
...Happy Reading....
Di rumah Kediaman Alkas. Cindy baru tiba setelah kembali dari apartemen Rangga. Dia duduk di dekat Dion, yang sedang membaca koran.
Dion meletakkan koran di meja.
"Siapa gadis itu?" tanyanya kemudian menatap wajah istrinya sekaligus adik. Dion memang menunggu kepulangan Cindy.
"May, May Wulandari! OB yang bertugas membersihkan ruang kerja Rangga di perusahaan cabang R²! Usianya masih sangat muda, 17 tahun. Baru saja lulus SMA kemarin." kata Cindy.
Wajah Dion mengernyit "17 tahun?"
"Benar. Haris yang memberi tahu." kata Cindy.
"Kakak tahu nggak? Ternyata gadis itu berasal dari Bandung!" sambung Cindy, menatap wajah suaminya. Dia masih terus memanggil Dion dengan sebutan kakak. Karena dia tidak bisa menghilangkan kebiasaan menyebut Dion kakak, mengingat Dion adalah kakak sepupunya.
"Bandung, negara kita?" wajah Dion mengernyit.
Cindy mengangguk."Iya....!"
"Bagaimana Rangga sampai mengenal dirinya?" Dion sedikit terkejut.
"Tito Kusuma, kepala bagian keuangan mengatakan mereka tidak sengaja bertemu, kejadiannya tiga minggu lalu! Dan mereka kembali di pertemukan secara tidak sengaja saat May mencari pekerjaan!"
"Gadis itu mencari pekerjaan hingga ke sini?"
"Kebetulan May ke Amerika karena ada urusan penting, sepertinya sedang mencari sesuatu. Dan dia perlu uang untuk biaya hidupnya selama di sini! Melalui Tito, Rangga menerimanya bekerja di perusahaan setelah tahu gadis itu berasal dari negara kita! Dan untuk selanjutnya, aku tidak tahu bagaimana kedekatan hubungan mereka hingga membuat Rangga mencintainya!" jelas Cindy.
Dia mengeluarkan ponsel dan membuka galeri. Terus memperlihatkan wajah dan identitas May pada Dion yang dikirim Haris.
Dion memperhatikan dengan cermat. Gadis ini memang masih sangat muda di lihat dari tahun kelahirannya.
Dion kembali menatap wajah istrinya.
"Apa gadis itu mencintai Rangga?"
"Aku tidak tahu pasti hal itu. Yang ku lihat tadi, mereka begitu akrab dan sangat dekat. Rangga begitu bahagia bersamanya! Sama seperti dulu dia mengenal Khanza! Dan kakak tahu apa yang di katakan Rangga sebelum aku pergi?" kata Cindy.
Dion menatap wajah istrinya, menunggu jawaban dari pertanyaan itu.
"Rangga mengatakan mencintai gadis itu, dia bahagia bersamanya!" kata Cindy menjawab pertanyaannya sendiri.
Dion seketika menggeleng."Rasa itu harus di hilangkan. Rangga tidak boleh mencintai wanita lain. Dia memiliki Rachel. Sudah lama Rachel menunggu dirinya! Dan Rangga tidak bisa mencintai dan menjalin hubungan dengan gadis itu, karena usia mereka terpaut jauh. Gadis itu sudah cocok jadi anaknya!" kata Dion tegas.
"Kakak benar. Tapi usia tidak menjadi penghalang jika keduanya saling mencintai. Aku melihat kebahagiaan di wajah Rangga ketika bersama gadis itu. Sudah lama aku tidak melihat putraku tersenyum, tertawa bahagia setelah hubungannya dengan Khanza berakhir! Sudah belasan tahun aku tidak pernah melihat kebahagiaan di wajah putra ku."
"Jujur, saat melihat mereka bercengkrama, saling menggoda di meja makan, aku ikut senang dan bahagia! Setelah 17 tahun berlalu, hidup dengan rasa sakit karena kehilangan, kekecewaan, dalam kesendirian, kehampaan dan hati yang kosong karena kehilangan Khanza, akhirnya putraku bisa tersenyum kembali!" kata Cindy terharu dan tersenyum.
"Kak.....!" dia menatap Dion.
"Jangan mengikuti naluri keibuan mu Cindy! Jangan berpikir macam-macam. Kau tahu itu tidak mungkin! Jauhkan gadis itu dari Rangga. Dan segera tentukan pertunangan Rangga dan Rachel. Mereka harus secepatnya menikah!" kata Dion segera ketika menangkap maksud lain dari pikiran Cindy.
