Rangga dan Rara (Mencintai Anak Mantan)

Rangga dan Rara (Mencintai Anak Mantan)
85. Mama merindukanmu


__ADS_3

...Happy Reading...


Khanza.....


Setelah keinginannya untuk bertemu tidak di penuhi Rangga, dia jadi dua hati untuk meneruskan perjalanan ke pusat perbelanjaan. Tujuannya mengajak Rangga ke tempat itu untuk mengenang masa-masa dulu yang selalu mereka lakukan bersama. Belanja sepuasnya, nonton, makan, menikmati es krim dan aneka cemilan, bermain bermacam wahana permainan. Juga melakukan hal seru dan menyenangkan lainnya. Dia ingin melakukan itu sebelum balik ke Indonesia. Semalam Cio membicarakan kepulangan mereka ke tanah air. Dia ingin menghabiskan waktu bersama lebih lama dengan sahabatnya itu sebelum balik ke tanah air.


"Jadi bagaimana Nyonya? Apa kita akan ke tujuan awal atau balik ke rumah?" tanya sopir pribadi.


"Lanjutkan perjalanan!" kata Khanza. Dia akan ke Mall. Siapa tahu saja bertemu dengan Rara di pusat perbelanjaan itu. Karena papanya berkata, Rara berada di Australia, tepatnya di kota ini, Sidney.


Khanza segera turun begitu mobil masuk area parkiran.


"Bapak kembali saja. Saya akan pulang naik taksi." katanya pada pak sopir yang seumuran suaminya.


"Saya akan menunggu Nyonya." kata sopir. Karena dia telah di tugaskan oleh Cio untuk mengantar dan menjaga Khanza. Wisnu juga sudah mewanti-wanti mereka untuk menjaga majikan mereka dengan baik selama bepergian.


Khanza tidak membantah, dia memaklumi perkataan sopir. Menjalankan perintah.


Khanza segera menuju pintu masuk. Mengedarkan pandangannya ke segala arah untuk melihat keberadaan putrinya. Begitu banyaknya pengunjung, dia tidak dapat menemukan keberadaan sosok Rara.


"Sayang, kamu ada di mana nak? Mama sangat merindukanmu. Mama ingin sekali memeluk dan mencium mu." batinnya lirih, sedih. Sudah beberapa kali dia menghubungi nomor Rara, tapi tidak aktif. Sudah dua dua bulan nomor putrinya itu tidak bisa di hubungi. Dia yakin Rara menonaktifkan nomornya dan mengganti dengan nomor yang baru selama di luar negeri.


"Seharusnya kau percaya sama mama, terbuka sama mama. Apa pun yang membuat mu bahagia, mama akan dukung. Mama mohon nak, hubungi mama sekali saja. Mama ingin mendengar suara mu." menatap wajah Rara pada galeri ponselnya dengan mata berkaca-kaca.


Khanza melanjutkan langkah menuju lantai selanjutnya dan___lantai selanjutnya sembari melihat ke segala arah, ke sekelilingnya. Tapi tidak menemukan apa yang dia cari. Khanza melenguh sedih, kedua matanya kembali basah. Lelah berkeliling Mall membuat kakinya pegal dan sakit. Dia mengistirahatkan tubuh dengan duduk di kursi khusus untuk tempat duduk pengunjung. Khanza mengambil tempat duduk yang berada tepat di depan air mancur. Tempat itu di gunakan pengunjung untuk bersantai, mengobrol, ada juga yang bermain gadget sembari menunggu teman, pasangan atau kerabat yang berbelanja. Maklum Mall ini lagi mengadakan promo besar besaran, jadi cukup ramai.


Suara gemericik air mancur membuat suasana menjadi sejuk dan nyaman.


Khanza memijat kakinya yang pegal, terus di tepuk tepuk. Beberapa kali dia membasahi bibirnya. Dia merasa haus. Tapi kakinya terlalu lelah untuk melangkah membeli minuman.


Tiba tiba sepotong es krim muncul di depannya. Khanza kaget. Dia melihat minuman beku rasa vanilla itu. Es krim vanilla kesukaannya. Khanza mengangkat wajahnya untuk melihat siapa orang yang meletakkan es krim di depannya.


Dia terkejut. Wajah sedihnya berubah cerah. "Rangga?"


Rangga tersenyum menatapnya dengan es krim di tangan. Dia sengaja membeli minuman beku itu untuk Khanza kerena minuman dingin kesukaan Khanza sejak dulu.


