Rangga dan Rara (Mencintai Anak Mantan)

Rangga dan Rara (Mencintai Anak Mantan)
79. Kenapa aku harus sakit hati lagi?


__ADS_3

...Happy Reading....


Dengan menggunakan beberapa alasan Sofi mengatakan mereka batal kembali ke Indonesia. Sala satunya dengan keberadaan orang tua Rara di Australia.


"Ortu Lo, nenek dan Kakek mu ada di Australia. Jadi buat apa Lo balik ke Indonesia? Seluruh keluarga Lo ada di sini. Nanti saja kita balik saat mereka balik. Dan lagi, bokap sama nyokap gue akan datang ke Australia malam ini." kata Sofi memberi alasan agar May membatalkan penerbangan ke Indonesia.


"Benar juga kata Sofi. Kakek nenek, papa mama ada di Sidney, buat apa Aku balik ke Indonesia tanpa ada mereka di sana. Rumah pasti sunyi dan sepi tak ada mereka." Gumam May.


"Mumpung ortu lo ada di sini, lo bisa gunakan kesempatan itu bertemu kembali dengan tuan Rad." kata Sofi dengan senyuman menggoda.


"Benar juga ya, aku masih ingin mengenal tuan Rad lebih dekat. Orangnya kayaknya baik deh, menghargai fansnya. Siapa tau saja dia masih mau ketemu dan ngobrol sama aku." kata May, lalu di susul tawa kecil.


Keduanya segera meninggalkan bandara. Menuju hotel tempat Sofi menginap. Rencananya mereka akan pindah ke hotel lain untuk menghindari Rangga. May khawatir Rangga akan datang kembali ke hotel Sofi untuk menemuinya.


.


.


Ruang kerja Rangga.


"Carikan aku sekretaris baru yang bisa di percayai untuk menemani ku saat aku menjadi Rad. Dan saat menjadi Rad, kau jangan mengikuti ku." perintah Rangga pada Verdy.


"Baik Tuan." kata Verdy yang mengerti maksud tuannya.


Rangga tersenyum memikirkan sesuatu. Dia membuka Instagramnya dan mengunggah sesuatu. Ini caranya untuk bisa dekat kembali dengan May.


"Setelah ini apa agenda ku?" tanya Rangga.


"Tidak ada Tuan. Tapi setelah magrib anda akan bertemu dengan Tuan Ryu Deva Mayandra." kata Verdy perlahan.


Rangga termangu mendengar nama yang di sebut Verdy. Ryu Deva Mayandra?


Rangga menatap lurus ke depan. Lalu menoleh pada asisten pribadinya ini.


"Ryu Deva Mayandra?" seingatnya dia tidak punya urusan apa pun dengan pria itu sejak 18 tahun yang lalu. Ryu sendiri yang memintanya untuk menjauhi keluarganya terutama Khanza untuk selamanya.


"Maaf tuan, Saya baru mendapat pesan dari sekretaris pribadi tuan Ryu. Pak Simon mengatakan pimpinannya ingin bertemu secara pribadi dengan Anda. Tapi semua tergantung Tuan. Jika Anda menolak, saya akan memberikan alasan kepada Tuan Simon." kata Verdy. Dia juga kaget ketika mendapat pesan dari Simon, sekretaris Ryu Deva Mayandra. Yang mengatakan kalau Pimpinannya ingin bertemu dengan Rangga secara pribadi.


Rangga menarik nafas dalam-dalam dan di hembusan secara perlahan, memikirkan sesuatu."Apa ada hubungannya dengan pertemuan aku dengan Khanza kemarin?" batinnya. 18 tahun dia menghilang dari kehidupan Khanza karena permintaan Cio. Dan kini dia dan Khanza telah di pertemukan kembali secara tidak sengaja. Apa Cio akan kembali memintanya untuk menjauhi Khanza?


"Tuan, jika anda menolak, saya akan segera memberi balasan pada tuan Simon." suara Verdy membuyarkan lamunannya.


