Rangga dan Rara (Mencintai Anak Mantan)

Rangga dan Rara (Mencintai Anak Mantan)
77 Kedatangan Rangga ke hotel


__ADS_3

...Happy Reading...


Dalam perjalanan, Rangga terus memejamkan mata agar Rachel tidak mengetahui apa yang tengah di pikirkan. Memikirkan ke dua wanita, Khanza dan May. Wanita yang merupakan Cinta di masa lalunya dan wanita yang di cintai kini. Dan keduanya tidak bisa di miliki. Tanpa sadar Rangga membuang nafas berat penuh kekecewaan dan kesedihan. Dia merasa tuhan tidak adil kepadanya. Tak dapat memiliki Khanza dulu, dan kini tuhan pun tak mengizinkan dia memiliki May. Apakah dia tidak berhak memiliki wanita yang di cintai dan tidak berhak bahagia? Setelah selama 18 tahun menahan penderitaan karena cinta yang tidak bisa di miliki.


"Pak Verdy, aku turun di depan." kata Rachel. Sungguh dia sangat geram dengan sikap Rangga yang mengabaikannya dengan pura pura tidur. Dia tahu Rangga tengah memikirkan sesuatu.


Rangga membuka mata mendengar perkataan Rachel. Verdy menepikan mobil di depan.


"Kamu mau kemana?" tanya Rangga.


"Aku mau ke suatu tempat. Kalian lanjutkan perjalanan ke kantor. Aku akan menyusul." kata Rachel.


"Apa urusan kantor?"


"Tidak, aku mau mengunjungi seseorang. Aku sudah janji akan ke tempatnya siang ini." kata Rachel. Dia melepas sabuk pengaman.


"Aku sudah memesan cincin pernikahan kita. Besok, Aku ingin kau menemaniku untuk melihatnya. Kita bisa memilih sesuai dengan pilihan kita." sambung Rachel kembali.


"Baik." jawab Rangga di sertai anggukan.


Persetujuan ini membuat hati Rachel sedikit senang, kemarahannya berkurang. Dia mengira Rangga akan menolak dengan berbagai alasan. Rachel segera turun setelah Verdy membuka pintu untuknya.


Mobil kembali melaju.


Rachel menatap kepergian mereka. Lalu dia mengambil ponselnya dan menghubungi seseorang.


"Kau sudah menemukan siapa wanita itu?"


"Belum buk, kami sedang berusaha. Tapi sepertinya wanita itu bukan orang dari kalangan biasa."


"Aku tidak peduli dengan statusnya. Ikuti terus dan beri laporan padaku saat dia sendiri."


"Baik buk."


Telepon di matikan.


Rachel menatap kosong ke depan. Memikirkan siapa wanita yang berpelukan dengan Rangga di restoran. Dia melihat jelas adegan mesra yang terjadi di restoran tadi. Saat Rangga berpelukan dengan seorang wanita di tempat terbuka tanpa rasa canggung dan malu. Dia juga melihat Rangga tampak bahagia ketika bersama wanita itu. Rachel tau siapa Rangga, pria yang sangat dingin dan tidak mau di sentuh oleh sembarang wanita, termasuk dirinya. Hanya pada May dia dekat dan juga__ pada wanita itu. Satu wanita telah di singkirkan, yaitu May, kini muncul lagi wanita lain. Siapa wanita itu?


Jangan jangan __? Rachel teringat sesuatu ketika mendengar perkataan wanita tadi.


"Apa wanita itu cinta pertama Rangga? Wanita di masa lalunya yang tidak bisa di lupakan sehingga membuat Rangga tidak bisa mencintai wanita lain termasuk diriku?" batin Rachel.


"Jika itu memang benar, aku tidak membiarkan keduanya bersama kembali. Aku harus melakukan sesuatu. Aku tidak mau pernikahanku dengan Rangga batal. Aku tidak akan membiarkan May maupun wanita itu merusak rencana pernikahanku dan mengambil Rangga dariku." batin Rachel sinis. Dia segera mencegat taksi. Menuju ke suatu tempat untuk mengunjungi seseorang.


Dalam perjalanan menuju kantor.


