
...Happy Reading....
"Tuan, sudah waktunya kita pergi." kata Verdy. Siang ini mereka akan ke salah satu restoran untuk memenuhi janji bertemu dengan investor dari Jepang.
Lamunan Rangga buyar. Dia menekan ke dua matanya yang basah. Rangga menatap kosong ke depan dalam beberapa saat. Kemudian bangkit berdiri melangkah ke luar dari ruang kerja. Verdy mengikuti setelah terlebih dulu memungut ponsel pimpinannya di lantai. Untung benda pintar itu tidak retak dan rusak.
"Ibu Rachel telah menunggu kita di sana!" kata Verdy setelah mensejajarkan dirinya di samping Rangga.
Rangga tak menjawab, hanya mendengar terus melangkah.
.
.
Kita ke Khanza dan Gracio.
Dalam perjalanan, Khanza bersandar manja di lengan Cio yang sedang menyetir. Sesekali dia mengecup lengan Cio. Cio tersenyum dan sesekali juga mencium kening istrinya.
"Kak, Hari ini kita mau ke mana?" tanya Khanza. Cio mengatakan hari ini mereka akan senang senang. Melakukan hal yang menyenangkan. Cio akan mengajak ke mana pun dia mau atau ke tempat yang menyenangkan. Melupakan sejenak tentang Rara yang sudah sebulan ini mereka cari. Cio ingin membahagiakan istrinya. Memanjakan, menyenangkannya, meski setiap hari dia selalu memanjakan dan membuat Khanza bahagia. Hari ini spesial untuk mereka, karena hari ini 18 tahun Anniversary mereka. Khanza mungkin lupa karena hati dan pikirannya terpusat pada Rara, semenjak menghilangnya putri mereka.
"Kemanapun kamu suka sayang! Lakukan apapun yang kamu mau. Aku akan menemanimu!" jawab Cio kemudian.
"Kakak kan kerja?"
"Khusus hari ini aku hanya kerja untuk kamu. Kerja melayani mu." kata Cio tersenyum dengan kerlingan nakal.
Khanza jadi bingung. Dia mengangkat wajahnya. Menatap suaminya dari samping.
Mobil berhenti tepat di salah satu butik, Butik Azahra, milik Ara. Cio melepas sealbetnya, kemudian sealbet Khanza yang masih terpaku bingung dengan perkataannya tadi.
Lamunan Khanza buyar saat Kecupan Cio mendarat di bibirnya."Hari ini aku milikmu sayang." ucap Cio kembali menggoda.
Wajah Khanza berubah manyun."Gak usah, aku gak mau. Aku mau bebas dari kakak selama beberapa hari ke depan." katanya cemberut. Teringat kejadian semalam di mana Cio mengajaknya bercinta. Cio menggempurnya habis habisan tanpa ampun. Cio baru melepasnya di sepertiga malam. Hingga kini dia masih merasakan tubuhnya pegal, lemas, dan perih pada bagian pribadinya.
Cio tertawa kecil melihat tingkah kesal istrinya yang menggemaskan. Dia segera turun, lalu membuka pintu untuk Khanza. Keduanya melangkah menuju butik sambil bergandengan tangan.
Khanza terkejut saat masuk ke dalam. Dia mendapat sambutan surprise Anniversary dari Ara, Rafa dan staf butik. Ruangan butik tampak terhias indah di setiap sudut. Ada kue ulang tahun pernikahan mereka, foto dirinya dengan Cio yang terhias indah bersama anak anak mereka. Khanza tercengang, sedih dan haru. Dia tersenyum bahagia. Dia menoleh pada suaminya yang tampak tersenyum manis. Pantas saja sikap suaminya tidak biasa sejak sejak kemarin, terlebih semalam. Sangat romantis, manis dan begitu memanjakannya.
Khanza menoleh pada suaminya yang tampak telah memegang setangkai bunga dan kue kecil berbentuk love tertera 18 tahun pernikahan mereka.
"Happy wedding Anniversary sayang. Terima kasih telah menemaniku sampai sejauh ini. Semoga kita di persatu kan sampai di surga nanti. Aku mencintaimu, selalu dan selamanya mencintaimu." ucap Cio penuh cinta. Dia menyerahkan bunga dan kue ke tangan Khanza.
