
...Happy Reading Guys, Jangan lupa dukungannya...
20 menit berlalu.
Rangga masuk dari pintu kamar sebelah karena Rachel meminta tidur di kamarnya yang tadi, bukan di kamar May. Seperti yang telah Rangga katakan, ruang ini berkesinambungan dengan kamar suite sebelah. Jadi dia masuk lewat kamar sebelah. Dia mendapati May sudah tertidur. Dengan posisi memeluk perutnya.
May sangat lapar, di tambah lelah capek menangis yang mengurus air mata tenaga dan pikiran karena ketakutan tadi membuatnya kembali tertidur.
"Kamu pasti sangat lapar!" katanya iba melihat kedua tangan May memeluk perut. Tidur meringkuk."Maaf membuat mu mengalami kejadian buruk hingga kelaparan!"
Perlahan Rangga mengangkat tubuh May untuk di pindahkan ke kamar. Dalam perjalanan May terbangun karena merasakan ada pergerakan. Dia kaget setelah sadar berada dalam gendongan Rangga.
"Om....?"
Rangga segera melihatnya begitu mendengar suaranya.
"Maaf membuat mu terbangun!"
"Aku lapar!" kata May lemah seraya mengusap perut.
"Kamu akan makan! Om sudah siapkan makanan untuk mu!" kata Rangga terus berjalan. Mereka tiba di kamar May yang tadi.
Rangga membawanya ke ruang makan dan mendudukkan di kursi makan. Sudah tersedia beberapa menu kesukaan May.
May langsung bersemangat menatap makanan itu, yang merupakan makanan kesukaannya. Ayam goreng mentega, sate sapi dan SOP iga sapi. Wanginya yang harum dan hangat semakin menambah rasa lapar May.
Dia menoleh pada Rangga yang duduk di sebelahnya."Ini semua makanan favorit ku!" katanya tersenyum. Dia hendak mengambil paha ayam, tapi belum sempat menyentuh makanan itu, tangannya di tahan Rangga. May melihat kepadanya."Om.....aku mau makan!" katanya cemberut.
Rangga mengambil cairan antiseptik, lalu menyemprotkan ke tangan May biar tangan itu bersih dan steril. Karena May tidak mencuci tangan, bisa jadi tangan itu Kotor dan berkuman. May menurut dan diam. Dia tersenyum dengan apa yang lakukan."Terimakasih!" katanya.
"Makanlah!" kata Rangga.
May mengangguk sambil menggosok ke dua tangannya. Dia tidak sabar lagi untuk menyantap makanan yang sangat menggugah selera. Dia segera mengambil piring dan mengisinya penuh. Untuk selanjutnya May makan dengan lahap setelah berdoa.
__ADS_1
"Enyak.....enyak....enyak.....!" ucapnya di sela mengunyah. Menjilat bibirnya sendiri. Dia makan dengan terburu-buru dan tidak sabaran, membuat makanan belepotan di bibir dan area mulutnya. Rangga membantu melap dan meminumkan air. Dan May mengatakan terimakasih.
"Pelan pelan, nanti tersedak. Ini semua untukmu, gak akan ada yang rebut dan ngambil!" kata Rangga melihatnya terburu buru seperti sedang orang yang berebut makanan.
May tertawa kecil dengan mulut penuh makanan.
"Om gak makan? Ini enak lho! Cobain!" May mengambil makanan dengan tangan lalu menyodorkan di depan mulut Rangga.
"Buka mulut Om.....Aaaaaaaa!"
Mau tidak mau Rangga membuka mulut dan menerima suapan yang sudah di depan mulutnya. Lalu mengunyah pelan. Sejujurnya dia juga belum makan malam.
"Gimana Om? Enak bukan?" tanya May.
Rangga mengangguk.
"Makanan Indonesia memang enak Om!" kata May dengan semangat karena sudah kuat, tubuhnya sudah terisi makanan, susu dan air.
Dia kembali menyuap Rangga dan Rangga seperti anak kecil yang patuh menerima suapan demi suapan dari tangan mungil May.
"Ada! Kamu mau ke sana?" tanya Rangga sambil mengunyah. Dia melihat rambut panjang May yang berantakan tidak terikat. Rambut itu berantakan di pipi May. Dia segera mengaturnya dan menaruh di belakang.
May mengangguk cepat." Mau Om, aku mau banget." kata May antusias.
"Besok malam kita ke sana!" kata Rangga menatap wajahnya. Dia senang melihat wajah ini kembali ceria dan bahagia, setelah apa yang terjadi tadi.
"Benar Om?" May langsung tersenyum sumringah.
Rangga mengangguk.
