Rangga dan Rara (Mencintai Anak Mantan)

Rangga dan Rara (Mencintai Anak Mantan)
51. Pencarian Rad


__ADS_3

...Happy Reading....


May membuka Instragram Rad. Melihat tempat tempat yang biasa di kunjungi Rad. Pertama May menuju Taman bunga yang biasa Rad kunjungi, tapi tak ada tanda tanda Rad di sana. May ke toko bunga. Terus ke tempat lainnya yang di kunjungi Rad.


Setelah beberapa jam berlalu.


"Maaf Nona. Boleh saya bertanya?" tanya sopir pribadi yang merupakan seorang perempuan, Usia 32 tahun. Dia penasaran apa yang May cari dengan pergi dari satu tempat ke tempat lain.


"Tentu boleh. Anda ingin bertanya apa?" May sedikit kaget, karena melamun kan Rad.


"Sebelumnya perkenalkan, nama saya Veli. Saya sopir pribadi Almarhumah istri tuan Sean sewaktu Nyonya masih hidup." kata sopir.


"Ohh, saya May, May Wulandari." kata May sambil mengurai senyum.


"Berarti sudah lama mbak bekerja pada tuan Sean?" sambungnya.


"Lumayan, hampir 8 tahun."


May manggut-manggut mendengarkan penjelasan Veli."Terus apa yang ingin mba tanyakan?"


"Apa anda sedang mencari sesuatu? saya perhatikan anda tampak sedang mencari sesuatu. Pergi dari satu tempat ke tempat lain!"


"Iya mbak!" jawab May. Tenyata Veli memperhatikan dirinya.


"Kalau boleh saya tahu, Nona sedang mencari apa? Siapa tahu saya bisa bantu!"


"Teman....eh.. maksud aku calon teman. Aku sedang mencarinya."


"Calon teman?" Veli bingung.


"Iya, aku belum bertemu dengannya. Hanya mengetahuinya di media sosial."


"Kenapa anda tidak menghubunginya?"


"Aku tidak punya nomor teleponnya! Begini mbak kebetulan orang yang aku cari adalah seorang pria yang menjadi idola ku." kata May menjelaskan kebingungan Veli.


"Maksud Nona artis?"


"Sepertinya tidak. Tapi dia cukup terkenal dan mempunya banyak fans, termasuk aku salah satunya. Aku tidak tahu pekerjaannya. Yang kulihat pada profil di Instagramnya, dia tinggal di Sidney. Dan tepatnya di kota ini! Tempat tempat yang tadi aku datangi adalah tempat yang biasa dia kunjungi."


"Oh, begitu....saya pikir Nona mencari kerabat." kata Veli.


May senyum senyum sambil geleng kepala"Bukan."


"Kalau boleh tahu siapa nama idola Nona itu. Siapa tahu saya dengar namanya?"


"Rad.....!"


"Rad?" wajah Veli mengernyit.


"Apa mbak tahu?"


"Saya tahu nama itu. Tapi entah dia yang nona maksud atau bukan. Rad yang saya tahu adalah rekan bisnis tuan Sean. Dia adalah seorang pengusaha bisnis ternama seperti tuan Sean. Punya banyak perusahaan dan usaha bisnis lainnya. Dia seorang presiden direktur."


"Presdir?" Dahi May mengerut. Apa mungkin Rad seorang Presdir. Kalau yang di lihat pada profil Ig, Rad tidak mencantumkan pekerjaan, hanya hobinya sebagai pecinta bunga.


May membuka galeri pada ponselnya. Dia memperlihatkan wajah Rad pada Veli."Apa wajahnya seperti ini?"

__ADS_1


Veli memperhatikan wajah Rad, sesaat kemudian."Bukan Nona. Bukan yang ini. Tuan Rad teman tuan Sean memiliki brewok tebal, model rambutnya undercut dan bermata biru. Bukan wajah halus dan rambut tipis begini. Saya yakin bukan Rad ini, karena saya sudah dua kali melihatnya!"


May menghela nafas berat. Kecewa.


Dia segera menyimpan ponselnya kembali.


"Maaf Nona, saya tidak membantu anda." kata Veli melihat kekecewaan di wajah May.


"Tidak apa apa mbak. Saya akan berusaha mencarinya lagi." kata May.


"Terus, kita kemana Nona?"


"Kita pulang saja. Besok saya akan mencarinya lagi. Terimakasih ya mbak sudah menemani saya seharian ini!"


"Sama sama Nona. Itu sudah merupakan tugas saya."


Mereka kembali ke kediaman Sean, karena waktu sudah beranjak malam.


.


.


Keluarga Alkas sudah tiba di Australia. Tepatnya di kediaman Rangga.


Mereka baru saja selesai sarapan pagi.


"Pa, ma....aku ke kantor dulu!" pamit Rangga pada Dion dan Cindy.


"Jangan lupa, nanti malam kau harus menghadiri opening pembangunan menara X bersama dewan direksi." kata Dion.


"Papa hanya mengingatkan."


Rangga segera meninggalkan meja makan setelah menyalami ke dua orang tuanya.


Cindy beranjak dari duduknya."Sebentar kak....!" katanya pada Dion, lalu buru buru mengejar Rangga.


"Rangga," panggilnya pelan, tapi dapat di dengar oleh telinga Rangga.


Rangga menghentikan langkah dan menoleh ke belakang.


"Siang nanti kau dan Rachel akan membeli cincin pernikahan." kata Cindy begitu berada di depannya.