Khanza semakin terharu. Dia menatap suaminya dengan mata berkaca-kaca. Dia benar-benar lupa dengan pernikahan mereka. Karena terlalu memikirkan Rara.
"Maaf, aku lupa dengan hari spesial kita. Selamat hari ulang tahun pernikahan. Aku juga berdoa semoga Allah satukan kita sampai di surganya nanti. Aku mencintaimu, sangat mencintaimu." keduanya menatap penuh cinta. Cio mengecup kening dan bibir Khanza beberapa kali, kemudian memeluknya.
Semua yang berada di ruang itu terharu dan ikut bahagia.
__ADS_1
"Selamat ulang tahun pernikahan ya, Doa terbaik mama untuk kalian!" ucap Ara. Dia memeluk dan mencium putra putrinya bergantian.
"Terimakasih Ma, semoga mama dan papa selalu di limpahi kesehatan dan kebahagiaan." ucap Cio dan Khanza.
Rafa menatap mereka dengan penuh kebahagiaan. Tak ada yang di inginkan di dunia, hanya kebahagiaan keluarganya. "Kemari lah sayang." kata Rafa. Dia membuka ke dua tangannya. Khanza segera dan Cio masuk ke pelukan papanya."Aku menyayangi papa." kata Khanza.
"Papa lebih menyayangi mu, menyayangi kalian. Bahagia selalu dalam rumah tangga Kalian." Rafa menepuk bahu Cio pelan dan satu tangannya memeluk khanza.
Selanjutnya manager, staf dan karyawan butik memberi ucapan dan doa pada mereka. Mereka ketularan bahagia orang orang baik ini saat Khanza dan Ara memberi mereka hadiah bebas memilih barang barang branded yang ada di butik. Para pengunjung butik yang ikut memberi doa dan ucapan mendapatkan diskon pembelian hingga 50%.
"Mama punya sesuatu untuk mu." kata Ara beberapa saat kemudian setelah Khanza dan Cio melakukan ritual kecil Anniversary mereka. Saat ini mereka telah berada di ruang kerja Ara. Ara menyerahkan satu paket pakaian syar'i terbaru.
Tentu saja Khanza senang,"Terimakasih Ma!" ucapnya sumringah. Pakaian syar'i hanya ada tiga di dunia. Sederhana, tapi terlihat Elegan dan mewah.
"Cobalah." kata Ara tersenyum.
"Sayang, kita akan launch di restoran mewah. Kau pakai pakaian pemberian mama Ara saja." kata Cio.
"Lunch?" Wajah Khanza mengernyit.
"Pergilah senang senang bersama Kakakmu. Ini hari bahagia kalian." sela Rafa.
Khanza tampak berpikir."Apa aku boleh minta sesuatu pada papa di hari bahagiaku ini?" tanya Khanza.
"Tentu saja sayang. Apapun selama papa mampu." kata Rafa.
Khanza menatap Rafa dan Cio bergantian.
"Benarkah? Kalian janji akan memenuhinya?"
"Tentu saja." jawab kedua pria itu hampir bersamaan.
Ara merangkul pundak Khanza. Entah apa yang di inginkan putrinya ini."Kau mau hadiah apa sayang? Mama pastikan papa dan suami mu akan memenuhinya."
"Untuk kak Cio, Aku akan meminta nanti saja. Aku mau meminta pada papa dulu." kata Khanza.
"Oke....aku pasti akan memenuhi kapan pun kau memintanya." kata Cio sambil tersenyum manis, menyentuh hidung istri sekaligus adik sepupunya ini.
Khanza menoleh menatap wajah Rafa.
"Jujur aku sangat bahagia saat ini. Tapi tetap saja ada yang mengurangi kebahagiaan ku." kata Khanza. Dia berhenti sejenak.
"Aku ingin papa membawa Rara kepadaku saat ini juga. Aku tahu papa bisa melakukannya." kata Khanza sendu."Aku _ sangat merindukan putri ku." mulai sedih.
