Rangga dan Rara (Mencintai Anak Mantan)

Rangga dan Rara (Mencintai Anak Mantan)
59. Setiap kata adalah doa


__ADS_3

...Happy Reading....


"Rangga...!" Khanza tersenyum melihat Rangga di depannya. Khanza mempercepat langkahnya menuju ke arah pria itu.


"Manusia jahat, kau jahat.....aku membencimu!" Kata Rara dengan emosi sembari mencakar wajah Rangga yang terpampang dalam bingkai foto, yang tergeletak pada sebuah meja kecil. Foto Rangga saat dia masih SMA.


"Tega sekali kau meninggalkanku. Tak memberi kabar sekalipun! Katanya kita adalah sahabat tapi kenapa kenapa kau meninggalkanku?" omel Khanza sedih.


"Selama 17 tahun kau menghilang tanpa kabar. Kemana saja kau? Aku kehilangan mu. Apa kau tidak merindukanku? Kau tidak memikirkan perasaanku? Apa kau sudah tidak menyayangi ku? Apa kau marah padaku karena aku lebih memilih kak Cio dari pada dirimu?" Rentetan pertanyaan dengan luapan emosi. Tapi kemudian." Hiks...hiks! Rangga....!" menangis.


"Aku tidak punya teman. Sudah ku katakan hanya kau sahabat ku yang bisa ku percaya. Katamu kau menyayangiku, kau akan selalu ada untukku meski aku telah menikah. Kita tetap akan menjadi sahabat baik, yang akan selalu ada di saat suka dan duka! Tapi apa? Kau ingkar janji. Kau pergi tanpa kata, menghilang dari diriku! Kau menjauh selamanya. Aku membencimu.....kau jahat! Kau pembohong. Ternyata kau tidak tulus menyayangi ku!" kata Khanza meluapkan kemarahan sekaligus kesedihannya seraya menunjuk wajah Rangga yang tetap tersenyum.


Dari balik tembok Rangga mendesah sedih melihat dan mendengar setiap kata yang menyayat hatinya. Dadanya sesak menahan kesedihan. Dia yang tampak sengaja melihat Khanza berjalan melihat lihat rumah bersama kepala pelayan. Jadi tamu dari Jakarta ternyata Khanza. Rangga sangat terkejut melihat wanita yang mengisi hatinya dalam penderitaan selama 17 tahun ini berada di rumah ini. Wanita yang sangat di rindukan selama 17 tahun ini. Rangga sangat senang dapat melihat kembali mantan kekasih sekaligus sahabatnya ini setelah cukup lama berpisah. Terpaksa berpisah karena janjinya pada Cio untuk tidak menghubungi Khanza lagi untuk selamanya.


"Rangga, aku sangat butuh dirimu saat ini! Aku butuh sahabat ku, yaitu kamu! Kamu di mana? Tolong hubungi aku, datang lah padaku! Sekali saja. Aku ingin mencurahkan kesedihan ku padamu!" kata Khanza tersedu sedu.


Dia tidak perduli dengan kepala pelayan yang ada di belakangnya.

__ADS_1


"Putriku, Rai Rara, aku kehilangan dia. Dia kabur dari rumah dan pergi entah kemana. Aku sangat sedih. Setiap saat di hantui rasa takut karena kepergiannya. Bantu aku menemukannya. Aku yakin kau pasti bisa membantu ku membawanya kembali padaku!" Khanza menghapus air matanya. Dia menatap wajah Rangga sambil tersenyum.


"Kau masih ingat putriku kan? Anak yang ku kandung saat kita masih sekolah. Prediksi mu benar, anakku perempuan. Aku telah memberikan nama Rai Rara kepada putri ku sesuai keinginanmu. Anak itu sekarang telah tumbuh remaja! Kau benar, Rara sangat cantik dan manis seperti perkataan mu! Apa kau ingat perkataan dulu? Bahwa kau akan menunggunya tumbuh besar! Kau akan menikahinya karena tidak dapat memiliki aku, ha-ha-ha. Kau masih ingat dengan candaan mu pada waktu itu kan? Kita juga berjanji akan menjodohkan anak anak kita saat mereka besar!" kata Khanza dengan perasaan bahagia mengingat rencana mereka dulu untuk menjodohkan anak anak mereka. Juga candaan Rangga untuk menikahi Rara junior karena tidak dapat memiliki dirinya. Khanza sangat bahagia terkenang kembali masa-masa persahabatan mereka bersama dulu, dan menjadi pasangan kekasih walau hanya sehari.