Cindy terdiam,Wajah berubah mendung.
"Tapi kak....!"
"Kita tidak tahu gadis itu. Jangan jangan dia hanya ingin menggoda Rangga. Kau sendiri melihat dia berada di apartemen Rangga. Tidur di sana bersama dengan Rangga. Bisa saja dia bukan gadis baik!" kata Dion.
"Aku lebih percaya putraku, ketika dia mengatakan May wanita baik baik!" kata Cindy."Dan tidak mungkin Rangga melakukan perbuatan rendah, zina dan dosa!" sambung Cindy.
"Meski itu benar, kita tetap tidak bisa mengabaikan Rachel dan membiarkan Rangga dengan gadis itu! Sebaiknya segera bicara dengan Rangga mengenai pertunangannya dengan Rachel. Rencanakan secepatnya!" kata Dion.
"Tapi Rangga tidak mencintai Rachel."
"Cinta akan datang setelah pernikahan. Sudahlah, aku tidak mau membahas ini lagi." Lalu bangkit berdiri.
"Aku mau melihat perkebunan dulu!" katanya.
Cindy mengangguk lemah. Tidak berani memaksa suaminya lagi. Lalu berdiri dan mencium tangan suaminya."Jangan terlalu capek. Nanti penyakit kakak kambuh lagi!" katanya kemudian.
Dion mengangguk, dia segera melangkah di ikuti asisten pribadinya yang sejak tadi berdiri tidak jauh dari tempat mereka.
Setelah tubuh suaminya hilang dari pandangan matanya, Cindy kembali melihat ke layar ponsel. Menatap wajah May.
"May Wulandari! Kenapa hatiku merasa dekat denganmu saat melihat mu dalam gendongan Rangga?" gumamnya menatap lekat wajah May.
.
__ADS_1
.
Rangga tiba di kantor, dan langsung di sambut Rachel di ruang kerja.
"Sayang, kau telat datang ke kantor!"
"Aku masih melakukan meeting dengan pegawai di kantor pusat Australia!" kata Rangga seraya mendudukkan bokongnya di kursi kerja.
Rachel mendekat."Seharusnya kau tidak perlu repot-repot melakukannya . Biar aku yang menyelesaikannya!" katanya tersenyum manis. Dia duduk di depan Rangga.
"Aku ingin bicara penting dengan mu!" lanjutnya kembali.
"Apa Clara sudah menyiapkan pertemuan ku dengan perusahaan A group?" tanya Rangga mengalihkan pembicaraan. Dia tahu Rachel ingin membicarakan tentang pernikahan.
"Semuanya telah siap, sebentar lagi kalian akan pergi!" kata Rachel karena merasakan Rangga menghindari pembicaraan.
"Aku ingin kita segera menikah!" katanya segera. Tidak ingin menunda dan membuang waktu berbicara. Hal ini harus segera di sampaikan.
Hati Rangga kembali tidak tenang."Kita sudah membicarakan hal ini sebelumnya." katanya sambil berpura pura sibuk pada komputer.
"Itu benar, sejak 10 tahun lalu. Dan kau terus menghindar ketika aku membicarakan pernikahan!" kata Rachel mulai terbawa emosi menangkap ketidaksukaan Rangga dengan pembicaraan pernikahan.
"Tolong jangan menghindari ku Rad! Kau sudah setuju untuk menikah dengan ku! Dan aku sudah cukup sabar menunggu dirimu. Tapi kali ini, aku tidak mau menunggu lagi! Orang tua ku akan kemari untuk membicarakan hal ini dengan tuan Dion dan nyonya Cindy! Kedua orang tua mu pun menantikan kedatangan mereka!" kata Rachel melihat Rangga sibuk dengan layar komputer.
"Kenapa kau meminta ini tiba-tiba?" Rangga menatapnya.
"Tiba tiba? Bukankah aku sering meminta hal ini tapi kau selalu menghindar?" Rachel menatap wajahnya."Rad, Umur kita tidak muda lagi. Dan sebagai seorang perempuan di usia yang seperti ini, aku ingin segera menikah, hamil dan memiliki anak seperti halnya perempuan lain! Aku iri melihat teman temanku sudah menikah dan memiliki anak. Aku juga malu saat mereka menanyakan kapan aku menikah!" kata Rachel dengan tegas. Keduanya saling menatap datar satu sama lain.
"Aku sangat mencintaimu. Aku tidak ingin kehilanganmu setelah apa yang ku lihat semalam. Sikapmu mulai berubah, aku tidak bisa menjamin hatimu masih bertahan untuk ku!" lanjut Rahel. Meski dia tahu Rangga tidak mencintainya.
