Rangga dan Rara (Mencintai Anak Mantan)

Rangga dan Rara (Mencintai Anak Mantan)
89. Sedekah dan Infak


__ADS_3

...Happy Reading....


Rangga tidak fokus dengan pertemuan yang berlangsung. Untung ada Verdy yang menghandle pertemuan itu dan bisa di andalkan. Dia kepikiran terus pada May. Gadis itu terus menghindarinya. Dan itu membuatnya gelisah dan frustasi. Bingung dengan sikap May, tidak mau bertemu dan, menghindari. Tapi gadis itu menggunakan kartu kredit miliknya. Tadi dalam perjalanan, Verdy mengatakan ada notifikasi pemberitahuan dari bank tentang pemakaian pengeluaran uang dari kartu kreditnya berjumlah 3 M. Dia kaget setelah tahu kalau pengeluaran itu di belanjakan pada Pusat perbelanjaan tempat dia menemui Khanza tadi. Itu artinya May ada ditempat itu. Tapi tidak bertemu dengannya.


"3 M di gunakan untuk membeli apa?" batinnya. Dia tidak mempersoalkan May memakai kartu kreditnya dan di gunakan untuk apa. Dia malah senang uang itu digunakan May untuk menyenangkan diri. Dia hanya penasaran May membeli apa dengan jumlah sebanyak itu.


"Apa kau sudah mendapatkan informasi penggunaan uang itu?" tanyanya pada Verdy.


"Kita akan mengetahuinya sebentar lagi tuan." jawab Verdy di sela sela mengemudi. Tadi dia sudah menghubungi Manajer Mall.


10 menit berlalu, telepon berbunyi. Berasal dari Manager Mall. Verdy mendengar setiap ucapan yang di katakan oleh manager. Lalu telepon di matikan.


"Tuan, Manager Hotel mengatakan semua daftar belanjaan adalah barang barang untuk kebutuhan anak anak Panti dan Pondok pesantren. Dan semua barang barang itu telah di kirimkan ke 10 titik lokasi. Nona May meminta bantuan untuk mengirimkan semua barang itu ke tempat tujuan. Nona juga mentransfer sejumlah uang ke yayasan tersebut." kata Verdy menjelaskan.


Rangga terkesima mendengar penjelasan Verdy yang terdengar indah di telinga, membuat hatinya haru. Rangga tiba tiba tersenyum. Gadis itu ternyata punya jiwa sosial yang tinggi. Tak tanggung-tanggung mengeluarkan uang sebanyak untuk infak dan sedekah.


Ponsel Verdy kembali berdering."Tuan, Nona Rachel menelpon." kata Verdy setelah melihat siapa yang menelepon.


Rangga terdiam. Dia sengaja mematikan ponselnya karena tidak ingin diganggu, termasuk Rachel. Dia tahu wanita itu pasti akan menghubunginya berkaitan dengan hasil pertemuan tadi dan juga yang lainnya hanya untuk bisa berbicara mendengar suaranya.

__ADS_1


Karena tak ada respon dari Rangga, Verdy segera mengangkat telepon Rachel. Dia tahu apa yang harus di lakukan dengan tidak adanya respon tersebut.


📞"Aku menghubungi pimpinan mu tapi ponselnya tidak aktif." suara Rachel dari seberang.


📞"Aku sedang tidak bersama dengan pak Rangga. Aku baru mengantar beliau ke apartemen." kata Verdy.


📞"Apa pertemuannya sudah selesai?"


📞"Sudah. Semuanya berjalan dengan lancar."


📞"Bagaimana hasilnya?"


Telepon di matikan. Rachel tidak percaya dengan omongan Verdy. Dia yakin Rangga ada bersama Verdy dan tidak mau bicara dengannya. Bayangan kemesraan Rangga dengan Khanza di Mall tadi menari nari di kepalanya. Amarah dan kecemburuan membakar jiwanya. Hampir saja dia mencelakai Khanza, memberi peringatan pada wanita itu. Tapi selamat karena May menyelamatkannya. Dia tidak menyangka Gadis itu ada di Mall yang sama. Apa sebelum bertemu Khanza, Rangga sudah terlebih dulu bertemu May di Mall itu? Asumsi buruk berkecamuk di pikirannya. Dan itu membuatnya geram dan sakit hati.


Ponselnya tiba tiba berdering. Manager Hotel miliknya.


📞"Selamat siang buk, mohon maaf, saya ingin menyampaikan sesuatu."


📞"Ada apa?" tanyanya.

__ADS_1


📞"Ada kabar buruk buk, Anda harus segera datang ke hotel sekarang juga?"


"Kabar buruk?"ata Rachel menatap tajam ke depan. Hatinya tidak tenang. Tidak biasanya manager menghubunginya dengan panik begini. "Baik, akan segera ke sana." telpon di tutup.


Belum juga melangkah, teleponnya kembali berdering. Telepon dari anak buahnya yang berada di Amerika."Ada apa?" tanyanya dongkol dengan telepon telepon yang masuk.


"Gawat buk, Wanita tua itu telah pergi?" kata suara di seberang dengan terburu-buru.


Rachel terbelalak."Apa maksud mu?"


"Wanita itu tidak berada di panti. Sepertinya dia telah melarikan diri." kata orang itu takut takut.


"Apa?" sentak Rachel geram. "Apa yang kalian lakukan? Baru beberapa jam yang lalu aku meminta mu untuk menjaganya dengan baik." teriaknya geram, emosi.


"Kami sudah menjaganya secara sembunyi sembunyi. Tapi sepertinya ada yang mengeluarkan wanita itu secara diam-diam. Pihak panti pun sedang mencari keberadaannya. Wanita itu pergi tanpa sepengetahuan pihak panti."


"Bodoh kalian. Menjaga seorang nenek tua saja kalian tidak becus. Kerahkan anak buah mu, cari sampai ketemu." sentak Rachel. Telepon di matikan. Dia mengumpat kesal. Rencananya untuk menghabisi Khanza gagal total. Kini mendapatkan kabar tidak baik dari manager hotel dan dari Amerika. Hanya beberapa jam dia mendapatkan informasi buruk yang membuatnya semakin geram dan pusing. Hari ini benar benar hari yang sial baginya.


Bersambung.

__ADS_1


__ADS_2