
...Happy Reading....
May terisak isak kecil di dalam taksi yang membawa mereka pergi, tak perduli pandangan sopir dari kaca spion tengah.
Di sampingnya, Sofi sibuk mengelus punggungnya untuk menenangkan. Sofi tidak tahu cara menghibur sahabatnya ini. Karena sejak tadi candaan dan hiburannya tidak mempan untuk menghentikan kesedihan Rara.
Sofi tidak menyangka kalau Rara benar benar mencintai Rangga. Sampai sampai menangis dan mengeluarkan air mata.
"Sudah dong Ra __Nanti kepalamu sakit. Kamu udah terlalu banyak menangis."
"Meski setelah sekian lama berlalu, Om Rangga tidak akan pernah berhenti mencintai wanita itu. Sampai kapan pun dia tidak akan bisa mencintai wanita lain. Hatinya selalu setia pada wanita itu." kata Rara di sela isak tangisnya.
"Makanya itu Ra, kamu harus melepas dan melupakannya. Sebelum kau semakin hancur dan terluka. Gak usah menangisi pria itu. Rugi dong air matanya. Jangan bodoh. Banyak pria yang menyukaimu." kata Sofi.
"Sulit Fi, aku sudah berusaha tetap aja gak bisa. Hati aku semakin sakit." kata Rara tersedu-sedu.
Sofi segera memeluknya."Ya ampun. Hanya gara gara pria tua gak punya hati, kamu sampai menderita begini." umpat Sofi kesal.
"Sebaiknya kita segera kembali ke Indonesia, supaya kamu tidak akan bertemu dengannya lagi. Jika sudah berada di tanah air, perlahan lahan kau akan melupakannya." hibur Sofi."Penerbangan kita jam berapa?"
May menarik diri dari pelukan Sofi. Dia melap air matanya."Setelah magrib." jawabnya kemudian.
"Kita jadi kembali kan?"
"Iya __! Tapi aku mau ke suatu tempat dulu."
"Biar ku temani." Sofi menawarkan diri.
"Gak usah. Aku hanya ingin ke toko bunga yang selalu di datangi tuan Rad. Aku ingin mengecek dirinya terakhir kali."
__ADS_1
"Terserah kamu saja. Semoga aja tuhan ngabulin keinginan Lo untuk ketemu sama dia sebelum balik ke tanah air! Udah ya Ra.... gak perlu tangis pria tua itu lagi. Ingat, tujuan mu ke sini karena Rad. Bukan dia." kata Sofi mengingatkan tujuan utama Rara ke Australia.
Rara mengangguk.
Sementara di restoran.
Rangga ingat kalau Khanza di sini bersama Cio. Dia tidak ingin Cio melihat dirinya. Apalagi sampai tahu pertemuan mereka. Rangga berpikir mencari alasan untuk bisa pergi dari tempat ini segera.
"Khanza, kamu ke sini sama siapa?" tanya nya pura pura tidak tahu.
"Oh iya aku lupa." seru Khanza tiba tiba teringat Cio yang di tinggalkan.
"Aku sama suami ku, kak Cio. Kami di ruang sebelah. Ayo, kita ke meja kami. Aku sudah terlalu lama meninggalkannya. Dia pasti sedang mencari ku!" Khanza menarik tangan Rangga.
"Khanza!" Cio segera menahan tangan Khanza.
"Kenapa? Aku masih ingin ngobrol dengan mu. Banyak yang ingin aku omongin sama kamu setelah 17 tahun kita berpisah! Ayolah, jangan menolak." kata Khanza dengan sifatnya yang manja.
Rangga kembali memegang kedua tangan wanita itu. Menatap dalam-dalam kedua netra di depannya. Netra teduh yang membuat hatinya bergetar. Wanita ini semakin cantik dan anggun dengan balutan pakaian syar'i dan hijab.
"Kok gak bisa? Kamu gak rindu sama aku?" Khanza mulai kesal.
"Tentu saja aku senang dengan pertemuan kita. Aku masih merindukan mu. Tapi untuk saat ini aku tidak bisa lebih lama __ aku punya urusan yang sangat penting. Jujur aku sedang terburu-buru." kata Rangga menjelaskan. Tapi dia tidak bisa mengatakan buru buru ingin mengejar May. Dia berharap gadis itu masih berada di restoran ini.
Khanza memperhatikan pakaian formal Rangga."Baiklah, aku tidak akan memaksa mu. Kau pasti sangat sibuk. Mana Ponsel mu?" Khanza menyodorkan telapak tangannya.
