Rangga dan Rara (Mencintai Anak Mantan)

Rangga dan Rara (Mencintai Anak Mantan)
68. Panik


__ADS_3

...Happy Reading....


"Tuan Sean, aku ke toilet dulu sebentar." kata May. Tak tahan melihat adegan mesra yang terus di pamerkan Rachel.


"Biar ku temani." Sean menawarkan diri. Karena khawatir dengan kondisi hati May yang buruk.


"Tidak perlu. Aku hanya sebentar." tolak May.


"Segeralah kembali." Sean mengalah. May segera berlalu dari hadapannya.


Sean melihat ke depan. Memastikan keberadaan Rahel di sana. Khawatir Rachel melihat May ke toilet dan akan menyusul ke sana terus akan menyakiti gadis itu. Tapi syukurlah wanita dewasa itu tampak asik berbincang dengan beberapa tamu wanita. Menempel terus di dekat Rangga, seolah menjaga Rangga akan menghilang.


Sesampai di toilet, May segera melepas topeng wajah dan melap sisa air matanya. Berulang kali dia memaki Rangga karena membuatnya menangis seperti ini. Untuk pertama kalinya dia banyak menangis seperti ini dan merasakan sakit.


May membasuh wajahnya yang sembab. Beberapa detik berlalu telinganya mendengar suara langkah sepatu mendekat. Dengan cepat May memakai kembali topengnya.


May terbelalak setelah melihat siapa orang yang masuk dan menggunakan wastafel di sebelahnya.


"Nenek Cindy." batin May melirik sekilas. Dia jadi tidak tenang.


Wanita cantik elegan yang memang Cindy itu mencuci tangan, lalu memperbaiki riasan di wajahnya. Bukan tampak alasan Cindy datang ke toilet, dia tahu May pergi ke toilet. Dia ingin mendekati May. Kali saja May akan membuka identitas diri saat mereka lagi berdua. Karena dia tahu saat ini May sangat sedih dan butuh seseorang untuk berbagi kesedihan. Tapi dia kecewa, karena May tetap menutupi identitasnya dengan menutup wajah begitu melihat dirinya.


Cindy melihat May yang tampak pura pura sibuk sendiri. Cindy memberi senyum sekilas, yang langsung di balas May dari balik topeng wajah.


"Permisi." kata May. Lalu segera berbalik. Ingin segera keluar dari sini sebelum Cindy mengenalnya.


"Nona....." panggil Cindy.


Deg..... hati May tersentak. Dia batal melangkah.


"Kenapa nenek Cindy memanggil ku? Apa dia mengenal aku?" batinnya cemas.


Perlahan May berbalik.


Tak ingin banyak bicara khawatir Cindy akan mengenali suaranya.


Cindy menatapnya. Dia tahu saat ini May gelisah tidak tenang karena takut ketahuan olehnya.


"Anda partnernya tuan Sean Gefarin bukan? Aku melihat anda datang bersama dengannya tadi dan di perkenalkan pada tamu."


"Benar Nyonya Alkas!" jawab May hampir tak terdengar di selingi anggukan. Sebisa mungkin merubah suara. Dia berharap Cindy tidak mengenal suaranya.


"Kau tahu Aku?" tanya Cindy mendengar May menyebut namanya.


"Iya, Tuan Sean yang memberi tahu aku tadi. Keluarga besar tuan Dionel Alkas yang merupakan tuan rumah dari acara ini." kata May menunduk untuk menghindari tatapan Cindy. Masih dengan suara pelan dan di rubah sedemikian rupa. Dia sedikit lega Cindy tidak mengenal suaranya.


Cindy tersenyum. Bukan jawaban itu yang di inginkan. Dia ingin May mengatakan kalau May mengenalnya sebagai sahabat Ara, neneknya.


"Sayang, kenapa kau masih menutupi identitas mu. Katakan kalau kau adalah Rai Rara. Dan bagilah rasa sakit dan kesedihan mu pada nenek." batin Cindy. Dia dapat melihat kesedihan di mata gadis ini karena pengumuman pertunangan Rangga dan Rachel.


"Maaf, saya permisi dulu Nyonya Alkas." pamit May melihat kediaman Cindy.


"Namamu May Wulandari kan?" pertanyaan Cindy membuatnya gagal lagi melangkah.


May segera berbalik."Iya," mengangguk pelan.

__ADS_1


"Tolong nek, Jangan bertanya terus. Biarkan aku pergi. Aku hanya tidak ingin kau mengenalku dan memberi tahu pada Kakek Rafa." batin May cemas.


Cindy mendekat.


"Aku tahu dirimu dari bagian HRD perusahaan cabang milik Rangga di Amerika. Aku dengar kau pernah bekerja sebagai OB nya."


"Iya, tapi saya sudah berhenti." jawab May.


"Kenapa? Apa kau tidak betah dengan pekerjaan mu, kau tidak suka menjadi OB? atau kau tidak suka bekerja dengan pimpinan mu?"


