Rangga dan Rara (Mencintai Anak Mantan)

Rangga dan Rara (Mencintai Anak Mantan)
32. Tidur Bersama


__ADS_3

...Happy Reading Guys, Jangan lupa dukungannya yooo......


20 menit berlalu.


Rangga masuk dari pintu kamar sebelah karena Rachel meminta tidur di kamarnya yang tadi, bukan di kamar May. Seperti yang telah Rangga katakan, ruang ini berkesinambungan dengan kamar suite sebelah. Jadi dia masuk lewat kamar sebelah. Dia mendapati May sudah tertidur. Dengan posisi memeluk perutnya.


May sangat lapar, di tambah lelah capek menangis yang mengurus air mata tenaga dan pikiran karena ketakutan tadi membuatnya kembali tertidur.


"Kamu pasti sangat lapar!" katanya iba melihat kedua tangan May memeluk perut. Tidur meringkuk."Maaf membuat mu mengalami kejadian buruk hingga kelaparan!"


Perlahan Rangga mengangkat tubuh May untuk di pindahkan ke kamar. Dalam perjalanan May terbangun karena merasakan ada pergerakan. Dia kaget setelah sadar berada dalam gendongan Rangga.


"Om....?"


Rangga segera melihatnya begitu mendengar suaranya.


"Maaf membuat mu terbangun!"


"Aku lapar!" kata May lemah seraya mengusap perut.


"Kamu akan makan! Om sudah siapkan makanan untuk mu!" kata Rangga terus berjalan. Mereka tiba di kamar May yang tadi.


Rangga membawanya ke ruang makan dan mendudukkan di kursi makan. Sudah tersedia beberapa menu kesukaan May.


May langsung bersemangat menatap makanan itu, yang merupakan makanan kesukaannya. Ayam goreng mentega, sate sapi dan SOP iga sapi. Wanginya yang harum dan hangat semakin menambah rasa lapar May.


Dia menoleh pada Rangga yang duduk di sebelahnya."Ini semua makanan favorit ku!" katanya tersenyum. Dia hendak mengambil paha ayam, tapi belum sempat menyentuh makanan itu, tangannya di tahan Rangga. May melihat kepadanya." Ihh Om.....aku mau makan!" katanya cemberut.


Rangga mengambil cairan antiseptik, lalu menyemprotkan ke tangan May biar tangan itu bersih dan steril. Karena May tidak mencuci tangan, bisa jadi tangan itu Kotor dan berkuman. May menurut dan diam. Dia tersenyum dengan apa yang lakukan."Terimakasih!" katanya.


"Makanlah!" kata Rangga.


May mengangguk sambil menggosok ke dua tangannya. Dia tidak sabar lagi untuk menyantap makanan yang sangat menggugah selera. Dia segera mengambil piring dan mengisinya penuh. Untuk selanjutnya May makan dengan lahap setelah berdoa.


"Enyak.....enyak....enyak.....!" ucapnya di sela mengunyah. Menjilat bibirnya sendiri. Dia makan dengan terburu-buru dan tidak sabaran, membuat makanan belepotan di bibir dan area mulutnya. Rangga membantu melap dan meminumkan air. Dan May mengatakan terimakasih.


"Pelan pelan, nanti tersedak. Ini semua untukmu, gak akan ada yang rebut dan ngambil!" kata Rangga melihatnya terburu buru seperti sedang orang yang berebut makanan.


May tertawa kecil dengan mulut penuh makanan.


"Om gak makan? Ini enak lho! Cobain!" May mengambil makanan dengan tangan lalu menyodorkan di depan mulut Rangga.


"Buka mulut Om.....Aaaaaaaa!"


Mau tidak mau Rangga membuka mulut dan menerima suapan yang sudah di depan mulutnya. Lalu mengunyah pelan. Sejujurnya dia juga belum makan malam.


"Gimana Om? Enak bukan?" tanya May.


Rangga mengangguk.


"Makanan Indonesia memang enak Om!" kata May dengan semangat karena sudah kuat, tubuhnya sudah terisi makanan, susu dan air.


Dia kembali menyuap Rangga dan Rangga seperti anak kecil yang patuh menerima suapan demi suapan dari tangan mungil May.


"Di sini ada nggak tempat untuk jajanan kuliner Indonesia?" tanya May, lalu memasukkan makanan ke mulutnya. Terus menyuapi Rangga.


"Ada! Kamu mau ke sana?" tanya Rangga sambil mengunyah. Dia melihat rambut panjang May yang berantakan tidak terikat. Rambut itu berantakan di pipi May. Dia segera mengaturnya dan menaruh di belakang.


