
...Happy Reading....
Rachel memasuki butik di dampingi asistennya. Dia kesal harus pergi sendiri. Seharusnya Rangga menemaninya untuk belanja keperluan pernikahan. Karena ini pernikahan mereka.
"Selamat siang Ibu Rachel." Sapa manager butik dengan ramah. Karena dia tahu siapa pengunjung kali ini, tentunya bukan orang sembarangan dan telah membuat janji dari beberapa hari yang lalu.
Rachel hanya tersenyum tipis, dia membuka kaca matanya. Dengan sombongnya berjalan angkuh dan melenggang, dada membusung ke depan.
"Berikan aku gaun pernikahan yang paling indah dan mewah. Aku ingin tampil cantik, anggun seperti seorang ratu di pernikahan ku. Sehingga tak ada satupun mata berpaling dariku."
"Silahkan Buk. Kami punya barang branded keluaran terbaru. Kualitasnya sangat bagus. Hanya ada dua di dunia ini. Khusus kami siapkan untuk Anda."
Manager segera memperlihatkan gaun pengantin warna putih dan kuning keemasan yang terpasang pada patung manekin. Bertabur mutiara dan emas.
"Aku pilih keduanya." kata Rachel setelah memilih dan memilah beberapa saat. Dia tertarik dengan kedua gaun itu karena tidak mau tersaingi dan ada orang lain memakainya. Dan untuk selanjutnya dia memilih beberapa gaun sebagai ganti.
Untuk jas pengantin Rangga di sesuaikan dengan warna gaun pengantinnya. Rangga tinggal mencobanya saja. Dia tidak perlu meminta pendapat Rangga karena sudah pasti pria itu tidak akan memberikan ide dan saran.
"Aku mau melihat lihat barang lainnya. Kau siapkan pesanan ku."
"Baik Bu."
Sementara May baru tiba di butik. Sekali lagi dia membutuhkan masker untuk menutupi wajahnya. Karena Butik ini kepunyaan neneknya, Nesa Saputri Artawijaya, ibu dari Cio, papanya. May mengetahui lewat banner wajah Nesa pada banner dan juga logo perusahaan kakeknya, Rafa. Karena setiap usaha bisnis keluarga berada dalam naungan perusahaan kakeknya.
May tidak menyangka alamat butik yang di berikan Sean adalah milik Nesa, neneknya.
Tidak sembarang orang bisa masuk ke butik ini. Hanya khusus orang berkelas saja dan memiliki uang banyak. Karena semua harga barang barang di butik ini bernilai fantastis, dan bertaraf internasional. Karena banyaknya peminat dan pelanggan di butik ini, harus melakukan reservasi terlebih dulu untuk datang berkunjung.
Setelah melapor pada bagian resepsionis, May di izinkan masuk begitu mengatakan Nama Sean Gefarin. Sebelumnya Sean telah melakukan reservasi untuk berkunjung. Karena terlambat datang, dia menghubungi bagian resepsionis untuk menerima dan melayani May.
"Sembari menunggu tuan Sean, silahkan anda melihat lihat dulu barang yang anda inginkan."
"Ah, tidak. Aku akan mau menunggu Tuan Sean dulu." tolak May halus.
"Baik Nona, kalau begitu silahkan masuk ke dalam!" kata resepsionis.
May mengangguk, Dia segera memakai masker khawatir ada orang yang mengenalnya. May berjalan masuk ke dalam dengan di antar seorang resepsionis.
May duduk di sofa. Petugas resepsionis segera kembali ke depan.
May melihat lihat sekelilingnya.
"Banyak juga pengunjung di butik nenek." gumamnya. Ini untuk pertama kalinya May menginjakkan kaki ke butik Nesa di Australia.
May membaca majalah style wanita untuk mengusir kebosanannya.
