Rangga dan Rara (Mencintai Anak Mantan)

Rangga dan Rara (Mencintai Anak Mantan)
25. Cemburukah?


__ADS_3

...Happy Reading....


Pagi menyapa alam semesta.


Selamat pagi penghuni dunia nyata dan dunia Maya.


Penuh percaya diri May menuju kantor R² tempatnya bekerja. Saat di pintu masuk, May menyapa dengan sopan satpam penjaga keamanan dan juga resepsionis.


"May ya?" sapa salah seorang resepsionis.


"Ya Mbak....?" kata May.


"Kau mau ke atas kan?"


"Iya," May mengangguk.


"Tolong bantu aku. Antar barang ini ke ruang kepala keuangan, pak Tito, di lantai 54. Pak Tito tadi tidak sengaja meninggalkannya. Aku akan menghubunginya untuk memberi tahu kalau kau yang akan mengantarnya!"


"Baik mbak, biar saya yang antar!"


"Gunakan lift eklusif biar kamu cepat sampai, karena pak Tito sedang menunggu barang ini. Terimakasih atas bantuan mu!" menyerahkan sebuah paper bag ukuran sedang.


May segera melangkah menuju lift setelah menerima benda itu. Begitu tiba di depan lift, May segera menempelkan name tag nya ke alat pemindai yang berada di samping lift. Pintu terbuka, May segera masuk dan menekan angka 54. Lift berjalan ke atas. Setelah sampai di lantai 54, May menuju ruang Tito. May mengetuk pintu.


"Masuk." terdengar suara dari dalam.


May segera membuka pintu dan masuk.


Tito termangu melihat May. Penampilan May yang berbeda saat di temui di taman waktu itu. Kali ini lebih fresh. Gadis ini terlihat cantik dan manis dengan outfit yang di kenakan, Sesuai usianya yang masih belia.


May sendiri terkejut melihat Tito. Dia ingat pria ini yang bertemu dengannya di taman, terus memberi tahu tentang lowongan pekerjaan OB di kantor ini. Ternyata pria ini kepala keuangan di kantor ini.


"Selamat pagi pak!" sapa May sopan dengan senyuman.


"Pagi. Kamu May Wulandari? Masih ingat saya?" kata Tito membalas senyumnya.


"Tentu saja, anda yang telah membantu saya hingga bekerja di sini. Terimakasih atas bantuannya!" kata May masih tersenyum.

__ADS_1


Tito tersenyum lebar.


"Kamu nyaman kerja di sini? Sebagai OB pak Rangga?"


May mengangguk, meski yang sebenarnya dia tidak betah karena kedua wanita bule itu.


"Ini titipan barang dari bagian resepsionis. Katanya punya bapak yang ketinggalan." menyerahkan paper bag.


"Terimakasih sudah mengantarnya!" kata Tito.


"Sama sama pak. Kalau begitu saya permisi dulu!" pamit May.


"Oh ya May.... Apa kamu punya nomor rekening? kata pak Haris kau menginginkan gajimu di bayar setiap hari. Aku perlu nomor rekening untuk mentransfer gajimu. Biar kau tidak capek datang kebagian keuangan untuk mengambil gaji setiap hari." kata Tito.


"Saya gak punya pak, karena belum sempat membuatnya. Gak apa apa biar saya ambil secara langsung saja!" kata May. Dia memang sengaja tidak membuka nomor rekening bank di negara ini karena tidak ingin keberadaannya di ketahui oleh keluarganya meski memakai data May Wulandari.


"Ya sudah, terserah kamu saja!" kata Tito. Merasa heran dengannya karena tidak memiliki nomor rekening. Karena semua karyawan di sini dari yang memiliki jabatan paling atas hingga bawah harus memiliki nomor rekening karena untuk mentransfer gaji masing-masing. Dan itu harus. Tapi karena gadis itu kenalan bosnya, maka di kecuali kan.


May melangkah menuju lift. Dia segera menempelkan name tag. Begitu pintu lift terbuka. May masuk terburu karena mengingat dia sudah terlambat untuk membersihkan ruang Presdir. Saking terburu buru, May tidak menyadari ada orang di di dalam lift dan berdiri didepannya. May menabraknya.


