
...Happy Reading....
Waktu menunjukkan pukul 06.30 pagi.
Ruang kamar Rangga di bagian atas terdengar di ketuk. Lalu masuklah manager hotel dengan nampan berisi kopi.
"Selamat pagi tuan!" sapanya sopan. Lalu meletakkan kopi di atas meja.
"Selamat pagi," jawab Rangga seraya melilitkan dasi ke kerah.
"Saya ingin menyampaikan pesan dari Nona May."
"May?" wajah Rangga mengernyit. Gerakan tangan berhenti. Untuk Apa May menitip pesan.
Hadi memberikan sebuah kertas notebook. Rangga segera menerimanya lalu membuka.
"Om, aku minta maaf mengenai kejadian tadi. Aku tidak sadar dan tidak sengaja melakukannya. Tolong maafkan aku!" isi pesan May.
"Nona pergi 15 menit yang lalu!" kata Hadi kembali.
Rangga masih terus melihat tulisan itu.
"Kenapa dia pergi tanpa pamit dariku?" gumamnya pelan. Padahal dia tidak marah atas kejadian yang terjadi pada mereka berdua saat tidur. Dia hanya kesal karena May menyalahkannya.
"Tuan, Anda butuh sesuatu untuk sarapan pagi?" tanya Hadi.
Lamunan Rangga buyar"Tidak, aku akan sarapan di kantor! Pergilah ke kamar Rachel. Katakan padanya untuk bersiap ke kantor."
"Aku di sini sayang!" jawab Rachel yang baru saja masuk. Dia sudah mandi dan memakai pakaian kantor, terlihat begitu feminim dan cantik.
Rangga buru buru memasukkan kertas pesan May ke saku jas.
"Saya permisi tuan," pamit Hadi. Pria hampir paruh baya itu segera keluar setelah menyapa Rachel.
Rachel mendekati Rangga sambil tersenyum. Dia melingkar kan ke dua tangan di bahu Rangga, lalu beralih pada dasi Rangga yang belum terpasang seutuhnya.
"Siapa yang kalian bicarakan? Dan pesan apa yang dia titipkan?" tanya Rachel sambil menyimpul dasi. Saat masuk tadi, tanpa sengaja telinganya mendengar percakapan Rangga dan Hadi. Tapi dia tidak mendengar siapa nama orang yang mereka bicarakan.
"Bukan siapa-siapa!" kilah Rangga segera. "Bagaimana penawaran kerjasama kepada perusahaan X? Apa Clara sudah mengajukan proposal?" mengalihkan pembicaraan. Dan Rachel bisa menangkap hal itu."Kami sudah menghubungi sekretaris pribadinya. Dan dia akan menyampaikan maksud baik kita pada pimpinannya."
"Siapa pimpinannya?"
"Entahlah, itu perusahaan baru. Aku belum tahu siapa pemiliknya, karena dia belum pernah menunjukkan dirinya. Tapi yang ku dengar seorang wanita. Meski belum setahun berdiri, perusahaan itu sudah memiliki jaringan bisnis yang luas, partner kerja yang banyak."
"Lalu siapa yang mengendalikan perusahaan itu?" kata Rangga seraya memakai ikat pinggang.
"Untuk sementara, asisten pribadinya yang menanganinya!" kata Rachel.
"Sepertinya pemiliknya bukan orang sembarangan. Dia pasti sangat cerdas dan memiliki strategi pemasaran bisnis yang kuat! Kita sangat butuh dukungan dari beberapa mitra kerja seperti itu. Karena saat ini keuangan perusahaan sedang bermasalah. Jika kita tidak segera cepat menanganinya, bisa bisa perusahaan akan terpuruk dan bangkrut. Untuk itu kita perlu investor untuk menguatkan kembali perusahaan, terutama dari perusahaan X, guna menutupi masalah finansial perusahaan!" jelas Rachel kembali.
"Aku ingin bertemu dengan pimpinannya secepatnya. Cari cara untuk bisa bertemu dengannya!"
"Aku akan berusaha! Kamu tenang saja, jangan khawatir!" ucap Rachel menenangkan. Dan hal ini yang tidak bisa membuat Rangga lepas darinya. Karena kontribusinya yang sangat besar terhadap perusahaan. Rachel menggunakan senjata itu untuk membuat Rangga selalu dekat dan bergantung padanya.
"Sebaiknya kita pergi ke kantor sekarang!" kata Rangga, teringat pada May. Kenapa gadis itu pergi dan tidak pamit darinya.
Keduanya segera melangkah keluar dan menuju lift.
"Bagaimana tidurmu semalam?" tanya Rangga.
"Lebih nyenyak bila tak sendiri." kata Rachel dengan senyuman menyiratkan arti.
Rangga hanya mendengar dan terus melangkah, pura pura tidak mengerti makna tersirat dari perkataan itu.
__ADS_1
Dalam perjalanan ke kantor.
"Rad, aku ingin mengajakmu keluar malam ini. Kau tidak punya acara kan malam nanti?" kata Rachel.
