Rangga dan Rara (Mencintai Anak Mantan)

Rangga dan Rara (Mencintai Anak Mantan)
67. Sungguh sakit


__ADS_3

...Happy Reading....


Acara terus bergulir. Iringan musik terus menggema memenuhi ruangan ballroom R².


Di tengah obrolan, gelak tawa dan canda Rangga dalam menanggapi perbincangan tamu undangan, sekali kali matanya mencuri pandang pada May yang tengah asyik ngobrol dengan tamu lainnya menemani Sean.


Sama halnya dengan Rangga, May pun demikian. Melirik sembunyi sembunyi pada Rangga. Beberapa kali mata mereka bertabrakan membuat May salah tingkah dan buru buru membuang pandangannya ke arah lain. Terkadang juga May melihat ke arah kakek dan paman pamannya yang sedang ngobrol dengan Dion, orang tua Rachel dan tamu lainnya. Semuanya asyik berbincang dengan berkelompok sambil menikmati musik dan aneka hidangan yang tersedia.


Beberapa saat berlalu, Dion membisikkan sesuatu pada Asisten pribadinya. Sang asisten mengerti, lalu segera menuju ke panggung. Asisten pribadi mengumumkan pada semua tamu bahwa malam ini bukan hanya sekedar perayaan kemenangan projek besar perusahaan R², tapi juga acara pertunangan Pimpinan sekaligus pemilik perusahaan R². Bersama Rachelia Dominic, Wakili direktur perusahaan cabang R².


Semua tamu menyambut penuh antusias meski mereka sudah tahu kedua pasangan itu akan segera menikah.


Rachel melonjak senang dengan bangganya. Senyum kebahagiaan bercampur kesombongan terpancar dari wajahnya. Sungguh dia sudah tidak sabar menjadi istri dan pendamping hidup seorang Presdir sekaligus pemilik R² company ini. Pria tampan dan gagah yang di inginkan banyak wanita. Hanya dia yang beruntung dapat menjadi kekasih RANGGA, meski dia tahu Rangga belum mencintainya, bahkan mungkin tidak mencintainya sama sekali.


Sedangkan Rangga terkejut dengan pengumuman ini, karena dia tidak tahu ada agenda tambahan pertunangan dalam acara ini.


"Ma?" menatap Cindy meminta penjelasan. Kebetulan Cindy ada di dekatnya.


"Mama juga gak tahu. Ini pastinya rencana papamu." bisik Cindy. Dia juga tidak tahu akan ada acara pertunangan.


"Untuk apa Ma? Toh semua orang yang ada di ruangan ini sudah menerima undangan pernikahan. Buat apalagi harus ada acara pertunangan?"


"Papamu ingin menunjukkan pada publik keseriusan kita pada keluarga Dominic. Karena tuan Dominic ragu dengan dirimu. Mereka bisa merasakan kalau kau tidak mencintai Rachel dan tidak ingin menikah dengannya. Makanya papa meyakinkan keseriusan pada Rachel dengan pertunangan di depan publik dan media massa." jelas Cindy.


Rangga menarik nafas kasar. Dia hendak menemui Dion, tapi dengan cepat Cindy menahan lengannya.


"Jangan berdebat dengan papa mu, malu sama tamu undangan, terutama pada tuan Ravendro. Sudah, sebaiknya kamu ke depan ikuti keinginan papa mu." kata wanita anggun itu.


Cindy terus memaksa. Rangga merungut kesal, mau tidak mau dia melangkah ke atas panggung karena desakan mamanya. Tanpa sengaja matanya berbenturan dengan mata May yang jauh di sana. Gadis muda itu tengah menatapnya. Langkah Rangga melambat. Di lihatnya wajah cantik itu terlihat mendung, sepasang mata indahnya terlihat memerah.


"Apa dia sedang sedih?" batinnya.


May segera berpaling ke sebelah menghindari tatapan Rangga. Dia juga terkejut dengan adanya pengumuman pertunangan Rangga. Entahlah, dia tidak suka mendengar pengumuman pertunangan itu. Kesedihan seketika membuncah di hatinya.


"Nona kau baik baik saja?" tanya Sean melihat May yang tak semangat dengan wajah mendung. Dan pertanyaannya itu hanya sekedar basa-basi, karena dia tahu suasana hati May saat ini. Sedih mendengar acara pertunangan Rangga.


Rangga segera melanjutkan langkah berdiri di samping Rachel yang telah menunggu dengan senyum tak lepas dari wajah. Keduanya di dampingi orang tua masing-masing.


