
...Happy Reading Guys....
Waktu menunjukkan pukul 9 pagi.
Di sebuah kamar apartemen mewah. Sinar matahari masuk melalui celah celah jendela yang terbuka. Terlihat seorang gadis menggeliat di tempat tidur, baru saja bangun dari tidurnya yang nyenyak. Mengenakan tank top dan celana short pendek. Rambut panjangnya yang berantakan dan juga wajahnya yang bengkak, bawah mata hitam karena eyeliner dan di tambah mata panda, membuat wajahnya terlihat jelek. May Wulandari atau nama aslinya Rai Rara putri Gracio. Cucu tertua Artawijaya.
May mengucek matanya, merenggangkan otot-otot tubuh yang kaku sembari memperhatikan keadaan kamar yang tampak asing di matanya.
"Di mana ini?" gumamnya. Melihat sekelilingnya. Bukan di kamarnya tapi kamar yang lain. Luas dan fasilitasnya mewah, termasuk ranjang yang di tempatinya. Seingatnya dia tidur di kamarnya. Tapi ini tidak lagi."Ini kamar siapa?" bertanya lagi pada diri sendiri.
May segera turun dari ranjang king size yang super empuk yang terbungkus seprei dari bahan yang lembut dan halus. May pergi ke tembok kaca dan memperhatikan pesona alam yang indah dari atas, juga gedung gedung tinggi pencakar langit. Beberapa saat memperhatikan keindahan alam di luar sana, May segera keluar.
May tidak tahu, semalam Rangga telah memindahkannya ke kamar ini, setelah memastikan kamar ini aman dari CCTV. Rangga menyuruh kepala keamanan apartemen untuk memeriksa kamarnya. Siapa tahu ada kamera pengintai yang di pasang Rachel secara sembunyi sembunyi. Setelah di pastikan aman, Rangga segera membawa May pindah ke kamarnya.
Dia tidak ingin meninggalkan May tidur sendiri di kamar May. Sementara dia harus bekerja di ruang kerjanya.
Dengan bingung May menelusuri setiap ruang. Matanya jelalatan melihat setiap sudut tempat ini. May semakin bingung, Ini apartemen siapa? gak ada orang yang di temuinya.
Dia teringat pada Rangga, yang menemaninya tidur semalam. Apakah ini kamar apartemen Om Rangga? batinnya.
Kaki May berhenti pada sebuah ruang yang belum di periksa. May membukanya dengan perlahan. Ruang ini adalah ruang kerja Rangga. Saat ini Rangga sedang melakukan meeting secara virtual dengan para direktur, sekertaris dan kepala kepala bagian divisi perusahaannya yang berada di di Australia. Karena sekretarisnya memintanya untuk mengadakan meeting dadakan untuk proyek yang penting.
Setelah masuk dan melangkah ke dalam, May melihat Rangga sedang duduk di meja kerja sambil melihat layar laptop dengan serius. Mungkin sedang bekerja, pikir May.
May segera mendekatinya. Rangga sedikit kaget melihatnya.
"Om ternyata di sini? Aku cari Om ke sana kemari." kata May sembari melihat lihat keseluruhan ruang kerja.
Rangga memberi isyarat padanya dengan gerakan mata dan tangan untuk berhenti di tempat dan jangan mendekat. Tapi May tidak mengerti. Dia terus mendekat dan bersandar pada meja, menghadap pada Rangga, membelakangi laptop.
"Tenyata ini kamar apartemen Om ya? Ku pikir di mana. Aku bingung saat bangun melihat kamar yang berbeda!" katanya lagi, belum menyadari saat ini Rangga sedang melakukan meeting penting.
Rangga kembali memberi isyarat sambil mencoba menggeser tubuhnya ke sebelah, tapi May kembali mendekatinya. May tertarik dengan penampilan Rangga yang rapi mengenakan setelan jas formal. Pria ini terlihat fresh dan semakin mempesona dengan brewoknya yang lebat. May tersenyum. Dia mendekatkan wajahnya, tak menyadari di belakangnya sedang banyak mata melongo melihat ke arah mereka.
