
...Happy Reading....
Saat ini Rangga menemani Rachel memilih cincin pernikahan di sebuah toko emas ternama bertaraf internasional. Meski bisa di pesan, tapi Rachel memaksanya datang ke toko untuk memilih secara langsung. Alasan utama Rachael tentunya untuk dapat bersama dengan pria pujaannya ini dan pamer hubungan mereka ke publik. Rachel sangat bangga dan besar kepala saat orang orang berdecak kagum melihat ketampanan Rangga yang begitu mempesona. Dia merasa wanita yang paling beruntung memiliki Rangga. Selama berjalan di dalam toko memilih milih perhiasan dan barang branded lainnya, tangannya tak lepas bergelayut di lengan Rangga.
Sedangkan Rangga hanya diam menemani dengan wajahnya yang datar. Sudah beberapa cincin yang di perlihatkan Rachel dan dia hanya mengatakan tiga kata, Bagus, Oke, dan Terserah. Tak ada penilaian khusus, atau memberikan ide dan pilihan. Semua pilihan Rachel di iya kan. Dan itu membuat Rachel kesal.
Setelah sekian lama memilih dan memilah, mata Rachel tertuju pada sepasang cincin pernikahan yang terlihat berbeda dari yang lainnya. Dia tertarik dengan cincin itu. Harganya sangat fantastis.
"Ambilkan yang itu." titahnya pada pelayan.
Sang pelayan segera memberikan apa yang di minta.
"Sayang, yang ini sepertinya lebih bagus dari yang lainnya. Aku tertarik dengan cincin ini. Aku mau ambil yang ini!" kata Rachel melihat tanpa berkedip keindahan dan kemewahan kedua benda itu. Sepertinya cincin ini akan sangat cocok untuk dia dan Rangga. Dia yakin cincin ini akan menyatukan keduanya selamanya.
"Terserah kamu saja. Sebaiknya lebih cepat sedikit. Aku banyak pekerjaan." kata Rangga menanggapi permintaannya dengan datar.
"Pak, segera siapkan cincinnya." katanya melihat pada manager.
"Baik tuan. Akan segera kami siapkan." kata manager dengan sigap.
Rachel mendengus kasar dengan sikap buru buru seperti ini.
"Sayang, sebaiknya kita coba dulu sebentar. Takutnya kebesaran atau kekecilan." kata Rachel.
"Ya cepatlah." kata Rangga gusar. Pekerjaan sedang menunggu di kantor dan yang lebih penting dari itu dia tidak mau berlama-lama di tempat ini menjadi tatapan mata pengunjung karena tingkah Rachel yang norak berlebihan pamer kemesraan.
Rachel segera mengambil cincin pria, lalu di sematkan pada jari manis Rangga.
"Pas....!" kata Rachel senang begitu benda itu pas di jari Rangga.
"Pakaikan cincin aku ke jariku." pinta Rachel beberapa saat menunggu Rangga untuk menyematkan cincin ke jarinya. Dia kesal karena Rangga tak peka. Dan nanti di minta untuk memakaikan.
Tanpa semangat, Rangga mengambil benda itu dari tempatnya. Sekilas wajah May melintas di benaknya. Entah kenapa dia teringat gadis itu.
Rachel segera menjulurkan jemarinya sambil tersenyum senang. Rangga hendak memasukkan.Tapi belum sempat cincin itu masuk ke jari Rachel, lengannya tanpa sengaja ke senggol oleh pengunjung lain Cincin itu terlepas dari pegangannya dan jatuh ke bawah.
Keduanya kaget. Begitu juga dengan pelayan dan manager. Serentak mereka melihat ke arah cincin yang terus menggelinding dan berhenti tepat di depan sepatu seseorang yang sedang berdiri.
