
...Happy Reading....
Rangga kembali terkesiap mendengar perkataan perkataan itu.
"Aku tidak mau terus berdebat Rachel. Sebaiknya kau keluar. Aku mau berganti pakaian!" kata Rangga capek terus beradu argumen. Karena keduanya merasa benar dan tidak mau mengalah. Dia capek beradu mulut terus. Dia melangkah, tapi baru selangkah berjalan, lengannya di tahan Rachel.
"Jangan mencoba membohongi ku dengan berbagai alasan Rangga. Aku tahu siapa dirimu. Semua hal tentang dirimu.....aku sangat mengenal mu luar dan dalam! Saat kau jujur dan sedang berbohong. Bukan hanya bibir mu tapi juga mata mu memperlihatkan kebohongan! Lupakan gadis itu, hilangkan dia dari hati dan pikiran mu! Beberapa hari lagi kita akan menikah. Aku tidak mau ada wanita lain di hatimu, yang akan mengganggu kebahagiaan rumah tangga kita nanti. Dari pada memikirkan wanita yang tidak benar, Sebaiknya kau pikirkan persiapan pernikahan kita! Aku ingin kau menemaniku untuk mempersiapkan semuanya, terutama memilih cincin pernikahan dan gaun pengantin. Aku menginginkan pernikahan kita dilangsungkan di Australia. Orang tua kita sudah setuju hal itu, termasuk nenekmu! Jadi kita akan pergi ke Australia secepatnya." kata Rachel, lalu segera beranjak dari hadapan Rangga dan keluar dari kamar. Dia ingin menikah di Australia, jauh ke negara itu karena tidak ingin ada pengganggu.
Rangga mengusap wajahnya kasar. Dia mengeram keras dan menendang sembarangan. Beberapa saat kemudian dia teringat May. Kembali khawatir.
"May, May...Kemana kamu pergi? Apa kamu telah balik ke Indonesia? Atau pergi ke kota lain untuk mencari pekerjaan? Kau sudah berjanji tidak akan membuat ku khawatir dengan dirimu, tapi lagi lagi kamu membuat ku ketakutan dengan kepergian mu tanpa pamit!" Rangga memaki dirinya karena telah memberhentikan gadis itu dari pekerjaan sebagai OB. Sehingga membuat May pergi dan mencari pekerjaan ke tempat lain.
Rangga mengambil ponsel dan mengirim pesan pada Haris dan Tito. Hanya kedua pria itu yang dapat membantunya dan bisa di percaya.
..."Hubungi setiap maskapai penerbangan, cari tahu apa ada penumpang atas nama May Wulandari tujuan ke Indonesia atau ke negara lain! Dan suruh orang ke Bandung ke kampung halamannya, untuk memeriksa keberadaannya di sana! Aku menunggu informasi secepatnya!"...
Setelah itu dia segera ke ruang ganti untuk berpakaian. Dia ingin ke apartemen May dan pergi ke hotel Sean. Siapa tahu May meninggalkan sesuatu di sana. Dia ingin memastikan gadis itu dalam keadaan baik, dan sangat berharap telah balik ke Indonesia.
__ADS_1
Setelah tiba di kamar apartemen May, dia tidak mendapatkan apapun. Begitu juga di kamar hotel milik Sean tempat mereka menginap. Tak ada pesan apa pun yang ditinggalkan May. Dan itu membuatnya, kesal, kecewa sekaligus sedih.
"May, kenapa kau pergi tanpa menunggu ku dulu! Seharusnya kau pamit padaku." gumamnya lirih. Dia jatuh terduduk lemah lunglai ke lantai tak bertenaga. Untuk kedua kalinya dia menderita dan merasakan sakit seperti ini. Rasa sakit yang paling sakit di antara sakit yang dia rasakan seumur hidupnya. Sakit karena cinta yang tidak bisa di miliki. Luka lama yang susah payah di keringkan karena cinta di masa lalu, kini terbuka lagi.