"Aaah.... Om terimakasih!" seru May gembira, reflek bangkit dan memeluk Rangga. Tanpa sadar tangannya yang kotor mengenai kaus Rangga.
"Sudah, tangan mu kotor tuh!"
__ADS_1
"Oh iya....???" May kaget, sadar dan segera menarik diri."Maaf Om, aku terlalu senang!"
Katanya cengengesan. Dia berlari ke wastafel dan mencuci tangan. Lalu balik lagi membersihkan kaus Rangga dengan tisu.
"Tidak perlu, Om akan ganti pakaian. Kamu lanjutkan makanya!" kata Rangga. Dia segera bangkit. Hendak melangkah tapi terhenti dengan panggilan May.
"Tunggu Om!"
May mengambil makanan yang tersisa sedikit di piring, lalu di masukan ke mulutnya. Kemudian mengambil lagi sisa terakhir."Makanan terakhir! Buka mulutnya! Aaaaa....." di suapi ke mulut Rangga. Lagi lagi Rangga tak bisa menolak. Dia segera membuka mulut menerima makanan itu sambil menatap. Terus menguyah tanpa berpaling dari wajah yang juga sedang menatapnya tersenyum sambil mengunyah makanan.
"Om gak jijik kan aku suapi? Om jangan khawatir, tanganku bersih kok, kan tadi udah Om kasih cairan antiseptik. Aku juga gak punya penyakit mulut, lidahku bersih kok! Lihat nih, Aaaaaaaa!" May menjulurkan lidahnya di perlihatkan pada Rangga, terus membuka mulutnya lebar-lebar. Rangga melihat lidah dan rongga mulut itu berwarna merah muda, yang menandakan bersih dan sehat. Juga gigi May yang putih, berjejer rapi tak berlubang. Sebenarnya dia tidak berpikir sampai ke situ. Tapi ternyata May memikirkan hal itu.
"Aku sering menyuapi papa dan mama ku juga kakek dan nenek pakai tangan langsung. Mereka juga sering melakukan itu padaku meski aku udah gede begini. Menyuapi Om mengingatkanku pada mereka!" kata May teringat pada orang orang yang di sayangnya itu. Sungguh dia rindu pada mereka semua.
Rangga menatapnya, sembari memikirkan sepertinya May merindukan suapan tangan orang tuanya. Dia menyemprotkan cairan antiseptik ke tangannya. Lalu mengambil sedikit nasi dan lauk ke piring. Terus di campur dengan menggunakan tangan kanan. Kemudian di ambil dan di berikan pada May.
"Buka mulut mu....!"
May kaget, dia berpikir Rangga mau makan lagi. Tapi kemudian dia mengerti maksud Rangga menyuapinya. May tersenyum terharu, dia segera membuka mulutnya dan menerima suapan itu. Dia mengunyah sambil menatap Rangga dengan rasa haru. Matanya sampai berkaca."Terimakasih Om, aku dapat merasakan suapan papa dan kakekku lagi!" dia memeluk Rangga beberapa detik, lalu menarik diri."Terimakasih sudah menyayangi ku! Aku juga menyayangi Om," katanya haru. Lalu mendekatkan wajahnya dan mengecup kening Rangga.
Rangga terkejut mata bulat dengan apa yang terjadi barusan.
"Aku senang banget dan sangat bersyukur memiliki teman sebaik Om!" kata May lagi.
Rangga masih terdiam dan terus menatap.
May bersendawa. Dia tersenyum malu.
"Aku kenyang banget." katanya mengusap perutnya yang mengembang."Terimakasih ya makanannya!" ucapnya senang.
Rangga menanggapi dengan anggukan. Lalu segera berbalik dan melangkah ke ruang ganti dengan cepat. Karena saat ini hati dan jantungnya tidak karuan. Meski dia tahu kecupan May hanya sebagai kecupan ungkapan rasa sayang pada orang tua.
"Aku merasakan keberadaan mu di sini. Tingkahnya sama seperti dirimu, Khanza Ghaniyah!" gumam Rangga dalam langkahnya, teringat pada Khanza. Tingkah Khanza yang sama persis seperti May. Suka menyuapinya saat mereka makan di kantin sekolah, terkadang mengecup keningnya sebaik bentuk rasa terimakasih, Selalu mengingatkan dia untuk segera kembali ke rumah dan tidak kelayapan lagi. Hati Rangga berubah sedih teringat kembali Wanita yang membuatnya jatuh cinta dan membuatnya merasakan cinta pertama kali."Bagaimana kabarmu, Rai Rara?" ucapnya lirih.
__ADS_1
Bersambung