"Kemana?" Rangga melihat kepadanya. Lalu kembali fokus ke depan.
"Aku ada undangan pernikahan dari teman semasa kuliah. Aku ingin kau mendampingiku!"
"Baiklah."
"Terimakasih sayang!" kata Rachel senang seraya menyentuh paha kiri Rangga. Dia tahu Rangga tidak akan menolaknya. Tapi sayangnya, kalau di ajak untuk hubungan ke arah yang lebih serius, Rangga selalu menghindar dengan berbagai alasan.
Tidak berapa lama mereka tiba di kantor.
Petugas keamanan segera membuka pintu mobil, lalu menyapa mereka dengan sopan. Begitu juga dengan pegawai resepsionis, menyambut ramah dan sopan kedua orang yang sangat penting di perusahaan ini.
Rangga dan Rachel segera menuju lift eksekutif, dan masuk.
Sampai di lantai atas mereka di sambut Clara.
"Selamat pagi pak Rangga, Bu Rachel." sapanya sopan.
"Pagi!" jawab keduanya hampir bersamaan.
Mereka melanjutkan langkah menuju ruang kerja Rangga.
"Apa agendaku hari ini?" tanya Rangga.
Clara mulai membaca agenda bosnya satu persatu.
"Kau undur pertemuan dengan Mr. Jack jam lima sore. Segera hubungi beliau. Karena malam nanti pak Rangga ada acara penting!" kata Rachel setelah mendengar agenda Rangga hingga sampai malam. Sementara mereka akan menghadiri undangan pernikahan nanti malam.
"Baik buk....!" kata Clara.
"Kau lagi melihat apa?" tanya Rachel melihat gelagat Rangga seperti sedang mencari sesuatu.
"Tidak ada!" kata Rangga tergagap, lalu segera melangkah menuju ruang kerja di ikuti kedua wanita bule itu.
Clara segera membuka pintu untuk mereka.
Mata Rangga kembali menelusuri ruang ini. Lagi lagi dia tidak menemukan sosok wanita yang sangat ingin di lihatnya.
"Mungkin dia sudah selesai membersihkan ruangan ku?!" batinnya. Dia segera duduk di kursi kerja.
"Sayang, aku ke ruang ku dulu!" kata Rachel.
Rangga mengangguk.
"Buatkan aku kopi!" kata Rangga pada Clara, karena tadi dia tidak sempat meminum kopi yang di buat Hadi, manager hotel.
Kedua wanita itu segera keluar. Rangga kembali memperhatikan ruangannya. Lalu mengambil kertas pesan May dari saku, kembali di baca. Dia tersenyum mengingat kejadian semalam dan tadi subuh. Menurutnya May seorang Gadis pemberani, tapi tidak nakal dan tahu menjaga diri serta batasan dengan pria. Semalam meski, mereka tidur bersama dengan tubuh yang rapat bahkan menyatu, tapi tak sedikitpun ada niat May untuk menggoda atau mencari perhatian darinya. Gadis itu benar-benar polos tanpa ada pikiran negatif untuk memikatnya dengan drama takut tidur sendiri.
Rangga menyalakan komputer. Beberapa saat berlalu, telinganya samar samar mendengar suara dari ruang rak buku. Dia segera bangkit dan menuju tempat itu karena merasa terusik. Sampai di sana dia melihat May sedang membersihkan buku sambil berdiri pada sebuah bangku. Seperti mendengarkan sesuatu lewat headset yang terpasang pada ke dua telinganya. Pantas saja May tidak mendengar kedatangan mereka tadi, karena telinganya tersumbat oleh benda itu.
Posisi May yang membelakangi membuat May tidak mengetahui keberadaannya di belakang.
Rangga tersenyum, mendekati pelan pelan. Berdiri tepat di belakang May, untuk menjaga jika gadis itu jatuh karena tengah asiknya bekerja sambil mendengarkan lagu RIP LOVE, dengan mulut komat kamit ikut bernyanyi dan juga di selingi gerakan tubuh. Tangan kanannya lincah membersihkan setiap buku. Rangga terus mengamati sambil berjaga untuk menangkap tubuh May jika jatuh, tapi gadis ini ternyata tetap waspada meski sedang bergerak gerak.
Beberapa saat kemudian, pekerjaan May selesai. May segera berbalik, hendak turun. Dia terkejut melihat Rangga di depannya. Kakinya batal di turunkan tapi tubuh bagian atasnya tidak seimbang dengan kaki sehingga jatuh mengarah pada Rangga. Rangga terkejut dengan gerakan cepat menahan tubuhnya. Bagian atas tubuh mereka saling menyentuh, termasuk wajah. Begitu juga dengan bibir mereka tanpa sengaja bersentuhan. Mata keduanya membulat sempurna ketika kedua benda kenyal itu saling menempel. Setelah sadar May segera meluruskan tubuhnya.
"Ciuman pertama ku!" kata May seraya menyentuh bibirnya.