"Om semakin tampan aja!" memegang wajah Rangga."Dan juga....wangi!" sambungnya kembali dengan hidung menyesap aroma wangi di wajah Rangga.
Rangga kelabakan dan buru buru menutup laptop. Entah apa yang di pikirkan oleh para pegawainya di seberang sana.
"Om lagi kerja ya? Maaf mengganggu!" kata May melihat Rangga menutup laptopnya.
Rangga segera bangkit berdiri."Kamu sudah lama bangun?" tanyanya.
May mengangguk."20 menit yang lalu!"
Rangga memegang tangannya lalu mengajaknya keluar."Kenapa gak mandi dulu?"
"Aku bingung melihat tempat ini. Entah milik siapa? Mana bisa aku langsung mandi?" kata May.
"Kalau begitu mandi dulu!"
"Aku lapar. Aku mau makan!" kata May sambil mengelus perutnya.
"Om akan siapkan makanan mu! Sembari menunggu makanan siap, kamu mandi dulu!" kata Rangga. Dia mengajak May ke kamar mandi di kamar tempat May bangun tadi.
"Lihat tuh, wajah kamu jelek banget!" kata Rangga membawa May di depan kaca kamar mandi.
May kaget melihat keadaan wajahnya. Memang benar jelek. Dan dia tidak menyadari wajah jeleknya itu sudah dari semalam.
"Om ke dapur dulu! Segeralah mandi." kata Rangga.
Wajah May mengernyit."Om yang akan masak untukku?" tanyanya.
Rangga mengangguk.
"Memang Om bisa masak?"
Rangga kembali mengangguk."Itu hal yang mudah! Kamu ingin makan apa?"
May senyum senyum dan berpikir."Apa aja asal Om yang masak!" katanya kemudian.
"Oke....!" kata Rangga sambil membalas senyumannya. Senang melihat wajah manis ini ceria lagi. Dan yang lebih membuat Rangga senang dan tenang, karena May tidak mengungkit ciuman semalam. Dia khawatir May akan bertanya kembali arti ciuman itu. Rangga segera keluar dan menutup pintu kamar mandi.
Sebelum ke dapur, Rangga buru buru ke ruang kerja sambil menghubungi Verdi, sekretaris pribadinya di Australia. Melanjutkan rapat yang tadi terhenti paksa karena kedatangan May, dan menyelesaikan kembali dalam waktu 15 menit. Setelah itu dia pergi ke dapur, melepas dasi dan jas, terus memakai celemek dan beraksi dengan bahan makanan.
Sementara di kamar mandi, May sudah menyelesaikan ritual mandinya setelah 30 menit berlalu. Dia menuju ruang ganti dengan mengenakan handuk Rangga. Banyak pakaian Rangga terpajang rapi, dari pakaian kantor dan kasual. Ada juga lemari sebagai tempat koleksi sepatu, dasi, pakaian dalam, sapu tangan, ikat pinggang, jam tangan, parfum, kaca mata dan lain lain. Ruang ini seperti sebuah toko. Dan May tak heran melihat semua barang barang mewah ini. Dia teringat pada ruang ganti pakaian papa dan mamanya. Dia juga punya ruang pakaian seperti ini.
Sekarang May bingung mau pakai baju apa? Dia lupa tidak punya baju ganti di sini. Sementara pakaiannya yang tadi telah basah.
May segera keluar dari kamar, pergi ke dapur mencari Rangga dengan hanya menggunakan handuk pendek.
"Om.... Om!" panggilnya melihat Rangga yang tampak sibuk.
Rangga segera berbalik. Dia melongo melihat May hanya memakai handuk pendek miliknya.
