
...Happy reading....
Setelah Cindy pergi, Rangga masuk ke kamar menemui May. Tapi dia tidak mendapati gadis itu di kamarnya. Di cek didalam kamar mandi tak ada, ke balkon juga tak ada
"May?? May??" panggilnya berulang. Tapi tak ada sahutan. Rangga kelimpungan. Di mana gadis itu? Tadi di tinggalkan berada di sini.
Dia mencoba menghubungi ponsel May tapi tapi tidak aktif.
"Kemana dia?" Rangga mulai panik.
Tak sengaja matanya melihat secarik kertas yang tergeletak di antara piring dan gelas kotor bekas makanan May.
"Om, Aku udah balik ke kamarku. Terimakasih sarapan paginya! Masakan Om enak banget. Kapan kapan masakin lagi ya?" tulisan tangan May.
Rangga menarik nafas lega. Gadis itu selalu
saja membuatnya cemas.
Rangga segera membereskan piring dan gelas kotor, lalu dia bawanya ke dapur dan di cuci.
Setelah membersihkan diri, dia kembali memakai jas dan keluar.
Teleponnya berdering. Dari Rachel. Sejak semalam wanita itu menghubunginya tapi di abaikan. Pesannya juga tidak di balas.
Rangga menatap layar ponselnya. Setelah panggilan bunyi yang ke 5 kali, baru di angkat.
📞"Selamat pagi sayang." sapa Rachel lembut.
📞"Ada Apa?" jawab Rangga datar.
📞"Apa kau masih marah padaku?" tanya Rachel merasakan kalau Rangga tidak menyukai panggilannya.
📞"Katakan saja ada apa kau menghubungi ku!"
📞"Kau di mana sekarang?" tanya Rachel ketus.
📞"Apartemen!"
📞"Aku hanya ingin mengingatkan pertemuan mu dengan Wakil perusahaan group A pukul sebelas siang!"
📞"Clara sudah ingatkan! Aku sedang bersiap ke kantor!"
📞"Baiklah sayang. Aku juga ingin bicara dengan mu! Aku menunggu mu!"
Rangga segera mematikan sambungan telepon. Rangga menarik nafas dalam-dalam dan membuangnya kasar."Apa dia hendak membicarakan masalah pernikahan?" batinnya. Hatinya tidak tenang.
Rangga melanjutkan langkah menuju lift, setelah masuk, dia menekan lantai unit kamar May. Sebelum ke kantor, dia mau menemui gadis itu dulu.
Rangga mengetuk pintu di selingi menekan bel. Hal itu di lakukan beberapa kali.
Pintu di buka dari dalam. Lalu muncul serawut wajah cantik yang kembali membuat hatinya bergetar. Wajah cantik alami tanpa polesan, tapi membuat jantungnya berdebar.
"Om?" panggil May seraya menatap wajah Rangga.
"Kenapa pergi tidak menunggu aku dulu?" tanya Rangga seraya masuk tanpa permisi, khawatir ada orang Rachel yang memata matainya. Dia menarik tangan May lalu segera menutup pintu.
"Aku khawatir mama Om akan masuk ke kamar, jadi aku segera keluar setelah makan. Aku lewat pintu samping!" kata May."Apa beliau sudah pulang?" tanya May kembali.
Rangga mengangguk lemah. Dia jadi pusing memikirkan perkataan mamanya tentang keinginan Rachel untuk segera menikah.
"Kok gak semangat gitu? Apa mamanya marah sama Om?" May melihat wajahnya yang tampak kusut, gak fresh seperti tadi.
Rangga menatapnya. Menatap wajah manis ini terus, seakan tak akan bisa di lihatnya lagi.
"Kok diam?" tanya May melihat Rangga hanya menatapnya. Dia menekan nekan pelan lengan Rangga."Apa yang terjadi?"
"Nggak ada," kata Rangga.
"Terus kenapa lemes gitu? Mama Om pasti marah kan?" tanyanya kemudian.
Rangga menggeleng."Tidak," jawabnya lagi.
