Rangga dan Rara (Mencintai Anak Mantan)

Rangga dan Rara (Mencintai Anak Mantan)
35. Ciuman pertama part.2


__ADS_3

...Happy Reading....


"Kau sangat cantik Nona!" puji Sean terpukau dengan penampilan May. Gadis itu semakin cantik setelah memakai gaun pesta yang indah dan mewah, dengan high heels sebagai pelengkap sempurnanya keindahan dirinya.


Wajah cantik semakin cantik dan mempesona dengan make up yang simpel namun terlihat seksi.


May memakai riasan dengan make up yang simpel. Lipstik berwarna nude orange, di tambah fake lashes dan winged eyeliner yang natural di sesuaikan dengan warna gaunnya. Dengan memakai make-up seperti ini, May berharap tak akan ada yang mengenal dirinya di acara pernikahan nanti.


Mobil Sean berhenti di depan pintu hotel tempat acara pernikahan yang akan mereka hadiri.


Sean segera keluar. Lalu membuka pintu untuk May "Mari Nona!"


May segera turun. Dia terkejut melihat nama hotel ini, yang merupakan kepunyaan Riez, pamannya yang paling tua.


"Ya tuhan!" ucap May tak tenang."Bagaimana jika paman Riez dan tante Rania hadir dalam acara itu?" May deg degan.


"Tuan Sean, aku tidak yakin masuk ke dalam. Aku tidak terbiasa datang ke acara mewah dan berkelas seperti ini. Aku khawatir akan membuat malu anda nanti!" kata May.


"Malu? Justru sebaliknya nona. Aku yakin orang orang di dalam sana pasti tidak akan berpaling melihat wajah cantikmu. Kau sangat cantik Nona. Dan aku pria yang sangat beruntung bisa membawa partner terindah di acara ini!"


"Tapi tuan, aku hanya Seorang OB. Bagaimana jika ada karyawan kantor di dalam sana mengenal aku. Sudah pasti aku akan kena cibiran dan hinaan. Dan itu akan membuat anda malu di hadapan tamu tamu penting serta sahabat bisnis anda. Aku tidak mau anda akan mendapat malu karena diriku!" kata May mencoba menolak untuk masuk ke acara itu.


Sean melihat wajah May yang tidak tenang dan keringatan. Sepertinya gadis ini memang takut dan tidak percaya diri masuk ke dalam.


Sean mengambil sesuatu dari dalam mobilnya. Yaitu topeng wajah punya anaknya berbentuk kupu-kupu yang di gunakan sewaktu menghadiri acara ultah teman. Bentuknya yang kecil dan indah, cocok di gunakan pada pesta. Sean memberikan benda itu pada May.


"Aku tidak yakin ada karyawan OB di dalam sana. Dan aku juga tidak yakin jika mereka masih mengenali mu dengan penampilan seperti ini. Karena kau sangat berubah dengan penampilan seperti ini. Tapi jika kau merasa tidak tenang, kenakan ini saat kau melihat seseorang yang kau kenal di dalam sana!" katanya.


May tersenyum, ini ide yang bagus sebagai jalan keluar penyelesaian kecemasannya supaya bisa aman di dalam sana. Dia segera menerima benda itu dan menyimpan pada dompet pesta. May sangat berharap dengan penampilan dan makeup yang di kenakan, tak kan ada yang mengenalnya termasuk paman dan tantenya. Sebelumnya juga, dia tidak pernah memakai makeup seperti ini.


Sean segera menyerahkan lengan kanannya, May segera memasukkan tangannya di lengan kekar itu. Keduanya segera masuk dengan elegan. Beberapa tamu dan keluarga yang berhajat menyambut mereka.


Acara pesta yang sangat mewah dan berkelas, hanya di hadiri oleh tamu tamu penting dan berkelas. May tidak begitu terkejut, karena dia sudah terbiasa dengan hal hal berbaur mewah dan glamor seperti ini. Untuk selanjutnya mereka berbaur dengan para tamu tersebut, berdiri berkelompok menempati tempat yang di sediakan. Para pramusaji dengan sopan menawarkan minuman.