May mengangguk cepat." Mau Om, aku mau banget." kata May antusias.


"Besok malam kita ke sana!" kata Rangga menatap wajahnya. Dia senang melihat wajah ini kembali ceria dan bahagia, setelah apa yang terjadi tadi.


"Benar Om?" May langsung tersenyum sumringah.


Rangga mengangguk.


"Aaah.... Om terimakasih!" seru May gembira, reflek bangkit dan memeluk Rangga. Tanpa sadar tangannya yang kotor mengenai kaus Rangga.


"Sudah, tangan mu kotor tuh!"


"Oh iya....???" May kaget, sadar dan segera menarik diri."Maaf Om, aku terlalu senang!"


Katanya cengengesan. Dia berlari ke wastafel dan mencuci tangan. Lalu balik lagi membersihkan kaus Rangga dengan tisu.


"Tidak perlu, Om akan ganti pakaian. Kamu lanjutkan makanya!" kata Rangga. Dia segera bangkit. Hendak melangkah tapi terhenti dengan panggilan May.


"Tunggu Om!"


May mengambil makanan yang tersisa sedikit di piring, lalu di masukan ke mulutnya. Kemudian mengambil lagi sisa terakhir."Makanan terakhir! Buka mulutnya! Aaaaa....." di suapi ke mulut Rangga. Lagi lagi Rangga tak bisa menolak. Dia segera membuka mulut menerima makanan itu sambil menatap. Terus menguyah tanpa berpaling dari wajah yang juga sedang menatapnya tersenyum sambil mengunyah makanan.


"Om gak jijik kan aku suapi? Om jangan khawatir, tanganku bersih kok, kan tadi udah Om kasih cairan antiseptik. Aku juga gak punya penyakit mulut, lidahku bersih kok! Lihat nih, Aaaaaaaa!" May menjulurkan lidahnya di perlihatkan pada Rangga, terus membuka mulutnya lebar-lebar. Rangga melihat lidah dan rongga mulut itu berwarna merah muda, yang menandakan bersih dan sehat. Juga gigi May yang putih, berjejer rapi tak berlubang. Sebenarnya dia tidak berpikir sampai ke situ. Tapi ternyata May memikirkan hal itu.


"Aku sering menyuapi papa dan mama ku juga kakek dan nenek pakai tangan langsung. Mereka juga sering melakukan itu padaku meski aku udah gede begini. Menyuapi Om mengingatkanku pada mereka!" kata May teringat pada orang orang yang di sayangnya itu. Sungguh dia rindu pada mereka semua.


Rangga menatapnya, sembari memikirkan sepertinya May merindukan suapan tangan orang tuanya. Dia menyemprotkan cairan antiseptik ke tangannya. Lalu mengambil sedikit nasi dan lauk ke piring. Terus di campur dengan menggunakan tangan kanan. Kemudian di ambil dan di berikan pada May.


"Buka mulut mu....!"


May kaget, dia berpikir Rangga mau makan lagi. Tapi kemudian dia mengerti maksud Rangga menyuapinya. May tersenyum terharu, dia segera membuka mulutnya dan menerima suapan itu. Dia mengunyah sambil menatap Rangga dengan rasa haru. Matanya sampai berkaca."Terimakasih Om, aku dapat merasakan suapan papa dan kakekku lagi!" dia memeluk Rangga beberapa detik, lalu menarik diri."Terimakasih sudah menyayangi ku! Aku juga menyayangi Om," katanya haru. Lalu mendekatkan wajahnya dan mengecup kening Rangga.


Rangga terkejut mata bulat dengan apa yang terjadi barusan.


"Aku senang banget dan sangat bersyukur memiliki teman sebaik Om!" kata May lagi.


Rangga masih terdiam dan terus menatap.


May bersendawa. Dia tersenyum malu.


"Aku kenyang banget." katanya mengusap perutnya yang mengembang."Terimakasih ya makanannya!" ucapnya senang.


Rangga menanggapi dengan anggukan. Lalu segera berbalik dan melangkah ke ruang ganti dengan cepat. Karena saat ini hati dan jantungnya tidak karuan. Meski dia tahu kecupan May hanya sebagai kecupan ungkapan rasa sayang pada orang tua.


"Aku merasakan keberadaan mu di sini. Tingkahnya sama seperti dirimu, Khanza Ghaniyah!" gumam Rangga dalam langkahnya, teringat pada Khanza. Tingkah Khanza yang sama persis seperti May. Suka menyuapinya saat mereka makan di kantin sekolah, terkadang mengecup keningnya sebaik bentuk rasa terimakasih, Selalu mengingatkan dia untuk segera kembali ke rumah dan tidak kelayapan lagi. Hati Rangga berubah sedih teringat kembali Wanita yang membuatnya jatuh cinta dan membuatnya merasakan cinta pertama kali."Bagaimana kabarmu, Rai Rara?" ucapnya lirih.