Cindy mengambil kotak perhiasan yang berisi cincin pertunangan. Puluhan kamera dari berbagai media menyorot ke arah mereka untuk mengambil momen bahagia kedua pasangan ini. Para undangan tersenyum dan ikut bahagia saat penyematan cincin di kedua jari calon pengantin. Mereka kembali bertepuk tangan. Semua tampak bahagia dengan senyuman di wajah. Kecuali May yang semakin sedih.


Rangga tersenyum getir. Sungguh dia benci dengan suasana ini.

__ADS_1


"Kalian benar serasi, selamat ya." puji tamu lainnya.


"Cocok banget, yang cowok tampan, dan perempuan juga cantik dan seksi." pujian yang lainnya.


Rachel bangga dengan semua pujian itu.


"Akhirnya kalian akan menikah juga." kata tamu lainnya yang tahu hubungan Rangga dan Rachel sudah berlangsung lama.


Keluarga Alkas dan Dominic pun saling berpelukan dan memberikan ucapan selamat.


Rachel tersenyum sumringah tak hentinya menatap cincin indah dan mewah di jari manisnya."Tinggal selangkah lagi dan aku akan menjadi Ny. Rangga Dionel Alkas." batinnya sangat senang. Dia melirik pada May yang tampak tak berkedip menatap kepadanya dengan Rangga.


Timbul niat jahat di otaknya untuk memanasi gadis muda itu. Dia tersenyum sinis penuh kejahatan.


May tak perduli dengan senyum sinis penuh ejekan itu. Matanya tak lepas menatap sedih Rangga.


Rachel segera memegang kedua tangan Rangga. Rangga kaget. Dia hendak menarik tangannya, tapi Rachel memperkuat pegangannya seraya menatap tajam seolah memberi isyarat untuk diam.


"Sayang, aku sangat bahagia sekali. Akhirnya kita akan menikah juga. Cincinnya indah sekali! Terimakasih sayang." kata Rachel tersenyum campur kesal. Semua yang mendengar pun ikut tersenyum bahagia.


Kecuali Rangga yang diam membisu dengan suasana hatinya yang buruk. Tak ada senyuman menghiasi wajahnya.


Pikirannya menerawang kemana mana.


Rangga terkejut, mata bulat. Tak dapat mengindari ciuman yang datang tiba-tiba. Rachel masih menekan bibirnya, dan sengaja di perlihatkan pada May.


Dari jauh pun May tercengang melihat adegan mesra kedua pasangan itu. Dia menatap tak bergeming. Kedua pasangan yang sedang berciuman. Hatinya yang sakit semakin sakit. Kedua matanya berkaca-kaca.


Rangga segera menarik wajahnya dan mengikuti pandangan mata Rachel. Dia terkejut melihat May yang sedang menatap tak berkedip pada mereka. Rangga segera menyapu bibinya. Dia menatap tajam pada Rachel. Cindy segera menyenggol lengannya memberi isyarat untuk tenang. Wanita anggun yang sangat mengerti perasaan anaknya saat ini menatap tersenyum di paksa.


"Tenangkan dirimu, tersenyum lah walau itu menyakitkan." bisik Cindy tersenyum penuh arti. Rangga menatap mamanya beberapa saat. Lalu membuang nafas kasar, berusaha menormalkan suasana hatinya.


Sedangkan Rachel, seperti tak tahu malu, dia malah kembali meraih tangan Rangga dan di pegang.


"Aku tahu kau mencintaiku sayang. Aku pun sangat mencintai mu! Setelah menikah nanti, Aku janji akan menjadi istri terbaik untukmu. Dan kita akan hidup bahagia selamanya." kata Rachel dengan tatap lembut dan mesra. Rangga memaksa tersenyum, kecut. Hatinya mengumpat.


Tamu undangan berdecak kagum melihat kemesraan dan romantisnya mereka. Sekali lagi mereka memberi ucapan pada mereka dan mengatakan keduanya sangat cocok. Tampan dan cantik meski usia tak muda lagi. Dan orang orang berkelas, presiden direktur dan wakil presiden direktur. Sangat serasi.


May segera berbalik dengan tubuh lemahnya. Tak tahan terus melihat adegan mesra mereka. Darahnya terasa panas. Dadanya bergemuruh kuat menahan tangis. Nafasnya turun naik tak beraturan. Tapi akhirnya lelehan bening yang menggenangi kelopak matanya jatuh juga.