Kaki jenjangnya yang putih mulus, serta bagian tubuh atasnya terlihat terbuka. Rambut panjangnya yang tampak basah.
"Ya ampun gadis ini? Apa dia sengaja menggodaku?" gerutu Rangga. Dia segera mendekati May.
"Kenapa kamu gak pakai baju?"
__ADS_1
"Untuk itu aku ke sini cari Om. Aku gak punya pakaian ganti. Bajuku yang tadi sudah basah! Terus aku pakai baju yang mana?" May balik bertanya.
"Kamu pakai baju Om dulu untuk sementara. Om akan pesan kan bajumu untuk mu."
"Memesan baju untuk ku?"
Rangga mengangguk.
"Gak perlu Om. Aku akan ke kamar ku! Tapi aku pinjam baju Om dulu!"
"Ya sudah pergilah ke kamar!" usir Rangga. Agar tubuh gadis ini segera hilang dari pandangannya. Khawatir tergoda lagi seperti semalam.
May hendak berbalik, tapi matanya menangkap makanan di meja. May mendekat, ada dua menu tertata rapih di sana.
Dia mendekat." Ini Om yang masak ya?" tanyanya kagum.
May mendekat kan wajahnya, menghirup aroma wangi makanan."Pasti enak, dari baunya aja begitu harum menggoda. Aku tambah lapar melihatnya. Gak tahan ingin mencicipi!" puji May dengan antusias.
Tak sabar untuk menikmati makanan ini, dia hendak duduk, tapi Rangga cepat menahan tubuhnya."No, you have to wear clothes first!" kata Rangga."Cepat kembali ke kamar!"
"Aku mau makan, aku sangat lapar!" kata May.
"Pakai baju dulu! Lihat dirimu!" kata Rangga menunjuk diri May.
"Gak apa apa, gak ada siapapun di sini. Hanya Om saja!"
"Ya ampun anak ini. Justru karena ada aku Makanya kamu harus pakai pakaian. Emang kamu anggap Om anak kecil? Apa kamu gak risih hanya memakai handuk begini?"
"Nggak, Kan hanya Om! Dan aku percaya pada Om." kata May cuek.
Rangga kembali menggerutu, kesal dengan tingkah keras kepala ini. Dia memang tidak mungkin menyentuh, tapi matanya semakin dosa melihat keindahan ini
"Pokoknya pakai baju dulu!" sentak Rangga. Seraya menarik May.
"Nanti saja Om, aku mau makan. Om pergi saja dari sini jika risih melihat ku! Kembalilah ke ruang kerja!" kata May bertahan untuk duduk.
"May, jangan membantah! Pakai baju dulu!" Rangga mulai kesal, tingkah May seperti anak kecil.
"Aku sangat lapar!" kata May wajah memelas, keras kepala.
"Hanya lima menit saja berganti pakaian. Kau tidak akan mati kelaparan hanya dengan lima menit!"
"Nanti selera makan ku hilang setelah memakai pakaian!" May memberi alasan.
Rangga semakin gemas. Gadis ini banyak saja alasannya. Dia segera mengangkat tubuh May.
"Om.... apa apan sih!" May berontak.
"Turunkan aku!" pekik May.
"Pokoknya pakai baju dulu baru boleh makan!" kata Rangga tegas. Melangkah hendak menuju ke kamar, tapi....
"Apa apaan ini Rangga?" sebuah suara menghentikan langkahnya.
Keduanya terkejut. Keduanya segera menoleh."Mama?"
May kaget bukan main setelah melihat wajah Cindy. Dengan cepat dia menyembunyikan wajahnya di dada Rangga. Dia sangat kenal dengan wanita itu, sahabat Ara, neneknya. Cindy juga sangat mengenalnya. Bahkan wanita paruh itu menyayanginya. Waktu dia balita, Kadang Cindy menggendongnya, mengajaknya bermain, membawakan dia mainan saat Cindy berkunjung ke rumah neneknya untuk silaturahmi bersama Ines, sahabat neneknya yang satu. Dan terakhir dia bertemu Cindy tiga bulan yang lalu, saat di acara ulang tahun pernikahan kakek dan neneknya. Cindy dan Dion ikut hadir dalam acara tersebut.