Rangga kembali membuang pandangannya ke layar komputer.
"Aku tidak menyangka ternyata kau dekat dengan gadis itu. Dan karena itu kau mempekerjakannya di ruang kerjamu! Sejak kapan kalian saling mengenal Rangga? Kalian begitu dekat."
"Selama kita berhubungan, kita tidak pernah dekat seperti itu. Kau tidak pernah bersikap mesra padaku! Kau sangat dingin." Rachel terus mencercanya dengan berbagai pertanyaan. Suasana di antara mereka mulai tegang, karena Rachel sudah terbawa emosi.
Rachel ingin bicara lagi, Tapi batal dengan ketukan pintu. Wajah mereka langsung melihat ke arah pintu. Masuklah Clara.
"Permisi pak Rangga, Bu Rachel. Saya hanya ingin mengatakan kalau waktunya kita pergi bertemu dengan pimpinan perusahaan A group!" kata Rachel. Melihat wajah keduanya yang tampak tegang serius? Kenapa mereka? Batinnya.
Rachel menatap kepergiannya dengan geram.
Lagi lagi pembicaraan ini terputus tanpa ada kata pasti dari Rangga.
Setelah Dzuhur May pergi ke kantor. Dia tetap ingin bekerja meski Rangga melarangnya. Tadi, dia mengirim pesan pada Haris akan mengambil waktu kerja siang.
Setelah melapor kedatangan dirinya pada bagian HRD, May segera ke ruang ganti untuk bersiap kerja. Dia lega, saat Haris mengatakan Rangga tidak berada di ruang kerja sedang ada urusan pekerjaan di luar.
May menuju ruang kerja sambil mendorong peralatan kebersihan. Sebenarnya dia ragu datang ke sini karena takut bertemu Rachel atas apa yang terjadi semalam. Tapi karena berpikir tidak melakukan kesalahan, dia memberanikan diri datang ke kantor.
Perlahan May membuka pintu, lalu menutup pintu. Sesaat dia berdiri di depan pintu sambil melihat ke meja kerja. Matanya langsung tertuju ke papan nama Rangga Dionel Alkas. Pikirannya kembali teringat pada ciuman yang Rangga lakukan.
Ciuman yang Rangga lakukan mengingatkannya pada ciuman yang di lakukan papanya pada mamanya. Dia sering melihat papanya mencium mamanya seperti itu. Kata papanya, ciuman itu sebagai rasa cinta dan sayang pada mamanya, menyalurkan emosi dan perasaan yang di rasakan pada mamanya.
Mungkinkah Om menciumku karena mencintai ku? batin May.
Dia menghela nafas dan membuangnya pelan.
Tiba tiba wajah May mengernyit, tak kala telinganya mendengar suara dari ruang lemari arsip."Suara apa itu?" gumam May. "Apa ada orang di dalam? Apa Om di sana? Tapi kata pak Haris sedang keluar."
Suara itu kembali terdengar dan semakin jelas di telinga. May melangkah menuju ruang itu karena penasaran. Dia melangkah pelan pelan. May kaget melihat Rachel di sana, sedang berdiri di depan brankas yang terbuka. Dia tampak sedang memeriksa sesuatu. Membaca beberapa dokumen dengan serius. Lalu Rachel membawa dokumen itu ke lemari arsip, mengambil sesuatu terus kembali lagi ke brankas.
May merasa aneh melihat gelagat Rachel yang mencurigakan. Dia tahu brankas adalah tempat untuk menyimpan sesuatu yang sangat penting, berharga dan rahasia.
"Ngapain dia? Apa yang dia lakukan dengan dokumen dokumen itu? Sementara Om gak ada?" batin May.
Ponsel May tiba tiba berdering membuatnya kaget, dia segera berlari dari tempatnya dan kembali ke pintu khawatir ketahuan Rachel. Terus secepatnya keluar dan menutup pintu. Untung volume nada panggilan rendah.
May segera mengambil benda itu dari saku dan melihat siapa yang menelpon, Sean...
"Halo Mr Sean." sapa May setelah mengangkat telepon. Selanjutnya terjadi obrolan hangat di antara mereka. Kemudian berhenti setelah beberapa saat.
May ingin masuk kembali. Tapi kaget saat pintu terbuka dari dalam yang di buka Rachel.
"Kau?" Rachel menatap tajam.
"Untuk apa kau kembali ke sini? Keluar dari kantor ini. Kau di pecat!" sentak Rachel. Darahnya mulai panas mengingat kejadian semalam, saat melihat Rangga dan gadis ini berpelukan.
