
...Happy Reading say.......
Saat ini Rachel berada di markas Geng yang telah di bayar untuk membunuh May, tapi sayangnya gagal. Mereka sedang membuat rencana untuk membebaskan dua anak buah yang telah di tangkap Geng topeng hitam. Rachel tidak tenang, khawatir salah satu dari anak buah itu akan buka mulut dan mengatakan dia dalang dari kejahatan itu. Rachel tidak mau berurusan dengan hukum setelah tahu yang menangkap anak buah itu adalah Geng mafia kelas kakap. Dia yakin anak buah tersebut akan buka mulut Jika tidak mampu lagi menahan penyiksaan berat terus menerus. Karena anak buah tersebut tidak punya keluarga yang harus di lindungi, hidup sebatang kara di dunia.
Saat sedang serius berunding, ponsel Rachel bergetar, ada notifikasi pesan yang masuk. Rachel segera mengeceknya. Pesan yang di kirim oleh Alicia, kepala HRD kantor pusat perusahaan R² milik Rangga di Australia. Alicia merupakan orang kepercayaannya yang mengawasi segala tindak tanduk pergerakan Rangga di kantor pusat. Satu pesan tertulis dan satu pesan video yang di kirim Alicia. Kemarahan Rachel meluap setelah membaca dan melihat kedua pesan itu. Tanpa sadar dia memukul meja dengan kuat untuk melampiaskan kemarahannya, tidak perduli rasa sakit. Suara pukulan yang keras, Cukup membuat ketua mafia dan beberapa orang anggota terkejut.
"Ada apa bos?" sang ketua menatap wajahnya yang memerah, rahang tampak mengeras menahan kemarahan.
"Lanjutkan rencana kalian, dan Bereskan secepatnya. Jika kalian tidak bisa membebaskannya, bunuh saja dia dengan cara apa pun agar tidak bisa buka mulut selama lamanya." kata Rachel tanpa menjawab. Lalu bangkit berdiri. Sebelum pergi dia melemparkan dua gepok uang di atas meja.
Mereka menatap kepergiannya dengan bingung, tapi juga senang melihat tumpukan uang di atas meja.
Dalam perjalanan.
"Bajingan kau Rangga. Beraninya kau bermain api di belakang ku. Beraninya kau mengkhianati ku!" teriak Rachel histeris seraya memukul kemudi dengan kuat.
Pesan video berdurasi 20 detik yang di kirim kan Alicia saat Rangga melakukan rapat virtual yang di lakukan dari apartemen. Alicia merekamnya. Dan rapat itu terhenti karena datangnya seorang wanita. Berpakaian terbuka, rambut panjang, dengan tingkah yang manja saat berbicara pada Rangga. Wajahnya tidak terlihat jelas karena membelakangi layar laptop. Dan kini wanita itu tengah menjadi buah bibir di perusahaan pusat R². Entah siapanya Rangga? Apa wanita simpanannya?
Mereka mengira adalah Rachel, karena yang mereka tahu kekasih Rangga adalah Rachel. Tapi ternyata bukan Rachel. Telah menebar isu, Rangga punya wanita lain, wanita muda yang selalu di bawa ke apartemen dan hotel.
"Jadi semalam dia tidur bersama dengan seorang wanita di apartemen?" sementara kata kata satpam kepercayaannya, Rangga pulang sendiri. Tidak bersama wanita ataupun orang lain. Dan saat keluar tadi pagi, Rangga juga hanya seorang diri.
"Wanita muda berambut panjang! Siapa dia?"
Rachel tiba tiba teringat May. Apa wanita itu si OB rendah?
Rachel menepikan mobil. Dengan gerakan cepat dia mengambil ponsel dan menghubungi satpam kepercayaannya di apartemen Rangga.
"Cari tahu data pemilik apartemen atas nama May Wulandari! Aku tunggu 10 menit!" lalu telepon di matikan. Dia curiga, Jangan jangan May tinggal di apartemen itu. Rachel merutuk dirinya karena tidak memeriksa secara jelas data dan tempat tinggal gadis itu.