Masih di kamar hotel R².


May keluar dari kamar mandi. Tubuhnya yang gerah dan berkeringat kini kembali segar dan wangi.


May berjalan menuju balkon luar di mana Rangga sedang duduk sambil menerima telepon, dengan tatapan mata menatap layar tablet yang di pegang oleh tangan kanannya.


"Om!" panggil May.


Rangga segera berbalik mendengar suara panggilan. Dia menatap May yang terlihat fresh dengan rambut panjangnya yang agak basah. Memakai piyama pendek, sangat cocok di tubuhnya. Pakaian tidur yang di pesannya lewat manager hotel saat mengantar makanan. Tidak ada yang bisa dia percayai selain pria yang berumur hampir setengah abad itu. Dia tidak bisa percaya pada pegawai hotel, setelah kedatangan Rachel yang tiba-tiba tadi. Dapat di pastikan, ada di antara mereka yang merupakan orangnya Rachel yang di bayar untuk mengawasi dirinya.


May mendekati Rangga.


Rangga bergerak cepat melangkah kepadanya."Nanti aku telepon lagi!" katanya pada orang di sebrang, yang merupakan sekertaris pribadinya yang di tugaskan menangani perusahaannya yang berada di Australia. Dia mematikan telepon lalu meraih tangan May, di tariknya masuk kedalam.


"Di luar dingin, kita ke dalam saja!" katanya.


Padahal yang sebenarnya dia tidak ingin May di lihat oleh Rachel. Kali saja wanita itu belum tidur dan masih mengawasinya. Karena balkon luar saling berkesinambungan.


"Kenapa belum tidur? Ini sudah larut malam! Sebaiknya kau istirahat." kata Rangga.


"Aku belum ngantuk! Oh ya, terimakasih piyamanya! Aku suka, bahannya halus, sangat nyaman dan pas di tubuh ku!" ucap May tersenyum seraya memperlihatkan piyama di tubuhnya.


"Sekarang pergilah tidur! Ini sudah larut!" kata Rangga.


Lalu menuju sofa dan duduk. Memeriksa kembali file laporan kerja kantor perusahaan pusat R² di Australia, yang di kirim sekretarisnya tadi.


Bukannya pergi tidur, May mendekat dan ikut duduk di sebelahnya.


Rangga menoleh padanya."Ngapain ke sini? Om nyuruh kamu tidur!"


"Belum ngantuk!" kata May tak beranjak.


"Ya di paksa! Pergi sana, ke kamar!" kata Rangga mengusir dengan tatapan tajam.

__ADS_1


"Gak bisa. Mata segar dan terbuka begini, apalagi baru mandi. Nanti kalau sudah ngantuk, aku akan tidur!" May malah mengatur posisi duduk sambil senyum senyum.


Rangga menarik nafas dan membuangnya kasar. Gadis ini, keras kepala dan suka membangkang sama seperti, Khanza! Lagi lagi dia teringat wanita itu!


Rangga mengusap kasar wajahnya, lalu menggeleng kan kepala menghilangkan bayangan Khanza. Setelah itu dia beralih ke layar gadgetnya. Begitu dosanya dia membayangkan istri orang, pikirnya.


May menggeser posisi duduknya lebih dekat pada Rangga."Om lagi ngerjain apa?" melihat layar tablet."Om gak capek kerja terus?" tanyanya lagi.


Rangga tetap diam, karena dia sedang fokus memikirkan pekerjaan di depannya. Tapi dia tetap mendengar pertanyaan May. Sejujurnya dia sangat mengantuk. Tapi pekerjaan ini menuntutnya untuk segera menyelesaikannya.


"Sebaiknya Om istirahat! Lihat tuh mata Om merah dan berair. Itu tandanya Om mengantuk!" kata May melihat mata Rangga. Melihat Rangga bekerja sampai larut begini, mengingatkannya pada pada Cio, yang sering bekerja hingga larut malam.


Rangga tetap diam dan masih fokus dengan apa yang dia lakukan. Sekretaris kantor pusat meminta dia untuk membuat rapat jarak jauh secara virtual.


"Seharusnya Bu Clara dan bu Rachel ikut andil dalam pekerjaan ini. Kenapa malah Om yang mengerjakan sendiri?" tanya May lagi. Di kiranya Rangga lagi sibuk dengan pekerjaan perusahaan yang di sini.