Sungguh sakit yang di rasakan saat ini. Melihat langsung pria yang di cintainya berciuman di depan matanya. Dia melangkah untuk keluar dari ruang ini. Tapi baru tiga langkah berjalan, tubuhnya menabrak seseorang. "Nona....!" panggilan lembut.

__ADS_1


Karena terlalu sedih, May langsung memeluk pria itu tanpa melihat wajahnya. Di kiranya adalah Sean. Tapi yang sebenarnya adalah Rafa. "Tuan Sean," ucap May dengan tangisan tertahan. Sungguh sakit yang di rasakan saat ini.


Rafa yang dapat merasakan kesakitan itu segera memeluk cucunya.


"Sakit tuan, sungguh sakit. Biar kan aku memelukmu sebentar. Aku tidak dapat menahan lagi." ucap May tersedu-sedu. Menekan dada dengan satu tangannya karena di rasakan sesak dan sakit. Dia semakin memeluk dan belum sadar memeluk kakeknya.


Rafa mendesah sedih, ikut terenyuh. Hatinya ikut sakit dan bercampur amarah melihat air mata May dan mendengar tangis May yang menyayat hatinya. Dia sudah dapat menebak kalau May tidak akan kuat melihat kemesraan Rangga dan Rachel. Makanya secepat mungkin dia mendekat ke tempat May. Dia tahu May sangat butuh bahu seseorang untuk bersandar dan menumpahkan tangis.


Rafa mengumpat dalam hati, Ingin sekali dia menghancurkan acara ini.Tapi berusaha di tekan. Belum saatnya dia turun tangan dan ikut campur, apalagi mengenai masalah perasaan hati Rangga dan Rara.


Rafa membelai punggungnya lembut. Menyalurkan kasih sayang dan kelembutan.


May jadi tenang, tangisnya mereda. Dia merasa tenang dan terlindungi berada dalam pelukan ini. Pelukan yang serasa tak asing baginya.


Sean yang sedang mencari May, melihat gadis itu dalam pelukan seseorang. Dia kaget orang itu adalah Rafa. Pria sukses terkenal yang di segani dari berbagai kalangan. Dia banyak belajar dari Rafa dengan cara membaca buku buku karya Rafa tentang bisnis usaha yang sukses.


"Nona May?" panggilnya pelan. Dia menyentuh bahu May. May segera menarik diri melepas pelukan mendengar panggilan itu. Dia menoleh kebelakang dan melihat Sean. Terkejut.


May membawa wajahnya melihat pria yang di peluknya. May tercengang melihat wajah kakeknya.


"Ka......?" belum selesai mengucap KAKEK, perkataannya terpotong oleh suara Rafa.


"Tuan Sean, sepertinya pasangan anda sangat sedih hingga tidak menyadari siapa yang dia peluk."


"Tuan Ravendro. Aku mohon maaf atas kelancangan temanku. Mohon anda jangan berpikir dan menilai buruk padanya." kata Sean dengan ramah dan sopan.


"Aku mengerti. Suasana hatinya sedang tidak baik. Tenangkan dia. Aku permisi dulu." kata Rafa segera.


"Silahkan Tuan." kata Sean masih dengan sikapnya yang sopan.


Rafa melirik sekilas pada May sambil tersenyum."Nona, aku yakin anda orang yang kuat. Jangan bersedih." lalu segera pergi.


May terkejut mendengar perkataan kakeknya. Tapi dia juga bingung apa kakeknya tidak mengenal dirinya? Di lihat dari sikap Rafa yang santai tanpa ekspresi serius dan pergi meninggalkannya. Artinya Rafa tidak mengenal dirinya.


"Benarkah kakek tidak mengenal ku?" batin May. Sepertinya tidak. Kalau kenal, mungkin kakeknya sudah mencari tahu penyebab kesedihannya dan menghancurkan tempat ini, termasuk Dion, Rangga dan juga Rachel. Karena dia tahu kakeknya tidak akan terima dan diam saja jika ada yang menyakiti keluarganya. May masih terus melihat Rafa yang tampak santai kembali bergabung dengan tamu undangan lainnya.


"Mungkin karena aku memakai topeng membuat kakek tidak mengenal diriku." batin May. May lega karena Rafa tidak mengenal dirinya. Dia juga senang dapat memeluk kakeknya.


Pelukan itu masih dapat di rasakan karena masih membekas.


...Bersambung....

__ADS_1


Mohon dukungannya, beri hadiah seikhlasnya ya.... Terimakasih yang sudah mampir.


__ADS_2