"Lalu kenapa wajahnya datar dan dingin gitu?" May mendekat dan memegang wajah Rangga."Senyum dong, nanti gantengnya hilang!" kata May memasang senyum manis untuk menghibur pria ini.
Rangga menatap dalam-dalam senyuman itu. Hatinya terasa tenang seketika melihat senyuman manis itu.
May menarik tangannya dari wajah Rangga karena pria itu hanya diam tak ada ekspresi.
"Salah Om sendiri bawah aku tidur di kamar Om!" kata May menyalahkannya.
Rangga menatapnya, mengernyit.
"Kamu nyalahin Aku? Bukankah kamu sendiri yang meminta Aku menemani mu tidur? Semalam kamu gak mau di tinggalin! Kamu maksa aku tidur bersamamu!"
"I-ya, tapi tidur di sini, bukan di kamar Om!" May gugup. Dia menghindari tatapan Rangga. Dia pura pura merapikan rambutnya. Rasa malu mengingat dia meminta Rangga menemaninya tidur.
Rangga tersenyum melihatnya tingkahnya. Dia mendekatkan wajahnya.
"Kamu bahkan meluk aku kuat biar gak bisa pergi ke mana-mana!" bisiknya tersenyum.
Mata May membulat,"I-itu....aku gak sengaja, aku sedang bermimpi. Itu di luar kesadaran ku!" May berdalih. Semakin gugup dan salah tingkah.
Rangga kembali tersenyum."Oh lagi bermimpi ya? Kirain meluknya sadar....!"
May mendesis kesal."Ih Om....!" teriak May kesal.
Rangga cekikikan.
__ADS_1
May tambah kesal dengan bibirnya yang monyong. Dia menatap tajam Rangga.
"Kenapa juga Om gak nolak?" katanya balik bertanya.
"Aku sudah berusaha menolak dan menghindari! Tapi kamu maksa dengan cara memeluk aku kuat, memelas memohon jangan di tinggalin dengan alasan takut!" Kata Rangga sembari menahan tawa dalam hati.
"Udah deh Om, jangan menggoda terus. Aku khawatir nih dengan mama Om!" kata May semakin kesal.
Rangga tersenyum, luluh hatinya tak ingin menggoda lagi."Kamu jangan khawatir, mama gak marah kok!" katanya melihat kekesalan di wajah gadis itu.
"Tapi saat mama Om masuk, aku sempat melihat beliau sangat terkejut melihat kita. Apalagi diriku berada dalam gendongan Om hanya memakai handuk. Mama Om pasti berpikir buruk pada kita dengan keadaan ku tak berpakaian. Aku bisa melihat dari tatapan matanya." kata May, khawatir jika Cindy menganggapnya perempuan tidak baik yang menggoda Rangga. Atau menganggap dia gadis simpanan Rangga yang selalu di bawah ke apartemen.
Wajah Rangga mengernyit."Berpikir apa? Mama gak punya pikiran buruk sama sekali pada kita. Menurut ku, hanya kamu saja yang berpikir begitu. Memangnya kamu berpikir kita melakukan apa?" tersenyum, ingin kembali menggoda. Dia mengetuk kepala May.
May terkejut, mata bulat. Merutuk dirinya malah salah bicara hingga membuat Rangga kembali menggodanya."Gak, bukan apa apa!" katanya kelabakan. Dia segera menghindari tatapan Rangga. Lalu berbalik melangkah menuju ke meja sofa, berpura pura membersihkan tempat tidur.
Rangga tersenyum, mengikuti dan segera meraih pinggangnya. Menghadap kan tubuh May kepadanya.
"Jawab May, jangan menghindar! Apa yang kamu pikirkan?" terus usil menggoda. Dengan senyum yang semakin mengembang melihat wajah May yang memerah.
"Ihhh om, gak ada! Berhentilah menggoda ku." May cemberut, semakin kesal. Dia sulit melepaskan diri karena Rangga mengurung tubuhnya dengan pelukan erat di pinggang.
"Om Hanya ingin tahu isi kepala mu!" terus menjahili. Mengetuk jidat May.
May menatapnya dengan kesal.