"Om, Om, Om..... dengar gak aku bicara?!" gerutu May kesal karena Rangga terus mengacuhkannya. Dia menyenggol lengan Rangga sedikit kuat.


Rangga dongkol."Diamlah, kau membuatku kehilangan konsentrasi." sentaknya tiba tiba.


May terkejut."Ihhh Om, ngagetin aja!"Kata May kesal."Aku kan cuma bertanya dan ngingetin Om untuk istirahat! Kenapa teriak teriak begitu?" katanya emosi karena sentakan itu membuat jantungnya kaget. Dia menatap tajam Rangga.


"Huh, nyebelin. Lebih baik tidur saja!" gerutunya kesal, Lalu segera bangkit dan pergi ke kamar.


Rangga tersenyum tersenyum menatapi kepergiannya.


30 menit berlalu, Rangga menghentikan pekerjaannya, karena dia tidak tahan lagi menahan rasa kantuk. Dia menguap berulang kali, matanya terasa perih dan berair. Dia bangkit dan melangkah ke kamar untuk memeriksa May.


Tapi begitu tiba di kamar, ranjang kosong, tak ada May di sana. Dia memeriksa kamar mandi, mungkin gadis itu di dalam. Tapi kamar mandinya terbuka. Ke balkon kamar juga kosong.


"May.... May!" panggilnya berulang. Tak ada jawaban. Rangga mulai panik."Kemana dia?"


Rasa kantuknya hilang seketika.


Rangga kembali keluar, berlari ke dapur, ruang tengah, ruang tamu, ruang kamar, lantai atas, kolam, ruang gym dan setiap sudut ruang kamar ini tapi tak menemukan gadis itu.


"Ya Tuhan, kemana dia," ucapnya semakin panik dan khawatir.


"Atau Jangan jangan dia pergi secara diam-diam karena kesal padaku tadi?!" batinnya.


"Tapi tidak mungkin, pakaiannya masih ada dia ruang ganti. Tidak mungkin dia keluar memakai baju tidur. Dia juga tidak akan berani pulang larut malam begini." Berbagai macam asumsi buruk berkecamuk di kepalanya.


"Jangan jangan, Rachel melihatnya, terus membawanya dan melakukan hal yang buruk." pikirnya tiba tiba teringat Rachel. Dia segera berlari ke kamar Rachel, membuka pintu yang terkunci dengan kekuasaannya sebagai pemilik. Perlahan dia masuk kedalam kamar karena dua hati menyelinap masuk diam diam seperti ini. Di lihatnya Rachel sedang tidur pulas. Rangga memeriksa seluruh ruang atas dan bawah. Tapi tak menemukan sosok May.


Dia segera keluar.


"May kamu di mana?" berjalan kembali berlari ke kamar sebelah. Kecemasan dan ketakutan seketika menyeruak di hatinya.


"May.....!" ucapnya lirih.


Dia mengambil ponsel, dengan cepat menghubungi Manager.


"Ada apa tuan?"


"May hilang, dia tidak ada di kamar. Periksa semua CCTV. Mungkin saja dia keluar dan pulang secara diam-diam. Segera hubungi aku jika kau melihatnya!" katanya buru buru.


Dia menelpon kontak May, tapi tidak aktif. Rangga mengeram keras. Ketakutannya semakin menjadi. Dia mengusap rambutnya kasar." May.... kamu pergi kemana? Kamu pasti marah sama aku! May....!" ucapnya lirih, matanya basah. Dia mengusap wajahnya kasar. Rasa bersalah dan menyesal karena telah mendiami gadis itu hingga membuat May kesal."Ya tuhan, kemana dia!" khawatir telah terjadi sesuatu yang buruk pada gadis itu.


"Om.....!" terdengar panggilan dari arah belakangnya.


Rangga terkejut. Dia segera berbalik, melihat May berdiri menatap padanya dengan bingung."May..!" Dengan cepat dia mendekat dan memeluk gadis itu. Dadanya bergemuruh kuat menahan tangis. Betapa leganya dia melihat gadis ini baik baik saja."Syukurlah kamu baik baik saja.....!"


Wajah May mengernyit"Om kenapa?" tanyanya bingung. Dengan sikap Rangga yang memeluknya sedih di lihat dari mata Rangga yang basah. Juga keadaan Rangga yang kacau, panik dan ketakutan.


Perlahan Rangga melepas pelukannya, tapi terlebih dahulu menekan kedua matanya yang basah.