"Aku akan menemuinya!" kata Rangga segera. Dia tidak mau di sebut pecundang yang menyembunyikan pertemuannya dengan Khanza. Rangga tidak mau di anggap pencuri yang bertemu dengan istri orang secara sembunyi sembunyi. Dia akan menghadapi Ryu.


Rangga bangkit dari duduknya dan berjalan ke luar dari ruang kerja. Verdy mengikuti dari belakang. Mereka turun ke bawah. Mobil Rangga sudah menunggu di depan pintu keluar.


"Aku mau ke suatu tempat. Kau tidak perlu ikut." kata Rangga sebelum masuk mobil.


"Baik Tuan." kata Verdy patuh.


Rangga segera masuk. Saat hendak menyalakan mesin mobil, teleponnya bergetar. Rangga segera mengambil benda pipih yang terus bergetar dari saku jas. Dia kaget saat melihat siapa yang menelepon, Khanza?

__ADS_1


Rangga masih menatap panggilan Khanza, dua hati mau menerima atau tidak. Detik detik panggilan akan berakhir, dia segera mengangkatnya. Tak enak juga hatinya mengabaikan panggilan wanita itu.


"Assalamualaikum pak Presdir!" ucap Khanza dari seberang. Suara khas bercanda.


"Waalaikumsalam Nyonya Sahreza Gracio." balas Rangga.


Khanza tersenyum mendengar sebutan formal itu."Apa Anda sedang sibuk pak Presdir? Aku tidak menggangu bukan?"


"Tidak, kebetulan aku mau keluar. Aku__!" kalimat Rangga menggantung. Karena Khanza memotong ucapannya.


"Aku berada di Cafe X, Segeralah datang. Jangan buat aku menunggu. Kalau gak, aku akan marah padamu, assalamualaikum."


"Tapi___!" ucapan Rangga kembali menggantung. Karena panggilan di matikan Khanza dari seberang. Rangga terdiam. Dia ingin menolak tapi Khanza tak memberinya kesempatan untuk bicara dan langsung mematikan panggilan.


Tangga dua hati untuk memenuhi keinginan wanita itu. Beberapa saat berpikir, akhirnya Rangga memutuskan untuk menemui Khanza. Mengingat Khanza seorang diri di Cafe dan sedang menunggunya. Dan lebih penting dari itu, dia tidak ingin membuat wanita itu kecewa. Rangga segera melarikan mobilnya ke alamat yang di sebut Khanza.


30 menit berlalu, Rangga tiba. Dia melepas jas dan segera turun. Rangga langsung menuju meja Khanza begitu mendapat pesan dari Khanza.


Rangga duduk di depan Khanza. Dia sedikit melongo melihat penampilan wanita masa lalunya ini. Memakai kacamata dan hijab topi yang menutupi sebagian wajahnya.


Khanza melepas kacamatanya.


"Hay __!" sapa Khanza dengan senyum manisnya. Lalu melepas kacamata.


Rangga kembali terpana melihat sepasang mata teduh indah di depannya. Wajah ini semakin cantik dengan hiasan senyum manis. Semakin bertambah umur, membuat Khanza semakin dewasa, matang, anggun dan cantik dalam pandangannya. Khanza Ghaniya Artawijaya__lagi lagi membuat hatinya bergetar. Rangga segera memalingkan wajah ke sebelah, membuang fantasia buruk yang sempat muncul. Seharusnya dia tidak mengagumi wanita ini lagi.


"Hey, Kenapa menatap ku begitu? Apa aku cantik dengan memakai hijab begini?" suara Khanza membuyarkan fantasi indah di pikiran Rangga.


"Khanza, seharusnya kamu tidak menemui ku secara sembunyi sembunyi begini." kata Rangga tidak enak setelah mendengar penjelasan Khanza. Karena Khanza wanita yang telah bersuami. Seharunya mendapatkan izin dari Cio jika bertemu dengan seorang pria. Apalagi dirinya. Cio pasti akan marah besar.


