
...Happy Reading....
"Hay...!" terdengar sapaan hangat dari samping May yang tampak fokus mengepel lantai.
May memalingkan wajahnya ke samping dan mendongak. Wajahnya mengernyit melihat sosok pria di depannya. May buru buru berdiri tegak dan menghadap ke pada si penyapa.
"Tuan....!" ucap May sopan sembari buru buru membungkukkan tubuh sejenak. Dia ingat pria ini, yang telah menolongnya saat mau jatuh akibat tergelincir di dalam lift tadi. Mungkin saja pria ini tamu penting bosnya, Rangga.
Sean melihat alat pel di tangannya, kemudian beralih ke nametag.
"Nama mu May?" tanyanya kemudian
"Iya tuan...May Wulandari!" kata May sopan sedikit gugup.
"Jadi kamu bekerja di sini?"
"Iya, sebagai OB.....!" jawab May lagi dengan sopan.
Sean kembali memperhatikan May, dari rambut panjangnya yang hitam dan indah, terikat rendah. Wajah baby face putih mulus, hidungnya yang tidak mancung tapi terlihat imut, dagunya yang lancip, serta bibirnya yang merah alami berbentuk busur panah cupid. Di mata Sean Wajah ini identik dengan wajah wanita Asia, cantik alami tanpa polesan.
"Apa tuan perlu sesuatu?" tanya May. Kali aja pria bule ini perlu sesuatu hingga menyapanya.
Sean mengulurkan tangan."Namaku Sean, Sean Gefarin. Kamu panggil saja Sean!" katanya segera.
"Ah...itu tidak sopan tuan. Anda orang penting dan berkelas. Sementara saya? Hanya OB, karyawan rendah! Sungguh tidak pantas saya menyebut nama anda!" kata May sambil tersenyum, merendah diri.
Sean hendak bicara, tapi batal.
"Hey kamu___." suara Rangga yang datang tiba-tiba, melihat ke arah May. Sean dan May melihat ke arahnya.
Rangga mendekati keduanya. Menatap May dengan dingin. Dia yang memperhatikan keduanya tampak asyik ngobrol dari pintu ruang kerjanya.
"Buatkan aku kopi." katanya kembali pada May.
"Silahkan ke ruangan ku Mr Sean....!" katanya lagi pada Sean.
__ADS_1
"Baik, mari kita ke ruangan anda!" kata Sean. Dia melihat May sambil tersenyum penuh arti."Sampai ketemu lagi nona May!" ucapnya.
May menjawab dengan senyuman di selingi anggukan pelan. Sean segera melangkah. May menatap kepergiannya.
"Sudah ku bilang kamu di sini untuk bekerja, bukan untuk mengumbar senyum." kata Rangga, menatap tajam, lalu segera melangkah menyusul Sean.
May tercengang mendengar kata kata itu. Lagi lagi bos sekaligus pimpinannya ini menuduhnya yang nggak nggak. May hendak protes, tapi keburu Rangga meninggalkannya.
"Menyebalkan, kenapa sih dia?" sungut May kesal.
Lalu segera ke Pantry untuk membuat kan kopi. Bukannya tadi sudah minum kopi? gerutu May dongkol.
Sementara Rangga bukan tanpa alasan menyuruh May membuat kopi, dia bisa menyuruh karyawan lain untuk membuatkannya. Tapi karena tidak suka melihat May dan Sean ngobrol, terlihat akrab dan dekat, apalagi sambil berbalas senyum.
Tidak berapa lama May masuk ke ruang kerja setelah mengetuk pintu. Keduanya mengarahkan pandangan ke pintu. Melihat May masuk dengan nampan di tangan yang berisi dua gelas kopi. Jalan sedikit pincang.
May melangkah mendekati mereka yang duduk di sofa. Dia segera meletakkan kopi di atas meja. May sengaja membuatkan dua cangkir kopi karena ada tamu. Tidak sopan hanya membuat satu. Dan yang lebih penting, dia tidak mau di perintah ulang ulang, karena tumit dan betisnya sakit karena baru menyapu dan mengepel lantai atas yang luas. Itu pun belum selesai. Lagi pula ini juga bukan tugasnya, tapi tugas sekertaris. Tapi kemana sekertaris menyebalkan itu? Tak terlihat batang hidungnya, seharusnya dia ada di samping bos saat ada tamu seperti ini.
Sean tersenyum tak berpaling melihat May. Dan itu tak luput dari perhatian mata elang Rangga.
"Permisi!" kata May melirik kesal dengan ekor mata pada Rangga. Entah kenapa Bosnya ini begitu menjengkelkan hari ini. Dia melangkah, tapi terhenti dengan suara Sean.
"Nona May, terimakasih atas kopinya."
May berbalik."Anda tidak perlu berterima kasih, karena itu sudah menjadi tugas saya. Semoga kopinya enak dan tidak mengecewakan anda. Karena saya tidak tahu kopi kesukaan anda." kata May sambil tersenyum. Dan itu membuat rahang Rangga mengeras.
Sean mengambil cangkir kopinya dengan buru buru, meniup sejenak lalu meneguk pelan.
"Enak kopinya, Aku suka." katanya kemudian sambil menjilat sisa kopi di bibirnya.
"Benarkah tuan? Ah....Syukurlah." May tersenyum lega. Dia berbalik hendak melangkah tapi batal lagi.
"Manis!" ucap Sean melihat senyuman itu.
"Syukur lah kalau rasa manisnya pas." kata May.
__ADS_1
"Bukan kopinya." kata Sean dengan masih senyum mengembang.
"Maaf...?!" May kurang mengerti.
"Senyum kamu." kata Sean lagi.
May terkejut dan salah tingkah.
"Pergilah ke ruang rapat, panggil Clara ke sini." kata Rangga memutus percakapan di antara mereka. Darahnya terasa panas mendengar godaan Sean. Dia menatap semakin tajam pada May untuk membuat gadis itu segera keluar dari ruangannya.
"Baik pak, permisi!" pamit May. Dia segera keluar. Tidak tahan melihat tatapan tajam Rangga.
"Benar benar cantik dan indah!" kata Sean begitu May menutup pintu.
"Siapa?" Rangga pura pura tidak tahu.
"OB kamu itu." kata Sean dengan senyuman yang belum lepas.
"Sampai di mana obrolan kita tadi?" Rangga mengalihkan pembicaraan. Dia semakin kesal, mendengar kata kata Sean mengagumi keindahan May.
Sementara May sungut sungutan melangkah menuju ruang meeting.
"Kenapa tidak di telepon saja? Merepotkan orang saja." katanya kesal. Dia tidak mendapati Clara di ruang rapat.
"Ya ampun, kemana sekretaris menjengkelkan itu?" sungut May kembali.
"Bos dan sekertaris sama saja, menyebalkan dan menyusahkan orang!" umpat May.
May mengirim pesan pada Rangga.
"Gak ada di ruang rapat. Di tempat lain juga gak ada. Bapak telepon saja. Aku capek kesana kemari mencarinya!" katanya di selingi emot kesal.
Rangga tersenyum tipis membaca pesannya, di sela perbincangannya dengan Sean. Tentu saja Clara tak ada di ruang rapat dan juga di kantor ini. Dia sedang keluar bersama Rachel untuk melaksanakan tugas yang di perintahkan.
Dia memang sengaja menyuruh May keluar dari ruangannya untuk mencari Clara, agar bisa terlepas dari Sean. Karena dia tahu pria seperti apa Sean Gefarin jika melihat wanita cantik yang menarik hatinya pada pandangan pertama.
__ADS_1
Bersambung.