Dia menatap May "Kamu dari mana? Om tidak melihat mu di tempat tidur. Om cari kamu ke setiap sudut dan tempat kamar ini tapi tidak menemukanku!" katanya sedikit emosi.


May mulai mengerti dengan kekhawatiran dan kepanikan pria ini."Aku mencari ponselku tapi tidak ketemu. Aku ingat saat Om bawa ke ruang tadi. Aku berpikir mungkin saja ponselku jatuh di ruang itu. Jadi aku ke sana mencarinya. Dan ternyata tertinggal di sana!" Kata May seraya memperlihatkan ponselnya di tangan.


Rangga melihat benda itu, yang sudah mati karena kehabisan daya. Pantas saja saat di hubungi tadi tidak aktif.


"Maaf....telah membuat Om khawatir!" ucap May pelan, takut takut melihat kemarahan di wajah Rangga.


Rangga memijat keningnya, terus menarik nafas dalam-dalam dan membuangnya kasar.


"Gak apa apa, Om hanya mengira kamu pergi diam-diam tanpa memberi tahu karena kesal tadi! Sekarang kamu tidur. Ponselnya biar Om yang Cas!" katanya menatap May. Lalu mengambil ponsel gadis itu."Pergilah tidur!"


May menatap wajahnya. Masih terlihat ketakutan, kepanikan dan juga kesedihan tergambar di sana. May tidak menyangka pria ini begitu mengkhawatirkannya.


"Maafkan aku Om, Lain kali aku tidak akan begitu lagi!" katanya merasa bersalah. Karena membuat Rangga jadi seperti ini.


Rangga kembali menatapnya, lalu perlahan menariknya ke dalam pelukannya."Om Hanya takut terjadi sesuatu yang buruk padamu!" katanya lirih seraya mengusap lembut rambut May. Karena sempat berpikir telah terjadi sesuatu yang buruk pada May.


May terharu, dia membalas pelukan Rangga. Sungguh dia merasa nyaman dan terlindungi berada dalam pelukan ini. Ternyata Rangga benar benar tulus dan menyayanginya.


"Aku baik baik saja, Om jangan sedih dan khawatir lagi! Aku jadi ikutan sedih dan merasa bersalah." Katanya seraya mempererat pelukannya.


Rangga menanggapi dengan anggukan. Dia melepas pelukannya, Menatap May sambil tersenyum karena tidak ingin gadis itu ikutan baper dengan suasana hatinya."Om sudah tenang! Sekarang kamu tidur!" membawa gadis itu keranjang."Naiklah....!"


May segera naik ke tempat tidur, dan berbaring.


Rangga segera menyelimutinya sampai ke dada."Selamat tidur!" ucapnya. Dia berbalik dan hendak melangkah, tapi May menahan tangannya. Rangga kembali berbalik.


"Ada apa? Kau perlu sesuatu?!" tanyanya.


"Aku takut tidur sendirian setelah kejadian yang ku alami tadi. Om tidur di sini saja temani aku! Aku takut jika mimpi buruk." kata May.


Wajah Rangga mengernyit." Tidur di sini?" menunjuk ranjang."Berdua sama kamu?" dia tidak menyangka may mengajaknya tidur bersama.


May mengangguk."Aku percaya sama Om!" kata May.


Rangga hendak menolak, tapi May terus memaksa. Dia takut tidak akan bisa menebak apa yang akan terjadi jika tidur bersama. Tapi dia tidak ingin May kesal dan marah lagi padanya terus ngambek dan menghilang seperti tadi.


"Om jangan khawatir, aku kasih pembatas ini untuk kita! Baik Om dan aku tidak boleh melewatinya." kata May menunjuk tempat kosong di tengah mereka.


"Baik!" kata Rangga. Dia segera berbaring di samping May, terus menyelimuti tubuhnya.


"Aku sudah menuruti keinginan mu, pejamkan matamu dan tidurlah. Aku juga mau tidur!" kata Rangga.


May mengangguk tersenyum."Selamat tidur Om!" lalu memejamkan mata.


Rangga menatapnya sebentar. Dua hal yang benar-benar tidak di sangka, dia akan tidur satu ranjang dengan wanita yang bukan muhrimnya. Dan yang kedua dia tidak menyangka May berani mengajaknya tidur bersama tanpa merasa takut. Artinya gadis ini sangat percaya padanya. Apa dia selalu seperti ini pada pria yang dia percayai? Dan sudah berapa orang pria yang di ajak tidur bersama seperti ini? Apakah termasuk orang yang di carinya di negara ini? batinnya.


Perlahan dia memejamkan mata setelah beberapa saat menatap May.


5 menit berlalu.