"Gak perlu aku katakan lagi. Om pasti sudah tahu! Om bukan anak kecil yang polos, gak tahu apa yang ku maksud!"
"Tapi benar Om gak tahu!" kata Rangga serius terus mengerjainya.
May mendengus kesal."Rese amat sih!" teriaknya."Aku lagi khawatir malah di godain." sambungnya sangat kesal.
Rangga tertawa. Tapi tawa itu perlahan mereda.
"Maaf, Om gak bermaksud begitu! Habis kamu sendiri yang mikirnya terlalu jauh dan berlebihan!" katanya melihat wajah May yang marah bercampur cemberut.
"Udah jangan marah begitu, nanti manisnya hilang!" Rangga mencubit kedua pipinya.
"Om Nyebelin banget. Sama seperti buk Rachel!" kata May sedih.
Rangga terhenyak mendengarnya. Dia jadi menyesal menggoda May, karena mengingat kan May pada kejadian semalam.
"Om minta maaf atas apa yang di lakukan Rachel kepadamu! Semua karena Om." kata Rangga bersalah dan menyesal.
Dia memegang wajah May."Seharusnya Om bisa melindungi mu dari dia."
"Tapi nyatanya gak bisa, karena Om lebih menjaga perasaannya sebagai kekasih Om!" kata May, suaranya terdengar serak.
Rangga terenyuh dan semakin merasa bersalah."Tidak May, bukan seperti itu. Kamu jangan berpikir begitu! Om sama sekali tak ingin kamu mendapatkan kekerasan dari Rachel. Kejadiannya begitu tiba-tiba. Om tidak sempat mencegahnya." katanya segera.
"Emang benar kok begitu! Karena Aku hanya teman dan dia kekasih Om! Om tidak mungkin membelaku!" kata May menatapnya.
"Udah, gak usah memberi alasan. Aku gak marah pada Om dan juga pada ibu Rachel. Aku mengerti kenapa ibu Rachel sampai bersikap begitu padaku. Dia sakit hati, cemburu dan tidak terima karena melihat Om memeluk dan mencium ku! Seharusnya kita tidak dekat dekat semalam! Apa yang terjadi pada kita adalah salah." kata May memotong ucapan Rangga. Dia menatap Rangga dengan samar karena matanya berkaca-kaca. Sebenarnya dia sangat marah mendapat kekerasan dari Rachel. Tapi setelah di pikir dengan akal sehatnya, dia mengerti kenapa wanita itu melakukannya....Cemburu dan sakit hati.
"May, maaf...." Rangga tidak tahu harus ngomong apa lagi untuk meyakinkan gadis ini. Tapi jujur, dia sangat menyesal karena tidak bisa mencegah Rachel melakukan kekerasan pada May. Sungguh hatinya sakit melihat May di perlakukan buruk seperti itu oleh Rachel.
"Om gak perlu minta maaf. Om gak salah, begitu juga dengan ibu Rachel! Yang salah adalah aku, Karena hadir di dalam kehidupan kalian!" kata May kembali menatap Rangga sendu.
"Sekarang singkirkan tangan Om!" kata May kasar, melepas tangan Rangga pada wajahnya.
Rangga malah kembali menangkup wajahnya. Dia jadi tidak tenang ."Apa kamu marah sama Om?"
"Jangan pegang pegang, jangan dekat-dekat! Nanti Om cium aku lagi! Aku udah kehilangan ciuman pertama ku karena Om, Dan semalam juga Om menciumku!" teriaknya kesal, berusaha mendorong tubuh Rangga. Khawatir jika dekat dan saling menatap akan membuat keduanya khilaf. Karena jujur, tubuhnya sempat menerima dan terbuai oleh ciuman itu.
Rangga terhenyak, berarti dia yang pertama mencium bibir gadis ini."Ciuman pertama?"
Dia tersenyum dalam hati. Jadi aku yang pertama. Senang bangat rasanya.
Sementara May."Huh.....enak saja nyium nyium sembarangan!" kata May ketus menatap kesal.
Rangga mengusap lehernya mengalihkan salah tingkahnya.
"Maaf May, Om gak sengaja melakukannya. Jangan marah!"Kata Rangga senyum senyum.