"Jadi nenek Cindy mamanya Om Rangga?" batinnya kaget. Dia dia benar benar tidak menyangka kalau Rangga adalah anak Cindy dan Dion, sahabat kakek dan neneknya. Pantas saja Rangga peduli dan menyayanginya. May jadi khawatir apakah Rangga mengenal dirinya sebagai cucu Artawijaya? Tapi sepertinya tidak, kalau Rangga tahu, Rangga pasti sudah memberi tahu kepada keluarganya. May sedikit lega karena Rangga tidak mengenalnya.
"Rangga, apa yang kau lakukan?" suara Cindy kembali terdengar.
May semakin menyembunyikan wajahnya di dada Rangga.
"Om, siapa itu? Aku gak ingin orang itu melihat wajahku! Aku mohon jangan sampai dia melihat ku!" bisiknya pada Rangga pura pura tidak tahu.
Rangga sendiri tercengang melihat namanya yang tampak tak kalah tercengang melihat mereka berdua.
"Mama...!" ucap Rangga kelabakan. Kenapa mamanya datang tiba-tiba begini. Masuk tanpa di ketahui.
Cindy mendekat.
"Apa yang Kalian lakukan?"
"Jangan mendekat MA, tetap di situ!" kata Rangga menghentikan. Dia panik. Khawatir mamanya melihat wajah May. Karena dia juga tidak ingin Cindy melihat wajah May.
May lebih takut mendengar langkah hak sepatu Cindy mendekati mereka."Om, aku takut! Bawa aku pergi dari sini!" dia menyesal karena tidak mengikuti perkataan Rangga tadi, untuk ganti pakaian.
"Siapa dia Rangga?" tanya Cindy menatap tak bergeming May dalam gendongan Rangga. Yang menyembunyikan wajah di dada Rangga dan juga menggunakan rambut untuk menutupi wajahnya.
"Jawab mama Rangga, Siapa wanita ini? Apa yang kalian lakukan?" tanya Cindy lagi sedikit menyentak. Melihat keadaan May yang hanya mengenakan handuk. Dan tidak canggung dan malu sama sekali berada dalam gendongan Rangga dengan tubuhnya yang hanya di tutupi handuk pendek.
Cindy tanpa ragu berjalan semakin mendekati mereka, karena rasa ingin tahunya pada May, yang berada dalam gendongan putranya. Siapa wanita ini? Ada hubungan apa dia Rangga? Apa dia kekasih Rangga?
Rangga semakin panik dan kelabakan. Di tambah lagi melihat May yang semakin kuat memeluknya karena takut. Dia segera ke sofa dekat meja makan dan meraih jasnya, terus di tutupi pada tubuh May. Lalu dengan langkah cepat membawa May ke kamarnya.
"Rangga..... Rangga!" teriak Cindy, berusaha mengejar melihat Rangga menghindari ingin menyembunyikan gadis itu.
Rangga berhenti sejenak, menoleh ke belakang melihat Cindy."Aku mohon ma, tetaplah di situ. Aku akan jelaskan nanti pada mama! Aku akan segera kembali!" kata Rangga.
__ADS_1
Langkah Cindy melambat mendengar perkataan itu.
"Baik, mama tunggu kamu di sini!" katanya mengalah. Ya, dia harus percaya pada putranya. Karena selama ini Rangga tidak pernah berbuat sesuatu yang memalukan dan membuat mereka kecewa.
Rangga melanjutkan langkah membawa May ke kamar. Sesampainya di kamar, dia segera membawa May ke ruang ganti.
"Om, aku takut. Seharusnya aku nurut kata Om tadi untuk pakai baju." kata May.
