Rangga dan Rara (Mencintai Anak Mantan)

Rangga dan Rara (Mencintai Anak Mantan)
70. Pembangkang yang menggemaskan 2


__ADS_3

...Happy Reading....


Rangga membawa May ke kamar mandi yang berada di ruang pribadinya


May kaget ketika di bawah ke ruangan ini.


"Kenapa bawah aku kemari?"


Rangga melepas pegangannya.


"Bilas tubuh mu." katanya. Lalu dia pergi ke ruang ganti mengambil kemeja yang kering bersih. Dia menghubungi Verdi, memerintahkan sesuatu. Lalu balik lagi ke kamar mandi. Di dapatnya May masih berdiri mematung di tempatnya.


"Kenapa hanya diam? Cepat mandi dan ganti pakaian. Untuk sementara kau pakai ini dulu." Rangga menyerahkan kemejanya.


"Aku tidak mau di sini. Aku mau pulang dan berganti pakaian di tempat ku saja." bantah May mengabaikan kemeja itu.


"Apartemen Sean jauh dari sini. Keburu kau masuk dingin. Sudah, jangan membantah. Nanti kau sakit." sentak Rangga.


"Aku gak enak ada di sini. Anda yang harus segera berganti pakaian, lalu kembali ke ballroom. Anda sangat di butuhkan di sana. Tidak usah peduli padaku. Aku bisa mengatasi masalah ku sendiri." May terus membangkang dan bersikeras untuk keluar. Berduaan dengan tunangan orang membuatnya takut.


May kembali melangkah ke luar. Tapi belum sempat menggapai pintu, tubuhnya di sergap dari belakang.


"Aku gak mau." pekik May dan berontak.


"Pakaian mu basah. Apa kau mau pulang dengan keadaan basah kuyup begini? Setidaknya ganti pakaian mu. Baru pergi." kata Rangga dengan suara meninggi. Mulai kesal dengan tingkah menjengkelkan ini.


"Aku lebih baik basah kuyup dan menahan keinginan dari pada harus mendapatkan penghinaan dan kemarahan tunangan anda." kata May menatap kesal.


Rangga terkesiap mendengar perkataan itu.


Tunangan? Dia lupa telah melakukan bertunangan dua jam lalu dan di saksikan May. Tapi dia tidak peduli dengan hal itu. Baginya kesehatan May yang lebih utama.


"Kamu jangan Khawatir. Rachel tidak mengetahui kau di sini." kata Rangga kemudian.


May tercengang. Sikap Rangga yang menyembunyikan dirinya dari Rachel.


"Apa? Anda benar-benar keterlaluan! Itu menyakiti ibu Rachel dan membuatnya semakin membenci ku."

__ADS_1


"Kau juga temanku. Aku tidak mau kau sakit. Lagian, mengapa kau bisa sampai jatuh ke kolam? Kenapa kau tidak hati hati? Jika terjadi sesuatu yang buruk padamu bagaimana, hah?" sentak Rangga.


May terdiam, kepedulian dan kekhawatiran ini kembali membuat tanya di hatinya. Rangga bahkan berani menyelamatkan dirinya dengan terjun ke kolam. Tak perduli dengan Rachel dan anggapan para tamu. Apa ini hanya sebagai bentuk kepedulian pada seorang teman? Atau karena Rangga mencintainya?


Keduanya saling menatap dengan pikiran masing-masing.


"Ada apa?" tanya Rangga melihatnya diam dan hanya menatapnya. Barangkali May takut dan sedih dengan ucapan kerasnya, perlahan Rangga memegang kedua bahunya."Sudah ku katakan kau adalah temanku. Aku tidak akan membiarkan terjadi sesuatu yang buruk terjadi pada mu. Apa pun hubungan yang aku jalani dengan Rachel saat ini, kau tetap temanku. Aku akan selalu membantu mu kapan pun dan di mana pun. Kau pun tidak perlu sungkan jika butuh bantuan dariku." ucap Rangga suara rendah. Sungguh dia sangat ketakutan teringat kembali dengan kejadian yang di alami May tadi.


May terkesiap mendengar perkataannya, lalu menelan ludah yang menghambat jalan pernafasannya.


"Tetap saja aku tidak mau berdua dengan Anda di sini. Tunangan bapak pasti sedang menuju ke sini. Aku tidak mau di rendahkan dan di permalukan lagi." kata May. Dia yakin Rachel pasti sedang mencari Rangga dan dirinya. May tidak mau di permalukan lagi sementara ada kakeknya di sini. Kakek dan pamannya pasti akan sangat malu dan kecewa jika sampai tahu dia berduaan dengan tunangan orang.


May sangat tahu orang seperti apa Rahel. Tubuhnya bergidik membayangkan wajah sangar Rachel saat marah. Seakan wanita itu akan menerkam, mencabik-cabik tubuhnya dan menelan hidup hidup.


"Aku mau keluar. Jangan menahan ku." katanya seraya melepas pegangan Rangga.


Rangga kembali kesal dengan tingkah menjengkelkan dia."Kau tidak boleh pergi sebelum berganti pakaian." Dia tidak mengindahkan ucapan May, dia menahan tubuh May semakin kuat dan selanjutnya membawa tubuh May di bawah shower. Di tahan dengan satu tangan. Satu tangan lainnya menghidupkan kran shower. Air mengalir jatuh ke tubuh mereka. May kembali kaget merasakan percikan air mengenai kulitnya. May menyapu air di wajahnya sembari mendongak ke atas. Dia menurunkan pandangannya beralih menatap Rangga yang juga sedang menatapnya di antara air yang jatuh. Tatapan mereka bertemu.