May mendesis dengan tatapan tajam. Dia ke cermin dan mengambil sisir.
Rangga masih senyum senyum menatapnya penuh arti. "Salah bibir kamu sendiri menggodaku. Aku tidak tahan untuk tidak menyentuh." Gumamnya.
Wajah May mengernyit, gerakan menyisir berhenti. Telinganya mendengar ucapan yang hampir tak terdengar tapi sempat di tangkap oleh telinganya meski tak begitu jelas."Om ngomong Apa?" berbalik menatap Rangga. Merasa seolah Rangga menuduh dia sudah terbiasa berciuman. Padahal bukan itu, Telinganya salah mendengar.
"Bu- bukan apa-apa! Aku hanya gak percaya aja masa sih kamu gak pernah ciuman?" kata Rangga tergagap. Dia tidak menyangka May dapat mendengar suara kecilnya.
"Om pikir bibir ku seperti bibir Om yang suka nyosor sembarangan?" kata May dengan nada tinggi. Dia mendekati Rangga, berdiri pada jarak sejengkal, menjijit dengan ujung jemari kakinya, dan mendekatkan wajahnya ke wajah Rangga. Menatap tajam dengan beringas"Sorry ya, bibir ku tuh masih suci sebelum ke sentuh sama bibir Om! Aku gak pernah ciuman sama siapapun." cerca May sampai sampai ludahnya muncrat dan mengenai wajah Rangga. Dan Rangga hanya bisa memejamkan mata berusaha menghindar dengan memalingkan wajahnya ke sebelah.
"Bibir Om tuh.... yang entah sudah berapa banyak menikmati bibir wanita!" lanjut May sambil menekan kuat bibir Rangga, Lalu menarik mundur tubuhnya dan kembali ke cermin.
Rangga mengulum bibirnya sambil tersenyum.
"Biasa aja kali ngomongnya, gak perlu nge gas begitu. Ludahnya tuh muncrat ke wajah Om." katanya seraya melap ludah May di dagu dan pipi kirinya.
"Biarin....ludah ku gak bau kok! Om sendiri udah membuktikannya kan semalam!" kata May acuh dan terus merapikan rambutnya.
Senyum Rangga mengembang mendengar perkataan itu.
"Iyaaa, wangi malah. Rasanya juga sangat manis. Makanya enak di nikmati! Dan kamu juga gak nolak kan?" katanya menggoda.
Mata dan mulut May terbuka menganga. Perkataan itu kembali membuat emosinya meledak-ledak. May berbalik dan reflek melempar sisir yang di pegangnya, berlanjut dengan benda apa saja di dekatnya. Di lemparkan pada Rangga.
__ADS_1
Rangga tergelak, tertawa sambil menghindari benda benda yang melayang ke arahnya.
"Menyebalkaaaaan....!" teriak May keras. Tak puas melempar Rangga, dia menyerang pria itu. Menarik rambut Rangga, memukul dan menendang asal. Serang, bertahan dan menghindari yang terjadi di antara mereka.
Ruang kamar jadi berantakan. Tanpa sengaja kaki belakang Rangga menabrak bibir ranjang. Dia hilang ke seimbangan, tubuhnya jatuh di atas tempat tidur. Di susul tubuh May jatuh di atasnya. Dan tanpa sengaja bibir May mengenai bibir Rangga. Lagi lagi dia mencium bibir Rangga tanpa sengaja.
Keduanya terkejut dan saling menatap dengan debaran jantung yang tak beraturan. Beberapa saat saling menatap, May teringat dengan amarahnya pada Rangga. Dengan cepat May menggigit kuat bibir Rangga hingga berbekas. Bahkan mungkin terluka?
"Akhhh....!" Rangga meringis menyentuh bibirnya.
May tertawa penuh kemenangan, dia bangun dan duduk di atas perut Rangga "Rasain! Manis kan rasanya?" cibirnya. Lalu menjulurkan lidah kembali mengejek.
Rangga menatap tajam seraya memegang bibirnya yang sakit.