"Om udah tidur?" terdengar suara May. Dia melihat pada Rangga."Om....!" panggil nya pelan.


"Ada apa?" tanya Rangga dengan mata terpejam. Sebenarnya dia mulai tertidur tapi kaget dengan panggilan itu. Dia mengira gadis ini sudah tertidur, tapi ternyata tidak.


May menghadap miring ke Rangga."Aku mau menanyakan sesuatu!" katanya.


"Nanti saja saat pagi! Tidurlah!" kata Rangga sambil mengatur kembali posisi tidur tubuhnya.


May terdiam tak bicara lagi. Mungkin besok saja dia menanyakan sesuatu yang sangat ingin di ketahui. Tak ingin mengganggu tidur Rangga. Pria ini sangat capek dan mengantuk.


May menarik nafas dalam-dalam dan membuangnya pelan. Teringat saat kejadian tadi, saat dia di sembunyikan di ruang tadi, Dan ketinggalan ponsel di sana. Terus saat mencari ponsel tadi, dia masuk ke kamar sebelah karena rasa penasaran. Tapi begitu tiba di ruang kamar, dia terkejut melihat Rachel sedang tidur di sana. May mulai berpikir, apa Rangga menyembunyikan di ruang itu karena Rachel?


"Kenapa Om menyembunyikan aku dari ibu Rachel? apa Om Punya hubungan pribadi dengan ibu Rachel? Apa mereka pasangan kekasih?" batinnya. Sambil menatap wajah Rangga yang terpejam.


Rangga tiba tiba membuka mata dan melihat ke arahnya. Dia tahu May belum tidur dan memperhatikannya.


May kaget dan buru buru memejamkan mata.


Rangga menghadap miring ke arahnya.

__ADS_1


"Apa yang ingin kau tanyakan?" tanyanya. Dia tahu May sedang menatapnya. Mungkin saja gadis ini ingin menanyakan sesuatu yang penting.


May membuka mata perlahan, ketahuan pura pura tidur. Dia kembali menghadap miring pada Rangga. Keduanya saling menatap di batasi ruang kosong 80 cm.


"Itu Om, aku ingin tanya.....kenapa Om menyembunyikan aku di ruang yang tadi?" tanya May gugup.


Rangga mengernyit. Kenapa gadis ini menanyakan hal itu?


"Om menyembunyikan aku dari siapa?" tanya May lagi.


Rangga masih terus diam dan menatapnya.


"Apa dari ibu Rachel?" sambung May pelan.


Wajah Rangga kembali mengernyit. Dia tahu dari mana? batinnya.


"Saat aku ke ruang tadi, aku penasaran dengan kamar yang di sebelah! Aku bingung kenapa Om tidak menginap di kamar itu dan malah tidur di sini, bersama ku!" kata May, berhenti sejenak menatap mata Rangga."Aku ke kamar itu dan tidak sengaja melihat bu Rachel di sana!" lanjutnya.


"Apa Om mengurung ku karena tidak ingin di lihat bu Rachel? Dan apa karena dia ada di sana Om memilih tidur di kamar ini?" rentetan pertanyaan keluar dari mulutnya.


Rangga mengalihkan pandangannya ke arah langit-langit sambil menghela nafas.


May mendekat, mengisi ruang kosong yang membatasi jarak mereka.


Pergerakannya membuat Rangga kaget. Dia hendak bangun, tapi dengan cepat May memegang Wajahnya, menahan kaki Rangga dengan kakinya.


"Jangan menghindari ku. Aku ingin tahu!" katanya segera."Omm....!" panggilnya pelan meminta Rangga untuk menjawab.


Rangga memalingkan wajah kembali menatap May."Kau tahu Rachel tidak menyukai mu!" katanya.


"Iya aku tahu, tapi bukan berarti di melarang ku tidur di sini kan? Dan ini juga bukan di kantor! Terus kenapa aku harus sembunyi darinya?" kata May.


"Apa Om dan dia punya hubungan pribadi?" lanjut bertanya.


Rangga tak menjawab.


"Kok diam? jawab dong Om!"


Rangga tetap diam, hanya bola matanya yang bergerak melihat wajah May.


May membuat nafas berat karena di diami terus."Apa begitu sulit ya menjawab pertanyaan ku?" keluhnya, mulai kesal.


Rangga melihat wajah May yang cemberut.


"Apa aku harus membayar suara Om?" kata May lagi semakin kesal. Susah banget ngajak Rangga bicara. Terlalu dingin dan cuek.


"Om nyebelin banget tahu nggak!" cibirnya.


"Aku tidak mencintainya! Sudahlah, sebaiknya kita tidur lagi!" kata Rangga.