"Ya tuhan, apa salahku hingga kau terus menerus memberi rasa sakit seperti ini. Kenapa kau tidak membiarkan ku memiliki wanita yang ku cintai? Dosa apa yang telah ku lakukan hingga kau menjauhkan mereka yang ku cintai? Apa aku tidak pantas mendapatkan kebahagiaan dalam hidup ku?" ucapnya sendu.
Sungguh dia sangat lemah seakan raga telah mati. Kehilangan dan rindu yang kini di rasakan dan menyesakkan dada.
"May..... jangan pergi. Jangan tinggalkan aku. Aku mencintaimu.... Om cinta sama kamu!" Tapi terlambat untuk di katakan. Karena gadis itu telah pergi meninggalkannya selama lamanya.
Sementara Sean dan May telah sampai ke Sidney, Australia setelah melakukan perjalanan yang cukup lama, 22 jam 6 menit.
Sean mengantar May ke kamar yang berada di lantai atas, bersebelahan dengan kamarnya dan kamar putrinya.
Setelah Sean pergi, May menghempaskan tubuhnya di atas ranjang. Perjalanan yang sangat melelahkan bagi May, meski ada ruang tidur di pesawat pribadi Sean yang di gunakan untuk berbaring.
May tiba tiba teringat Sofi. Dia belum memberitahu Sofi akan ke Australia. May bangun dan segera mengambil ponselnya, terus di aktifkan. Dia sengaja mematikan ponselnya untuk menghindari panggilan Rangga.
__ADS_1
Raganya yang lelah semakin lemah ketika teringat pria itu lagi. Serasa ada yang hilang.
Begitu ponselnya menyala, sebuah pesan masuk dari Rangga, dan juga banyak panggilan dalam waktu yang berbeda.
..."Kau sudah berjanji untuk tidak membuat Om khawatir dengan dirimu. Tapi lagi lagi kamu melakukannya. Kamu membuat Om panik dan cemas. Om sangat takut terjadi sesuatu lagi sama kamu! Kamu memang anak yang bandel dan ingkar janji. Pergi tanpa pamit secara langsung dan tidak tahu kemana. Kamu pergi ke mana? Tahu kah kamu, Om sangat menghawatirkan mu??"...
May mendesah sedih."Maaf Om....!" ucapnya lirih. Satu tetes air mata meleleh di sudut matanya. Dia sudah menduga, Rangga pasti mengkhawatirkannya karena pergi tiba-tiba.
May segera bangun. Dia membalas pesan Rangga agar pria itu tidak khawatir lagi.
..."Maaf Om.....lagi lagi aku salah. Maaf tidak menunggu Om pulang dan pamit langsung. Om jangan khawatir dan cemas. Aku telah balik ke negara ku. Tapi aku masih ke suatu tempat! Aku baik baik saja. Aku telah sampai dengan selamat. Jika Om datang ke Bandung, aku pasti akan balas kebaikan Om! Aku doakan Om selalu bahagia. Dan juga bahagia bersama Ibu Rachel. Senang banget bisa bertemu kalian. Jika Allah menghendaki, kita pasti akan bertemu kembali. Tak perlu mengirim pesan atau menghubungiku lagi, karena aku akan menonaktifkan nomor ini! Sudah ya Om....."...
Setelah pesan itu terkirim, May segera mengganti nomornya. Dia memutuskan semua akses hubungan komunikasi dengan Rangga agar dapat melupakan pria itu. Dia yakin dengan cara ini akan menghapus jejak Rangga di dalam hati dan pikirannya, dan juga menghilangkan perasaan cintanya.
Beberapa saat berlalu terdengar isak kecil ke luar dari mulutnya di sertai cairan bening yang mengalir di kedua pipinya. Tubuhnya tergolek lemah di tempat tidur. Dia menatap terus wajah Rangga dalam ponselnya. Dan karena capek dan lelah, dia tertidur.
Bersambung.
__ADS_1
Terimakasih yang sudah mampir, tinggal kan jejak dukungan ya.....