
...Happy Reading....
Kemana Rangga membawa May pergi?
Rangga melarikan kecepatan mobilnya di atas rata-rata. Untuk menghindari kejaran andai saja ada yang mengejar. Entah Rachel atau pihak keamanan butik. Untungnya tidak ada yang mengejar setelah satu kilometer mobilnya melaju.
Rangga mulai menurunkan kecepatan mobilnya. Sembari mengemudi, dia berusaha menenangkan May yang meminta berhenti ingin turun. Tidak berapa lama, mobil berhenti di taman bunga yang cukup luas. Taman bunga yang biasa Rangga datangi saat menjadi dirinya sendiri, sebagai Rad. Rangga mengirim pesan singkat pada Sean untuk mengurus kejadian di butik jangan sampai beredar keluar.
Keduanya diam tanpa bicara, suasana hening. Tak ada yang membuka suara. Yang terdengar hanya suara desiran angin, juga hembusan nafas keluar masuk dan Isak tangis May yang sesekali masih lepas.
Lima menit berlalu.
"May.....!" Rangga mencoba bicara. Dia tidak tahan hanya diam terus. Sementara May tak kunjung membuka suara.
"Untuk apa Om membawa aku ke sini." kata May tanpa melihat, dia menunduk.
"Om tidak ingin orang orang itu membawamu ke kantor polisi."
"Aku tidak mencuri, aku tidak bersalah." May kembali terisak.
"Om juga tahu itu. Om percaya sama kamu, Sangat percaya!"Jawab Rangga tegas. Dan meyakinkan May kalau dia percaya May bukan pencuri.
"Tapi tetap saja orang orang itu tidak akan percaya, dan ingin membawa mu ke kantor polisi." kata Rangga kembali.
"Berhentilah menangis, Semua baik baik saja." Rangga kembali menenangkan.
Air mata May malah tambah deras jatuh. Dia sangat malu teringat kembali kejadian memalukan tadi. Di tuduh mencuri di butik neneknya sendiri, di rendahkan dan di permalukan di depan banyak orang. May kembali terisak mengingat kejadian memalukan itu. Bahunya sampai terguncang menahan tangis.
"Jangan dipikirkan! Kejadian tadi tidak akan tersebar ke luar. Kamu tidak perlu Khawatir. Om jamin!" Hibur Rangga. Tadi dia sudah meminta Sean untuk mengurus semuanya agar tidak tersebar ke publik.
May sudah tahu kejadian itu tidak akan tersebar. Karena manager butik pasti sudah mengatasi kejadian memalukan itu agar tidak tersebar ke luar. Dia yakin hal itu. Tapi tetap saja dia malu di tuduh dan di permalukan di depan banyak orang oleh Rachel.
"Aku mau pulang!" katanya tiba tiba. Dia tidak ingin membahas kejadian buruk itu lagi. Dia ingin pulang karena tidak enak bersama Rangga. Dia tidak mau mendapat masalah lagi karena bersama kekasih orang. May dapat merasakan, saat ini Rachel pasti marah besar, sakit hati dan memikirkan ke mana mereka pergi, kemana Rangga membawanya dan sedang melakukan apa. Sebagai perempuan yang juga mencintai Rangga, dia dapat merasakan sakit hati Rachel saat ini.
May heran, dia sudah berusaha menjauhi pria ini, malah di pertemukan kembali. Seharusnya sejak awal dia menyadari kalau Australia adalah tempat di mana kantor pusat perusahaan Rangga berada. Dia benar-benar lupa karena kepikiran terus untuk mencari Rad.
"Pulang ke mana?" tanya Rangga dengan wajah mengernyit.
__ADS_1
Tak ada jawaban. May tidak ingin mengatakan pulang ke rumah Sean. Dia telah ketahuan berbohong. Karena dalam pesannya beberapa hari yang lalu, dia mengatakan akan pulang ke tanah air. Tapi malah kedapatan di Australia.
"Kamu ingin pulang kan? Om akan antar kamu. Kamu tinggal di mana?" tanya Rangga lagi karena May hanya diam.
"Katanya dalam pesan, kamu sudah balik ke Indonesia. Tapi kenapa kamu malah ada di sini? Kamu berbohong ya?" Rangga bicara lembut, menatap May dari samping.
May membuang pandangannya jendela mobil, menghindar tatapan Rangga.
Rangga tersenyum.
"May, jawab dong, Jangan diam terus. Katanya kalau ada orang tua yang lagi bicara harus di jawab, dan di tatap wajahnya. Gak boleh bohong, gak boleh bicara kasar, harus sopan. Kamu sendiri yang bilang begitu." kata Rangga lagi. Teringat perkataan May waktu lalu. Saat May bicara tapi hanya dia diamkan. May sampai kesal dan mengatakan suaranya terlalu mahal, apa harus di bayar dulu baru ngomong?
Karena May tetap diam, Rangga mengambil beberapa lembar uang dari dalam dompetnya. Terus diletakkan dalam genggaman tangan May."Ini untuk mu, ambillah."