Keduanya saling menatap dengan pemikirannya sendiri.


Tangan RANGGA terulur mendekat ke arah dada May. Dia ingin melepas kemejanya yang menutupi tubuh atas May.


"Bapak mau apa?" memegang tangan Rangga.


"Melepas pakaian mu. Kamu keras kepala dan pembangkang. Biar aku yang akan melepasnya." kata Rangga menatap tajam penuh ancaman.


May terbelalak. Dia berusaha menahan tangan Rangga. Tapi Rangga menepis tangan nya dan membuka kancing kemeja. May panik begitu kemeja di lepas paksa.


"Jangan, biar aku saja." kembali mengelak dan mendorong, tapi tubuh Rangga bahkan tak bergeser sedikit pun kebelakang.


"Aku saja, kamu keras kepala dan terus menguji kesabaran ku sejak tadi." Rangga melirik sekilas dan kembali membuka kancing satu persatu.


"Ih jangan." May menahan kedua tangan kekar itu. Tapi RANGGA menepis dan terus membuka, melepas kemejanya yang melekat menutupi tubuh May. Benda itu di biarkan jatuh ke bawah. Matanya langsung di suguhkan oleh dada indah May yang terbuka dan terbentuk.


Dia kembali meneguk saliva kasar.


May meletakkan satu tangan di dada."Jangan di lihat." menutup wajah Rangga dengan tangan satunya. Kesal bercampur malu.

__ADS_1


"Kamu sendiri yang memperlihatkannya. Kamu sengaja kan berpakaian terbuka seperti ini biar orang orang melihat tubuhmu?" Rangga menurunkan tangannya. Menatap kesal.


"Sudah ku katakan berulangkali jangan berpakaian terbuka seperti ini, apalagi di tempat umum. Baru tadi sore aku memperingati mu." memarahi.


May terdiam. Seharusnya dia menolak saat Sean memintanya memakai gaun ini.


Rangga menatapnya dalam. Rangga tak ingin memarahi lagi. Dia melanjutkan membuka pengait gaun May, dengan menjulurkan ke dua tangan melewati bahu May.


Jari jemarinya tanpa sengaja menyentuh kulit May. May merinding, tegang, Jantungnya berdebar. Bagaimana tidak, Rangga melepas pengait gaun dari depan, dan otomatis memeluk dirinya. Tanpa sengaja pipi dan hidung mereka bertabrakan.


"Om____!" May gelisah.


"Diam, aku hanya ingin membuka pakaian mu. Memang apa yang kau pikirkan?" Rangga mengabaikan. May terdiam dan ada rasa malu sendiri. Ya tuhan kendalikan apa yang kurasakan saat ini.


Rangga tahu apa yang di pikirkan May saat ini dengan kedekatan mereka. Sama halnya seperti May, Dia sendiri sebenarnya gelisah tidak tenang, jantung berdegup kencang. Hembusan nafas May mengenai wajah dan lehernya. Sentuhan fisik tak sengaja di bawah guyuran air dingin membuatnya tegang dan membuatnya berimajinasi buruk.


Rangga tersenyum tipis melirik wajahnya, yang gelisah. Sembari terus membuka pengait dan resleting.


Rangga teringat kejadian tadi di kolam yang membuat jiwa gadis ini terancam. Dia belum tahu kenapa May bisa jatuh di kolam. Belum ada informasi dari Verdi. Kenapa gadis ini bisa jatuh ke kolam?


Pengait lepas. Resleting telah di buka. Rangga melihat wajah May yang terpejam terkena jatuhnya air. Sesekali kedua tangan mungilnya menyapu air di wajah.


Wajah ini terlihat semakin menggoda saat basah. Mata Rangga menjelajah menatapi satu persatu bagian wajah manis ini. Tatapannya berhenti pada bibir May yang sedikit pucat. Rangga teringat kembali ciuman yang mereka lakukan saat di apartemen May pagi itu. Ingatan adegan ciuman itu menimbulkan perasaan lain pada dirinya. Lebih lagi di dengan tubuh gestur mereka saat ini, dekat dan menyentuh. Suhu air yang dingin membuatnya bergidik. Rasa aneh menjalar kuat ditubuhnya. Dia tak bergeming menatap bibir May dengan fantasinya yang liar. Rangga menelan saliva kasar. Dia tergoda. Tanpa sadar tangan kanannya bergerak mendekati benda itu. Ibu jarinya menyentuh, meraba benda kenyal basah itu.


May terkejut, bergidik seketika membuka mata. Dia yang sedari tadi menahan segala rasa aneh di tubuhnya. Matanya melongo melihat wajah Rangga yang sangat dekat di depan wajahnya. Nyaris menyentuh.


May menatap dalam netra Rangga yang terlihat sayu. May jadi was was dengan perubahan ekspresi Rangga.


"Om ___?"


"Kau sengaja ingin menggodaku kan?" ucap Rangga dengan tatapan yang tidak bisa di artikan.


May tidak mengerti, bingung. Dia ingin bertanya, tapi suaranya gagal keluar karena mulutnya di bungkam lembut oleh suatu yang kenyal dan tebal secara tiba-tiba.


...Bersambung....


Untuk Umat Islam, selamat memperingati Maulid/Hari kelahiran Nabi Muhammad Saw.

__ADS_1


Untuk reader yang mampir ke karya ini, jangan lupa dukung author ya, rate bintang lima, vote, kopi dan masukan ke favorit yang baru bergabung, terimakasih 🙏😍


__ADS_2