Khanza tersenyum. Dia sangat senang melihat keberadaan pria ini.


"Kamu di sini?"


"Kamu melihatnya kan?"


"Bukannya kamu sedang perjalanan menuju perusahaan X? Katanya tadi ada agenda pertemuan...?"


"Benar. Tapi membayangkan wajah kesal dan cemberut mu itu membuat ku berbalik arah."


kata Rangga menatap mata teduh indah wanita ini.


Tawa Khanza pecah. Rangga senang melihat wajah ini ceria lagi, setelah tadi di perhatikan dari jauh tampak muram sedih.


"Ini untuk mu!" Meletakkan es krim di tangan Khanza.


"Terimakasih, kamu masih ingat dengan es krim kesukaan ku." rasa vanila memang kesukaannya.


"Tentu saja." jawab Rangga. Dia segera duduk di kaki Khanza.

__ADS_1


"Mau apa?" Khanza kaget.


"Mau apa lagi? Pijat kaki mu." kata Rangga seraya memegang kaki Khanza.


Senyum Khanza melebar. Dia ingat, dulu Rangga selalu memijat kakinya saat keduanya kelelahan berjalan dan setelah berolahraga. Bahkan lelaki ini menggendongnya di atas punggung ketika tak mampu lagi untuk berjalan.


Rangga melepas sepatu Khanza. Menyisakan kaus kaki. Dia memijat tumit, jari jemari, telapak dan punggung kaki secara bergantian, kanan dan kiri. Terus beralih ke pergelangan dan betis.


Khanza memperhatikan apa yang dia lakukan sembari menikmati es krimnya. Akhirnya tenggorokannya basah dan segar.


"Terimakasih, es krimnya enak." ucapnya.


Rangga mendongak melihat kepadanya yang sementara menjilati ujung eskrim.


Sebagian lelehan minuman itu mengotori area bibir Khanza. Rangga tersenyum. Wanita ini tidak pernah berubah. Masih sama seperti dulu. Makan tak teratur hingga belepotan di bibir. Rangga mengangkat tangan kanannya dan membersihkan lelehan minuman itu.


Khanza kaget tapi kemudian tertawa kecil seraya ikut menyapu bibirnya dengan lidah.


Apa yang terjadi pada mereka dan apa yang mereka lakukan menarik perhatian beberapa pengunjung. Karena di nilai begitu romantis.


Mereka mengira keduanya adalah pasangan suami istri. Sikap romantis itu mengundang kemarahan dan kebencian seseorang yang memperhatikan mereka sejak tadi.


"Sudah cukup Rangga!" kata Khanza merasakan kakinya sudah enakan tak pegal lagi. Rangga segera memakaikan sepatu Khanza.


"Udah enakkan?" tanya Rangga.


Khanza mengangguk."Terimakasih. Pijatan mu tidak pernah berubah. Bisa menghilangkan pegal dan nyeri di kaki ku."


Rangga menanggapi dengan senyuman.


"Sebaiknya kamu kembali bekerja." katanya kembali melihat Rangga mengikat tali sepatunya. Dia merasa tidak enak karena menggangu pekerjaan pria ini.


Rangga berdiri. Dia memegang tangan Khanza menariknya untuk berdiri."Ayo kita main bola bowling." ajaknya. Dulu mereka selalu bermain permainan itu.


"Tapi kamu harus kerja. Aku tidak ingin mengambil Waktu mu lebih banyak lagi. Udah cukup kok dengan kamu datang ke sini membawa eskrim dan memijat kakiku. Nanti kita ke sini lagi untuk bermain." kata Khanza menatap wajah Rangga dengan serius.


"Aku masih punya waktu sejam untuk menemanimu bermain." kata Rangga seraya menarik tangan Khanza.


Khanza senang mendengarnya"Benarkah?"


Rangga mengangguk. Senyum Khanza merekah."Ayo....!" segera menarik tangan Rangga.


Keduanya menuju fun world yang berada di lantai Lima dengan menggunakan lift.


"Kali ini aku pasti akan mengalahkan mu." kata Rangga. Teringat masa dulu di mana Khanza selalu mengalahkannya. Khanza sangat lihai menggelindingkan bola dan menjatuhkan semua pin yang tersusun.


"Aku yakin kamu akan kalah lagi." cibir Khanza.