Sean benar, May begitu cantik, sehingga banyak mata yang pangling tak lepas dari memperhatikan dirinya. Mencoba menggoda dengan tatapan mata, kerlingan nakal. Tapi di abaikan May. Ada beberapa tamu pria yang menanyakan dirinya pada Sean. Dan Sean menjawab teman dekat dan spesial. Di antara mereka kecewa, mengira May adalah kekasih Sean dan sebagai calon istri. Dan May hanya tersenyum menanggapi perkataan Sean karena dia tahu itu hanya lelucon Sean. May ikut menyapa teman teman Sean dengan ramah. Ternyata pria bule ini cukup terkenal dan berkuasa. Di lihat dari banyaknya tamu penting yang merupakan para pengusaha, pebisnis, konglomerat, tamu pejabat penting yang menyapa dirinya.


May cukup lega tak melihat paman dan tantenya di acara ini.


"May, ayo kita ke depan untuk menyalami raja dan ratu malam ini!" kata Sean mengajak May bertemu pengantin.


Sean segera pamit pada teman temannya. Lalu segera memegang tangan May dan mengajaknya melangkah.


Langkah mereka melambat melihat sepasang manusia di depan, yaitu Rangga dan Rachel.


Yang juga sedang melihat pada mereka.


May terpana melihat Rangga. Pria itu semakin gagah, tampan dan mempesona dengan jas yang di kenakan. Terlihat begitu kharismatik dan menawan.


"Hay tuan Rangga, ibu Rachel!" sapa Sean. Dia kembali melangkah seraya menarik tangan May yang berada dalam genggamannya. Keduanya mendekati Rangga dan Rachel.


Rangga tak berkedip menatap May, dia tidak menyangka May hadir di acara ini sebagai partner Sean. Sejak tadi dia melihat keberadaan keduanya. Saat pertama melihat May, dia tidak mengenal wanita cantik bersama Sean. Tapi setelah di perhatikan dengan cermat, Rangga sangat terkejut setelah melihat jelas kalau wanita paling cantik, paling anggun, paling mempesona, dengan senyuman manis dan membuatnya tertarik pada pandangan pertama adalah May, OB pribadinya. Hatinya terasa sakit melihat keduanya berpegangan tangan.


"Aku tidak menyangka kalian hadir juga di acara ini! Kalau aku tahu, kita bisa datang sama sama!" kata Sean begitu mereka di depan Rangga dan Rachel. Dia segera memeluk Rangga setengah badan, yang langsung di sambut Rangga. Rachel ikut menyapanya dengan sopan.


Sementara May hanya tersenyum sekilas menyapa mereka.


Dia menatap Rangga dengan kesal. Kesal karena berjanji akan mengajaknya ke tempat kuliner negaranya malam ini tapi mengingkari janji tanpa pemberitahuan. Di kiranya sedang sibuk bekerja, ternyata malah enak enakan di sini.


May mengalihkan pandangannya ke sebelah, menghindari tatapan mata Rangga yang tidak berpaling darinya sejak tadi. Tatapan yang dingin, dan terkadang menyorot tajam mengandung amarah. May berniat tak akan menyapa Rangga sebagai pembalasan dari rasa kesalnya.


"Siapa wanita cantik ini tuan Sean? Aku melihat kau begitu bahagia malam ini." kata Rachel seraya melihat pada May. Di matanya Wanita ini begitu bening dan sangat cantik.


"Tentu saja Nona Rachel, aku sangat senang dan bahagia sekali, karena wanita cantik di sampingku ini!" kata Sean bangga. Dia membawa tangan May yang di genggam ke mulutnya terus di kecup. Dan itu cukup membuat darah Rangga terasa panas dan mendidih. Rahangnya mengeras menahan amarah, genggaman pada gelas minum semakin kuat, serasa benda itu mau pecah.


Lebih lebih lagi, May membiarkan Sean mengecup tangannya.


Rachel tersenyum menanggapi perkataan Sean. Dia memperhatikan May, wajah yang tidak asing oleh matanya."Siapa wanita ini? Wajahnya seperti tidak asing bagiku!" batinnya.


"Tuan Rangga, Nona Rachel, Kami ke depan dulu, mau menyapa pengantin! Selamat bersenang senang." kata Sean seraya menepuk bahu Rangga. Dia segera mengajak May dan menarik tangan gadis itu yang sejak tadi tidak di lepas.


May segera melangkah mengikuti tarikan tangan Sean. Tanpa sengaja lengan polos kirinya menyenggol lengan kiri Rangga.


"Wajah wanita itu tampak tak asing bagiku!" kata Rachel menatap kepergian mereka.


Rangga hanya diam tak menyahut, karena saat ini suasana hatinya sangat buruk.


"Kau lihat kan Nona May? Bahkan bosmu dan Nona Rachel tidak mengenalmu. Jadi kau tidak perlu khawatir. Nikmati acara ini dengan santai dan nyaman!" kata Sean di sela langkah mereka.