Sementara menunggu informasi dari satpam, Rachel menghubungi nomor Rangga, tapi tidak aktif. Sejak tadi nomor itu di hubungi belum juga aktif. Dia meminta nomor May pada Clara. Nomor OB itu juga tidak aktif. Apa keduanya saat ini lagi bersama? dan sengaja mematikan ponsel? dugaannya.
Rachel semakin geram. Dia memeriksa Instagram Rangga. 'Sarapan terlezat pagi ini adalah ciuman terindah'
Itu artinya, Rangga dan wanita itu berciuman, pikirnya. Darahnya terasa mendidih membayangkan Rangga berciuman. Selama bertahun tahun berhubungan, Rangga tidak pernah menciumnya atau bersikap romantis. Rachel mencengkeram kemudi dengan kuat, sampai kedua tangannya memerah, senyuman sinis tatapan kosong menyala.
Tidak sampai 10 menit, sebuah pesan masuk dari satpam, kembali membuatnya geram dan marah. Satpam mengatakan May tinggal di apartemen itu sudah sebulan. Dan hanya sebagai penyewa, bukan pemilik. Dan gadis itu sekarang tidak berada di apartemen, sedang keluar.
Rachel kembali menjerit jerit histeris penuh amarah karena telah di bodohi Rangga dan May. Air matanya tanpa sadar jatuh meleleh. Dia segera menyapunya, kemudian tersenyum sinis.
"Bajingan kalian. Aku akan balas kalian! Lihat saja nanti!" ucapnya penuh dendam. Dia yakin, wanita itu adalah May Wulandari.
.
.
Setelah 7 jam berpetualang dari satu tempat ke tempat lain mencicipi berbagai macam kuliner Indonesia, Rangga membawa May menginap di salah satu hotel terdekat, yang merupakan milik Sean Gefarin. Dia melihat May yang sangat capek dan tampak mengantuk. Perjalanan mereka bukan hanya mencicipi makanan, tapi juga belanja beberapa barang yang di sukai May dari satu toko ke toko lain. Keduanya juga masih sempat menikmati beberapa tempat wisata di kota itu.
Setelah melepas mantel, topi, dan syal, May membuang tubuhnya di atas ranjang yang sangat empuk. Sungguh dia sangat lelah dan mengantuk."Om....aku capek banget!" keluhnya.
Rangga yang sedang mengatur barang belanjaan mereka di sofa, tersenyum melihatnya.
"Mandi dulu, biar badannya segar!"
"Aku malas mandi Om,"
"Apa kau tidak gerah seharian tidak mandi? Nanti tidur mu tidak akan nyenyak! Sana mandi dulu. Habis itu tidur!"
Rangga mendekat May, lalu melepas satu persatu sepatu dan kaus kaki gadis itu.
"Pergilah ke kamar mandi! Air nya sudah siap!"
"Kakiku pegal Om!" kata May lemah tak bersemangat. Berjalan berjam jam membuat kakinya sakit dan pegal. Beberapa kali Rangga menggendongnya di belakang karena kecapean berjalan.
Setelah melepas sepatu May, Rangga segera duduk di bibir ranjang. Dia membawa kedua kaki May, di letakkan di atas pahanya. Kemudian di pijat pijat dengan pelan.
May tersenyum."Terimakasih Om!" ternyata Rangga peka juga.
Rangga hanya menatapnya, sambil terus melakukan kegiatan pijatnya.
Pijatan itu begitu nikmat, dan enak. Mata May terpejam menikmatinya. Sesekali dia merintih saat jemari Rangga mengenai titik urat yang sakit. Satu tangannya mengelus perutnya yang besar. Dia sangat kenyang karena mencicipi begitu banyak makanan. Perutnya sampai mengembang seperti orang hamil.
"Om harus tanggung jawab." katanya tiba-tiba.
Rangga yang fokus pada pijatan kakinya, menoleh melihat wajahnya yang masih terpejam."Tanggung jawab?" bingung.