Telepon Verdy berdering. Dia segera mengangkatnya. Terlibat pembicaraan serius, lalu telepon di matikan.

__ADS_1


"Tuan, orang kita sudah menemukan tempat tinggal gadis yang bersama Nona May tadi. Dia sudah mengirimkan alamatnya." kata Verdy seraya melihat Rangga dari kaca spion tengah.


Rangga langsung membuka matanya yang terpejam.


"Cepat kita ke sana sekarang juga. Aku tidak mau kehilangan May lagi. Aku harus bertemu dan bicara dengannya." kata Rangga senang


Verdy segera memutar balik kemudi.


Hotel mewah tempat Sofi menginap.


Sofi baru saja menerima telepon yang membuatnya tegang dan takut. Bagaimana tidak, dia mendapatkan telepon dari Wisnu. Sofi terdiam dan berpikir keras untuk membuat sebuah alasan yang akan di berikan pada May. Wisnu menyuruhnya untuk membatalkan penerbangan mereka ke tanah air sore ini. Sofi tidak menyangka kalau Wisnu dan Rafa tahu keberadaan May di Amerika dan Australia selama hampir dua bulan terakhir.


Saat ini May berada di kamar mandi, sedang membersihkan diri dan berganti pakaian.


"Bagaimana ini? Aku harus memberi alasan apa pada Rara?" gumam Sofi bingung.


Belum sempat mendapatkan alasan untuk di berikan pada Rara, pikirannya pecah dengan ketukan di pintu kamar. Bertepatan dengan keluarnya Rara dari kemar mandi. Gadis itu telah berganti pakaian dan bersiap akan keluar. Dia akan pergi ke tempat yang biasa di kunjungi Rad.


"Siapa yang mengetuk pintu?" tanya Rara.


"Aku tidak tahu." Sofi mengangkat bahu.


Rara jadi khawatir, jangan jangan Rangga yang datang. Sofi melangkah menuju pintu.


"Fi, tunggu bentar. Lihat dulu siapa yang di luar!" Rara mengehentikan langkahnya. Rara melangkah mendekati pintu. Keduanya melihat dari lubang pintu. Terlihat seorang wanita dengan pakaian seragam hotel ini. Di tangannya tampak memegang sesuatu.


Rara menarik nafas lega. Di kiranya Rangga yang datang."Kamu memesan sesuatu?"


"Tidak." Jawab Sofi sambil membuka pintu.


Sofi terkejut melihat siapa yang datang bersama pelayan hotel.


"Pak Rangga?"


May terkejut mendengar nama Rangga di sebut. Dia melihat ke pintu. Rangga tampak masuk dan mendekatinya. Rangga meminta bantuan pelayan untuk membawanya ke kamar ini. Kalau datang langsung dan memperlihatkan diri, May pasti tidak akan menemuinya.


"Anda? Mau apa Anda kesini." May mundur menjauhi Rangga.


"Om mau bicara sama kamu!" Rangga kembali mendekatinya.


Sementara Sofi meninggalkan mereka setelah mendapat Isyarat dari Verdy.


"Aku ingin mengatakan Wanita yang kau lihat bersama ku tadi di restoran!" kata kata Rangga terputus.


"Tidak ada yang perlu di jelaskan. Aku tidak punya urusan dengan wanita itu, dan aku tidak mau tahu siapa dia bagi anda." kata May tidak tenang. Dia tidak menyangka Rangga mengetahui hotel tempat Sofi menginap.


"Aku tidak ingin kamu salah paham dan berpikir buruk kepada ku!" Berusaha menggapai May.

__ADS_1


Tapi May mengelak dan menepis tangannya.


"Di antara kita tidak punya urusan apa apa. Aku baik baik saja. Apa pun yang terjadi pada kita, apapun yang telah kita lakukan __Aku tidak menyalahkan Anda atau menilai anda buruk! Aku sudah melupakan semua itu. Anggap tidak pernah terjadi apapun di antara kita. Anda tidak perlu khawatir. Aku baik baik saja dan tidak mempermasalahkannya. Aku tidak marah atau membenci anda." kata May berusaha tenang. Dia tidak membenci Rangga, dia hanya benci pada dirinya sendiri karena mencintai pria ini.