"Meski papa mengatakan dia baik baik saja, aku tetap khawatir dan tidak tenang selama belum melihatnya." kata Khanza menatap sendu wajah Rafa. Dia mulai terisak.
Mereka terdiam, hanyut sedih ikut merasakan kesedihan Khanza, apalagi melihat Air matanya.
__ADS_1
Cio merangkul pundak istirnya. Melap air mata di pipi istrinya. Lalu menatap Rafa.
"Aku juga meminta hal itu Daddy. Anggap saja sebagai hadiah ulang tahu pernikahan kami! Aku yakin, Daddy tahu keberadaan Rara. Aku sudah mengerahkan seluruh kekuatan dan kekuasaan ku untuk menemukan Putriku, tapi hingga kini aku belum menemukan dirinya. Aku merasa ada yang sengaja menghalangi pencarian ku untuk menemukan Putriku. Aku yakin itu Daddy. Hanya Daddy yang bisa melakukannya." kata Cio.
"Dan terakhir, Aku mendapatkan informasi dari orang orang ku, kalau Rara berada di Australia." kata Cio.
Khanza terperangah, selanjutnya tersenyum sumringah."Jadi Rara berada di sini?" menatap Cio dan Rafa bergantian.
"Pa, benar Rara berada di Australia? Dia berada di kota mana? Apakah di Sidney?" Ara memegang tangan Rafa.
"Aku yakin papa tahu keberadaannya selama dia pergi. Papa juga tahu Rara berada di sini kan? Aku mohon pertemukan aku dengan putri ku. Perlihatkan dia padaku." pinta Khanza pada Rafa kembali sedih.
"Ma, bawa putriku ke padaku." beralih meminta pada Ara.
Ara jadi terenyuh. Dia menoleh pada suaminya.
Rafa menarik nafas panjang dan membuang perlahan. Dia menoleh ke samping memberi Isyarat pada Wisnu. Memberi isyarat meminta sesuatu.
"Untuk saat ini, papa tidak bisa membawa Rara ke pada kalian!" katanya kemudian.
"Kenapa?" tanya Cio dan Khanza kompak, dahi mengerut.
"Rara sedang sibuk!"
"Sibuk? Apa Rara bekerja?" tanya Cio.
"Tidak. Rara sedang menyelesaikan sesuatu. Dan itu menyangkut kebahagiaan hidupnya." jelas Rafa menatap mereka.
Wajah Khanza dan Cio mengernyit. Semakin bingung dengan perkataan Rafa.
"Papa sudah pernah mengatakan pada kalian, kaburnya Rara karena sedang mencari kebahagiaannya, yaitu cintanya. Kalian pernah muda, jadi pernah merasakan cinta di masa muda. Rara telah tumbuh menjadi gadis remaja. Dan dia pun tengah mengalami masa itu, Jatuh Cinta untuk pertama kali." kata Rafa kembali.
Cio terperangah"Maksud Daddy, Rara sedang jatuh cinta dan sedang mengejar pria yang di cintainya itu?"
"Rara Gadis pintar dan cantik. Banyak pria yang menyukainya. Dia punya segalanya. Kenapa harus mengejar pria itu?" sambung Cio tidak mengerti.
"Rara bukan mengejar pria itu. Tapi Allah yang sedang mendekatkan keduanya dengan caranya." kali ini Ara yang bicara.
Khanza dan Cio lagi lagi terperangah.
Cio tersenyum sinis tak percaya."Seharusnya pria itu yang mencari dan mendekati Rara. Bukan malah sebaliknya. Putri ku seperti wanita yang tidak punya harga diri dan tidak akan laku saja." katanya mulai emosi.
"Rara yang menemukan pria itu terlebih dahulu. Maka dari itu Rara pergi mencarinya dengan kabur dari rumah. Dia tidak mengatakan pada kalian karena dia tahu kau pasti tidak akan setuju. Dan pada akhirnya dia menemukan pria itu. Keduanya bertemu. Seperti itu cara Tuhan mendekat kan keduanya." pungkas Rafa.
Lagi lagi Cio dan Khanza di buat bingung.
Bersambung.
__ADS_1