyak wanita yang menginginkan dirinya. Tapi tak ada satupun dari mereka yang membuatnya tertarik."
"Terus Ibu Rachel? Bukankah kekasihnya?"
"Entahlah, karena aku merasa dia tidak mencintai wanita itu."
Wajah May mengernyit"Tapi aku dengar dari cerita karyawan mereka sudah berhubungan sejak lama!"
"Itu benar, tapi hubungan tanpa cinta. Hanya Rachel yang mencintainya! Tapi Rangga tidak!" kata Sean.
May teringat perkataan Rangga semalam. Yang mengatakan kalau dia tidak mencintai Rachel meski mereka dekat.
"Kalau gak cinta, kenapa pak Rangga menjalin hubungan kekasih dengannya?"
"Aku tidak tahu pasti hal itu. Tapi yang ku dengar karena nenek dan ibunya pak Rangga yang menjodohkan mereka. Rachel mempunyai jasa yang besar atas suksesnya tuan Rangga. Juga kontribusinya begitu besar pada perusahaan! Seperti balas budi. Tapi menurut ku, suksesnya pak Rangga karena kerja kerasnya sendiri. Aku sangat tahu hal itu karena dia seorang pekerja keras." kata Sean.
May menyimak dengan cermat.
"Aku dan dia bertemu saat kami masuk kuliah. Sejak aku mengenalnya dia adalah sosok pribadi yang tertutup. Lebih suka belajar dan bekerja. Dia pria dingin dan tidak suka bergaul dengan wanita. Selama aku mengenalnya, tidak pernah kulihat dia dekat dengan wanita, meski hanya bicara akrab seperti kita ini! Dia tidak suka dan selalu menghindar." jelas Sean.
Wajah May mengernyit mendengar penuturan Sean. Dia teringat kedekatannya dengan Rangga sejak pertama bertemu.
Rangga tidak suka dekat dengan wanita? Apa benar? Karena terhadapnya Rangga tidak membatasi jarak. Keduanya dekat, bebas ngobrol, bercengkrama, Rangga memeluknya, bahkan menemaninya tidur bersama semalam. Dan bukan hanya itu, Rangga juga menyayanginya, menjaga dan melindunginya, Bahkan sangat takut jika terjadi sesuatu yang buruk padanya, sama seperti kejadian semalam.
"Apa Benar yang anda katakan Mr. Sean?" tanya nya untuk meyakinkan.
"Tentu saja. Kalau tidak, mungkin dia sudah menikah dari dulu dan telah memiliki anak sama seperti aku!" kata Sean.
"Jadi selama hidupnya dia tidak pernah jatuh cinta pada seorang wanita?"
"Aku tidak tahu pasti hal itu. Dia tidak terbuka tentang asmara masa lalunya padaku. Tapi yang ku lihat, dia memang sengaja menutup hati pada wanita karena sesuatu!"
"Sesuatu? Apa?" tanya May dengan dahi mengerut.
"Aku melihatnya seperti orang yang patah hati. Dia mungkin pernah jatuh cinta dan mencintai di masa lalu, tapi di kecewakan. Terus membuatnya patah hati, tidak percaya pada wanita sehingga sulit untuk membuka hati karena tidak percaya lagi akan cinta." Kata Sean."
"Tapi mungkin perkirakan ku salah. Aku hanya menebak saja!" sambung Sean.
__ADS_1
May menarik nafas dalam-dalam dan membuangnya pelan, lalu menghadap ke depan."Mungkin Mr. Sean benar!" batinnya.
"Aku berharap ada wanita yang akan bisa membuatnya jatuh cinta. Bisa membuatnya tersenyum lagi, membuatnya merasakan cinta dan kebahagiaan! Kasihan kan kalau seandainya dia menikah dengan Rachel, sementara dia tidak mencintai wanita itu!" kata Sean.
May mengangguk dan tersenyum. Pantas saja Rachel tidak menyukainya dan meminta dia untuk menjaga sikap di depan Rangga. Juga marah saat dia tak sengaja naik ke tubuh Rangga saat anjing anjing mengejarnya. May kembali berpikir dengan kedekatannya dengan Rangga. Sikap dan perlakuan pria itu padanya, yang sangat baik, menjaga, melindunginya, tulus menyayanginya, menyuruhnya sekolah, melarangnya berkerja dan memberinya kartu kredit tanpa batas untuk di gunakan sebagai kebutuhan hidupnya. Sementara dia dan Rangga belum lama berteman, tidak punya hubungan pribadi apa pun."Apa Om suka padaku?" batinnya.
"Atau mungkin saja sikapnya baik karena dia tahu aku sendirian di sini. Dan dia tahu aku menganggapnya seperti papa!" batinnya kembali. Jujur May mengakui dia menyukai Rangga, nyaman dengan pria itu, karena perlakuannya yang lembut sama seperti papa dan kakeknya, begitu tulus menyayanginya. May juga berkeinginan memiliki seorang kekasih, juga suami yang mempunyai hati baik dan lembut seperti itu. Dan dia merasakannya dari Rangga.
"Aku sudah jelaskan tentang Rangga. Sekarang katakan, kenapa kau ingin tahu tentang dirinya. Apa kau menyukainya?" Sean kembali menggoda, Membuyarkan lamunannya.
May terkejut sekaligus tersenyum."Mana bisa tuan. Dia punya ibu Rachel. Aku ingin tahu karena merasa aneh saja seperti yang ku katakan tadi. Sudah tua tapi belum nikah! Padahal dia pria idaman banget!" katanya, lalu tertawa kecil.
"Tahu gak tuan, aku malah berpikir buruk kenapa dia belum menikah!" bisik May dengan kedipan mata.