"Tidak mencintainya? Tapi aku lihat hubungan kalian sangat dekat. Aku juga melihat dia menyukai Om! Aku dengar cerita cerita para karyawan di kantor, kalau kalian pasangan kekasih dan sudah lama menjalin hubungan. Dan oleh karena itu Om mempercayakan perusahaan R² kepadanya." kata May.


"Dekat bukan berarti cinta kan?" Rangga menatapnya.


"Terus kalian dekat karena apa?"


"Yaa karena pekerjaan. Kau tahu posisi nya di perusahaan adalah wakil direktur. Dia juga orang kepercayaan ku yang menangani perusahaan!" jawab Rangga.


"Terus cerita yang aku dengar dari karyawan mengenai hubungan kalian?" tanya May.


Rangga membuang nafas kasar. Gadis ini sangat ingin tahu mengenai hubungannya dengan Rachel.


"May, berhentilah bertanya. Ini buka sesuatu yang penting untuk di tanyakan! Sebaiknya tidur! Om ngantuk berat!" memejamkan mata.


"Tapi sangat penting bagiku! Hanya karena ibu Rachel tidak menyukai ku, kenapa Om menyembunyikan aku darinya? Itu artinya Om dan dia memang punya hubungan. Dan Om menyembunyikan aku di ruang itu karena tidak ingin di lihat olehnya, karena akan membuat dia cemburu, sakit hati dan marah pada kita berdua! Benar kan?" May terus bicara karena sangat ingin tahu. Rangga tak menjawab. Dan itu membuat May kembali kesal.


"Ih.... Om, Jangan tidur, jawab dulu pertanyaan ku!" tangan May bergerak membuka kedua mata Rangga.


"May, cukup......!" kata Rangga terkejut dengan apa yang dia lakukan. Dia segera membuka mata dan melihat wajah yang tampak kesal sangat dekat di wajahnya. Ini membuat Rangga gemas. Antara jengkel dan suka.


"Makanya jawab saja! Aku hanya gak ingin menjadi penyebab masalah di antara Om dan dia jika kalian memang benar punya hubungan." kata May emosi.


"Sudah ku katakan aku tidak mencintainya." sentak Rangga mulai kesal.


"Tapi kalian pasangan kekasih kan?!" kata May bersikeras tak mau berhenti bertanya.


Ya ampun anak ini, batin Rangga semakin jengkel."Sudah Jangan bertanya lagi, sebaiknya tidur. Aku sangat mengantuk!" sentak Rangga cukup keras.


May kaget."Aku hanya bertanya. Gak usah teriak gitu!" kata May ikutan kesal."Sana menjauh dariku, sudah di bilang jangan dekat dekat dan melewati batas!" katanya seraya mendorong Rangga, padahal dia sendiri yang mendekati Rangga tadi. Dan pada akhirnya dia beringsut mundur menjauhi Rangga memberi jarak di antara mereka setelah sadar."Menyebalkan, apa susahnya jujur saja biling 'iya, aku dan dia punya hubungan pribadi sebagai pasangan kekasih!" katanya ketus mencibir melihat tajam."Ingat, jangan melewati batasan ini!" katanya menunjuk batasan di antara mereka, Lalu menutupkan selimut ke seluruh tubuh.


Rangga mengernyit, menatap sejenak dengan bingung kemudian tersenyum kecil."Dia sendiri yang mendekati ku, kenapa malah dia yang marah marah?" batinnya. Beberapa saat menatap May, dia segera memejamkan mata.


Beberapa saat May mulai tidur terlelap. Terdengar suara dengkuran halus dari mulutnya. Awalnya dia tidur dengan tenang, pada posisi tetap. Tapi lama-lama posisi tidurnya mulai berubah. Bergerak ke kiri, ke kanan. Dan akhirnya bergeser pada Rangga, memeluk pinggang Rangga, menaruh kakinya di atas kaki Rangga.


Rangga melepas tangan dan kakinya, berusaha menghindar dengan mundur, tapi May kembali memeluk pinggangnya dan menyelundupkan dirinya masuk ke tubuh Rangga.


Hal Ini membuat Rangga tidak nyaman, dia melepaskan pelukan tangan May dari pinggangnya, tapi May malah mempererat pelukannya di pinggang Rangga. Dia bahkan menaikan setengah badannya ke atas tubuh Rangga menjadikan dada Rangga sebagai bantal kepalanya.


Rangga semakin tak nyaman, setiap pergerakan yang May lakukan membuatnya bergidik hingga bagian bawah tubuhnya menegang. Rangga berusaha menahan nafas, menekan jantungnya yang berdegup kencang dan cepat. Mengontrol diri agar tidak menyentuh May.