__ADS_1
"Di pecat?" May kaget."Maaf buk, Kenapa aku di pecat? Salahku apa?" May bertanya.
"Jangan banyak bertanya, keluar kau dari sini sekarang juga!" suara Rachel meninggi.
"Atas dasar apa ibu memecat ku? Apa karena aku masuk kerja siang?" May tetap tidak mau menerima pemecatannya karena merasa tidak melakukan kesalahan."Maaf bu, aku sudah memberi tahu kepada bagian HRD dan meminta izin mengganti jam kerjaku! Tadi aku juga sudah melapor ke bagian HRD. Mereka tidak memberi tahu apa pun tentang pemecatan ku!" kata May membela diri.
Rachel menarik lengannya dan di cengkram kuat. Lalu mendekat kan wajahnya, menatap dengan seringai tajam."Aku tidak perlu meminta persetujuan siapa pun untuk memecat karyawan, apalagi karyawan rendah seperti mu. Sebaiknya kau jangan banyak bicara, pergilah dari sini sebelum aku memakai cara paksa!" katanya sinis.
Hati May ciut, merasakan sakit pada lengannya. Tapi dia berusaha tenang."Maaf buk, aku tidak akan keluar dari sini sebelum pak Rangga sendiri yang memecat ku. Anda mungkin punya kuasa memecat karyawan seenak anda. Tapi ingat, anda bukan pimpinan perusahaan ini, bukan pemilik perusahaan ini. Kekuasaan tertinggi dan segala perintah yang ada di perusahaan berada di tangan pimpinan. Aku akan keluar dan berhenti bekerja jika pak Rangga sendiri yang memberi perintah!" katanya dengan berani.
Perdebatan mereka menjadi perhatian beberapa karyawan. Tapi mereka tidak berani ikut campur. Hanya memperhatikan diam diam di sela pekerjaan mereka. Mereka tidak menyangka May berani melawan Wakil presiden direktur perusahaan ini.
"Wanita sialan, berani kau menentang ku? Aku calon istri pimpinan perusahaan ini. Setiap kata atau keputusan yang keluar dari mulut ku adalah perintah pimpinan yang harus di patuhi oleh siapapun." kata Rachel geram. Dia tidak menyangka May berani kepadanya. Selama ini tidak ada yang karyawan yang berani membalas ucapannya. Dengan kasar dia melepas pegangan di lengan May. Lalu melayangkan pandangannya
ke arah karyawan.
"Kemari kalian berdua." katanya pada dua orang karyawan.
Yang di panggil dengan sigap berlari ke arahnya.
"Seret wanita ini keluar dari gedung ini secepatnya." Katanya seraya menunjuk kasar pada May."Pastikan dia tidak masuk kembali. Kalau aku melihatnya masih berkeliaran di sini, kalian aku pecat!" katanya tegas mengandung ancaman. Dia melirik sinis pada May, lalu melangkah pergi.
"Baik buk!" kata kedua karyawan itu sigap. Wajah mereka seketika tegang mendengar kata pecat.
"Nona, maafkan kami, kami hanya menjalankan perintah."
"Tapi aku tidak melakukan kesalahan ataupun menyalahi aturan perusahaan!" May terus membela diri dan tidak mau pergi. Karena merasa tidak bersalah.
"Tolong jangan mempersulit kami Nona. Kami tidak mau di pecat. Kami punya anak istri dan keluarga di rumah. Sebaiknya anda menurut dan keluar dengan baik. Agar kami tidak melakukan pemaksaan." kata salah seorang di antara mereka dengan berbisik. Keduanya juga tidak tega memaksa May apalagi sampai melakukan kekerasan. Karena mereka tahu May tidak bersalah.
"Benar Nona, mengertilah dengan posisi kami! Mari Kami antar ke bawah!" kata yang satunya ikut memberi pengertian.
May mendengus kesal. Dia menatap tubuh Rachel yang semakin menjauh.
"Baik, aku akan keluar dengan sendiri. Bapak berdua tidak perlu mengantar aku ke bawah!" katanya. Lalu segera melangkah cepat menyusul Rachel. Wanita ini baru menjadi status calon istri saja sudah belagu.
"Nona....!" kedua karyawan itu mengejar melihatnya berlari mengikuti Rachel.
"Tunggu....Wakil direktur yang terhormat!" seru May keras ketika Rachel hendak masuk lift. Sontak suaranya yang cukup keras terdengar oleh telinga karyawan. Mereka melihat ke arah May.