Sementara Rangga yang masih termangu dengan apa yang terjadi barusan kembali terkejut mendengar perkataan May."Ciuman pertama?" batinnya dengan dahi mengerut.
__ADS_1
"Om, bikin kaget aja.... kenapa gak bilang kalau di belakang ku?" kata May kesal, masih menyentuh bibirnya. Menatap Rangga beberapa saat dengan cemberut, lalu segera turun dan melangkah hendak keluar. Tapi baru beberapa melangkah Rangga segera menahan lengannya.
"Kenapa kau pergi tanpa pamit dariku?" mengalihkan pembicaraan tak ingin mengungkit ciuman pertama. Tapi jujur dia masih tidak percaya dengan apa yang terjadi pada bibir mereka tadi.
Langkah May terhenti."Gak sempat, karena terburu-buru mau ke apartemen dan datang ke kantor. Aku juga tidak ingin keberadaan ku di ketahui ibu Rachel." kata May.
"Setidaknya kau kirim pesan atau hubungi aku! Kamu bikin aku khawatir lagi." kata Rangga.
May menatapnya, teringat kejadian semalam saat Rangga panik mencarinya."Maaf, aku tidak sempat berpikir ke situ." katanya kemudian.
"Kamu ini minta maaf terus tapi melakukannya lagi."
"Apa Om masih kesal padaku?" tanya May menatap lekat wajahnya.
Rangga membalas tatapannya dengan dingin
"Tidak," jawabnya datar, lalu melangkah menuju meja kerja, meninggalkan May.
May tersenyum, segera mengikutinya.
Rangga duduk dan memperhatikan layar komputer. Jari jarinya sibuk mengetik.
May berdiri bersandar di meja kerja."Sebenarnya tadi pagi setelah subuh, aku ke kamar Om untuk meminta maaf. Sekaligus mau pamit pulang. Tapi kudapatkan Om sedang shalat subuh," kata May. Rangga terus pada pekerjaan, hanya mendengar.
May menurunkan sedikit tubuhnya dan mendekatkan pada Rangga. Tersenyum menatap wajah tampan brewokan ini.
Merasa di perhatikan, Rangga segera melihat ke menoleh kepadanya dan mendapati wajah cantik yang semakin manis dengan senyuman itu. Keduanya saling bertatap mata dalam jarak dekat. Mata Rangga turun ke benda kenyal merah alami yang tampak basah. Benda yang tanpa sengaja mencium bibirnya tadi. Tanpa sadar Rangga menelan ludah.
"Ada apa?" tanya nya kemudian.
"Aku tidak menyangka ternyata Om beragama Islam." kata May masih dengan senyum yang masih mengembang."Aku senang sekali setelah tahu Om seorang muslim!"
May memegang wajahnya."Aku tidak akan takut lagi dekat dengan Om." sambungnya kembali."Om ku yang tampan tapi menyebalkan, aku menyukai mu, aku menyayangimu!" kata May mencubit kedua pipi Rangga dengan gemas, lalu menyentuhkan hidungnya dengan hidung Rangga, kemudian tertawa kecil. Dia benar benar sangat senang setelah tahu Rangga seorang muslim.
Sementara Rangga masih terpaku dengan dengan debaran jantungnya yang tak karuan.
Matanya tak lepas dari wajah May."Menyukai ku? Maksudnya apa?" batinnya.
Ponsel May tiba tiba berdering, mengagetkan keduanya. May segera mengambil dari saku.
"Mr sean?" kata May setelah melihat siapa yang menelpon.
Wajah Rangga mengernyit mendengar nama itu."Mr Sean? ngapain dia menghubungi mu? dan kenapa dia bisa tahu nomor mu?" kata Rangga merasa tak suka dengan panggilan itu.
"Aku yang beri, kemarin dia meminta nomor ku! Aku tidak tahu untuk apa dia menghubungi ku!" kata May.
"Aku pergi dulu. Selamat bekerja ya Om!" kata May mengedipkan sebelah mata, tersenyum genit. Lalu segera melangkah keluar setelah terlebih dulu mengambil alat kebersihan. Di pintu dia berpapasan dengan Clara yang datang membawa kopi Rangga. Dia menyapa sekertaris itu dengan sopan, lalu kembali melangkah untuk membersihkan ruang atas bagian luar. Tapi sebelumnya dia menerima telpon Sean.
Beberapa menit berlalu.
"May Wulandari," suara memanggil di belakangnya.
May segera menghentikan pekerjaannya yang sedang menyapu, lalu menoleh ke belakang, Di lihatnya seorang karyawan cleaning servis.
"Ya....!" jawabnya.
"Kamu di panggil ibu Rachel ke ruangannya." kata karyawan itu.
"Aku akan segera ke sana!" kata May.
Karyawan itu segera meninggalkannya. May mengatur alat kebersihan ke sudut ruangan, lalu segera pergi ke ruang kerja Rachel.
"Mau apa dia memanggilku?" batinnya.
__ADS_1
Bersambung.