__ADS_1
May mengangguk.
"Tanggung jawab untuk apa?" tanya Rangga tidak mengerti.
"Gara gara Om nih....aku hamil. Lihat perut ku besar!" kata May seraya mengelus ngelus perutnya yang mengembang.
Rangga terkejut, mata bulat mendengar perkataannya. Dia segera menurunkan pandangannya ke perut May."Hamil?" Di lihatnya perut putih mulus bersih itu tampak membuncit, seperti hamil. Setahunya perut May rata dan ramping. Kenapa bisa besar begini?
Rangga bingung. Bagaimana bisa hamil, sementara dia tidak pernah menyentuh gadis ini. Hanya melakukan ciuman. Mana bisa ciumannya bisa membuat May hamil.
"Hamil gimana? asal asal aja kalau ngomong!"
"Om gak lihat perut aku? Hanya Om yang melakukannya. Tadinya gak gini." kata May. Dia tersenyum geli dalam hati melihat ekspresi wajah Rangga. Suka sekali menjahili pria dewasa ini.
"Gimana bisa hamil? Selama kita dekat Om gak pernah nyentuh kamu."
"Gak pernah nyentuh? Terus apa yang Om lakukan tadi pagi?" May terus menekannya.
Mata Rangga mendelik, kening mengerut mengingat apa yang terjadi tadi pagi. Seingatnya dia hanya mencium May.
"Om Hanya cium kamu, gak lebih. Masa ciuman bisa membuat orang hamil?" jangankan ciuman, meski berhubungan badan belum tentu langsung hamil.
"Ada ada aja kamu!"
May menahan tawa."Terus ini apa? buktinya perut aku besar gini. Hanya Om yang dekat dan menyentuh aku pertama kali! Gak ada yang lain. Pokoknya Om harus tanggung jawab!" tekan May terus mengerjai.
"Jangan macam-macam May!" Rangga mulai kesal.
"Jadi Om mau lari dari tanggung jawab? Udah nyium aku, sentuh sentuh aku!" kata May dengan cemberut. Wajah di buat sedih.
Rangga terhenyak, kembali Bingung dan tidak mengerti."May, Kamu sendiri tahu, wanita bisa hamil jika melakukan hubungan badan dengan pasangannya. Mana bisa kamu hamil hanya karena Om mencium mu?" berusaha menjelaskan.
Kalaupun May hamil anaknya, dia pasti pria yang paling bahagia di dunia ini, karena dia mencintai gadis ini. Tanpa di minta pun, dia akan tanggung jawab dan akan segera menikahi gadis ini.
"Bisa aja hamil. Karena Om nyiumnya sangat intens, begitu hot menggelora! Sampai gak sadar diri!"
Rangga tersedak sendiri. Salah tingkah sambil menyapu batang lehernya, menghindari tatapan May.
Tapi kemudian dia melihat lagi wajah dan perut May.
"May, jangan bercanda deh! Serius kamu hamil?" tanyanya.
Rangga menatap perut itu. Tidak mungkin dia yang membuat May hamil. Karena dia tidak pernah menyentuh bagian pribadi May dan berhubungan intim. Mungkin saja May telah melakukannya dengan pria lain? pikirnya.
Rangga tiba tiba teringat pria yang di cari dan dikejar May. Apa mungkin May hamil oleh pria itu? Karena alasan kehamilan itu membuat May mengejar pria itu sampai ke sini untuk meminta pertanggungjawaban?
Dan May mulai putus asa karena tidak menemukan pria itu sementara perutnya mulai membesar. Terus May meminta tanggung jawab darinya?
Ingin sekali Rangga bertanya hal itu, Tapi Rangga tidak sampai hati menanyakannya.
Perlahan Rangga meraih kedua tangan May di genggam."Om hanya bingung saja karena gak melakukan itu sama kamu. Kalau kamu memang hamil anak Om, Om pasti akan tanggung jawab dan nikahi kamu!" katanya lembut.