"Iya, aku sangat lega mereka tidak mengenal ku!" kata May senang. Sempat khawatir tadi kalau Rangga dan Rachel mengenalnya. Tapi syukurlah mereka tidak menegurnya.


Keduanya segera menyalami para pengantin dan keluarga mempelai. Mengambil foto sejenak, kemudian segera turun berbaur kembali dengan tamu undangan lain. Alunan musik dan lagu yang di bawakan oleh para artis negeri ini.


"Mr. Sean, aku lapar!" bisik May, perutnya sudah keroncongan.


"Maaf Nona May, aku sampai lupa kalau kita belum makan. Mari kita makan!" kata Sean. Lalu segera mengajak May ke meja nomor pertama, di mana tertera namanya. Di meja itu bukan hanya ada namanya, tapi juga nama Rangga dan dua tamu penting lainnya.


Alhasil mereka kembali di pertemukan di meja makan.


Rangga bangkit berdiri hendak menarik kursi untuk May, tapi keburu oleh Sean.


"Silahkan nona!"


"Terimakasih!" ucap May dengan senyum manis tersungging. Dia segera duduk.


Rangga kembali duduk dengan menahan kekesalannya.


Mereka makan sambil bersenda gurau. Ada saja yang menjadi obrolan mereka. Membicarakan pengantin dan acaranya yang mewah. Juga di selingi masalah pekerjaan.


Para wanita saling bercanda sambil memamerkan kemewahan yang ada pada tubuh mereka. May hanya diam mendengarkan, sesekali mengulas senyum. Sungguh dia tidak nyaman dengan keadaan ini. Terutama menghadapi tatapan Rachel yang tersenyum penuh kepalsuan. Dan juga beradu tatapan mata dingin Rangga yang tak mau berpaling darinya. Sepertinya Rangga telah mengenal dirinya.


Dia ingin sekali keluar dari lingkaran orang orang ini.


"Tuan Sean, aku ingin ke toilet!" bisiknya pada Sean.


"Biar ku antar!"


"Tidak perlu. Anda lanjut kan saja makannya!"


"Tidak apa-apa, aku sudah selesai makan! Mari aku antar!" kata Sean.


Rangga memperhatikan bisik bisik mereka. Entah apa yang mereka bisikan.


Sean segera bangkit. May ikut bangkit. Sean pamit pada tamu di meja, lalu mereka pergi segera menuju toilet.


Rangga menatapi kepergian mereka dengan tanya, Mau kemana mereka? Terbesar rasa khawatir, jika Sean melakukan sesuatu yang buruk pada May.


"Ada apa?" tanya Sean melihat May yang tidak tenang.


"Tidak apa-apa, aku hanya merasa tidak nyaman duduk bersama dengan kumpulan orang orang berkelas seperti kalian ! Aku ingin ke kamar kecil sebentar!" terus melangkah.


"Kamu rileks dan santai. Nikmati pestanya!"


May mengangguk. Mereka terus melangkah menuju toilet. Tiba-tiba langkah May terhenti, lalu cepat berbalik.

__ADS_1


"Ada apa?" tanya Sean kaget.


"Cepat pergi dari sini!" dia segera menarik tangan Sean. Lalu mengambil topeng wajah di dompet dan segera di kenakan.


"Ada apa?" tanya Sean bingung.


"Aku melihat seperti orang yang aku kenal!"


"Siapa? Tidak ada siapapun di sini. Tadi aku hanya melihat pemilik hotel ini, Tuan Riez dan istrinya Nyonya Rania."


"Bukan mereka! Tapi seseorang yang aku kenal. Aku melihatnya masuk ke dalam toilet!" kata May berbohong. Dia semakin cepat melangkah, lalu segera berbelok. Tentu saja yang ingin di hindari adalah paman dan bibinya, Riez dan Rania.


"Kita ke toilet lain saja!" kata Sean.


May mengangguk. Mereka melangkah dengan terburu-buru.


"Tuan Sean." suara memanggil dari arah samping mereka.


Langkah mereka melambat dan berhenti.


"Hay Tuan Roky." sapa Sean setelah melihat siapa yang memanggilnya. Teman masa SMA Keduanya saling berpelukan.


Sedangkan May lega, di kiranya Riez yang memanggil Sean.


"Lama kita tidak bertemu Sean. Bagaimana kabarmu? Apa kau sudah menikah kembali?" tanya Roky melirik pada May.