"Lalu kenapa kau menghindari ku? Kau bahkan memblokir nomor ku." kata Rangga menatap tajam.


"Aku sudah mengatakan alasannya. Apa harus ku katakan lagi? Anda pria yang sudah bertunangan! Tolong jangan dekati aku lagi, jangan mencari ku, jangan menghubungi ku lagi. Jauhi aku." kata May agak keras.


Rangga geleng geleng kepala"Sudah ku katakan pertunangan ku dengan Rachel tidak akan merubah pertemanan di antara kita. Jadi jangan menjauhi ku." kembali ingin meraih gadis itu. Bagaimana bisa dia menjauh dari May? Dia tidak akan sanggup.


"Tolong bantu aku agar bisa hidup aman tanpa ada masalah. Tolong mengertilah dengan keadaan ku__!" May menatap sedih."Aku mohon __!" pinta May sendu. Entah apa yang membuatnya sedih. Yang jelas bukan karena Rachel, karena dia tahu Rangga tidak mencintai Rachel. Tapi wanita yang berpelukan dengan Rangga tadi. Wanita yang di cintai Rangga hingga kini.


"May ___!" ucap Rangga sedih dan kecewa.


"Aku akan balik ke negara ku beberapa jam lagi. Sekali lagi terimakasih atas kebaikan anda selama ini. Aku berharap suatu saat nanti bisa membalas kebaikan Anda. Aku doakan semoga anda mendapatkan kebahagiaan bersama dengan wanita yang anda cintai." ucap May dengan bibir bergetar. Dia tidak ingin semakin terluka dan menderita dengan kehadiran cinta wanita masa lalu Rangga. Untuk itu dia akan menjauh selamanya, balik ke tanah air agar bisa melupakan pria ini.


May segera berbalik membelakangi, agar Rangga tidak melihat air matanya yang telah jatuh.


Sementara Rangga termangu mendengar ucapannya. Kedua matanya basah. Wanita yang aku cintai? Aku hanya bahagia dengan dirimu. Karena kamu yang aku cintai. Tapi lagi lagi dia tidak berdaya mengingat pertunangannya dengan Rachel.


Rangga menekan ke dua matanya yang basah.


"Kau akan pulang ke Indonesia?" tubuhnya terasa lemah mengatakan hal itu. Terasa ada yang kurang karena akan kehilangan sesuatu.


"Iya __ Anda kembalilah, aku mau keluar. Aku ada urusan." kata May. Dia mengambil tas selempang dan memakainya. Tak lupa memakai rambut palsu, kaca mata dan topi. Khawatir akan bertemu dengan keluarganya di luar sana.


"Kau mau kemana?" tanya Rangga melihat penampilan May seperti itu.


"Aku mau mencari orang yang menjadi alasan ku datang ke sini!" jawab May.


Wajah Rangga mengernyit mendengarnya.


"Maksud mu pria itu.....?" teringat dengan pria yang di idolakan May, dan membuatnya cemburu. Bagaimana tidak, May begitu mengidolakannya, memuji dan mengagumi ketampanannya.


"Iya__aku sangat ingin menemuinya!"


"Biar Om antar kamu. Setidaknya Om bantu kamu untuk terakhir kali sebelum balik ke negara mu." kata Rangga. Dia penasaran dengan pria itu. Siapa dia? Hingga membuat May begitu ingin menemuinya.


"Tidak perlu. Aku tidak mau merepotkan Om. Dan lebih penting aku tidak ingin menjadi pelampiasan kemarahan buk Rahel jika melihat kita jalan berdua. Permisi__!" kata May. Dia buru buru keluar dari kamar hotel meninggalkan Rangga.


"May__may__!" Rangga berteriak memanggil dan mengejar. May tidak perduli dan terus berlari.


Rangga membuang nafas kesal. Dia berhenti mengejar. Menatap terus gadis itu yang semakin menjauh. Seolah terakhir dia melihat May. Dan mungkin itu terakhir kali melihat May, karena May akan balik ke Indonesia.


Bersambung.


Tinggalkan jejak dukungan ya

__ADS_1


__ADS_2