May menertawainya "Gimana rasanya Om? Enaaaak? Manis?" masih terus mengejek. Senang rasanya bisa membalas pria ini. Lalu dia segera turun dari atas tubuh Rangga. Tapi dengan cepat Rangga menarik tubuhnya, terus menjatuhkan ke tempat tidur. Dia gantian naik di atas tubuh May.
May terkejut, tidak dapat mengelak serangan yang tiba-tiba."Ooom....!" teriak May.
Rangga tidak perduli dengan teriakan itu, dia menahan ke dua tangan May di samping kiri kanan. Menatap tajam penuh dendam.
"Kau pun akan menikmati rasa manis seperti yang aku rasakan!" kata Rangga dengan seulas senyum menyeringai di sudut bibirnya.
May tercengang, juga ngeri melihat seringai wajah Rangga. Sudah dapat menebak pria pasti akan membalasnya.
May hendak bicara, tapi Rangga segera menggigit bibirnya. Tapi hanya gigitan kecil yang membuat mulut May terbuka. Sengaja Rangga lakukan hanya untuk meloloskan lidahnya masuk ke dalam. Untuk selanjutnya dia mencium bibir May. Semalam hanya mencium bibir bagian luar saja. Tapi kali ini dia melakukan ciuman French Kiss. Mengajak May berperang lidah. Tapi gadis ini memang benar tidak pernah berciuman. Dapat Rangga rasakan dari bibirnya yang kaku dan tanpa gerakan. Hanya menghindar dan berusaha melepas bibir dari pangutan bibirnya.
Sementara May tercengang dengan apa yang Rangga lakukan. Dia tidak menyangka Rangga berani menciumnya.
"Om...jangan menciumku! Aku bukan kekasih Om!" kata May saat berhasil lepas dari ciuman Rangga. Nafasnya terengah-engah. Tapi Rangga kembali melahap bibirnya.
"Jangan Om! Kenapa Om mencium ku!" kata May lagi di sela ciuman.
Rangga bukan hanya mencium bibirnya, tapi juga seluruh wajahnya. Menciumnya dengan lembut.
"Cukup Om, nanti mulutku akan kena virus dan bakteri dari Saliva wanita-wanita yang Om cium!" kata May lemah. Kepalanya mulai pening, Tubuh menegang dan semakin merinding tak kalah lidah Rangga masuk lagi dalam mulutnya dan menjalar liar lembut di dalam.
"Om....jangan. Nanti aku kena penyakit." Ucap May hampir tak terdengar dengan mata terpejam.
Rangga melepas pangutannya. Menatap wajah yang terpejam, pasrah."Tidak akan, karena kamu yang pertama!" katanya kemudian.
May terhenyak, perlahan dia membuka mata. Langsung melihat netra Rangga yang tampak berkabut, sedang menatapnya
"A-aku? Jadi ini pertama kalinya Om ciuman?" tanyanya pelan seakan tak percaya. Dia melihat kejujuran di mata pria ini.
Bukannya menjawab, Rangga kembali mencium bibirnya dan mengisap lembut. Dulu dia pernah mencium Khanza, tapi hanya sebatas kecupan di bibir dan kening, tidak lebih dari itu.
May kembali melenguh tak kalah benda tak bertulang itu kembali masuk menjelajah rongga mulutnya. Memutar mutar dan kadang menulis alphabet. Pertahanan May melemah, dia mulai goyah dan pelan pelan terbuai, Menikmati manis dan indahnya ciuman lembut pria dewasa ini. Tubuhnya seakan terbang melayang, merasakan kebahagiaan. Sadar atau tidak, dia mulai membalas ciuman Rangga dengan mengikuti gerakan gerakan lips dan lidah Rangga.
Rangga tersenyum senang merasakan ada interaksi dari May yang sedang belajar mengikuti alur ciumannya. Ternyata gadis ini benar benar masih polos dan baru pertama melakukan Kiss On The Lips. Dan dia harus mengajarinya. Ya.... anggap saja keduanya saling belajar satu sama lain, karena ini yang pertama bagi mereka. Rangga semakin gencar melahap bibir May yang terlihat semakin tak sadar dan terbuai.