Karena Rangga hanya diam dan menatap, Khanza segera merogoh kantong jas Rangga. Dia menemukan ponsel pria itu. Khanza tersenyum." Kamu gak marah kan tuan Rangga? Dengan sikap sembarangan ku?" menatap dengan godaan "Aku masih tetap Khanza sahabat mu yang dulu. Sikap dan tingkah ku gak ada yang berubah jika sama kamu. Aku gak perduli meski kau telah menjadi bos besar," sambung Khanza masih dengan godaan candanya. Lalu segera menyalakan layar HP Rangga.
Rangga tersenyum tipis menanggapi godaan itu. Matanya tak berpaling dari wajah Khanza.
__ADS_1
Ponsel Rangga harus memasukkan kode. Khanza melihat wajah Rangga, berpikir pria ini menggunakan kode angka berapa. Iseng saja Khanza memasukkan angka tanggal lahirnya. Kunci layar terbuka. Khanza tersenyum lebar dan melongo."Kamu masih memakai kode tanggal lahir ku?" Dulu saat mereka jadi pacar sehari, Rangga mengunci ponselnya dengan memakai tanggal lahir dirinya. Dan setelah belasan tahun berlalu, Rangga tetap memakai tanggal lahirnya.
Rangga sedikit gugup, tapi segera berusaha untuk tenang."Aku sengaja menggunakan tanggal lahir mu biar gak ke lupa sama kamu. Sekarang kamu percaya kan, kalau aku selalu mengingat mu lewat kode akses ponsel ku."
Khanza tersenyum haru. Dia kembali memeluk."Aku sudah yakin, kau pasti tidak akan melupakan aku. Sama seperti aku." kata Khanza setelah melepas pelukannya. Dia segera menyimpan nomornya pada kontak Rangga dan juga menyimpan nomor Rangga ke kontaknya.
Lalu menyerahkan ponsel Rangga. Bertepatan dengan panggilan masuk dari Cio.
"Nanti aku akan menghubungimu. Aku pergi dulu. Suamiku memanggil." kata Khanza. Sesaat dia memeluk Rangga."Aku menyayangimu." ucap Khanza. Lalu pergi setelah memberikan senyuman dan lambaian tangan.
Rangga menatapnya dengan senyuman yang mengembang di wajah. Tak ada yang berubah, kau masih seperti yang dlu, batinnya terus menatap kepergian Khanza." Lalu berbalik dan melangkah cepat menuju lift. Dia menghubungi nomor May, tapi tidak bisa di hubungi. "Sial__!" umpatnya.
"Cari tahu gadis yang bersama May tadi. Sepertinya May tinggal dengan gadis itu. Dan tanyakan pada resepsionis, petugas keamanan dan penjaga pintu keluar apa mereka melihat gadis seperti ciri-ciri May keluar dari restoran." perintahnya pada Verdy.
"Baik pak." jawab Verdy sigap.
Beberapa saat setelah Verdy melaksanakan perintah bosnya, keduanya segera masuk ke dalam mobil. Rangga membuang nafas berat penuh kekecewaan karena kehilangan May. Padahal sudah di depan mata, tapi dia kehilangan lagi. Tubuh Rangga melemah. Perlahan dia memejamkan mata. Tiba tiba dia teringat ucapan Raka semalam. "Jangan di lepas jika itu sesuatu yang sangat berarti dalam hidup mu. Jangan sampai kehilangan ke dua kali lagi." ucapan itu terngiang di telinganya. Entah apa maksud ucapan Raka. Apa yang di maksudkan adalah May?
Sebuah ketukan membuyarkan lamunan Rangga. Dia segera membuka mata yang terpejam. Verdy membuka pintu untuk Rachel. Wanita itu segera masuk, duduk di dekat Rangga.
"Kau sudah mengurus mereka?" tanya Rangga.
"Sudah, mereka telah kembali." jawab Rachel.
"Kamu kenapa?" tanya Rachel melihat kekalutan di wajah Rangga."Apa telah terjadi sesuatu?"
"Tidak ada! Ayo Ver, jalankan mobilnya." kata Rangga menjawab pertanyaan Rachel sekaligus menyuruh Verdy. Lalu dia menyadarkan punggung pada jok mobil sembari memejamkan mata. Mobil melaju kejalan raya.
Rachel memandang Rangga dari samping dengan tatapan sinis. Teringat adegan drama pertemuan yang terjadi di dalam restoran tadi.
__ADS_1
...Bersambung....