Rachel segera melangkah untuk mengambil cincin itu. Tapi langkahnya terhenti ketika melihat pemilik sepatu itu. May? wajahnya mengernyit. Menatap seakan tak percaya pada gadis itu. Yang tampak sedang asyik melihat tas branded di depannya. Belum menyadari apa yang terjadi.
Suasana hati Rachel seketika berubah panas. Kenapa gadis ini selalu ada di tempat di mana dia dan Rangga berada? Dan Cincin itu, kenapa bisa berhenti tepat di kakinya? batinnya merasa tidak tenang.
Sama halnya dengan Rachel yang kaget melihat keberadaan May di tempat ini, Rangga pun tak kalah kagetnya. Apalagi melihat cincin itu berhenti menggelinding tepat pada May. Artinya apa?
"Biar saya ambilkan cincinnya." kata manager, tapi Rangga cepat menahan lengannya dan memberi isyarat dengan gelengan kepala. Manager langsung faham.
Seseorang yang berada di dekat May dan melihat cincin itu segera menepuk lengan May pelan.
"Maaf mbak."
"Ya....??" May menoleh kepadanya.
"Cincinnya jatuh." katanya seraya menunjuk ke kaki May. Dia mengira cincin itu punya May.
May mengikuti arah telunjuknya. Melihat sebuah cincin berada tepat di depan sepatunya. Dahi May mengerut. Merasa tidak memiliki cincin. Perlahan dia menurunkan tubuh dan memungut cincin itu. Memperhatikan benda cantik dan indah itu sesaat.
__ADS_1
"Tapi ini bukan punya saya. Saya tidak memiliki cincin." kata May pada wanita itu.
"Lalu punya siapa?" tanya wanita itu, melihat ke sekitar mereka. Mencari pemilik benda ini.
"Mungkin milik orang lain dan tidak sengaja jatuh." kata May. Dia melihat pengunjung di sekitarnya. Matanya terhenti pada Rachel yang tampak mematung melihatnya dengan tatapan tajam. Keduanya saling menatap beberapa saat.
May mencoba memahami apa yang terjadi.
Tanpa sengaja matanya melihat keberadaan Rangga berdiri tidak jauh dari mereka, sedang menatap kepadanya.
Kenapa harus bertemu mereka lagi? batin May. Hatinya jadi tidak tenang. Melihat keberadaan mereka di sini. Dia sudah dapat menebak pasti akan terjadi sesuatu yang buruk lagi padanya.
May bingung melihat tatapan orang orang kepadanya. Dan beberapa saat kemudian dia mengerti. Penyebabnya karena cincin yang di pegang nya.
Rachel yang sudah sadar dari alam sadarnya, segera mendekati May dan merebut cincin itu dari tangan May. Gerakannya yang kasar membuat benda itu jatuh ke bawah dan tanpa sengaja terinjak oleh kaki May.
Hah? May terkejut.
Begitu juga dengan Rachel manager dan Rangga.
"Kenapa kau menginjak cincin pernikahan ku?" teriak Rachel emosi. Dia mendorong tubuh May kasar, lalu memungut cincin itu.
Benda itu jadi penyok.
"Lihat, kau telah merusaknya. Gadis sialan! Susah payah aku mencari yang sesuai dengan hatiku tapi kau malah merusaknya." kata Rachel kembali menatap geram.
May panik melihat keadaan benda itu. Tapi dia lebih terkejut mendengar kalau cincin itu adalah cincin pernikahan. Dia melihat wajah Rangga yang masih menatapnya. Jadi cincin itu adalah cincin pernikahan mereka? Batinnya.
Rangga mendekati mereka melihat gelagat yang tidak baik dari Rachel. Wanita itu akan berlaku buruk lagi pada May.
"Tidak sengaja katamu? Kau pikir aku tidak melihat kau menginjaknya?" bentak Rahel.
"Rachel, cukup." kata Rangga mencekal lengannya.
"Aku benar-benar tidak sengaja." kata May kembali membela diri. Berharap mereka percaya.