"Belum. Ini temanku! Perkenalkan, namanya May." kata Sean.


May segera menyalami Roky. May tidak tahan dengan tatapan nakal Roky, dia ingin pamit pada Sean.


"Tuan, aku mau ke toilet. Anda bicara dulu dengan tuan Roky. Toiletnya tidak jauh dari sini. Aku akan segera kembali." katanya berbisik.


"Baiklah, aku tunggu kau di sini! Segera kembali ke sini!" kata Sean membiarkan May pergi sendiri, karena dia ingin berbicara dengan Roky, setelah lama tidak bertemu.


May mengangguk, lalu segera melangkah pergi dengan terburu-buru. Hatinya benar-benar tidak tenang. Bagaimana jika paman dan bibinya melihatnya? rasanya dia ingin segera pergi dari acara ini.


May segera berbelok hendak masuk ke ruang toilet. Tapi tubuhnya di tarik oleh seseorang. May terkejut dan berontak, tapi sia-sia. Dia hendak berteriak tapi mulutnya di bungkam. Dia di bawa dengan paksa ke sebuah ruang kosong bersebelahan dengan toilet.


Tubuhnya dilepas begitu pintu di kunci. May segera berbalik dan melihat siapa orang yang membawanya.


"Om....!" tercengang melihat wajah Rangga.


"Ternyata kau mengenalku?" kata Rangga dengan tatapan tajam. Masih dengan kekesalan yang mendalam karena May tidak menegurnya. Seolah tidak mengenalnya."Kenapa kau tidak menegurku tadi?" tanyanya kembali.


May mendengus kesal."Aku gak kenal." katanya ketus. Dia membuka pintu hendak hendak keluar. Tapi dengan cepat Rangga menyergap tubuhnya dari belakang sebelum tubuh May keluar.


"May....!" sentak Rangga semakin naik darah.


"Lepas! Jangan menyentuh ku! Aku kesal pada Om!" teriak May agak keras. Melepaskan diri.


Nafasnya memburu cepat, jantung berdegup kencang karena merasa takut.


Rangga kaget mendengar ucapannya.


Kenapa May marah padanya, seharusnya dia yang marah karena May membatalkan janji keluar malam ini karena pergi bersama Sean ke acara ini. Di tambah dengan sikap May yang mengacuhkannya tadi seolah tidak mengenalnya. Dan dia merasa sakit hati dengan sikap keduanya yang mesra layaknya pasangan kekasih.


Rangga segera menekan tubuhnya di tembok, karena terus berontak, lalu melepas topeng yang terpasang di wajah gadis itu."Kenapa kau kesal padaku?" Rangga tidak mengerti. Di lihatnya mata May yang memerah dan berair.


"Om masih tanya juga?" sentak May menatap sedih, semakin kesal karena Rangga masih bertanya apa kesalahannya.


"Semalam Om berjanji akan mengajakku ke mana? Apa Om lupa atau pura pura lupa?" kata May menjawab kebingungan Rangga. Dia mendesah sedih."Aku menunggu Om, aku mengirim pesan tapi tak ada balasan. Aku hubungi nomor Om seharian tapi gak aktif. Atau Om memang sengaja menonaktifkan ponsel untuk menghindari janji pergi bersama ku?" kata May serak."Kalau Om memang gak sempat, kenapa gak beri kabar? biar aku gak berharap dan menunggu!" kata May terisak dengan luapan emosi. Dia mendorong kuat tubuh Rangga."Aku benci Om, aku gak mau temanan sama Om lagi! Om gak bisa di percaya!" sentaknya.


Rangga terhenyak mendengar penjelasan dari kemarahan itu. Dia kembali menekan tubuh May di tembok karena gadis itu berontak."Kamu salah paham May!" Katanya segera. Dia justru bingung dengan penjelasan May. Karena May sendiri yang mengirim pesan padanya, mengatakan batal keluar malam ini karena ada urusan penting. Dia juga tidak mendapatkan pesan dari May dan juga panggilan telepon. Ponselnya tidak pernah di nonaktifkan seharian ini.


Rangga semakin bingung, dia merasa ada yang aneh.


May berhenti meronta, mendengar penjelasan Rangga. Dia menatap Rangga dengan bingung.


"Gak mungkin, jelas jelas aku mengirim beberapa pesan ke nomor Om!" Dia mengambil ponsel dari dompet, lalu memperlihatkan pesan yang di kirim pada Rangga, dan juga telepon keluar ke nomor Rangga.


