
...Happy Reading....
Dengan segera Rangga menyambar ponselnya begitu terdengar nada dering pesan masuk. Dia senang melihat pesan dari May. Segera dia membacanya.
Senyum di wajahnya perlahan mereda begitu membaca setiap kata pesan May. Tapi dia lega mengetahui May baik baik saja.
"Balik ke Indonesia? Tapi harus ke suatu tempat dulu. Kemana itu? Apa menemui pria yang di cintainya itu? Apa dia sudah menemukan tempat tinggal pria itu?" Rangga kembali gusar.
Kecewa yang di rasakan, ternyata May tidak mencintainya. Hati May tetap pada pria itu.
Kata suka, sayang, dan cinta yang di ucapkan May padanya kemarin hanya perasaan May sesaat. Karena usia gadis itu masih muda, perasaannya masih labil dapat berubah sewaktu-waktu.
Seketika ponsel dalam genggamannya lepas. Sedih, sakit membayangkan May bersama pria itu.
"Seharusnya aku tidak terlalu berharap dia mencintai ku. Seharusnya Aku sadar, aku tidak pantas untuknya. Aku hanya pantas menjadi teman dan ayahnya. Dia masih sangat muda! Sudah pasti dia ingin pria yang seusia dengannya. Bukan pria tua seperti aku." gumamnya lirih.
Sepertinya dia harus merelakan May untuk pria itu.
"Om juga doakan semoga kau bahagia bersama dengan pria yang kau cintai. Selamat tinggal May, jika tuhan berkehendak, kita pasti akan bertemu. Om akan selalu menyayangimu dan menyimpan di hati!" Sama seperti Khanza, yang selama belasan tahun di simpan dalam hati.
Rangga berusaha menguatkan hati. Mengumpulkan tenaga. Perlahan dia bangkit berdiri setelah memungut ponselnya. Butuh kekuatan untuk bisa melangkah setapak demi setapak. Karena saat ini tubuhnya sangat lemah, seakan raganya telah mati karena separuh jiwanya pergi meninggalkannya untuk orang lain.
Lengan kanannya tiba tiba di pegang seseorang dari belakang saat dia akan jatuh. Rangga menoleh ke samping dan melihat Cindy, mamanya.
__ADS_1
"Mama...." seketika kesedihan membuncah, dia memeluk Cindy. Menumpahkan segala beban kesedihan yang menghimpit jiwanya.
Sebagai seorang ibu, Cindy dapat merasakan apa yang di rasakan putranya. Apalagi Rangga mengatakan padanya kalau dia mencintai May. Tapi pada kenyataannya Rangga akan menikah dengan Rachel.
"Gadis itu telah pergi?"
Rangga mengangguk.
"Iya ma, Kenapa tuhan selalu tidak berpihak padaku? Aku kembali kehilangan cinta untuk ke dua kali." kata Rangga berusaha menekan tangisnya.
"Bukan nak, tapi Allah sedang mempersiapkan kebahagiaan lain untuk mu. Jika Allah mengambil sesuatu yang kau cinta tapi tidak bisa kau miliki, maka dia akan menggantinya dengan yang lebih baik. Percayalah pada takdir Allah." kata Cindy lembut.
Dia memegang wajah Rangga. Menyapu ke dua pipi yang basah.
"Maksud mama bersama dengan Rachel?" Rangga menatap manik mata Cindy." Mama tahu sendiri aku sama sekali tidak mencintainya! Aku tidak pernah merasakan kebahagiaan bersamanya. Bukan kebahagiaan yang ku dapat kan jika menikah dengannya, tapi penderitaan!" Rangga kembali menangis tertahan.