May terkejut"Maaf." Katanya kaget, terus mendongak ke atas melihat pria di hadapannya. May termangu melihat netra coklat di depannya, wajah bulenya yang tampan.


May segera mundur, tapi karena lantai yang licin membuat sepatunya tergelincir. May hampir jatuh, jika pria bermata coklat itu tidak segera menangkap tubuhnya. Rangga yang melihatnya hendak jatuh, spontan bergerak cepat, tapi tidak bisa menahan tubuh May karena sudah keburu di tangkap pria bermata coklat, yang merupakan relasi bisnisnya yang datang berkunjung ke perusahaannya, CEO dari perusahaan X, bernama Sean Gefarin.


Sean secepatnya menangkap tubuh May ketika hampir jatuh. Tangan kanannya menyangga punggung May dan tangan kiri melingkar di pinggang May. Jarak yang begitu dekat sehingga Sean dapat melihat jelas wajah cantik May dengan kulit yang putih mulus. Hatinya bergetar.


May juga melihat wajahnya. Keduanya saling menatap beberapa detik, hingga suara Rangga menyadarkan mereka. Rangga yang merasakan darahnya panas melihat kedekatan mereka di depannya. Cemburukah?


"Tuan Sean....!" kata Rangga membuyarkan keadaan.


May segera berdiri, Sean pun segera melepas pegangannya dari tubuh May."Kamu tidak apa apa?" tanyanya khawatir.


"Aku baik. Terimakasih!" kata May. Dia segera berdiri di belakang Rangga.


Sean segera keluar dari lift setelah pamit pada Rangga, dia di sambut oleh Rachel yang baru datang di depan pintu lift.


Sebelum lift tertutup Sean melihat pada May dan tersenyum manis.

__ADS_1


May merasa risih dengan senyuman itu, tapi dia tetap membalasnya sebagai sopan santun, apalagi pria itu telah menyelamatkannya.


"Apa aku harus menekan lift untuk kamu?" suara Rangga menyadarkan May. Dia lupa kalau Rangga adalah bos dan dia hanya OB.


"Maaf pak!" kata May, menyebut pak. Di kantor dia memanggil Rangga pak, di luar kantor memanggil Om atau terserah apa saja.


May segera menekan angka 55. Dia menatap punggung Rangga. Seharusnya pria ini datang 30 menit lagi. Kenapa malah sudah datang sekarang? Sementara ruangannya belum di bersihkan karena dia baru datang.


"Bapak kok datang sepagi ini? Seharusnya 30 menit lagi datangnya." tanya May.


"Aku ada urusan penting mendadak!" kata Rangga datar. Dia datang lebih cepat karena Sean. Sahabat sekaligus partner bisnisnya.


"Tapi ruang bapak belum dibersihkan. Aku kan baru datang!"


Rangga melirik tajam, tak menjawab. Tanpa di bilang pun dia sudah tahu hal itu.


"Kenapa sih dia?" batin May melihat tatapan tajam Rangga dan sikap dinginnya yang tidak biasa. Rangga juga tidak banyak bicara seperti biasanya. Mungkin moodnya lagi jelek kali ya? batin May.


May memilih diam.


Lift melaju cepat. Dan tidak lama kemudian berhenti di lantai atas. Pintu terbuka.


"Jangan kamu ulangi lagi." kata Rangga.


May tidak mengerti ucapan Rangga." Apa?" tanya nya mendongak melihat wajah Rangga.


"Jangan mengumbar senyum kepada karyawan pria, dan terutama kepada tamu perusahaan ini. Kamu di sini untuk kerja bukan untuk menebar senyuman kepada semua pria." kata Rangga, lalu segera keluar. Tidak jauh di depannya, Clara tampak berjalan mendekat untuk menyambutnya.


Sementara May tercengang mendengar ucapannya.


"Apa katanya? Aku mengumbar senyum pada semua pria? Pria yang mana? Apa tamu bermata coklat itu? Aku kan hanya bersikap sopan, bukan untuk menebar senyum! Asal asal nuduh, Memang aku wanita apa? Menyebalkan.....!" umpat May tidak suka dengan tuduhan pimpinannya itu.


Bersambung.


Up santai sambil manggang 🍰


Semoga suka sama cerita halunya Mak...!

__ADS_1


Terimakasih bagi yang selalu mampir, mohon dukungannya 😘


__ADS_2