Rangga semakin bingung. Dia mengambil ponselnya, lalu memperlihatkan pesan yang di kirim May tadi sekitar jam setengah 9 pagi. Terus di balasnya "Oke, kalau begitu lain kali saja, saat kau punya waktu!"


Bukan hanya Rangga yang bingung, May ikutan bingung. Pasalnya dia tidak mengirim pesan seperti itu.


"Coba pinjam ponsel Om!" pintanya. Rangga segera memberikan ponselnya. May mencoba menghubungi nomornya lewat ponsel Rangga. Tapi tidak tersambung. Di coba menghubungi nomor Rangga lewat ponselnya, hasilnya sama, tidak tersambung.


"Kok gak tersambung?" batinnya. Dia merasa ada yang aneh. Segera dia menyamakan nomor Rangga pada kontaknya. Dan ternyata beda satu angka dengan nomor yang tersimpan pada kontaknya.


May teringat kejadian tadi pagi, di ruang kerja Rachel."Jangan jangan, ibu Rachel mengganti nomor pak Rangga pada kontakku!" batinnya kembali. Dia berpikir Rachel yang telah mengganti nomor Rangga pada ponselnya. Tadi pagi saat dia masuk ke ruang kerja Rachel, ponselnya jatuh saat bersenggolan dengan OB yang bertugas membersihkan ruang kerja Rachel, dan dia tidak menyadari kejatuhan ponsel. Dia baru sadar ponselnya hilang saat ingin menghubungi Rangga. Saat dihubungi lewat ponsel Yeni, ponselnya di temukan seseorang di dekat ruang kerja Rachel.


"Aku yakin, Ini pasti kerajaan ibu Rachel! Ya tuhan, benar benar keterlaluan tuh orang! Kenapa dia selalu jahat padaku!" gerutu May kesal di dalam hati.


"Ada apa?" tanya Rangga melihatnya sedang memikirkan sesuatu.


"Tidak apa-apa!" katanya tergagap. Dia segera menyerahkan ponsel Rangga.


"Aku yang salah. Maaf karena marah marah pada Om!"


Wajah Rangga mengernyit, karena merasa May menyembunyikan sesuatu."Salahnya di mana?" tanyanya tidak mengerti.


"Tadi pagi kontak aku tiba tiba saja terhapus. Aku mencoba memasukkan nomor Om. Sepertinya aku salah memasukkan angka paling belakang. Seharusnya angka 9, tapi aku masukkan angka 6. Makanya pesan dan panggilanku terkirim ke nomor lain, bukan ke nomor Om!" kata May kembali, mengarang cerita.


"Sekali lagi aku minta maaf! Aku berharap Om gak marah padaku! Sekarang lepaskan aku. Aku mau keluar.....!" May mendorong tubuh Rangga tapi kedua tangannya segera di pegang Rangga. Dan kembali menekan tubuh May di tembok.


"Aku marah padamu May!" katanya kesal.


"Aku kan sudah minta maaf!" kata May.


"Bukan karena masalah pesan. Tapi karena kau datang ke sini, membatalkan janji kita dan tidak menegurku tadi.Kau bertingkah seolah tidak mengenalku!" Rangga menatap tajam.


"Aku....aku tidak ingin membuat Om dan tuan Sean malu. Om tahu kan status ku seorang OB, sangat jauh berbanding dengan semua tamu penting berkelas di tempat ini. Bagaimana jika ada di antara mereka tahu status ku yang begitu rendah? Reputasi tuan Sean sebagai orang penting akan jatuh! Lagi pula Om Sedang sedang bersama ibu Rachel, aku gak mau menyapa Om di depannya, nanti dia marah lagi padaku!" kilah May kembali membuat alasan.


"Lalu kenapa kau bisa ke sini bersama Sean? Aku sudah katakan jangan dekat-dekat dengannya."


"Kenapa? Apa urusannya sama Om? Terserah aku mau pergi sama siapa!"


"May.....kau mulai lagi!" Rangga kembali kesal. Dia menekan tubuhnya pada tubuh May.


"Karena Aku kesal pada Om. Tadinya kupikir Om ingkar janji! Makanya aku memenuhi permintaannya untuk menemaninya ke sini!" kata May berdalih. Tapi, jujur dia ikut dengan Sean karena rasa kesalnya pada Rangga.


"Awas ah, aku mau keluar. Tuan Sean pasti sedang mencari ku. Ibu Rachel juga pasti nyari Om! Sebaiknya kita keluar." kata May mendorong kembali tubuh Rangga.