"Apa aku harus ikut ma? Tidak bisakah dia sendiri yang membelinya? Atau di pesan saja biar tidak repot. Aku punya banyak pekerjaan hari ini. Mama tahu sendiri hampir sebulan aku di Amerika meninggalkan pekerjaan di sini. Belum lagi harus mempersiapkan pertemuan nanti malam dengan dewan direksi."


"Nak, kalau hanya di pesan mana pas sama jarimu? Belum tentu juga sesuai dengan selera mu!"


"Aku akan mengirimkan ukuran jari manis ku kepadanya. Dan untuk model cincinnya, aku mana saja terserah Rachel."


"Rangga, kamu gak boleh begitu. Yang menikah kalian berdua, masa hanya Rachel yang sibuk? Mama ingin kau menemaninya biar kalian bisa dekat. Jika kalian selalu bersama, melakukannya bersama sama, maka akan membuat hubungan kalian semakin dekat! Hanya sebentar saja nak! Sebaiknya kau temani dia. Mama tidak ingin mendengar kata penolakan." kata Cindy berharap.


Rangga mengeluh kesal. Dia segera menunju pintu utama, di mana mobilnya sudah menunggu. Kemudian masuk, dan meninggalkan tempat itu.


"May.....! May...May....!" ucapnya lirih. Dia tidak bisa menghilangkan bayangan gadis itu dari hati dan pikirannya.


Meski sekuat hati melupakan. Semakin ingin di lupakan, rindunya malah semakin kuat, cintanya semakin besar.


..."Lupakan dia nak, mama yakin dia tidak mencintaimu. Dia hanya sekedar kagum dan terkesima dengan kebaikan hatimu. Rasa itu akan hilang secepatnya saat kalian tidak lagi bersama. Dan ingatlah satu hal, umur kalian sangat jauh berbeda. Terpaut cukup jauh. Dia sudah cocok menjadi anakmu. Tidak mungkin dia mencintai apalagi menikah dengan pria yang sudah seperti ayahnya." kata kata Cindy terngiang di telinganya....

__ADS_1


Rangga menggenggam kemudi dengan kuat sembari mendengus geram.


..."Om, aku hamil, Om harus tanggung!" kata May saat perutnya besar karena kenyang....


..."Kenapa ya setiap dekat dengan Om, jantung berdebar debar? Aku tidak pernah merasakan ini sebelumnya. Aku juga nyaman dan merasa bahagia bersama Om. Apa itu artinya aku jatuh cinta sama Om?" ungkap May saat keduanya sangat dekat....


..."Terimakasih ya Om sudah mau menjadi teman ku, papaku, menjaga ku dengan baik, melindungi ku dari orang jahat! Aku sayang sama Om! Cup....( Kecup kening)...


..."Om, aku lapar." kata May saat lapar....


..."Jadi Om belum menikah? Hahaha....udah umur segini belum menikah? Apa Om seorang Gay....? Hahaha." ledek May setelah tahu dirinya belum menikah....


..."Maaf Om, jangan marah, maafkan aku. Aku tidak akan membuat Om cemas lagi." kata May saat dia cemas dan panik karena tidak menemukan May....


..."Aku sayang sama Om, sepertinya aku jatuh cinta sama Om," ungkap May merasa bahagia dengannya....


..."Ih Om, kenapa mencium ku? Ini ciuman pertama ku." kata May kesal saat tak sengaja mencium bibir May....


..."Apa Om suka sama aku? Apa Om mencintai ku?" kata May ketika dia mencium May....


..."Om jahat....aku benci Om, Om tidak tulus kepadaku. Hiks hiks......!" kata May salah paham, menuduh dirinya sombong....


Kata kata kesal, sedih, marah, senang dan bahagia May terngiang di telinganya. Kenanga kenangan kebersamaan mereka menari nari di peluk matanya.


Rangga tersenyum sekaligus menangis mengingat kebersamaan yang mereka lalui itu. Canda tawa May, tangis May, wajah kesal dan cemberut May, juga marahnya yang membuatnya gemas. Tingkah manja gadis itu semakin menambah kerinduannya.


Rangga tiba tiba menginjak rem dengan kuat, terus membanting setir ke samping. Terdengar bunyi Ban berderit beradu aspal. Hampir saja dia menabrak seseorang.


"Hey pak, Jangan melamun kalau sedang menyetir." teriak beberapa pengguna jalan.


Ada juga yang mengumpatnya.


"Maaf...maaf....!" hanya itu yang bisa di ucapkan Rangga di tengah keterkejutan dan kepanikan. Dia mengaku salah karena memang melamun.


Rangga segera melihat ke arah orang yang hampir di ditabraknya. Ternyata seorang gadis. Tampak berlari kejalan sebelah dengan terburu buru.


Rangga segera turun.


"Nona, Nona.....!" panggilnya sedikit keras. Niatnya ingin tanggung jawab. Tapi gadis itu tidak mendengar panggilannya dan terus berlari, kemudian segera naik taksi dan pergi.


Rangga berhenti mengejar.


"Semoga saja gadis itu tidak apa apa." katanya khawatir jika gadis itu lecet, luka atau mengalami syok.


Rangga kembali ke mobilnya. Dalam langkahnya, dahinya mengerut karena teringat sesuatu.


Gadis itu? Sosok gadis itu tampak tidak asing. Postur tubuh, dan rambut panjangnya, cara dia berjalan dan berlari mengingat kan Rangga pada seseorang.


"May?"


...Bersambung....


Tinggalkan jejak dukungan ya....


Beri Kopi dong biar author semangat up nya


😁😍

__ADS_1


__ADS_2