Sudah beberapa lembar di baca. Minuman pun telah habis. Sesekali May melirik ke pintu masuk untuk melihat kedatangan Sean. Tapi pria itu belum juga muncul. Ponselnya juga tidak berbunyi. May bangkit berdiri, pinggangnya mulai tidak nyaman duduk terlalu lama. Dia meluruskan tubuhnya merenggangkan tubuhnya yang kaku.
__ADS_1
Mata May tertarik melihat satu stel perhiasan yang terpajang pada etalase. May segera mendekat dan melihat perhiasan itu dengan kagum.
Tak jauh dari tempatnya, Rachel memperhatikannya dengan cermat. Sosok itu menarik perhatiannya, terasa di kenal. Rachel berjalan mendekati May untuk memastikan dugaannya benar.
"Kau?" kata Rachel setelah memastikan bahwa gadis itu adalah May.
May menoleh kepada suara yang sepertinya ditunjukkan pada dirinya. Matanya membulat melihat siapa orang yang menegurnya
"Ibu Rachel?" tidak menyangka akan bertemu dengan mantan atasannya di tempat ini.
Rachel tersenyum miring."Ternyata aku tidak salah duga, ini benar kamu. Aku bisa mengenal mu meski kau menutupi wajah mu dengan masker. Sedang apa kau di sini?" kata Rachel sinis dan tatapan menyelidik. Dia heran kenapa gadis miskin ini, dari kalangan kelas bawah bisa berada di butik ternama dan berkelas internasional ini. Semua barang barang di sini barang barang mewah dan branded. Dan yang lebih membuatnya heran, kenapa gadis ini bisa berada di Australia? Setahunya telah kembali ke Bandung sesuai laporan orang suruhannya.
Dia sengaja merencanakan pernikahan di lakukan di Australia untuk menghindari gangguan dari segala bentuk apa pun yang mengganggu dan membatalkan pernikahannya dengan Rangga, terutama dari gadis ini. Tapi gadis ini malah berada di sini.
Sejak kapan gadis ini berada di Sidney? Dia datang bersama siapa? Apa dia mengikuti diam diam? Atau Apa Rangga tahu keberadaannya di sini? Datang secara terpisah agar tidak ketahuan olehnya? Apa ini rencana dan permainan Rangga? Apa mereka bekerja sama? Pikirnya. Segala asumsi buruk merasuk di pikirkan Rachel.
"Brengsek." maki Rachel merasa di bohongi dan permainkan oleh Rangga dan May.
Timbul niat jahat untuk mempermalukan gadis ini.
"Mau apa bekas OB rendah dan miskin berada di tempat ini?"
Hati May memanas mendengar penghinaan itu. Kenapa wanita ini terus menerus mengganggu hidupnya. Padahal dia sudah menjauh dari kehidupan Rangga agar tidak menjadi pengganggu hubungan mereka.
May tidak mau terpancing dan terbawa emosi. Dia tidak mau mencari masalah karena tak ingin menjadi pusat perhatian yang nantinya akan membuat statusnya terbongkar. Karena ini butik neneknya.
"Saya mau belanja!" kata May bersikap tenang dan santai.
"Iya, maaf bu permisi!" terus menghindar untuk tidak mau mencari masalah. May kembali melihat perhiasan yang tadi.
Rachel seakan tak puas untuk bisa terus merendahkan dan mempermalukan May.
"Gembel miskin seperti kamu memangnya punya uang? Apa kamu sanggup membeli barang barang mewah di sini? Untuk makan saja kamu susah!" hina Rachel tertawa geli.
Darah May kembali berdesir panas mendengar hinaan itu.
"Atau jangan-jangan kamu ingin mencuri?" tuduh Rachel dengan suara meninggi, cukup menarik perhatian beberapa pengunjung.
May geram. Dadanya bergemuruh kuat menahan kemarahan. Kedua matanya berkaca. Tapi dia tetap berusaha untuk tenang untuk tidak membalas wanita ini. Hanya kedua tangannya terkepal kuat untuk menekan kemarahan.