"Aku tidak akan membiarkanmu dekat dengan Sean. Aku tidak suka!" kata Rangga memegang tangannya.


"Gak bisa, aku datang bersama dia!" May berusaha melepas diri, tapi Rangga terus menahan. Karena dia tidak tahan melihat May dekat dengan Sean.


Pergerakan May yang melawan Rangga membuat Gaunnya berantakan, sehingga belahan dadanya sedikit terbuka. Dan itu terlihat oleh mata Rangga. May cepat menyilang kan ke dua tangannya di dada.


Rangga mendengus geram. Geram karena May mengenakan pakaian terbuka seperti ini sehingga menarik mata tamu. Dia melihat hal itu tadi dan membuat darahnya mendidih. Rangga menyingkirkan tangan May, lalu segera merapikan gaun May.


"Seharusnya kau tidak berpakaian seperti ini! Apa kau sengaja berpakaian seperti ini datang ke sini?" kata Rangga marah menatapnya.


"Enak saja nuduh aku begitu. Ini gaun pemberian tuan Sean!" kata May kembali kesal.

__ADS_1


"Seharusnya kau menolak!" sentak Rangga dengan nada rendah. Dia memperhatikan bahu putih mulus, leher jenjang dan dada atas May terbuka. Siapa pun yang melihat pasti akan tergoda oleh keindahan tubuh ini, termasuk dirinya. Begitu bening, cantik dan sempurna. Tak akan puas dan bosan melihat. Rangga terus merapikan gaun itu dengan menahan hasratnya. Berulangkali di meneguk ludah.


May tak tenang, jantungnya berdegup kencang dengan sentuhan Rangga yang memperbaiki gaunnya. Karena jari jemari Rangga terkadang menyentuh langsung kulitnya. Dan itu membuat tubuhnya merinding.


Dia teringat perkataan Sean tadi. Rangga tidak pernah dekat, apalagi menyentuh wanita. Dia tidak suka dan selalu menghindari jika di dekati wanita.Tapi sekarang apa yang di lakukan Rangga pada dirinya? Bahkan pria ini tanpa canggung menyentuh gaun di dadanya saat memperbaiki gaunnya pada bagian itu. Bahkan tanpa sengaja kedua tangan kekar itu menyentuh kedua buahnya.


"Om....!" May menahan tangan Rangga. Gestur tubuh mereka membuat nafas dan jantung May seakan berhenti.


Gerakan tangan Rangga berhenti. Dia menatap May, membuat mata mereka beradu dalam jarak sangat dekat.


Rangga dapat melihat rasa takut di mata May. Dia juga dapat mendengar debaran jantung May yang tak beraturan seolah saling berkejaran. Apa yang di rasakan gadis ini? Apa sama seperti yang dia rasakan? Batinnya. Karena jujur hati dan jantungnya juga tak karuan saat menyentuh May.


Perlahan Rangga mengangkat kedua tangannya, memegang wajah May. Menatap lembut. Tubuh May kembali bergidik.


"Aku tidak bermaksud menyentuh mu! Aku hanya tidak suka melihat mu berpakaian terbuka seperti ini. Aku tidak suka tubuhmu menjadi tatapan mata para pria!" kata Rangga pelan menatap dalam-dalam mata May.


"May, Aku benci melihatmu dekat dan bersentuhan dengan pria lain!" kata Rangga kembali. Menyentuhkan hidung mereka.


Jantung May semakin tak terkendali, meletup letup seakan mau copot dari tempatnya. Kenapa Rangga tidak suka dia dekat dengan pria lain? Dan apa arti kedekatan ini?


Rangga mendekatkan wajah mereka, saling menyentuh. Dia menatap lembut.


May tak sanggup membalas tatapan mata Rangga yang seakan menyihirnya. Dia memejamkan mata. Tubuhnya bergidik merasakan hembusan nafas Rangga pada wajah dan menerpa kulit lehernya yang terbuka.


"Aku benci pada mereka yang menyentuh dirimu! Aku benar-benar tak suka." kata Rangga kembali dengan berbisik menatap wajah yang tidak tenang dengan mata terpejam. Dia semakin terpana melihat melihat benda kenyal yang berwarna merah alami yang di poles sedikit lipstik nude orange. Rangga menyentuh lembut benda itu dengan lembut. Membuat tubuh May kembali bergidik. Dia mulai terbuai oleh sentuhan tangan Rangga pada leher dan dan bibirnya.


Rangga tersenyum melihatnya yang hanya diam menikmati sentuhannya. Melihat May yang pasrah dan terbuai. Rangga mendekat kan bibirnya dan mengecup bibir May, di tekan beberapa saat.


