Rangga dan Rara (Mencintai Anak Mantan)

Rangga dan Rara (Mencintai Anak Mantan)
73. Ikhlas melepaskan


__ADS_3

...Happy Reading....


Meski sakit, aku harus melupakan mu. Dan merelakan mu untuk di miliki wanita lain. Mungkin kita bukan jodoh. Semoga engkau bahagia bersama dengan calon istrimu. Belajarlah untuk mencintainya, menerimanya dalam hidupmu untuk kebahagiaan di masa depan___ coretan jeritan hati May.


Semangat May, kau pasti bisa melupakan lelaki bajingan itu. Dia tak pantas untukmu, Bajingan itu sama seperti hidung belang lainnya, yang hanya memanfaatkan dirimu. Kau masih muda, sangat cantik, memiliki segala kemewahan. Tak pantas untuk pria tua itu. Masih banyak pria muda, tampan dan mapan mengantre untuk memiliki mu. Realitanya seperti itu. Kau gadis baik. Pasti akan mendapatkan pria terbaik. (Menghibur dan menguatkan diri sendiri).


Dua hari berlalu.


Tok__tok __Tok.


Terdengar pintu kamar di ketuk dari luar. May menggeliat di tempat tidur. Malas rasanya untuk bangun. Semalam dia insomnia. Baru dekat subuh tertidur. Matanya sangat berat untuk di buka.


Pintu di buka dari luar. Masuklah Sean.


"Selamat pagi Nona May!" sapa Sean. Dia melihat May yang masih meringkuk di bawah selimut. Tak ada jawaban. Pria bule itu berjalan ke jendela dan membuka tirai jendela. Cahaya matahari pagi masuk melalui celah jendela.


May menutup wajah dengan telapak tangan, sembari menyesuaikan matanya dengan cahaya matahari. Dia bergerak merenggangkan otot tubuhnya yang kaku. Membuka mata dengan sempurna. Melihat wajah tampan bule milik Sean.


"Bangunlah. Mandi lalu sarapan." kata Sean. "Hari ini aku akan pergi ke Tasmania. Ada urusan pekerjaan di sana." kata Sean. Dia mendekati tempat tidur dan duduk di bibir ranjang. Dia melihat mata May yang sembab. Sudah dapat di pastikan gadis ini banyak menangis sejak pertengkaran dengan Rangga malam itu. Meski May menyembunyikan masalahnya, Sean tahu.


May segera bangun."Sudah jam berapa ini?" tanya May. Dia celingukan mencari ponselnya.


"Jam 10." jawab Sean segera sebelum May melihat ponselnya.


Wajah May mengernyit,"Jam 10?"


Sean mengangguk. Dia bangkit berdiri. May turun dari ranjang. Gak nyangka kesiangan bangun. Di kiranya baru jam 8 pagi.


"Apa rencana mu hari ini?" tanya Sean.


"Aku mau ke suatu tempat. Setelah itu akan pulang ke negara ku!" jawab May.

__ADS_1


"Pulang ke Indonesia?" Sean sedikit terkejut.


May mengangguk."Iya__!" Dia berjalan menuju wastafel. Menyikat gigi dan membasuh wajah.


"Kenapa begitu mendadak? Apa telah terjadi sesuatu?"


"Tidak ada. Aku memang telah memikirkannya dari kemarin." jawab May.


"Terus, kau tidak ingin bertemu dengan tuan Rangga? Setidaknya untuk terakhir kali sebelum kau balik ke negaramu. Dari kemarin dia mencari mu. Selalu menghubungi meminta untuk bertemu dengan mu. Dan terakhir tadi pagi dia menghubungi ku menanyakan dirimu." kata Sean.


"Aku tidak punya urusan apa pun lagi dengannya. Anda tidak perlu meladeni pembicaraannya jika itu tentang aku." kata May sembari melap wajahnya dengan tissue.


Dia berjalan mendekati Sean.


"Apa ada masalah?" tanya Sean berpura-pura.


"Tidak ada. Justru aku ingin menghindari masalah. Anda sendiri tahu pak Rangga sudah bertunangan dengan ibu Rachel. Dan tunangannya itu tidak menyukai ku." kata May muka masam. Tapi kemudian dia tersenyum. sembari meraih tangan Sean dan di genggam."Mr Sean, terimakasih atas kebaikan anda kepada ku selama ini. Jika nanti kau datang ke Indonesia, aku akan membalas kebaikanmu. Setelah aku tiba di negara ku, aku akan mengirimkan alamat tempat tinggal ku. Datanglah dan temui aku di sana." Kata May masih dengan senyum di wajah.


"Aku lebih suka kau tinggal dan kuliah di sini. Kau bisa bekerja di perusahaan ku. Atau__tak berkerja pun tak apa, tak masalah bagiku! Aku akan membiayai semua kebutuhan hidup dan biaya pendidikan mu. Tapi, meski aku sangat ingin kau tinggal di sini, aku tidak akan memaksa mu Nona May!" kata Sean tersenyum, meski sebenarnya dia kecewa karena tidak menginginkan May kembali."Baiklah__ aku pasti akan datang ke rumah mu. Aku sering ke Indonesia karena punya usaha sampingan di sana."


"Oh ya, itu bagus. Aku akan menunggu mu. Ajaklah si kembar." sambung May tersenyum.