"Heh kalian..... hati-hati.... Jangan sampai ada barang yang hilang di sini." Rachel kembali berkoteh memperingatkan para pegawai butik dan pengunjung.
May tercengang. Dia tidak menyangka Rachel akan menuduhnya seburuk itu.
"Apa yang anda katakan? Jaga mulut anda bu. Seenaknya ibu menuduh saya seperti itu. Saya memang orang susah. Tapi saya tidak pernah mencuri. Saya bukan pencuri." membela diri.
Rachel menemukan rencana licik. Dia tidak mau melepaskan May begitu saja. Terngiang kembali di dalam pikirannya penghianatan yang dilakukan Rangga dan gadis ini. Hatinya kembali hatinya sakit, dan benci.
__ADS_1
Rachel segera menahan pergelangan tangan May ketika gadis itu hendak melangkah. Dan dengan gerakan cepat tanpa di ketahui oleh mata siapa pun, dia memasukkan sebuah cincin berlian ke dalam tas May yang retsletingnya sedikit terbuka.
"Mau kemana? Kamu sudah mencuri mau kabur?" katanya dengan seringai tajam.
May tercengang"Apa yang ibu katakan? Saya tidak mencuri. Jangan menuduh orang sembarangan. Lepas, saya tidak mencuri!" May menghempaskan pegangan tangan Rachel.
"Mana ada pencuri mau mengaku?" Rachel tertawa keras semakin mengundang perhatian orang orang. Dia kembali mencekal tangan May."Jangan kabur kamu!"
"Lepas Bu, saya bukan pencuri."
Manager segera datang setelah ada laporan dari pegawainya ada ribut ribut. Dia berada di belakang sedang mengepak gaun pesanan Rachel.
"Ada apa bu?"
"Ada pencuri di butik kamu! Kenapa kalian biarkan gembel ini sampai bisa masuk ke dalam sini? Keberadaannya membuat ku tidak nyaman." cemooh Rachel.
"Pencuri?" manager terkejut.
"Iya, dia orangnya." menunjuk May dengan sinis.
May geleng kepala."Tidak Bu, saya tidak mencuri." May berharap orang orang yang menatapnya percaya pada perkataannya. Tapi orang orang itu malah menatap tajam menelanjanginya. Seolah dia memang mencuri. Bahkan ada di antara mereka berbisik bisik membenarkan perkataan Rachel.
"Sebaiknya lapor kan saja pada pihak keamanan." kata salah seorang di antara mereka yang merupakan asisten Rachel.
May kembali tercengang.
"Iya betul, aku juga curiga jangan-jangan dia memang mencuri." kata yang lainnya.
"Benar. Lihat saja dia menutup wajahnya dengan masker. Dia pasti ingin menyembunyikan wajahnya." Timpal yang lain.
"Benar, panggil pihak keamanan. Meresahkan saja! Kita harus waspada."
"Dasar pencuri, geledah tubuhnya."
"Geledah tasnya." teriak asisten Rachel mempengaruhi.
Dia dan Rachel saling melirik dengan senyuman licik.
May jadi ketakutan. Semua orang kini ikutan menuduh dan tidak percaya padanya. Entah bagaimana lagi dia membuktikan kalau dia bukan mencuri.
May tiba tiba teringat Sean. Ya....dia harus mengatakan nama Sean. Tapi sebelum sempat bicara.... Salah seorang memegang tangannya.
"Pegang dia, geledah seluruh tubuhnya."
seorang wanita meraba sekujur tubuh, yang merupakan asisten Rachel. Memeriksa setiap jengkal tubuhnya dari atas bawah tanpa terlewati.
"Apa yang kalian lakukan? Aku bukan pencuri!" pekik May. Berusaha melepaskan diri. Dia mulai menangis. Sungguh harga dirinya begitu terhina di perlakukan seperti ini.
__ADS_1
"Aku bukan pencuri, Hiks... Hiks! Lepas, lepas!" May meronta.
Bersambung.