Mata May yang terpejam terbuka seketika.


"Om??!"


Rangga menarik bibirnya dan menatap mata May.


"A-apa yang barusan Om lakukan?" May terbata dengan nafas turun naik tak beraturan.


"Apa kamu takut?" menyentuh bibir May lembut dengan ibu jarinya. Satu tangannya memegang tengkuk May. Dia dapat merasakan keadaan May yang tidak tenang.


Jelaslah May takut,"A- aku....! Aku....!" suara May putus oleh kecupan yang kembali mendarat di bibirnya.


Rangga kembali mengecup bibirnya. Mata May terbuka lebar. Dan Kecupan itu perlahan menjadi sebuah ciuman. Rangga mencium bibirnya dengan lembut. Terus mencium bibir atas bawah, mengulum lembut. Hanya bibir bagian luar, tanpa ada permainan lidah. Tubuh May menegang merasakan ciuman itu. Tubuhnya seperti kena setrum. Di rasakan ada aliran aneh menjalar pada tubuhnya hingga membuat tubuhnya semakin tegang, tak bergerak, membeku. Hanya kedua tangannya yang semakin mencengkram kuat bahu Rangga. Rangga terus mengulum, mengecap manisnya bibir May, hingga akhirnya dia berhenti merasakan gemetar tangan May di bahunya. Dia segera melepas penyatuan bibir mereka dan melihat wajah May yang ketakutan.


"May...!" ucapnya dengan nafas yang tak beraturan. Dia segera memeluknya.


"Maaf May....." ucapnya lagi mengelus lembut punggung dan rambut May.


"A-apa yang barusan Om lakukan? Om membuat ku takut!" ucap May terbata. Dia segera memeluk Rangga karena merasa takut dengan apa yang barusan terjadi. Dia berusaha mencerna maksud dari ciuman yang Rangga lakukan padanya."Apa Om melakukannya karena menyukai ku? Benarkah Om menyukai ku?" batinnya. Dia masih tidak percaya kalau Rangga berani menciumnya.


"Maaf May, jangan marah!" ucap Rangga. Khawatir May akan marah padanya karena telah berani menciumnya.


Pintu tiba-tiba di buka, masuklah Rachel. Keduanya terkejut, refleks saling melepas pelukan.


"Apa yang kalian lakukan?" menatap tajam penuh kemarahan pada mereka. Darahnya terasa panas. Dia mendekati keduanya, lalu menarik kasar lengan May. Dan tanpa bicara, dia melayangkan tamparan keras pada wajah May."Beraninya kau menggoda kekasihku." sentaknya keras.


May meringis seraya memegang pipinya yang sakit.


"Rachel, apa yang kau lakukan?" sentak Rangga seraya menarik lengan Rachel kasar, menjauhkan dari May. Lalu dia segera mendekati May, melihat wajah gadis itu.


Darah Rachel semakin naik melihat Rangga perduli pada May."Dasar wanita rendah, tidak tahu malu!" Dia mendorong tubuh Rangga dengan kuat. Begitu Rangga menjauh sedikit dari May, dia kembali menampar pipi May. Lalu menarik rambut May dan membawanya keluar untuk di permalukan pada para tamu. Otomatis May mengikuti tarikan tangan Rachel pada rambutnya. Dia menjerit, menangis karena tidak tahan menahan rasa sakit.


Rangga segera keluar."Hentikan Rachel! Jaga sikap mu! Kau bisa mengundang perhatian orang dan membuat malu! lepaskan May!" katanya tegas dengan suara di tekan. Tatapan tajam.


"Aku hanya memberi pelajaran pada wanita rendah tidak tahu malu ini. Beraninya menggoda dirimu!" kata Rachel balas menatap tajam Rangga dengan wajahnya yang garang.


"May tidak menggoda aku. Tuduhan mu salah besar. Dia bukan wanita seperti itu!" sentak Rangga.


Keributan itu menarik perhatian pengunjung toilet.


"Aku bilang lepas Rachel." sentak Rangga masih dengan suara rendah. Dia mencengkram tangan Rachel yang menarik rambut May."Aku bilang lepas! Ini perintah terakhir dariku!" katanya dengan mata menyorot tajam.


Rachel mendengus geram. Dia melepas rambut May, seraya mendorong kasar. Sungguh kalau bukan karena menjaga imagenya di mata para tamu, dia tidak akan melepaskan May.


