
...Happy Reading....
Sebagai seorang perempuan, jiwa Khanza meronta-ronta melihat barang barang branded berkualitas tinggi di setiap pajangan. Belum lagi melihat diskon besar besaran tertulis pada label. Dia tertarik dan ikut melihat berbagai macam barang dengan merek yang berbeda-beda bertaraf internasional itu. Berbaur dengan pengunjung lainnya. Meski terlihat indah dan murah, dia tidak tertarik untuk membeli. Karena semua barang-barang itu dia punya. Tapi tidak selalu di pergunakan. Suaminya selalu memanjakan dirinya dengan barang barang mewah. Mulai dari segi pakaian, sepatu, tas, perhiasan, aksesoris pakaian, mobil mewah, rumah mewah, dan barang lainnya. Dia sudah mendapatkan segala kemewahan itu dari Cio sejak dia lahir. Saat mereka terpisah dulu, Cio selalu membeli kado kado mewah di setiap ulang tahunnya. Belum lagi pemberian papa mamanya, juga ketiga kakaknya. Bahkan dia punya toko dari setiap barang barang branded berkualitas tinggi tersebut. Yang tersebar di tanah air dan juga ke luar negeri.
Khanza terkejut saat lengannya tersenggol oleh pengunjung lain. Sesuatu yang lembab di rasakan pada area perut. Dia menunduk untuk melihat. Pakaiannya basah terkena tumpahan minum yang di pegang oleh pengunjung.
"Sorry I Did Not Mean It." kata pengunjung itu kaget melihat pakaian Khanza basah karena minumannya. Dia merasa bersalah."Sorry!" reflek membersihkan pakaian Khanza dengan telapak tangan.
"It's okay!" kata Khanza. Mungkin wanita itu memang tidak sengaja."Tidak apa apa."
Setelah mengucapkan permohonan maaf,. wanita itu segera pergi. Khanza melangkah menuju toilet. Karena menunduk melihat noda noda di bajunya, dia menabrak orang di depannya. Khanza kaget.
"Maaf, Saya tidak sengaja. Anda tidak apa?"
ucap Khanza. Dia melihat seorang wanita dengan wajah tertutup masker putih.
"Kalau jalan pakai mata, bukan dengkul!" Orang itu mengumpat Khanza, lalu pergi.
"Maaf __maaf!" ucap Khanza melihat kepergian wanita itu. Mengenakan mantel coklat, rambut coklat terurai panjang.
Khanza melanjutkan langkah menuju toilet untuk membersihkan baju. Tanpa di sadari seseorang mengikuti secara diam-diam. Keadaan toilet tampak sunyi, tak ada pengunjung di dalam. Khanza membersihkan pakaian di wastafel. Dia begitu fokus pada apa yang di kerjakan hingga tidak menyadari seseorang mendekat dari belakang. Begitu dekat, seseorang di belakangnya dengan cepat mengayunkan benda tajam ke punggungnya. Tapi dengan gerakan cepat Khanza mengelak, menghindar ke samping. Dia meski fokus membersihkan pakaian, bayangan orang di belakang tertangkap oleh mata lewat pantulan cermin.
Khanza terkejut mendapat serangan tiba tiba. Sementara si penyerang mendengus geram karena pisaunya tidak mengenai sasaran dan mendarat pada wastafel.
"Siapa kau?" tanya Khanza di tengah keterkejutannya dan rasa takut. Melihat penyerang seorang wanita dengan wajah tertutup masker hitam, mantel hitam, mengenakan topi dan kacamata hitam."Kenapa kau menyerang ku?"
"Wanita Rendah. Mati kau." sentak si penyerang menatap kebencian pada Khanza. Pertanyaan Khanza di jawab dengan sabetan pisau yang cepat mengarah kepadanya. Khanza tidak sempat berkelit. Dia menjerit seraya melindungi wajahnya dengan kedua lengan. Belum sempat pisau itu menancap di kepalanya, Sebuah benda besar mendarat cepat ke kepala si penyerang. Benda yang merupakan tempat sampah stainless yang di pukulkan oleh seseorang ke kepala si penyerang. Si penyerang memekik merasakan kepalanya sakit, juga matanya pusing.
Seseorang yang lain tampak masuk dan memeluk Khanza, melindungi sekaligus menutup wajah Khanza dengan mantel dan membawa Khanza secepatnya ke luar dari toilet.