"Om akan nikahi aku?" tanya May.
Tanpa sadar Rangga mengangguk."Tentu saja, kamu hamil anak Om masa gak di nikahi?"
"Benarkah?" May pura pura melonjak senang.
"Tapi apa iya, anak itu anak Om? Sementara kita gak pernah melakukan itu? Tolong kamu berpikir dulu."
"Ini benar Om, perut ku besar karena Om.....!"
"May......!" Rangga mulai gusar. Tapi dia berusaha menahan diri untuk menjaga hati May yang mungkin saja tertekan karena kehamilannya.
Rangga tersenyum, menatap lembut. Dia ingin mengetahui usia kehamilan May. Dengan begitu, dia akan tahu May hamil anak siapa dan bukan anaknya.
"Katakan, sudah berapa bulan usia kehamilan mu?"
"Baru hari ini! Perutku besar setelah kita berburu dan menikmati kuliner Indonesia." jawab May menahan senyum melihat keseriusan di wajah Rangga.
Hmm?? kedua alis Rangga terpaut. Kedua matanya menangkap wajah May yang sedang berusaha menahan senyum. Rangga menangkap sesuatu yang aneh. Sadar gadis ini mengerjainya.
"Kau....?" Rangga menatap tajam dengan emosi.
"Hahahaha!" tawa May pecah seketika.
__ADS_1
"Serius amat sih nanggapinnya!" kata May kembali masih tertawa.
"Kamu ini....!" Rangga emosi. Dengan gerakan cepat dia menggelitik perut May. May kaget tak sempat menghindar. Dia kegelian seperti cacing kena panas meliuk liuk menahan geli. Rangga tidak memberi kesempatan padanya menghindar.
"Cukup Om, geli....! Aku minta maaf!"
Rangga malah naik ke atas tubuhnya dan semakin gencar menyerang. Tapi gerakannya tiba tiba berhenti melihat May yang mulai kesulitan bernapas dan batuk batuk kecil. Di tambah lagi gadis itu banyak makan dan sedang kekenyangan.
Rangga segera menarik kedua tangannya hingga terduduk. Khawatir akan muntah. Dia merapikan rambut May yang acak-acakan.
"Maaf Om!" kata May setelah tenang.
"Tapi benar loh.... Om yang buat perut aku besar kayak gini. Om ngajak aku ke tempat kuliner, menikmati banyak makanan hingga membuat aku kekenyangan dan perut ku besar."
Rangga diam, menatap masam. Jujur dia kesal dengan kebohongan ini. Tapi hatinya lebih takut dan tidak tenang jika seandainya May benar benar hamil, hamil oleh Pria itu. Tapi dia merasa lega, setelah tahu semuanya hanya candaan untuk mengerjainya.
May segera naik ke pangkuan Rangga melihat pria itu hanya diam. Apalagi wajah Rangga jutek. Dia menganggap Rangga masih marah. Rangga kaget dengan apa yang dia lakukan.
"Jangan marah dong Om....maaf kan aku!" katanya dengan ekspresi bersalah."Jangan marah ya?!" May memegang wajah Rangga, terus mengecup kening pria itu.
"Om gak marah kan?"
Rangga menatapnya dengan hati dan pikiran yang tak karuan. Tanpa menjawab, dia segera memeluk gadis itu. Semua yang di rasakan saat ini campur aduk. Kesal, cemas, takut dan senang.
May membalas pelukannya sambil tersenyum senang."Om gak marah kan?"
"Tidak," kata Rangga. Mana mungkin dia marah? Dia tidak akan bisa marah serius pada gadis ini.
"Tapi kenapa wajahnya jutek gitu?"
"Om hanya kesal..... karena takut kamu benar-benar hamil!"
May melepas pelukannya, terus menatap wajah Rangga.
"Emangnya aku perempuan apaan? Aku kan sudah bilang, aku perempuan baik baik. Aku gak pernah dekat sama pria mana pun. Hanya Om yang pertama nyium aku, meluk meluk kayak gini! Mana bisa aku hamil hanya karena ciuman Om?"