Rangga ikut tersenyum mengingat obrolan mereka dulu, walau baginya itu hanya candaan untuk menghibur hatinya yang terluka.


"Tapi nyatanya kau menghilang selamanya, tanpa kabar sedikitpun." keluh Khanza kembali sedih. Dia menatap mendung wajah Rangga. Meraba lembut setiap bagian wajah Rangga."Tahukah kau....aku sangat merindukanmu! Selama 17 tahun kau menyiksa ku dengan kerinduan. Kau jahat dan kejam! Aku mohon hubungi aku, temui aku....sekali saja! Kalau tidak....aku tidak mau menjadi sahabat mu lagi, aku akan membencimu, dan akan melupakan mu selamanya.....!" ucapnya sendu dengan bibir bergetar.


Kesedihan Rangga kembali membuncah mendengar pengakuan hati itu. Dada dan nafasnya semakin sesak. Saking sedihnya, kedua netranya tak tahan untuk mengeluarkan lelehan bening. Air matanya jatuh mengalir.


"Maafkan aku Khanza!" ucapnya lirih. Dilihatnya Khanza melangkah lunglai dengan mata sembab merah menahan tangis.


"Jadi Putri Khanza belum kembali?" teringat Putri Khanza yang kabur dari rumah.


Lamunannya pecah saat ponselnya berdering.


Haris yang menelpon. Rangga memang meminta Haris menghubunginya untuk memberikan klarifikasi kenapa May ada di Australia? Sementara kata Haris, gadis itu telah kembali ke Bandung.

__ADS_1


"Beraninya kau membohongiku Haris!" bentak Rangga.


"Maaf pak karena telah berbohong pada anda. Saya terpaksa melakukannya karena permintaan Nona May! Nona May melarang saya untuk tidak memberitahukan kepergiannya ke Australia pada siapa pun termasuk Anda. Dia sangat memohon hal itu, saya tidak tega. Tapi kalau mengenai kepergiannya dengan Tuan Sean Gefarin ke Australia, saya sama sekali tidak tahu." kata Haris menjelaskan. Padahal semua itu adalah bohong, May tidak pernah meminta hal itu padanya. Tapi Wisnu yang menyuruhnya untuk mengarang keberadaan May telah berada di Bandung.


Rangga segera mematikan telepon dengan kesal. Kalau bukan membawa Nama May, dia pasti telah memarahi habis habisan kepala HRD nya itu.


Kembali teringat pada putri Khanza yang belum kembali, Rangga berniat akan membantu mencari keberadaan anak itu. Dia tidak tahan melihat kesedihan di wajah Khanza. Mungkin dia akan membantu secara sembunyi sembunyi.


"Rai Rara... jadi Khanza telah memberi nama itu pada putrinya sesuai keinginanku! Dan dia kini telah tumbuh menjadi gadis remaja yang cantik. Sudah pasti memiliki mata teduh seperti Khanza!" Gumam Rangga membayangkan ke dua mata Rai Rara seperti mata teduh milik Khanza.


Mengenai kata katanya dulu yang akan menikahi Rara Junior karena tidak dapat memiliki ibunya. Rangga tersenyum mengingat candaannya itu. Dia masih ingat betul dengan perbincangan mereka lalu. Tapi kenyataannya kini, dia telah mencintai wanita lain.


Rangga segera beranjak dari tempatnya dan pergi turun ke bawah sebelum bertemu dengan keluarga Artawijaya. Dari sudut ruang yang lain, dia tidak menyadari kalau Raka memperhatikannya sejak tadi. Raka hampir tidak mengenalnya karena brewok tebal yang hampir menutupi wajahnya.


"Setiap kata adalah doa. Kata kata yang dulu kau ucapkan dan kau anggap hanya sekedar candaan telah di kabulkan Allah. Karena gadis yang kau cintai bernama May Wulandari adalah putri Khanza. Namanya Rai Rara, bukan May Wulandari! Jika Allah mentakdirkan kalian hidup bersama, maka Rara Junior akan menjadi jodohmu seperti yang kau pinta saat dia masih dalam kandungan ibunya. Dan kau telah menunggunya selama 17 tahun." gumam Raka sambil menatapi kepergian Rangga hingga hilang dari pandangannya.


Selanjutnya dia menyusul Khanza ke teras atap rumah.

__ADS_1


Bersambung.


Mohon dukungannya ya, terimakasih bagi yang sudah mampir.


__ADS_2