Alis Sean terpaut"Apa yang kau pikirkan?"
"Ku kira dia seorang Gay.....!" kata May di susul tawa.
Tawa Sean pecah mendengar perkataannya."Kau ini nona!"
"Benar lho tuan. Aku sempat berpikir begitu! Makanya aku bertanya tentang hal pribadinya!" kata May masih tertawa kecil. Tapi perlahan tawa itu mereda.
"Oh ya tuan, pembicaraan ini cukup menjadi rahasia kita ya? Aku tidak mau di pecat dari perusahaan." sambung May dengan wajah melas.
"Anda jangan khawatir! Kau bisa percaya padaku!" kata Sean.
"Terima kasih!" ucap May.
Mobil memasuki halaman apartemen. Bertepatan dengan bunyi alarm adzan shalat isya di ponsel May.
May mengambil ponsel dan mematikan alarm. Dia memeriksa pesan yang di kirim pada Rangga. Belum terbaca. May mengeluh kecewa.
Dia menghubungi nomor Rangga, tidak aktif.
May membuang nafas berat."Mungkin Om kerjanya di tempat yang gak ada jaringannya ya?" batinnya."Atau mungkin juga dia lupa dengan janjinya karena sibuk kerja!" batinnya lagi.
Dia mengetik sesuatu lalu di kirimkan pada Rangga.
"Bagaimana Nona? Apa sudah ada balasan dari teman anda?" tanya Sean setelah memarkir mobil. Dia melihat May yang sibuk dengan hp.
May menggeleng"Belum, sepertinya dia sibuk kerja sehingga lupa dengan janjinya!" kata May lemah." Tuan, bisakah anda menunggu aku sebentar di lobby? Aku mau shalat isya sebentar dan mengganti pakaian!" katanya lagi.
"Tentu Nona. Aku akan menunggu di sini. Silahkan anda shalat dulu!" kata Sean.
May segera turun dan melangkah menuju lift. Saat melewati pos penjagaan, beberapa satpam menyapanya.
30 menit kemudian dia kembali telah berganti pakaian. Sean melarikan kendaraan sedikit lebih cepat karena waktu yang mepet. Mobil berhenti pada sebuah butik mewah. May terkejut melihat nama butik itu. Yang merupakan butik neneknya "Azahra"
"Tuan, untuk apa kita ke sini?"
"Aku ingin membelikan anda gaun pesta."
"Gaun pesta? Untuk apa?"
"Karena aku mau mengajak Anda ke pesta pernikahan teman ku! Gak mungkin kan anda ke pesta dengan pakaian seperti ini?" kata Sean melihat pakaian May, jeans dan kaus polos di lapisi mantel.
"Tapi tuan. Aku tidak terbiasa memakai pakaian mewah dan mahal. Aku juga tidak terbiasa masuk ke butik mewah seperti ini. Butik ini hanya untuk orang orang berkelas. Aku malu ke dalam." Tolak May dengan mengarang alasan.
"Anda tidak perlu malu. Aku biasa kesini bersama istriku dulu. Manager butik dan pegawai sangat mengenal aku Bahkan pemiliknya juga! Ayolah Nona. Waktunya mepet. Kita harus segera!" pinta Sean.
May hendak menolak kembali, tapi Sean segera menarik tangannya keluar. Mau tidak mau May keluar, mengikuti dari belakang.
"Ya ampun, semoga saja tidak ada yang mengenal aku di tempat ini!" batinnya cemas.
Mereka segera masuk. May menarik topi untuk menutupi wajahnya. Dia jalan agak jauh di belakang Sean.
Hatinya tidak karuan dan semakin tidak tenang melihat Manager hotel butik, belum terganti, masih tetap sama. May tahu Manager wanita itu karena sering datang ke rumah neneknya memberi laporan tentang Butik. Dan manager butik mengenal dirinya sebagai cucu artawijaya.
Manager hotel segera menyambut Sean dengan ramah.
"Selamat datang tuan Sean. Senang rasanya anda kembali berkunjung ke Butik kami! Ada yang bisa kami bantu?"
"Aku perlu sebuah gaun pesta yang indah untuk wanita, juga sepatu dan tas cantik." kata Sean.
"Baik tuan. Mari ikuti saya!" kata manager. Sean segera mengikuti, tanpa menyadari May tidak berada di belakangnya, sudah kabur pelan pelan kembali ke mobil.
Mereka tiba di sebuah ruangan. Terdapat banyak gaun pesta yang indah dan mewah. Ada juga tas, sepatu dan barang branded lainnya yang terpajang rapi.
"Siapa yang akan memakainya?" tanya manager hotel.
"Teman aku!" kata Sean. Dia segera berbalik dan melihat ke belakang. Dahinya mengerut tidak melihat May. Dia melihat ke beberapa arah tapi tidak menemukan May. Kemana dia?
Ponselnya bergetar. Dia segera mengambil ponselnya. Sebuah pesan masuk dari May."Tuan, aku tidak percaya diri dan malu untuk masuk ke dalam. Aku telah menemukan gaun yang ingin ku kenakan! Tolong anda perlihatkan pada manager." pesan May. Lalu mengirim pesan susulan ke dua dan ketiga. Yaitu gambar gaun sepatu dan tas yang di ambil dari internet setelah melakukan pencarian dengan mencari gaun, tas, sepatu hasil rancangan Ara, neneknya.
"Aku tunggu anda di mobil!" pesan terkahir.
20 menit berlalu, Sean keluar dengan tiga paper bag. Karena waktunya yang semakin mepet, mereka segera meninggalkan tempat itu.
Bersambung.
__ADS_1
Dukung ya...😘