"Tidak, bukan karena itu. Aku tidak punya pengalaman kerja. Pekerjaan ku tidak becus dan sering menyalahi aturan perusahaan. Aku selalu membuat atasan ku kecewa, jadi aku memutuskan berhenti bekerja." kata May. Dia tidak ingin menjelaskan alasan dia berhenti karena di pecat Rachel dan di berhentikan Rangga. Ceritanya pasti akan semakin panjang.


Cindy kembali menatapnya.


"Aku melihatmu di apartemen Rangga. Kau pasti masih ingat kan?"


"Iya...." May mengangguk.


"Aku tidak menyangka kau cukup dekat dengan Rangga. Rangga mengatakan kalian hanya teman. Tapi kenapa aku merasa kalian bukan hanya sekedar teman? Dengan melihat apa yang terjadi antara kalian pagi itu." kata Cindy seraya menatapnya lekat.


May terkesiap. Dia teringat kejadian di apartemen Rangga pagi itu. Cindy datang tak terduga dan melihat mereka di meja makan, dengan keadaan dirinya yang hanya memakai handuk pendek dalam gendongan Rangga.


"Katakan padaku Nona May, apa kau dan Rangga punya hubungan pribadi yang kalian tutupi? karena dalam penilaian ku, kedekatan itu sesuatu yang tak lazim dan terlalu berlebih-lebihan." tanya Cindy.


May lagi lagi kaget dan gugup.


"Ti-tidak Nyonya. Aku dan pak Rangga hanya berteman.Tak ada hubungan spesial di antara kami." jawabnya terbata.


"Lalu apa artinya kedekatan itu? Apa itu pantas di lakukan oleh dua orang yang menganggap hubungan mereka hanya sekedar TEMAN?" Cindy menatap dalam-dalam.


Cindy melihat mata May yang memerah dan berkaca.


"Mengaku lah sayang, katakan kalau kau mencintai Rangga." Batin Cindy. Dia ikutan sedih melihat kesedihan di mata May.


"Apa kau mencintai Rangga?" tanyanya.


May menggeleng cepat.


"Tidak. Bagaimana bisa aku mencintai pria milik wanita lain?" serak.


"Aku tidak mencintai pak Rangga. Aku dan dia tidak punya hubungan apapun." bantah May


"Maaf Nyonya, aku permisi!" May segera berbalik dan melangkah pergi dengan cepat meninggalkan Cindy.


"Rai Rara, kenapa kau tidak jujur dengan perasaan mu? Tahukah kau, Rangga pun merasakan sakit yang sama seperti kau rasakan." gumam Cindy sedih menatap kepergiannya yang semakin menjauh.


May celingukan mencari keberadaan Sean. Dia melihat Sean sedang berbincang dengan dua orang pria di dekat kolam. May melangkah dengan cepat mendekati pria itu. Dia ingin mengajak Sean pergi dari acara ini dan pulang. Dia tidak mau berlama-lama lagi di tempat ini.


May tak memperhatikan jalannya. Matanya fokus melihat ke arah Sean. Kaki kanannya tiba tiba tersandung pada sesuatu. May terkejut bukan main. Keseimbangan tubuhnya hilang. Selanjutnya dia merasakan seseorang mendorong tubuhnya dengan kuat ke samping. Alhasil dia jatuh ke kolam. Para


tamu yang dekat dengan kolam kaget. mendengar suara bunyi dari kolam. Sontak mereka memalingkan wajah ke kolam. Mereka terkejut melihat ada yang jatuh ke kolam. Sebagian mendekat dan belum melakukan pergerakan apa pun hanya menonton. Mereka berpikir May tahu berenang. Ada juga yang ogah membantu karena tak ingin pakaian basah.


Sementara di dalam kolam yang cukup dalam, May kesulitan berenang karena kakinya terlilit oleh gaun. Dia sulit menggerakkan kedua kakinya, di tambah lagi dia memakai high heels. May melepas jas Rangga karena menambah beban berat tubuhnya. Dia berusaha melepaskan lilitan gaun tapi sulit.Tubuhnya semakin jatuh ke bawah. Dia mulai kesulitan bernapas. Meski May tahu cara mengatur tehnik pernapasan dalam air. Air mulai masuk ke dalam hidung dan mulutnya.


Dari atas Rachel tampak tersenyum menyeringai menatap sinis."Mampus kau" umpatnya dalam hati. Dia lega tak ada satu orangpun yang menolong May hingga kini, termasuk Rangga. Karena dia tahu Rangga sedang sibuk berbincang dengan tamu di depan sana. Rangga tak mungkin tahu dengan cepat kejadian di kolam. Kalaupun pria itu tahu, mungkin saat May sudah tak bernyawa. Rachel tertawa licik, senang di dalam hati. Sebentar lagi wanita yang menjadi duri dalam hubungannya dengan Rangga akan mati.

__ADS_1


Tapi dia tidak tahu kalau May tahu berenang dan mengatur pernafasan selama waktu semenit lebih detik jika dalam keadaan darurat.