Langkah Rachel terhenti. Lalu segera berbalik. Melihat May yang melangkah mendekatinya dan berhenti pada jarak 1 meter.
May menatapnya datar."Apa pemecatan ku karena kejadian semalam?" Tanyanya tersenyum sinis."Apa karena sakit hati dan rasa cemburu anda melihat ku dengan pak Rangga?" kata May lagi.
Rachel panik mendengar perkataannya. Karena di dengar oleh karyawan.
"Tutup mulut mu." sentak Rachel geram, mata menyorot tajam. Dia hendak membungkam mulut May, tapi dengan cepat May menepis tangannya.
May menatapnya sambil tersenyum sinis.
"Ibu Wakil direktur Yang terhormat. Anda sendiri tahu yang terjadi semalam berada di luar kantor. Jadi Kejadian semalam tidak ada hubungannya dengan pekerjaan ku! Apa pun yang aku lakukan di luar sana dan bersama siapa tidak ada hubungannya dengan pekerjaan ku." kata May enteng.
"Aku kira dengan jabatan anda sebagai wakil direktur perusahaan ini menunjukkan betapa cerdas dan bermartabatnya diri anda. Yang tidak mengaitkan masalah pribadi dengan urusan pekerjaan! Ternyata aku salah. Karena nyatanya anda orang bodoh dan tidak bermoral! Anda seorang atasan yang tidak memiliki kecerdasan apa pun, tidak memiliki attitude dan suka sewenang-wenang! Memaksa karyawan untuk mengikuti aturan dan perintah anda! Juga Sombong dengan jabatan yang anda miliki! Anda sangat tidak pantas menduduki jabatan itu." kata May kembali.
Semua karyawan tercengang mendengar pernyataannya. Mereka tidak menyangka May seorang OB, berani berbicara seperti itu pada wakil direktur, orang yang begitu penting urutan ke dua di perusahaan ini. Bahkan pimpinan pun patuh pada ucapannya.
Rachel semakin geram, darah terasa panas menjalar di sekujur tubuhnya. Ingin sekali dia menggampar gadis ini, merontokkan giginya. Tapi banyak karyawan di tempat ini sedang memperhatikan mereka seperti melihat tonton gratis. Dia di buat mati kutu oleh May.
"Aku dengar, anda banyak memecat karyawan yang tidak menurut dan melawan perintah serta aturan yang anda buat!" kata May kembali. Lalu dia kembali menatap sinis"Memangnya siapa anda?" tersenyum semakin sinis. May mendekat kan wajahnya ke wajah Rachel."Seberapa pun besar kontribusi anda pada perusahaan ini, anda tetaplah seorang karyawan yang di gaji tinggi atas pekerjaan Anda. Anda tetaplah bawahan dan bukan pimpinan. Dan anda wajib mengikuti aturan perusahaan ini sama seperti karyawan lainnya! Jangan sok berkuasa dan semena mena." lanjut May kembali menyindir.
"Dan ingat, status anda baru kekasih pak Rangga, bukan calon istri, tunangan atau istrinya. Jadi gak usah sok belagu dan berkuasa!" Dia menatap menyeringai.
"Kau......?" rahang Rachel mengeras mendengar penghinaan itu. Darahnya semakin panas mendidih. Dia mengangkat tangan hendak menampar May, tapi dengan cepat May menahan tangannya. May menatap tajam menyeringai.
"Aku tidak akan pernah tunduk pada perintah Anda. Sampai kapan pun, aku tidak akan berhenti bekerja dan keluar dari perusahaan jika tidak ada perintah dari pak Rangga serta pemberitahuan dari bagian HRD! Anda tidak berhak memaksa aku keluar dengan cara apapun." katanya sinis, melepas pegangannya pada tangan Rachel dengan kasar, lalu segera berbalik dan pergi dari hadapan Rachel.
Para karyawan yang ada di tempat itu tercengang mendengar kata-katanya. Berani sekali OB ini, gumam mereka.
Rachel terpaku di tempatnya, darahnya semakin panas mendidih. Giginya gemeletuk menahan amarah. Dia segera masuk ke dalam lift. Dan saat benda itu mulai turun, dia berteriak teriak keras memaki May. Beraninya gadis itu mempermalukannya di depan para karyawan. Baru kali ini dia di rendahkan seperti ini. Di permalukan di depan banyak orang.
Rachel mengambil ponselnya, lalu menghubungi seseorang.
"Habisi dia, jangan tinggalkan jejak apa pun!"
Bersambung.
Mohon dukungannya ya...☺️
__ADS_1