__ADS_1
Begitu di luar. "Sofi?" Khanza terkejut melihat siapa yang telah menolongnya. Sofi memang sengaja cepat membawa Khanza keluar dari toilet setelah mendapat isyarat dari May. May tidak ingin mamanya melihat wajahnya dan mengetahui dia yang telah menolong.
"Ayo Tante, kita pergi dari sini.....!" menarik tangan Khanza untuk menjauh dari toilet.
"Tapi orang yang telah menolong Tante......!" kata Khanza teringat orang yang telah menyelamatkannya dari pisau belati. Meski tidak melihat wajah orang yang telah menolongnya, tapi dia tahu ada orang yang telah menolongnya selain Sofi.
"Tante jangan khawatir. Itu sepupu aku. Dia jago bela diri. Aku yakin dia bisa menjaga diri. Sebaiknya kita cari bantuan. Ayo.....!" kata Sofi terburu buru."Jago bela diri apanya?" batin Sofi. Saat ini dia juga sangat Khawatir dengan keadaan May di dalam sana.
Terpaksa Khanza mengalah dan segera mengikuti langkah Sofi untuk menemui pihak keamanan.
Sementara di dalam kamar mandi. "Kau?" kata si penyerang terkejut setelah tahu siapa yang telah menggagalkan rencananya mencelakai Khanza. Meski memakai masker, rambut palsu dan topi, dia mengenal orang ini__May Wulandari. Wanita yang sangat di bencinya sama seperti Khanza. Wanita yang masuk di kehidupan Rangga dan merusak hubungan mereka. Keduanya adalah Wanita wanita yang membuat Rangga tidak bisa membuka hati dan mencintai wanita lain, termasuk dirinya. Wanita yang di yakini adalah cinta pertama Rangga dan May cinta ke dua Rangga.
May Wulandari tersenyum sinis, menatap dengan seringai tajam."Kau memang wanita jahat Rachel. Kau manusia yang menyerupai iblis. Hanya karena wanita itu tidak sengaja menabrak mu, kau ingin membunuhnya?" kata May dengan dengan seringai tajam.
"Cih....!" umpat Rachel sinis. "Kau pun akan mengalami nasib yang sama seperti wanita itu. Kau akan menjadi gantinya." Untuk selanjutnya dia mengayunkan Pisau ke arah May dengan cepat.
May terkejut dan kelabakan, tapi dengan gerakan cepat dia berkelit ke samping. Lalu melayangkan tempat sampah ke tangan Rachel. Pisau terlepas jatuh ke lantai di sertai pekikan keluar dari mulut Rachel karena lengannya sakit terkena hantaman tempat sampah. Kesempatan itu di gunakan May keluar dari toilet dan melarikan diri.
Rachel secepatnya menyembunyikan pisau di balik mantel sebelum di lihat oleh wanita wanita itu. Rachel berusaha tenang dan bersikap santai seolah tidak terjadi apa-apa. Mata pengunjung toilet menatap aneh penuh tanya kepadanya. Rachel tidak peduli dengan tatapan aneh mereka. Dia segera keluar dari toilet ketika wanita wanita itu memberinya jalan. Rachel mengumpat kesal karena kehilangan May. Dia tidak melihat sosok gadis itu. Cepat sekali larinya hingga tidak meninggalkan bayangan. Rachel mendengus geram. Rencananya untuk menghabisi Khanza gagal total. Padahal dia telah merencanakan dengan matang untuk mencelakai wanita itu.
Kebencian, kemarahan dan terbakar api cemburu melihat kedekatan Rangga dan Khanza saat bermain bowling dan basket. Perlakuan manis Rangga yang membawakan Khanza eskrim dan memijat kaki wanita itu. Pelukan keduanya yang menyolok mesra. Juga sikap manja Khanza pada Rangga. Dia tidak menyangka Rangga ada di Mall, karena setahunya sedang ada agenda pertemuan dengan pimpinan perusahaan X Company. Dia terus mengikuti aktivitas keduanya di fun world, bermain beberapa game. Hingga akhirnya Rangga pamit.
Timbul niat jahat untuk balas dendam melihat Khanza seorang diri. Dia membayar seseorang untuk menyenggol Khanza dan menumpahkan minuman ke baju Khanza. Dia yakin Khanza akan ke toilet untuk membersihkan bajunya. Dan rencananya dia akan melampiaskan dendam pada khanza di dalam toilet.