Sementara Sean yang sudah mengetahui bahwa wanita yang jatuh di kolam itu adalah May terkejut.


"May___" pekiknya keras melihat May di kolam. Dia segera melepas jas dan terjun ke kolam. Dia tidak menyadari May jatuh kolam. Karena setahunya May berada di toilet.


Dari sisi lain kolam, Rangga juga tiba tiba terjun dan berenang dengan cepat ke arah May. Seolah keduanya sedang lomba renang, bergerak cepat untuk mendapatkan tubuh May.


Keduanya tiba bersama dan segera meraih tubuh May. Sean mundur setelah melihat Rangga. Tapi dia membantu Rangga membawa May yang pingsan ke tepi kolam.


Di dalam kolam ada beberapa pria yang ikut terjun ketika mengetahui May yang jatuh. Mereka Riez, Ryan, Raka dan Wisnu. Mereka sangat panik dan cemas begitu mendapat laporan May jatuh di kolam. Meski mereka tahu May pandai berenang, mereka tetap saja khawatir dan takut terjadi sesuatu pada May. Tapi begitu mengetahui Rangga terjun dan bergerak cepat ke arah May, mereka segera berhenti. Ke empatnya kembali naik ke kolam dengan pakaian basah.


Keangkuhan Rachel berubah menjadi marah dan dengki melihat Rangga menyelamatkan May. Tapi dia tidak bisa meluapkan kemarahan di depan tamu karena menjaga reputasinya. Jika dia meluapkan kemarahan dan kecemburuan, akan merusak imagenya.


Rangga membaringkan tubuh May di bibir kolam dengan posisi telentang. Dia membuka kemejanya dan menutupi tubuh atas May yang terbuka. Alhasil tubuh atasnya yang putih kekar berotot terlihat. Para tamu wanita terpukau dan histeris kagum melihat tubuhnya kekarnya yang atletis.


"May, May....!" Rangga menepuk pipi May dengan panik.


Sean juga ikut memanggil May.


Rangga mendekatkan telinga ke mulut dan hidung May untuk mengecek nafas May. Sementara Sean memeriksa denyut nadi May dan menunggu hasilnya selama 10 detik.


Dengan gerakan cepat Rangga segera memberi nafas buatan. Dia melakukan hal itu berulang kali.


Perbuatannya membuat Rachel terbelalak. "Sayang, apa yang kau lakukan?"


"Hentikan. Biarkan tuan Sean yang menanganinya." kata Rachel.


Tapi Rangga tak mengindahkan ucapannya. Dia terus memberi nafas buatan. Dan itu kembali membuat Rachel geram dan malu sebagai tunangannya."Sayang, hentikan."


Bukan hanya Rachel yang terkejut melihat aksi Rangga berusaha menyelamatkan May, tapi juga beberapa tamu yang berkerumun melihat keduanya menolong May. Mereka tidak menyangka Rangga memberi nafas buatan pada May. Memberi nafas buatan yang secara tidak langsung mencium gadis lain di depan Rachel dan tak memikirkan perasaan tunangannya. Hal itu membuat tanya di pikiran mereka kenapa Rangga menolong May dan sangat cemas dengan keadaannya?


Tapi untungnya dengan keberadaan Sean menepis anggapan buruk di hati mereka. Karena mereka tahu May adalah partner Sean. Tapi tetap saja mereka merasa aneh kenapa Rangga yang sangat Khawatir dan panik?


Rangga tak perduli anggapan mereka atau hal lainnya. Dia terus memberi nafas buatan ke mulut May. Saat ini yang di rasakan adalah ketakutan. Takut terjadi sesuatu yang buruk pada May."Sadarlah May, aku mohon." ucapnya panik sangat khawatir.


"Dadanya turun naik." kata Sean melihat dada May yang mulai turun naik. Rangga kembali meniupkan nafas ke dalam mulut May mendengar perkataan Sean.


Beberapa detik kemudian, May muntah. Rangga segera memiringkan kepala May agar gadis itu tidak tersedak. Air keluar dari mulut May. Keduanya lega. Beberapa saat kemudian May sadar dan membuka mata. Dia melihat dua wajah pria di depannya dengan samar


"Om Rangga___tuan Sean!" ucapnya sangat pelan.


Kedua pria itu mengulas senyum kecil padanya.


Dari jauh Rafa dan lainnya menarik nafas lega melihat May sudah sadar.


Rangga segera bangkit dan mengangkat tubuh May. Tanpa peduli dengan panggilan kemarahan Rachel dan tatapan mata para tamu. Dia membawa May keluar dari ruangan itu.


...Bersambung....


Maaf, baru bisa up.


Lagi musimnya janur kuning melengkung, jadi author banyak orderan kue (Alhamdulillah) rezeki tak bisa ditolak.


Semoga saja masih ada yang mampir ke karya ini dan memberi dukungan❤️❤️

__ADS_1


__ADS_2