"Aku sudah berlatih keras beberapa tahun ini. Lihat saja nanti." Rangga tak mau kalah. Meski dia ragu dapat mengalahkan wanita ini atau malah akan bernasib sama seperti dulu.


"Siapa takut. Kita taruhan. Yang kalah akan memenuhi keinginan si pemenang." kata Khanza.


Rangga tampak berpikir. Kemudian dia menjawab OKE.


Mereka tiba di tempat area permainan bowling yang cukup luas. Verdy sudah berada di sana dan telah menyiapkan apa yang di perlukan dalam permainan, seperti kartu dan sepatu. Dia menyewa area bermain privat sesuai perintah tuannya. Keduanya mulai bermain.

__ADS_1


Khanza menjerit histeria tak kala strike berulang, bolanya merubuhkan semua pin yang berjejer teratur membentuk segi tiga.


Sementara Rangga belum strike di ronde ke Khanza mengejeknya. Bolanya selalu menggelinding ke parit/ gang.


"Sudah ku bilang kau pasti kalah dan tidak akan pernah menang melawan ku." katanya bangga mengejek kekalahan Rangga.


Sudah masuk ronde ke 10. Rangga menyerah. Khanza mengajaknya bermain basket. Lagi lagi Rangga kalah. Dan Khanza dengan senang meledek menertawainya. Keduanya duduk beristirahat.


Khanza me lap kering di wajah Rangga.


"Ingat ya kamu harus memenuhi dua permintaan ku karena kau kalah di dua permainan." katanya.


"Baiklah. Tapi permintaannya jangan aneh aneh." kata Rangga.


Khanza tertawa kecil.


"Katakan apa yang kau inginkan?" tanya Rangga. Dia membuka tutup botol air mineral, terus di berikan pada Khanza.


Khanza menerima dan segera meneguk minuman itu. Rangga pun melakukan hal yang sama.


"Nanti saja. Sebaiknya kau segera kembali. Kau harus bekerja. Ini sudah sejam berlalu." kata Khanza. Dia bangkit seraya merapikan rambut Rangga.


"Kapan kau menikah? Aku ingin hadir di pernikahan mu sebelum balik ke tanah air." katanya menatap wajah Tampan di depannya.


Rangga terdiam mendengar pertanyaan itu.


"Aku akan mengabarimu." katanya kemudian. Padahal undangan telah di sebar. Mungkin Khanza belum mengetahuinya?


"Benar ya? Aku tunggu undangannya." kata Khanza.


Rangga mengangguk lemah. Dia bangkit berdiri."Aku akan mengantarmu pulang." katanya.


"Kamu sedang terburu-buru. Sebaiknya kau segera ke perusahaan X. Kau tidak perlu mengkhawatirkan diriku. Aku ke sini di antar sopir mama. Beliau sedang menunggu ku di lobi." kata Khanza.


"Kalau begitu mari kita turun. Aku akan mengantarmu ke mobil." kata Rangga.


"Gak usah. Aku masih ingin di sini. Aku mau melihat lihat."


"Kamu yakin?" Rangga merasa khawatir karena Khanza hanya berjalan sendiri.


"Iya," jawab Khanza di selingi anggukan. Dia masih ingin mencari Rara."Udah.... pergilah. Aku gak apa apa kok. Aku akan baik baik saja." Khanza mendorongnya untuk pergi.


"Ya sudah, aku pergi."


Khanza mengangguk." Hati hati di jalan. Ingat langsung ke tempat tujuan. Jangan kelayapan lagi." kata Khanza mengingat kan.


"Siap ibu....." jawab Rangga spontan.


Keduanya tertawa. Kenangan masa dulu teringat kembali. Saat dia mau pamit pulang dan Khanza tak pernah bosan mengatakan hal seperti itu.


Rangga meraih wanita ini ke dalam pelukannya. Meski sudah tak ada rasa cinta lagi, tapi rasa sayang dan kepeduliannya pada wanita ini tidak akan hilang. Wanita ini tetap akan selalu ada dan tersimpan indah di sudut hatinya yang lain.


Kata kata Khanza barusan mengingatkan nya pada May. May juga pernah berkata seperti itu padanya."May, di mana kamu sekarang?" batinnya. Dia teringat pada May yang menghindarinya tadi. Dan itu membuatnya sedih, tak bersemangat.


Bersambung.

__ADS_1


__ADS_2