Sean mengangguk. May memeluknya yang langsung di balas Sean dengan hangat. May terharu dengan kebaikan pria bule ini. Baik dan menghargai dirinya sebagai seorang wanita. Kebaikannya tulus tidak punya niat buruk, meski Sean mencintainya. Pria ini tak memaksakan hati dan cinta kepada dirinya. Selama dua hari ini Sean menyembunyikan dirinya dari Rangga yang terus mencarinya. May meminta Sean untuk tidak mengatakan keberadaan dirinya pada Rangga. Dengan segala kekuasaan Sean, Sean mampu menyembunyikan dirinya dari Rangga.


May melepas pelukannya.


"Kau bisa pulang dengan pesawat pribadi ku." kata Sean menawarkan diri.


"Tidak perlu. Aku akan naik pesawat komersial. Itu lebih membuat ku nyaman." kata May tersenyum.


"Baik, terserah anda saja Nona. Aku tidak akan memaksa." kata Sean.

__ADS_1


Dan itu membuat May menyukai pria ini. Tidak suka memaksa.


"Aku pergi dulu. Jika perlu sesuatu katakan saja kepada kepala pelayan. Hubungi aku jika kau sudah mau terbang ke negara mu."


May mengangguk. Keduanya masih menatap sambil tersenyum. Lalu kemudian Sean segera keluar. Bertepatan dengan telepon May berbunyi. Dia melihat panggilan dari Rangga. May mengabaikannya. Mati dan berbunyi lagi. Entah sudah berapa puluh kali Rangga menghubungi dan mengirim pesan dari kemarin.


Untuk melupakan seseorang yang kita cintai tapi tidak bisa di miliki, mulailah menjauh dan juga memutus segala akses hubungan apapun dengannya. May mengambil ponselnya. Menatap nama Om Rangga yang tertera."Sudah cukup kau membuat ku sakit dan menangis. Aku tidak mau menderita lagi. Maaf Om __!" May mematikan panggilan Rangga. Lalu memblokir nomornya.


Dadanya kembali sesak dan lagi lagi matanya basah. May segera ke kamar mandi untuk membersihkan tubuh hati dan jiwanya dari pikiran pikiran tentang pria itu. Berharap semua kenangan dengan pria itu terhapus dan hilang dari hati dan pikirannya.


Dua jam berlalu. May menghubungi Sofi sahabatnya. Sofi baru tiba dari Eropa tiga jam yang lalu. May sengaja memintanya untuk datang ke Australia. Karena rindu pada Rara, gadis itu rela datang meski jauh.


📞"Lo di mana sekarang?" terdengar suara senang Sofi dari seberang.


📞"Aku sedang mengunjungi kediaman orang tua ku. Tapi aku hanya melihat mereka sembunyi sembunyi. Aku belum ingin menampakkan diriku. Kita ketemu di restoran X ya? Aku akan mengirimkan lokasinya. Dua jam lagi kita bertemu di sana. Aku masih ingin ke suatu tempat dulu."


📞"Oke beb, Aku akan datang." kata Sofi.


📞"Oke, by__." kata May, lalu mematikan ponselnya.


May menyimpan ponsel di tas. Saat ini dia sedang berada kediaman orang tuanya di Australia. May senang sekaligus haru melihat papa dan mamanya ke luar dari rumah dan masuk ke dalam mobil. May melihat sembunyi sembunyi dari balik pohon. Dia belum ingin menampakkan diri. Mobil papa mamanya bergerak keluar dari halaman menuju jalan raya. May senang meski hanya melihat dari jauh. Setelah mobil orang tuanya menghilang, May segera mencegat taksi dan pergi dari area itu. Dia ingin ke suatu tempat. Tempat yang di datangi RAD semalam. Seseorang telah melihat Rad berada di toko itu semalam, lalu mengunggahnya di Instagram. Sebelum balik ke tanah air, May ingin bertemu dengan Rad, setidaknya walau hanya sekali ___atau cukup melihat dari jauh sudah lebih dari cukup. Tapi di hati kecilnya, dia tetap berharap Tuhan mempertemukan dirinya dengan pria itu.


Kantor pusat R².


Rangga melempar ponselnya sembarang tempat. Kekesalannya karena May tidak mau menemuinya, menerima teleponnya, membalas setiap pesannya. Dan kini gadis itu memblokir nomornya.


"May! Jangan seperti ini. Om tidak tahan kau abaikan terus." ucap Rangga sendu. Kalaupun May tidak mau berhubungan dengannya lagi, setidaknya harus bicara baik-baik untuk menyelesaikan kesalahpahaman di antara mereka. Dia tidak ingin May membencinya, mengecap dirinya pria brengsek dan bajingan karena telah menyentuh nya. Selama dua hari dua malam dia hanya memikirkan gadis itu. Tak fokus bekerja, tidur tak nyenyak, tak menyentuh makanan. Hanya air minum saja. Entah kemana May pergi? Dia sudah mencarinya ke setiap tempat milik Sean, bertanya berulang pada Sean, tapi tidak mendapatkan keberadaan May. Sungguh gadis itu membuat hidupnya tidak tenang dan berantakan. Tak elak Verdy dan karyawan yang melakukan kesalahan sedikit mendapatkan kemarahan darinya.


...Bersambung....


Maaf baru bisa up....

__ADS_1


Tinggalkan jejak dukungannya


__ADS_2