"Itu mama aku. Kamu gak perlu takut. Tenanglah!" Kata Rangga seraya mengambil kaus dan celananya dari lemari, terus di berikan pada May.
"Pakai ini! Aku mau menemui mama dulu! Ingat, tetaplah di sini Jangan keluar sebelum aku masuk kembali."
May mengangguk lemah.
"Tapi jangan lama-lama ya Om, aku lapar!" kata May mengelus perutnya.
Ya ampun anak ini, dalam keadaan darurat pun masih memikirkan perut. Tapi Rangga tidak tega mendengar kata LAPAR.
Rangga mengangguk."Aku akan segera kembali." katanya seraya menyentuh lengan May.
May menahan lengannya."Om, Jangan beritahu tentang aku pada mama Om ya?"
Rangga menatapnya beberapa saat, lalu mengangguk pelan.
Rangga segera keluar. Melangkah ke dapur di mana mamanya menunggu dirinya. Cindy melihat kedatangannya. Melihat celemek yang terpasang pada tubuh Rangga. Lagi lagi Cindy penasaran siapa gadis itu yang membuat Rangga sampai memasak untuknya.
"Siapa dia Rangga?" bertanya setelah Rangga tiba di depannya. Dia menatap Rangga yang sedang menaruh nasi dalam piring.
"Sejak kapan kau bersama wanita itu....?"
Wajah Rangga mengernyit."Apa maksud
mama?" menangkap pertanyaan yang mengandung arti lain. Dia menatap wajah Cindy.
"Sejak kapan kau dekat dengan wanita itu? Sejak kapan kalian tinggal bersama di sini? Mama benar benar gak nyangka kalau kamu.....!"
"Ini tidak seperti yang mama pikirkan! Aku dan dia hanya teman!" pangkas Rangga tergagap.
"Teman?" Cindy menatapnya." Apakah teman bisa se intim itu Rangga? Dan Sejak kapan kau dekat dengan teman wanitamu secara berlebihan seperti itu? Bahkan dengan Rachel yang sudah lama menjadi kekasih mu pun kau tidak pernah sedekat itu!" cerca Cindy.
"Ma....!"
Cindy mendekat lebih dekat dalam jarak Satu meter."Mama sangat mengenal mu Rangga. Perlakuanmu pada gadis itu sama seperti perlakuan mu dulu pada Khanza, wanita yang sangat kau cinta! Kau pria yang sangat dingin terhadap wanita. Kau hanya mau dekat dengan wanita jika wanita itu kau cintai!" menatap kedua mata Rangga.
"Dan yang mama lihat tadi, kau begitu bahagia bercengkrama dengannya! Dan lihat.....kau bahkan memasak untuknya!" kata Cindy lagi menunjuk celemek di tubuhnya.
Rangga menelan ludah. Dia mengalihkan pandangannya ke arah makanan. Tak ingin terlalu lama beradu tatap dengan mata Cindy. Karena tidak ingin mamanya menangkap perasaannya pada May lewat matanya. Rangga mengambil steak ikan salmon, sayur, air dan susu. Terus di letakkan pada nampan bersama dengan nasi.
Cindy memperhatikan apa yang dia lakukan.
"Mama tunggu sebentar, aku mau mengantar makanan ini ke kamar."
"Mama belum selesai Rangga!"
"Nanti kita akan selesaikan setelah aku mengantar makanan ini. Gadis itu lapar." kata Rangga lagi. Lalu melangkah pergi melihat tak ada reaksi dari Cindy.
Cindy membuang nafas kasar. Bahkan Rangga begitu perduli padanya. Dan dia tidak bisa menghentikan Rangga begitu mendengar kata 'lapar' dari mulut Rangga. Artinya gadis itu benar benar lapar. Siapa sebenarnya gadis itu? Hingga membuat Rangga sangat peduli dan khawatir. Padahal dia tahu, Rangga adalah pria yang sangat dingin pada wanita, sangat acuh bahkan berhati batu. Terkecuali pada Khanza dan juga.....gadis tadi.