"Kamu jangan khawatir, aku kemari atas sepengetahuan suamiku. Aku pamit ke dia mau ketemu teman lama. Ya __ meski aku gak kasih tahu kalau itu adalah kamu." kata Khanza senyum senyum.


"Kenapa nggak jujur?"


"Kak Cio pasti gak akan ngizinin. Dia orangnya cemburuan sih dari dulu. Kamu juga kan tahu itu?" kata Khanza.


"Tapi tenang saja, aku hanya mencintainya. Hanya dia pria yang aku cintai selamnya. Terserah dia percaya atau nggak. Yang penting aku gak ada niatan selingkuh."


Rangga menelan ludah pahit mendengar pengakuan jujur itu. Entah kenapa dadanya sesak. Tapi dia senang wanita ini bahagia dengan Cio."Tetap saja kau tidak boleh begitu Khanza. Kamu sedang membohongi suamimu. Dan itu gak baik."


"Terus bagaimana? Jika aku mengajaknya, dia pasti gak mau. Kalaupun mau, pasti aku tidak akan di izinkan bicara dengan kamu!" kata Khanza dengan bibir manyun.


"Lagi pula semua salahmu__." sambung Khanza menatap Cemberut.


"Kok aku?" wajah Rangga mengernyit.


"Iya __ kalau kau tidak menghilang lama dari ku, aku pasti tidak akan seantusias ini merindukanmu, ingin terus menemui mu, mau bersama mu." kata Khanza sedikit kesal. Tapi kemudian dia tersenyum."Aku mau kita mengobrol banyak setelah 18 tahun ini. Pasti banyak hal yang telah terjadi pada dirimu. Aku ingin mengetahui hal apa saja yang kau lakukan selama ini selain bekerja. Terutama yang ingin ku ketahui adalah kisah asmara mu dan ___!"


"Khanza ___!" Rangga memotong ucapannya.


"Aku ingin kita terbuka dan bicara bebas seperti dulu tanpa ada yang di sembunyikan. Aku masih RARA-MU yang dulu." kata Rara segera sambil tersenyum.

__ADS_1


Rangga terhenyak mendengar nama itu, RARA. Nama yang selalu terucap oleh bibirnya, hanya nama itu yang selalu membuatnya bergetar dan merasa bahagia.


Perlahan tangan Khanza terjulur mendekati tangan Rangga, memegang hangat kedua tangan kekar Rangga. Rangga terkejut.


"Aku masih tetap sahabatmu yang dulu, Rai Rara!" katanya menatap lembut. Meski memakai brewok palsu, softlens dan rambut tebal palsu, dia tetap bisa mengenal pria ini."Meski kau menutupi dirimu dengan ini semua, aku tetap bisa mengetahui mu, mengenal aroma tubuhmu. Bukan kah itu yang kau katakan dulu? kau dan aku akan saling mengetahui dari aroma tubuh."


Keduanya saling menatap dalam beberapa saat.


Sementara dari meja makan yang lain, tidak jauh dari mereka, ada hati tersakiti melihat kedekatan mereka. May, yang kebetulan baru datang ingin lunch bersama Sofi. Baru saja mendudukkan bokongnya, secara tidak sengaja matanya melihat Rangga. May tidak mengetahui kalau wanita itu adalah Khanza, karena posisi mamanya membelakanginya. Dan di tambah wajah mamanya terhalangi oleh hijab. May ingat wanita itu adalah wanita yang bersama dengan Rangga di restoran kemarin. Berpelukan penuh kebahagiaan. Wanita di yakininya anggapnya adalah cinta pertama Rangga. Dan kini mereka bertemu kembali. Dan entah ini sudah pertemuan mereka yang ke berapa untuk melepas kerinduan. Itu yang di pikir May dan membuat hatinya sakit.


Sementara Khanza menatap Rangga sedih."Atau kau tidak mau menjadi sahabat ku lagi? Itu sudah pasti. 18 tahun telah berlalu, tentu kau sudah memiliki banyak teman dan telah melupakan Aku kan? Dan karena itu kau tidak pernah lagi menghubungi ku_ kau menghilang selamanya dari ku tanpa kabar."