"Rangga.... Rachel adalah wanita baik. Dia begitu mencintai mu. Dia wanita yang setia. Sabar menunggu hatimu untuk dapat menerimanya, meski dia tahu kau tidak mencintainya. Dia bisa menjadi istri yang baik untuk mu. Kau harus belajar untuk menerimanya. Mama yakin seiring berjalannya pernikahan kalian, dan punya anak, kau pasti akan mencintainya. Banyak pasangan seperti itu, menikah tanpa cinta, tapi begitu memiliki anak, rasa cinta itu tumbuh perlahan tanpa di sadari. Mama dan papa mengalaminya dulu, menikah tanpa cinta. Kami belajar untuk saling mencintai dan menerima satu sama lain. Dan akhirnya rasa cinta itu tumbuh di hati kami. Dan mama yakin kau pun pasti akan mencintai Rachel nanti." kata Cindy meyakinkan dirinya.
"Entahlah MA.....!" ucap Rangga sambil menggelengkan kepala. Dia tidak yakin akan bisa mencintai Rachel seperti yang mamanya katakan. Karena telah lama dia berhubungan dengan Rachel, tak ada sedikitpun rasa cinta yang tumbuh di hatinya untuk wanita itu. Jangankan cinta, bahkan sekedar rasa suka dan tertarik pun tak ada sama sekali.
"Itu karena kau tidak membuka hatimu untuknya. Kau harus mencoba untuk membuka hati untuknya. Pernikahan kalian beberapa hari lagi. Tuan Dominic dan Rachel pasti telah menyebar rencana pernikahan kalian ke publik. Kau harus persiapkan dirimu. Lupakan Khanza, lupakan May! Kau pun berhak bahagia nak. Dan ingatlah Nenekmu, yang sudah lama menantikan pernikahan mu. Dia sangat bahagia, dan mungkin saja dia yang paling bahagia dengan pernikahan mu. Jangan buat nenekmu kecewa dan sedih!" kata Cindy menepuk bahunya.
"Kau harus percaya akan jodoh yang di takdirkan tuhan untuk mu. Jika May memang jodoh mu, maka Allah akan memberikan dia untukmu....untuk kau miliki, menjadi istrimu, menjadi pendamping hidup mu sampai akhir hayat mu." kata Cindy tersenyum. Wanita anggun itu menyapu sisa air mata putranya. Kemudian beranjak pergi.
__ADS_1
Sementara Rangga termangu mendengar perkataan mamanya. Jika May jodohnya, maka May lah yang akan menjadi istrinya, menjadi pendamping hidupnya. Tapi nyatanya tuhan memberikan Rachel untuk menjadi istrinya dalam waktu beberapa hari.
Rangga menghela nafas berat.
Entah apa yang Allah rencanakan untuknya. Dia memasrahkan semuanya kepada- Nya, termasuk cinta dan kebahagiaannya.
Ponselnya berdering, telepon dari Haris.
Haris mengatakan, May berada di Bandung, seperti kata orang suruhannya. Orang suruhan itu mengecek langsung ke alamat May. May baru tiba dari luar negeri seperti kata tetangga tetangganya.
Rangga menarik nafas lega. Dia tidak khawatir lagi. Gadis itu telah kembali ke tanah air. Berarti May tidak membohonginya.
"Jika May sudah pulang ke Bandung, itu berarti May telah menemukan apa yang dia cari?" pikirnya.
Entah sudah atau belum May menemukan pria itu, Rangga ikhlas dan merelakan May demi kebahagiaan gadis itu, meski sakit. Sama seperti dulu dia mengikhlaskan Khanza untuk Cio demi kebahagiaan mereka karena keduanya saling mencintai.
"Om doakan kamu bahagia bersama pria yang kau cintai!" ucap Rangga tersenyum getir.
May Wulandari yang di lihat oleh orang suruhan Haris di Bandung dan baru pulang dari luar negeri seperti kata tetangga, bukanlah Rai Rara. Tapi May Wulandari asli, kebetulan dia baru pulang dari Malaysia, berlibur di sana menghabiskan uang tutup mulut pemberian Sofi.
Hanya saja orang suruhan Haris tidak tahu melihat langsung wajah asli May Wulandari.
Bersambung.
__ADS_1