Sebelum Khanza sampai ke toilet, dia sengaja menabrak Khanza. Lalu mengumpat dan menyalahkan Khanza karena jalan menunduk tidak melihat ke depan hingga menabrak orang. Setelah khanza melanjutkan perjalanan ke toilet, dia menyusul Khanza ke toilet untuk melancarkan aksinya setelah terlebih dulu mengganti masker dan mantel. Tidak di duga rencananya gagal total dengan kedatangan May dan Sofi. Dia tidak menyangka kedua gadis itu ada di Mall dan mengetahui kejahatannya yang akan di lakukan pada Khanza.
Rachel segera berlari melihat beberapa petugas keamanan menuju toilet bersama Sofi dan Khanza. Dia tidak melihat May. Mungkin gadis itu melarikan diri dan bersembunyi darinya.
Sementara May melihat dari jauh Sofi mamanya dan petugas keamanan yang tampak memeriksa area toilet dan dalamnya. Pengunjung wanita mengatakan orang yang di cari mereka telah kabur. CCTV dalam toilet tidak dapat memberikan petunjuk apapun karena rusak. Tentu saja telah di rusak oleh orang suruhan Rachel agar tidak meninggalkan bukti yang terjadi di dalam toilet. Rachel bahkan merusak CCTV di luar toilet.
__ADS_1
May sangat senang dan tak hentinya bersyukur, mamanya baik baik saja. Untung saja dia datang di waktu yang tepat menyelamatkan wanita yang telah melahirkan itu. Dia tidak menyangka Rachel akan menyakiti mamanya.
Saat itu dia dan Sofi hendak menuju toilet karena Sofi mau pipis. Tapi langkah ke duanya melambat tak kalah melihat Khanza berjalan ke arah toilet. May senang melihat mamanya. Kerinduannya terobati. Dia dan Sofi mengikuti Khanza secara diam-diam. Tiba tiba khanza menabrak seseorang tanpa sengaja. Orang itu memarahi mamanya padahal mamanya tidak sengaja. Wajah May menegang ketika mendengar suara siapa wanita itu, Rachel. Dia tahu suara itu suara Rachel. Dia curiga untuk apa Rachel mengikuti mamanya ke toilet. Perasaannya tidak enak. Dia dan Sofi mengikuti Rachel ke dalam toilet. Dan perasaan buruknya terbukti melihat gelagat Rachel yang tidak baik. Mengeluarkan pisau dari balik mantel. May panik, bingung mau melakukan apa. Dia ingin berteriak mengingat kan mamanya akan adanya bahaya, tapi dia khawatir dirinya akan ketahuan. Di tengah kepanikan, dia melihat tempat sampah. Secepatnya mengambil benda itu dan menghantam ke kepala Rachel. Meski takut dengan tangan gemetar, dia melawan Rachel. Dia juga lega, karena mamanya tidak sempat melihat wajahnya.
May tidak menyangka, begitu jahat dan kejamnya Rachel hanya karena mamanya tidak sengaja menabraknya.
Ponselnya di rasakan bergetar. Dia segera mengambil benda pipih itu dari saku celana.
"Kau di mana?" pesan masuk dari Sofi.
"Aku di balik pot besar searah jarum jam. Bagaimana dengan mama? Apa beliau baik?" balas May.
"Kamu jangan khawatir. Keadaan mamamu sudah tenang. Beliau tidak apa apa."
"Alhamdulillah, syukurlah."
"Kamu sendiri bagaimana? Aku sama mama mu cemas banget sama kamu."
"Aku gak apa apa. Aku baik. Aku berhasil melarikan diri sebelum Rachel melukai ku. Apa mama mengenaliku?"
"Aman Ra, kamu tenang saja. Aku mengatakan kau sepupu ku! Sekarang aku mau mengantar mama mu ke parkiran. Dia ke sini di antar sama sopir papa mu. Kau balik saja ke hotel. Nanti aku akan menyusul mu ke sana."
"Oke fi__!" May menyimpan kembali ponselnya. Dia tidak sadar dengan kedua tangannya yang gemetaran.
May hendak melangkah turun ke bawah, tapi dia kembali bersembunyi di balik pot begitu melihat orang orang kakeknya mengikuti mamanya dari belakang.
"Semoga saja orang orang kakek tidak mengetahui keberadaan ku." batinnya cemas.
Bersambung.
__ADS_1
Jangan lupa tinggalkan jejak dukungan yaa