"Tidak seperti itu Rara __!" kata Rangga memotong ucapannya. Melihat wajah manyun, kecewa dan sedih wanita ini. Dia segera memegang ke dua tangan wanita itu saat Khanza menariknya. Rangga tidak mau Khanza menuduhnya buruk lagi. Entah bagaimana caranya menjelaskan kalau semuanya demi janjinya pada Cio. Kalau di katakan, Khanza pasti akan marah pada Cio.


"Lalu kenapa?" tanya Khanza penasaran.


"Aku punya alasan untuk itu!" kata Rangga.


"Apa? katakan padaku." Khanza membalas genggaman.


May mengeluh sedih. Dia segera berdiri tak tahan melihat kemesraan mereka. Pergerakannya yang reflek mengalihkan pandangan Rangga dari Khanza dan tertuju kepadanya. Rangga terkejut melihatnya.


"May," gumamnya tanpa sadar.


May menatap sedih dengan mata yang telah basah. Rangga buru buru melepaskan tangan Khanza. Keduanya menatap beberapa saat. May kembali mendesah sedih, lalu segera berbalik dan meninggalkan meja di ikuti Sofi.


"May, May tunggu __ Hey kau mau kemana? Kita belum makan." Sofi berkata sambil mengejarnya. May tak perduli, dia terus melangkah dengan cepat keluar dari tempat itu. Karena air matanya telah merembes jatuh.


Sedangkan Rangga segera bangkit dan hendak mengejar, tapi batal karena lengannya di tahan Khanza."Kau mau kemana?"


Rangga tak menjawab, matanya terus melihat kepergian May. Dia mendesah kasar, entah apa yang di pikirkan May lagi tentang dirinya. May pasti semakin membencinya terlihat dari kemarahan dan kesedihan yang terpancar dari wajah gadis itu.


"Ada apa?" tanya Khanza kembali.


"Bukan apa apa, aku hanya melihat seseorang yang ku kenal." kata Rangga. Dia kembali duduk dengan hati dan pikiran yang tidak tenang. Dia tidak menyangka ternyata May ada di tempat ini juga.


"Siapa? Aku mendengar kamu menyebut nama seseorang tadi. Apa dia seseorang yang spesial?" tanya Khanza dengan senyum menggoda.


Rangga membuang nafas berat. Tak menjawab karena masih kepikiran terus pada May.


"Kenapa tidak di hubungi saja dan minta dia balik lagi ke sini?" kata Khanza melihat kegelisahan Rangga.


"Aku tidak punya nomor teleponnya. Aku tidak sempat memintanya. Sudahlah __ lupakan. Nanti aku akan menemuinya." kata Rangga. Kalau bukan karena nomornya di blokir May, sudah pasti dia telah menghubungi Gadis itu. Dan tidak mungkin dia mengatakan pada Khanza kalau May telah memblokir nomornya.


Sementara di luar. May menangis tersedu-sedu."Dasar bodoh, kenapa kau menangisi pria itu? untuk apa kau sakit hati lagi?" umpat May memaki dirinya sendiri."Jangan menangis, hapus air matamu bodoh. Bukan kah kau marah dan membencinya? Kau sendiri yang ingin menjauhi dan melupakannya." umpatnya kembali.


"Ra, udah, Jangan nangis. Jangan menyalahkan dirimu. Aku yang salah karena mengajakmu ke sini. Seharusnya aku tidak mengajakmu lunch di tempat itu sehingga kau tidak perlu melihat pak Rangga dengan wanita itu. Maaf, semua salahku!" ucap Sofi merasa bersalah. Sebenarnya dia tidak ada rencana untuk datang ke kafe itu, tapi Wisnu memintanya untuk mengajak May makan di tempat itu. Alasannya, karena ada beberapa menu makanan dan minuman favorit Rara di tempat itu. Apa itu hanya alasan Wisnu saja? Atau memang suatu kebetulan?


...Bersambung...


...Jangan lupa dukungannya ya, terimakasih yang sudah mampir 😍...

__ADS_1


__ADS_2