Beberapa saat merasa May mulai tertidur, Rangga kembali melepas tangan May dan memindahkan kepala May ke bantal dengan pelan agar gadis ini tidak terbangun. May malah membuang bantal itu dan mendekati Rangga. Bahkan dia naik berbaring di atas tubuh Rangga. Alhasil tubuh bagian bawah dan atas mereka menempel tanpa celah. Hal ini membuat bagian bawah milik Rangga menegang sempurna.


Rangga semakin tersiksa. Berulang kali dia meneguk ludah. Dia tidak kuat lagi, dia segera membalas pelukan May, lalu menyelimuti tubuh mereka. Kemudian memejamkan mata, berusaha tidur dengan menahan gairahnya yang sangat menyiksa.


Suara alarm Subuh di ponsel Rangga membuat May terbangun dan bergerak. Dia merasakan tubuhnya hangat. Begitu hangatnya membuat dia sangat nyaman dan kembali memeluk bantal guling di sampingnya. Merasa malas dan enggan untuk bangun.


Semakin di peluk membuatnya merasakan aneh pada guling ini yang tidak empuk.


"Kok keras?" batinnya.


May membuka mata pelan pelan. Matanya terbuka lebar melihat Rangga yang di peluk.


"Om??" kaget dengan wajah mengernyit.


"Sudah bangun? Bagaimana tidurnya? Enak?" kata Rangga. Sementara dia begadang semalaman menahan hasratnya yang begitu menyiksa.


May mendongak ke atas. Melihat tatapan tajam Rangga. Sejenak mata mereka saling beradu.


"Kok Om bisa dekat dengan ku? Kan sudah ku bilang untuk menjaga batasan? kenapa Om ke sini dan tidur di dekat ku?" kata May.


"Bisa kamu lepaskan pelukanmu dan mundur ke tempat mu?"


Dahi May mengerut, bingung.


"Lihat posisimu! Aku atau kamu yang melanggar batasan?" kata Rangga menjawab kebingungan May."Lepaskan tangan dan kakimu dari tubuhku!" katanya lagi menatap tajam.


May terkejut. Dia terhenyak setelah sadar bahwa sebetulnya dia yang mendekati Rangga dan memeluk tubuh pria itu. Pipi May memerah. Refleks dia segera melepas tangan dan kakinya dari tubuh Rangga beringsut mundur.


"Maaf Om!" katanya terbata dan malu. Wajahnya semakin memerah.


Rangga menatapnya sejenak, lalu segera turun dari ranjang menuju lantai dua. Sementara May senyum malu malu di atas ranjang mengingat kelakuannya tadi."Semoga saja Om gak marah padaku."


May segera turun dari ranjang, menuju kamar mandi untuk bersih bersih. Setelah itu melaksanakan shalat subuh.


Sementara di kamar mandi lantai atas, Rangga mengguyur tubuhnya di bawah shower, sembari menenangkan miliknya yang masih aktif. Beberapa jam dia sangat tersiksa menahan gairahnya. Sangat tersiksa, tapi dia lebih tidak tega menganggu tidur May yang nyenyak. Akhirnya dia bertahan menahan diri untuk tidak menyentuh dan melakukan apa pun selain memeluk dan menyesap aroma wangi tubuh gadis itu.


Selesai shalat, May buru buru keatas mencari Rangga, niatnya mau meminta maaf, kali aja pria itu marah. Karena tadi saat dia meminta maaf, Rangga hanya diam dan menatapnya tajam terus turun dan pergi tanpa kata.


May mengetuk pintu, terus membukanya pelan pelan. Dia perlahan masuk kedalam. Menelusuri ruang ini dengan matanya. Dan gerakan matanya berhenti pada salah satu sudut kamar ini.


May tertegun melihat pemandangan indah di depannya. Dimana dia melihat Rangga tampak sedang melaksanakan shalat, dengan gerakan ruku. Menggunakan peci dan pakaian koko.


May tidak tahu kalau Rangga bergama Islam. Beberapa saat dia melihat pada Rangga, lalu segera keluar tidak ingin mengganggu. Nanti saja dia akan ke sini untuk meminta maaf.


"Jadi Om beragama Islam?" batinnya di sela langkah. May tersenyum kagum.


Bersambung.

__ADS_1


Empat hari gak up karena sibuk dengan orderan kuker, dan juga di sibukkan dengan acara syukuran ultah anak.


Beri dukungan ya.... bagi yang mampir. Dengan cara tinggalkan jejak, terimakasih.


__ADS_2