"Alaa...tidak usah ngeles kamu. Kamu sengaja ingin merusak cincin pernikahan kami karena tidak suka kan?" tuding Rachel.
May tercengang."Jaga omongan anda. Sudah ku katakan aku tidak sengaja menginjaknya. Anda merebutnya dengan kasar hingga terjatuh. Coba anda mengambilnya dengan baik, pasti tidak akan jatuh dan rusak seperti ini. Saya juga tidak tahu kalau cincin itu cincin pernikahan kalian. Jadi jangan menuduh saya macam macam." katanya mulai kesal karena di tuduh yang tidak tidak.
"Cihh, tidak usah banyak alasan. Aku melihat dengan mataku kau menginjaknya dengan sengaja, tanpa keraguan. Dan sekarang Cincin ini rusak. Kau harus tanggung jawab." gertak Rachel dengan seringai tajam.
Lagi lagi May tercengang."Tanggung jawab?"
"Kenapa? Kau tidak punya uang untuk ganti rugi?" ejek Rachel tersenyum sinis.
"Rachel." sentak Rangga tidak senang melihat May mulai di rendahkan.
"May tidak sengaja menginjaknya. Kita semua juga melihat hal itu. Sudah hentikan. Semua orang sedang menatap kita." kata Rangga dengan suara di tekan.
"Lalu maksud mu dia harus lepas dari tanggung jawab begitu? Dia telah merusaknya, jadi harus ganti rugi." sentak Rachel.
"Sebaiknya bicara baik-baik jangan membuat keributan yang hanya akan membuat malu. Lihat para pengunjung sedang melihat pada kita! Kendalikan dirimu." tatap Rangga tajam.
"Malu? Kenapa harus malu? Kita tidak melakukan hal yang memalukan. Justru wanita rendah ini yang seharusnya malu. Dia pasti tidak akan sanggup membayar kerugian dari cincin itu." menatap tajam dengan geram pada Rangga karena terus membela May.
__ADS_1
Tiba tiba dia tersenyum sinis."Tapi mana sanggup dia membayar cincin itu? Meski harus menjual tubuhnya ke semua pria hidung belang. Harga tubuhnya yang hina dina itu tidak akan sanggup membayar cincin itu." Katanya sinis mengejek. Melihat May dan Rangga bergantian.
"Rachel....!" sentak Rangga geram dengan penghinaan itu. Darahnya mulai panas."Kau sudah sangat keterlaluan, Jaga bicaramu." menatap tajam pada Rachel.
Rachel semakin geram mendengar pembelaan Rangga pada May, calon suaminya ini malah membela May dan membentak dirinya di depan umum. Hal itu semakin membuatnya benci pada May dan ingin terus mempermalukannya.
Sementara May, seketika darahnya bergejolak panas menjalar hingga ke ubun ubun mendengar hinaan itu. Wanita ini sudah sangat keterlaluan. Tapi May berusaha tetap tenang. Tidak ingin membuat keributan yang hanya akan membuat malu.
Rachel mendesis kesal melihat May hanya diam dan tenang dengan penghinaannya. Dia hendak bicara tapi dengan cepat Rangga membungkam mulutnya.
"Cukup Rachel. Kamu sudah sangat keterlaluan merendahkan May, jangan bicara apapun lagi." gertak Rangga geram sebelum wanita itu mengeluarkan kata-kata yang akan menyakiti May.
"Asistenku aku segera menyelesaikan kerugian yang terjadi." katanya melihat pada manager. Lalu menarik lengan Rachel untuk pergi dari tempat ini.
Begitu melewati May, Rachel melepas tangan Rangga dengan kuat hingga terlepas.
"Keberadaannya di sini pasti ingin maling seperti kemarin. Jadi kalian yang berada di sini harus waspada!" lanjutnya tertawa sinis. Sontak beberapa pengunjung yang melihat perdebatan mereka sejak tadi kaget mendengar ucapannya.