May cepat belajar. Dia mulai dapat mengimbangi ciuman Rangga. Mereka melakukan dengan waktu yang cukup lama. Saling merengkuh menikmati manisnya bibir satu sama lain dengan sentuhan sentuhan lembut di pipi, bahu dan tengkuk.
"O...om berhenti!" kata May karena mulai sulit bernapas. Bukannya berhenti, Rangga malah semakin rakus melahap bibirnya.
Hingga akhirnya May memukul dada Rangga karena dia sangat butuh oksigen. Rangga segera melepas ciumannya. Begitu lepas, May cepat menghirup udara berulang ulang, mengisi paru parunya.
"Om mau membunuhku?" kata May menatap kesal, nafas tersengal.
Rangga salah tingkah setelah sadar. Dia melihat bibir May yang tampak basah. Dia mengusap bibir berwarna pink yang begitu menggoda, sehingga sangat ingin di nikmati.
"Kenapa Om mencium ku? Apa artinya itu?" tanya May, ingin tahu arti dari ciuman tadi.
Rangga termangu. Dia bingung mau jawab apa. Apa dia harus jujur mencintai May? Tapi bagaimana jika May kecewa padanya dan menolaknya?
Jujur dia merasa canggung sekarang ini setelah melakukan ciuman itu. Dia tidak menyangka akan mencium gadis ini dengan berlebihan. Bahkan dia merasakan ciuman itu menggugah gairah seksualnya.
"Om, jawab aku!" suara May membuyarkan lamunannya.
"Jangan di pikirkan!" kata Rangga segera.
May mengernyit mendengar jawabannya.
Bagaimana tidak di pikirkan, ciuman itu begitu berlebihan dan erotis. Sama seperti Rangga, dia juga merasa canggung dan malu. Karena berciuman dengan kekasih orang. Dan artinya hinaan serta kata kata merendahkan yang di sematkan Rachel padanya semalam memang benar. Dia memang wanita murahan, dan rendah.
"Ya ampun, kenapa juga Om harus mencium ku? Dan aku malah menikmatinya!" keluh May semakin bersalah dan menganggap dirinya memang wanita rendah, tak punya harga diri.
Rangga segera turun dari ranjang, lalu membantu May turun. Dia berharap May tidak bertanya lagi tentang ciuman itu.
"Sebaiknya kamu tidak perlu bekerja lagi. Aku tidak ingin Rachel macam-macam lagi padamu!" kata Rangga. Khawatir Rachel akan mempermalukannya di kantor.
"Gak bisa Om!'
"Jangan membantah!"
May membuang nafas kasar.
Rangga merapikan rambut dan pakaiannya yang berantakan. Lalu mengambil kartu kredit dari dompet. Terus di serahkan pada May."Gunakan ini untuk kebutuhan hidupmu. Pakailah semau mu. Kamu tidak perlu sungkan menggunakannya! Password-nya hari, tanggal dan bulan pertama kali kita bertemu."
Dahi May mengerut mendengar pin kartu itu. Hari dan tanggal mereka bertemu? May mencoba mengingat. Pertama kali mereka bertemu saat dia nyelonong sembarangan masuk mobil Rangga.
Tapi tetap saja dia tidak bisa menerima kartu itu."Aku tidak bisa menerimanya!" May kembali menolak. Kartu yang dulu di berikan Rangga.
"Sudah.....jangan menolak." Rangga segera menaruh di telapak tangannya. Lalu memegang bahu May.
"Maaf atas apa yang terjadi tadi!" katanya pelan. Lalu membawa tubuh May ke pelukannya."Om menyayangi mu!" ucapnya sembari mencium puncak kepala May. Hanya itu yang bisa di katakan untuk menjawab May tentang makna dari ciuman tadi. Beberapa saat kemudian dia melepas pelukannya."Om ke kantor dulu!" pamitnya. Lalu segera melangkah keluar. May menatap kepergiannya dengan bingung. Masih terus Kepikiran pada ciuman mereka tadi.
Bersambung.
__ADS_1
Tinggalkan jejak dukungan bagi yang mampir....😘