"Dan kamu berhasil membodohi Om, membohongi Om dan mengerjai Om!" sambung Rangga menatap tajam.
Tawa May kembali pecah." Maaf...!" ucapnya kembali memeluk Rangga."Aku menyayangi Om!" mengecup bahu Rangga.
Jantung Rangga di buat berperang tidak tenang. Bukan hanya Rangga, tapi May juga tidak tenang dengan kedekatan ini. Terasa lain di rasakan." Om...." panggilnya pelan.
Hmm?
"Kok jantungku berdegup kencang begini ya kalau dekat sama Om? Aku juga nyaman dekat Om seperti ini!" lanjut May."Itu apa artinya ya? Kalau kata Sofi temanku, jika jantung berdegup kencang dan berdebar saat dekat dengan seorang pria, artinya kita suka dan cinta sama orang itu! Apa benar ya Om? Aku gak tahu, karena gak pernah merasakan ini sebelumnya!"
Deg....hati Rangga tersentak.
Gadis ini terlalu jujur dan terbuka dengan hati dan perasaan.
"Apa gadis ini punya rasa yang sama denganku? Apa dia juga mencintai ku sama seperti aku mencintainya?" batinnya.
Tapi Rangga ragu, tidak mungkin May cinta pada pria tua seperti dirinya. Yang usia sudah mirip seperti ayahnya. Rangga berpikir mungkin karena ini pertama kalinya bagi May dekat dengan pria, di sayang dan merasa nyaman jadi membuat jantungnya bergetar.
Tapi sisi hatinya yang lain berkata, sama seperti May yang merasakan jantungnya berdebar saat dekat dengannya, dia juga merasakan hal yang sama saat pertama kali bertemu May. Hatinya bergetar, jantungnya berdebar, hingga membuat hidupnya tidak tenang.
Dan kini yang menjadi pikirannya sekarang adalah, kalau dia pria yang membuat hati May bergetar pertama kali, Terus pria yang di cari dan di kejar May itu siapa?
"Om, kok diam?" suara May membuyarkan lamunannya. May menatap matanya.
"Umur kita terpaut jauh. Gak mungkin kamu cinta sama Om. Bukannya kamu punya pria idaman, yang kamu kagumi?" kata Rangga membalas tatapannya.
Seketika May teringat Rad. Dia memang mengagumi Rad, Tapi dia tidak punya rasa cinta pada pria Australia itu. Rasa yang tengah di rasakan saat ini, yang di yakininya adalah rasa cinta hanya pada Rangga, pria ini. Dia merasa telah jatuh cinta pada pria dewasa ini.
May hendak bicara, mengutarakan perasannya. Tapi batal, begitu sekelebat wajah Rachel melintas di matanya. Pria ini sudah punya kekasih, sudah milik orang lain, keduanya sudah menjalin hubungan sangat lama. Tidak mungkin dia mengatakan cintanya pada pria ini. Dia tidak mau menjadi orang ketiga, menjadi pengganggu hubungan Rangga dengan Rachel.
Perlahan May turun dari pangkuan Rangga.
"Aku mau mandi." katanya pelan. Sembari berjalan menuju kamar mandi.
Rangga menatapnya dengan bingung, melihat sikap aneh May. Padahal Rangga menunggu jawaban tentang perasaan May pada pria itu. Tapi May malah bertingkah aneh dan pergi mandi. Dan sikapnya itu membuat Rangga beranggapan, May mencintai pria itu, dan bukan dirinya. Debaran jantung May itu hanya perasaan sesaat May.
Sementara di kamar mandi, mata May berkaca. Hatinya sedih. Entahlah apa yang di rasakan oleh hatinya... hingga beberapa detik berlalu beberapa butiran bening jatuh di kedua pipinya.
Bersambung.
__ADS_1
Maaf baru nongol 😁🙏
Tak terasa sudah 2412 kata, cukup segini dulu. Kasih kopi buat author ya ☺️