"Cukup....!" sentak May keras. Dia membalikkan tubuhnya menghadap pada Rachel. Lalu melangkah mendekati wanita itu yang masih tersenyum mengejeknya. May sudah tidak tahan lagi dan muak dengan hinaan dan tuduhan buruk yang terus di lontarkan. Dia menatap Rachel dengan kemarahan teramat sangat.
"Anda terlalu sombong buk. Sudah cukup anda menghina dan merendahkan ku terus menerus." katanya dengan penuh kebencian. Di mengeluarkan dompet mini dari tas dan mengambil kartu kredit tanpa melihat. Dia ingin mengambil kartu kredit yang di berikan Rafa. Selama ini tersimpan dan tidak pernah digunakan sama sekali. Tapi dia salah ambil, yang di ambilnya malah kartu kredit yang di beri Rangga saat di Amerika lalu dan lupa di kembalikan.
Lalu dia melihat manager.
"Aku akan tanggung jawab dengan mengganti kerugian cincin yang tanpa sengaja ku rusak tadi. Sekalian berikan cincin pernikahan yang baru untuk ibu dan bapak ini. Pembayaran semuanya gesek pada kartu ini." katanya kemudian.
Sang manager menerima kartu kredit itu. Dia kaget melihat kartu kredit tanpa limit itu. Dengan segera dia menyuruh pelayan menyiapkan cincin pernikahan yang baru untuk Rachel dan Rangga.
Sembari menunggu manager mempersiapkan semuanya, ketiganya saling menatap satu sama lain. Rangga tak berpaling sama sekali dari May. Sementara Rachel tidak tenang di tempatnya. Dia memperhatikan manager yang sedang sibuk. Sesekali juga dia melihat pada May.
Beberapa menit kemudian administrasi pembayaran selesai di lakukan setelah manager menggesek kartu kredit pada mesin EDC, setelah May menyebutkan kode PIN dari kartu kredit. Kebetulan kartu kredit yang di beri Rafa dan kartu kredit yang di beri Rangga menggunakan kode yang sama.
May mendekati Rachel, lalu menaruh kotak perhiasan di tangan Rachel."Ambil perhiasan ini. Dan ingat kata kata ku, jangan suka menghina dan merendahkan orang lain seenakmu." katanya sambil tersenyum sinis.
Sekilas dia melihat pada Rangga, lalu melenggang pergi keluar dari toko.
Rachel tercengang, terdiam berdiri mematung dengan mulut menganga di tempat. Dia tidak menyangka May memiliki kartu kredit dengan limit tanpa batas dan mampu membayar dua paket cincin pernikahan yang harganya 10 M? Rachel masih tidak percaya dengan apa yang terjadi barusan. Kesombongannya luntur seketika. Dia merasa sangat terhina di hadapan orang orang yang saat ini menatapnya dengan sinis dan mencemooh, karena menuduh, menghina dan mempermalukan May.
"Sialan, siapa gadis itu?" batinnya geram. Merasa tertantang.
Sementara Rangga tersenyum menatap kepergian May.
"Akhirnya dia menggunakan kartu kredit yang ku berikan!" batinnya senang. Setelah semenit yang lalu melihat ada notifikasi pesan yang masuk dari bank. Tentang pemberitahuan uang keluar dari kartu kreditnya yang ada pada May.
Dengan membawa sejuta kekesalan dan juga rasa malu, Rachel bergegas keluar dari toko itu dengan buru buru. Rangga mengikuti dari belakang dengan santai.
Dalam perjalanan pulang, Rachel mendapat pesan yang di kirim direktur keuangan kantor pusat R².
"Apa? Tidak mungkin." batinnya tercengang setelah membaca pesan itu.
Sontak dia menoleh pada Rangga yang tampak santai mengemudi.
...Bersambung....
Dukung author ya, tinggalkan jejak dukungan. Terimakasih 🙏😘
__ADS_1