Lima menit kemudian, Rangga kembali.
Dia duduk di hadapan mamanya.
Cindy menatapnya dalam dalam.
"Mama ingin kamu jujur. Sejak kapan kau tinggal bersama dengan gadis itu?"
"Aku sudah bilang, aku dan dia hanya teman. Apa yang mama pikirkan itu salah. Dia gadis baik baik. Baru semalam dia tidur di kamar ku. Aku yang membawanya ke sini. Dan kami tidak melakukan apapun!"
"Kamu yakin dia hanya teman bagimu? Kau yakin tidak punya perasaan apapun padanya?" Cerca Cindy sambil menatap matanya, mencari kebenaran.
Rangga terhenyak. Membisu. Keduanya saling menatap beberapa saat.
"Rangga, apa itu gadis yang sama yang semalam berpelukan dengan mu di hotel?"
Rangga mengalihkan pandangannya ke sebelah. Sepertinya Rachel telah melaporkan kejadian semalam kepada namanya. Pantas mamanya ke sini.
"Mama tidak tahu siapa gadis itu dan hubungan di antara kalian. Mama hanya ingin mengingatkan, kau bukan lagi pria bebas. Kau sudah memiliki Rachel. Sudah lama dia menunggumu dengan sabar. Dia punya andil yang begitu besar dengan kesuksesan mu sekarang ini! Mama tidak ingin kau membuatnya kecewa, setelah apa yang dia lakukan padamu selama ini!" kata Cindy kembali."Sebaiknya kau mulai berpikir untuk melanjutkan hubungan kalian ke arah yang lebih serius. Hubungan kalian sudah lama, dan usia kalian sudah tidak muda lagi! Rachel khawatir dengan hubungan kalian. Dia meminta, kalian berdua segera bertunangan. Dan secepatnya menikah!" kata Cindy kembali.
Rangga tercengang mendengarnya perkataan mamanya "Menikah?"
Cindy mengangguk."Dia menemui mama tadi pagi dan meminta hal itu setelah apa yang kau lakukan dengan gadis itu semalam! Mama dan papa, juga sangat menginginkan kau dan Rachel segera menikah. Jadi mama harap kau jangan menolak maksud baik Rachel!" kata Cindy kembali. Lalu dia bangkit berdiri."Mama ingin mendengar keputusanmu secepatnya! Mama pergi dulu!" Cindy menyentuh bahu Rangga. Lalu segera melangkah setelah meraih tasnya di sofa.
"Namanya May.....May Wulandari. Dan aku mencintainya! Aku merasa bahagia bersamanya." kata Rangga tiba tiba, membuat langkah Cindy melambat dan terhenti. Perlahan dia membalikkan tubuhnya menatap pada putranya. Yang juga menatapnya.
Tanpa Rangga katakan pun, Cindy sudah tahu dan merasakan kalau putranya ini mencintai May, setelah melihat langsung kedekatan mereka tadi dan perlakuan Rangga terhadap May. Gadis yang merupakan karyawan OB, seperti laporan Rachel tadi pagi.
Untuk kedua kalinya, putranya jatuh cinta kembali pada seorang wanita setelah 17 yang lalu mencintai Khanza Ghaniya Artawijaya sebagai cinta pertama yang begitu sulit di lupakan. Dan kini cinta ke dua, pada May Wulandari, gadis muda belia berusia 17 tahun. Siapa gadis itu? Yang mampu membuat putranya membuka hati untuk jatuh cinta kembali? Membuat putranya kembali tersenyum merasakan cinta dan kebahagiaan? batin Cindy.
Bersambung.
__ADS_1
Selamat beristirahat. Tinggalkan jejak dukungan bagi yang mampir. Terimakasih 😍