May terisak menahan kesakitan. Tapi kesakitan itu tidak seberapa baginya, di banding rasa malu yang dia dapatkan karena menjadi perhatian beberapa tamu. May menyembunyikan wajahnya dengan rambut panjangnya. Dia berharap keributan ini tidak akan di ketahui oleh paman dan bibinya. May meluruskan tubuhnya berdiri.


Rangga mendekatinya"May, kau tidak apa-apa?"


"Jangan menyentuh ku." sentak May menepis tangan Rangga yang memegang ke dua lengan nya. Dia menatap sedih sekaligus marah pada Rangga.


"May...!" ucap Rangga sedih.


"Tetaplah di tempat mu pak Rangga Dionel Alkas." Kata May kembali. Lalu segera melangkah dengan berlari pergi meninggalkan keduanya.


"May.....!" Rangga berteriak memanggil dan mengejar. Rachel ikut mengejarnya.


"Jangan ikuti aku! Berhenti!" teriak May. Bukan tanpa alasan, dia tidak ingin membuat Rangga malu di depan para tamu. Membuat langkah Rangga melambat. May melepas sepatunya lalu kembali berlari cepat. Dia tidak perduli dengan tatapan para tamu yang di laluinya.


"Ya tuhan, jangan sampai paman Riez melihat ku!" pintanya. Karena hanya itu yang sangat di takut kan, bukan kemarahan Rachel.


"May, May.... !" panggil Sean melihat May berlari dengan keadaan yang kacau. Sean tidak tahu apa yang terjadi karena dia terlalu asyik berbincang dengan Roky."Kenapa dia....!"


Dia pamit pada Roky dan segera mengejar May.


Keributan itu mengundang tanya beberapa para tamu yang sempat melihat keributan itu.


"Ada apa ibu rachel?" tanya mereka.


"Aku hanya memberi pelajaran pada seorang pencuri!" kata Rachel tersenyum sinis. Rangga yang mendengar itu segera pergi meninggalkannya.


"Bukankah dia partner tuan Sean? Aku melihatnya datang bersama tuan Sean!"


"Benar. Kami bahkan saling menyapa tadi!" kata yang lainnya.


Sebagian termakan omongan Rachel, tapi sebagian lagi merasa ragu. Karena tidak mungkin Sean yang begitu terhormat dan terpandang membawa seorang pencuri sebagai pasangannya.


Rachel segera menyusul Rangga.


Rangga menuju ke depan, memastikan kejadian tadi tidak sampai ke ruang utama acara pernikahan dan di ketahui oleh tamu undangan lainnya. Apalagi sampai membuat acara pernikahan terhenti. Tapi syukurlah keadaan tampak aman, acara pesta terus berlangsung. Pemilik hotel, pengantin dan para tamu tampak sedang menikmati acara demi acara yang di pandu oleh MC.


Rangga tidak tenang memikirkan May.


"Untuk apa kau memikirkan wanita rendah itu?"


"Sikapmu sangat kasar dan keterlaluan!"


"Dia pantas mendapatkan itu. Hanya karena kau bersikap baik padanya, bukan berarti membuatnya tidak tahu diri dan seenaknya dekat dengan mu! Aku memberinya pelajaran agar dia tahu batasan hubungan antara seorang karyawan rendah dengan pimpinannya! Dan wanita manapun pasti tidak akan diam begitu saja melihat kekasihnya dekat dengan wanita lain! Aku tidak akan membiarkan hal itu Rangga. Jadi jangan coba-coba bermain api di belakangku." kata Rachel sinis.


"Dasar wanita tidak punya rasa malu, wanita rendah. Mencoba memikat mu dengan wajah cantiknya, dan juga keindahan tubuhnya yang kotor yang busuk. Manusia rendah ingin naik kelas dengan cara menjijikkan." dengusnya masih dengan sinis.


"Jaga ucapan mu Rachel." sentak Rangga geram, tidak terima May di rendahkan seperti itu.


"Tapi aku benar kan? Kalau tidak, untuk apa kalian berpelukan di ruang kosong dan tertutup? Bukankah dia mencoba menggoda dan menjebak mu di tempat itu?"


Rangga menatapnya dengan emosi yang semakin meluap, tidak tahan dengan sikap Rachel, dia segera meninggalkan wanita itu.

__ADS_1


Rachel mengeram tertahan dengan kemarahan yang di tahan. Seandainya hanya dia sendiri di tempat ini, dia pasti sudah berteriak teriak keras meluapkan kemarahannya.


Bersambung


__ADS_2