May kaget, wajah mengernyit heran kenapa Rangga memberinya uang. Reflek dia menoleh pada Rangga."Untuk apa?" tanyanya tidak mengerti dan itu membuat Rangga senang, akhirnya buka suara juga.
"Mungkin dengan begitu kamu akan menjawab pertanyaan Om. Kamu hanya diam terus!" kata Rangga menatap wajahnya sembari mengurai senyum. Dia sangat senang dapat leluasa melihat wajah manis yang sangat di rindukan ini. Hatinya bahagia bisa melihat dan dekat dengan gadis ini lagi.
May jadi salah tingkah setelah mendengar penjelasan Rangga. Buru buru menghindari tatapan pria itu. Dia ingat, dulu dia selalu melakukan itu pada Rangga jika Rangga hanya diam saat di ajak bicara dan tidak menjawab pertanyaannya.
Rangga membawa wajah May kembali melihat kepadanya.
May menelan ludah mendengar kata kata yang sangat menyentuh hatinya itu. Karena dia juga rindu.
Keduanya saling menatap.
"Kamu kesini sama siapa? Apa dengan tuan Sean?" tanya Rangga. Dia curiga May ke Australia bersama dengan Sean. Dan keduanya sepakat untuk menyembunyikan hal itu.
Terus yang di katakan orang suruhan Haris bahwa May berada di Bandung apa bohong? Apa Haris telah membohonginya dan bekerja sama dengan Sean dan May? Batinnya.
May menghela nafas, menelan ludah yang terasa pahit. Dia menarik kedua tangannya dari genggaman Rangga. Lagi lagi dia merasa tidak nyaman dengan kebersamaan dan kedekatan ini.
"May!" Rangga kembali ingin memegang tangannya.Tapi May segera menarik tangannya."Jangan sentuh!"
Rangga tercengang.
"Kamu seperti menjauhi Om. Apa Om melakukan kesalahan? Apa Om nyakitin kamu?" tanyanya bingung.
__ADS_1
Tak ada jawaban. May tetap diam dengan pandangan lurus ke depan ke taman bunga.
Rangga menghela nafas, bingung ada apa dengan gadis ini. Sikapnya berubah 180⁰.
"Apa kamu tidak senang bertemu dengan Om? Apa kamu marah sama Om? Benci Om?" sekali lagi Rangga bertanya. Rangga memegang tangannya.
May kembali menarik. Dengan gerakan cepat Rangga mendekat dan menarik tubuh May ke pelukannya. Dia tidak tahan diam seperti ini terus, sementara hatinya sangat rindu. May terkejut tidak dapat mengelak pelukan ini
"Om merindukanmu." bisik Rangga lirih.
May terhenyak mendengar ungkapan itu. Jantung berdebar kencang.
"Om sangat merindukanmu! Apa kamu tidak merindukan Om?" Rangga kembali menekankan betapa dia sangat merindukan gadis ini.
Pertanyaan yang membuat dada May sesak. Seketika kesedihannya membuncah. Jangan di tanya lagi, tentu saja dia sangat rindu, tapi hanya sampai di tenggorokan, tak bisa di keluarkan. Isak kecil lolos keluar dari mulutnya. Antara sedih dan bahagia kini tengah dia rasakan. Tapi juga ada rasa takut. Nafasnya menderu tak beraturan. Dia tidak tahan menekan kesedihannya. Isak kecil akhirnya keluar beruntun dari mulutnya.
Rangga kaget mendengar tangisan yang berusaha di tekan ini."Ada apa dengannya?" batinnya. Dia semakin memeluk May.
Tiba-tiba May menarik kuat tubuhnya dari pelukan Rangga."Lepas!" mendorong tubuh Rangga.
Rangga kaget.
"Kenapa? Biasanya kamu suka sekali dekat dengan Om, meluk Om, dan...."
"Aku mau pulang!" pangkas May seraya menyapu air mata. Lalu membuka mobil dan turun. Tak ingin berlama-lama bersama kekasih orang. Masih terngiang di telinganya bisikan Rachel tadi, bahwa dia bukan hanya mencuri perhiasan, tapi juga mencuri milik orang. May semakin terisak dalam langkahnya. Kata kata itu begitu menusuk hatinya.
Rangga segera keluar, berlari mengejar.
"May__May tunggu."
May segera berlari melihat Rangga mengejar. Dia tidak perduli dengan panggilan Rangga. Keberuntungan berpihak padanya. Begitu tiba di jalan raya, dia melihat taksi dan langsung naik."Cepat pak kita pergi." katanya buru buru sambil menepuk bahu sopir. Matanya melihat ke arah Rangga yang mengejar."Cepat pak....!"
Mobil melaju sesuai perintah.
"May__May!" Rangga berhenti mengejar. Dia menatap taksi yang semakin jauh. Rangga segera berbalik dan berlari ke mobilnya. Kemudian mengejar taksi May.
...Bersambung....
__ADS_1
Tinggalkan jejak dukungan ya...
Terimakasih yang sudah mampir 🙏😘