
Keesokan harinya, Ranum bersemangat bangun pagi. Dadanya berdegup lebih cepat saat ia mengenakan seragam putih abu-abunya untuk pertama kali.
Dilihatnya di cermin, bayangannya balik membalas senyuman tipisnya. Ada rasa bangga tersendiri saat Ranum melihat cerminan dirinya berseragamkan putih abu-abu.
Ranum merasa sudah lebih besar. Ia merasa kian dekat untuk disebut dewasa.
"Deudeudeuh yang lagi bercermin. Lama amat yak. Padahal cuma nyisir rambut belah tengah kuncir kuda doang. Lamanya ampun-ampunan. Misi lah misi. Miss cantik mau nyiapin diri dulu. Geser lah Kak!"
Godaan Kania membangunkan Ranum dari lamunan singkatnya. Sedikit merasa malu, ia bergegas ke meja makan dan menghabiskan sarapannya.
Saat sarapan itulah ia melihat penampilan adiknya.
'cantik'. Puji Ranum dalam hati.
Kania tampak jauh lebih dewasa. Kemarin ia memangkas rambutnya lagi menjadi sepanjang bahu. Rambut cokelatnya yang lurus sebahu kini membentuk sempurna wajah nya yang oval.
"Kenapa lihatin aja Kak? Terpesona yaa.." kelakar Kania.
"Lagi ngagumin. Betapa cantiknya adikku ini," Jawab jujur Ranum.
Kania yang tak menduga jawaban Ranum akan seperti itu malah jadi diam tersipu malu.
Melihat gelagat adiknya itu, Ranum tersenyum. Dalam hatinya ia membatin,
'jauh di dalam dirimu, dek. Kamu masih adik kecilnya Kakak. Se dewasa apapun penampilan kamu.'
Selesai sarapan, Ranum dan Kania berangkat sekolah setelah sebelumnya berpamitan pada Ayah dan Bunda.
Melihat kedua putrinya yang beranjak dewasa, ada rasa haru tersendiri di dalam hati Nida. Tak terasa lima belas tahun berlalu begitu cepat.
"Kapan kita akan memberitahunya tentang latar belakang dia sesungguhnya, Nid?" Tanya Nanda tiba-tiba.
Nida terdiam. Ia tahu bahwa kebenaran tentang asal-usul putrinya harus Nanda dan Nida sampaikan kepada mereka. Walaupun mereka sudah membesarkannya sedari kecil dengan kasih sayang yang tulus dan sebenarnya, putri mereka berhak untuk mengetahui siapa sebenarnya orangtua mereka.
Sedikit rasa cemas menelisik ke dalam hati Nida.
"Bagaimana jika ia marah pada kita, Yah? Bagaimana jika ia memilih untuk mencari orangtuanya dibanding tinggal dengan kita? Nida sudah terlanjur sayang, Yah.. Nida sudah menganggapnya seperti putri Nida sendiri," Lirih suara Nida.
Nanda tertegun selama sejenak. Lalu di raihnya bahu Nida untuk kemudian memeluknya erat-erat. Dicium ujung kepala istri terkasihnya itu penuh cinta. Lalu ia berkata,
"Anak-anak memiliki jalan pikirannya sendiri, Sayang. Kita tak akan bisa memaksakan kehendak kita pada mereka. Tapi aku yakin dengan kedua putri kita. Mereka amat menyayangimu sebagai Bundanya,"
"Jadi kamu harus percaya pada dirimu sendiri ya, Sayang. Yakin, kalau dalam hati anak-anak, kamu memiliki tempat yang teramat istimewa dan takkan tergantikan. Kamu adalah ibu yang cemerlang, Sayang.."
Perlahan Nida terisak pelan.
"Begitukah, Nan?" Lirih Nida bertanya.
"Hei.." panggil Nanda sambil merengkuh wajah Nida dengan kedua tangannya. Ditatapnya dalam-dalam wajah Nida sembari tersenyum.
"Coba lihat kamu sekarang. Bagaimana jika anak-anak melihatmu seperti ini. Mereka pasti gak akan percaya kalau ternyata Bundanya tuh agak cengeng," Goda Nanda.
Mendengar godaan Nanda, Nida meringis tertawa.
"Udah. Jangan nangis ah. Serahkan semuanya ke Allah ya. Allah Maha Tahu yang terbaik untuk kita semua. Bagaimanapun juga anak-anak adalah titipan dari-Nya. Jadi jika memang Allah menghendaki anak-anak untuk pergi, itu adalah ketetapan-Nya yang terbaik. Tawakal ya, Sayang.."
Nida perlahan mengangguk. Direbahkannya kembali kepalanya pada dada bidang Nanda.
__ADS_1
Selama enam belas tahun ini, lelaki inilah satu-satunya bahu yang menjadi tempat ia bersandar di kala lelah. Juga satu-satunya teman untuknya berkeluh kesah.
Sejatinya memang seperti itulah seharusnya pasangan hidup. Menjadi pelengkap bagi ketidaksempurnaan diri. Menjadi pakaian yang menutupi aib dan segala kekurangan diri.
Juga bisa menjadi layaknya akar bagi pohon, sehingga mampu menopang dan menegakkannya untuk bisa tetap berdiri.
***
Sampai di sekolah, jarum jam baru menunjukkan pukul tujuh kurang lima belas menit.
Ranum dan Kania memang sengaja datang lebih awal di hari pertama sekolah ini, agar mereka bisa mendapatkan posisi tempat duduk yang diidamkan.
Ketika mereka sampai di depan kelas Ranum, keduanya berpisah. Ranum masuk ke dalam kelas, sementara Kania menuju kelasnya di ruangan yang terletak di ujung koridor.
Begitu masuk, Ranum mendapati sudah ada empat orang yang datang dan menempati kursi idaman masing-masing. Ranum lalu melirik posisi idamannya, bangku ke dua di baris terpinggir sebelah kanan yang dekat dengan pintu keluar masuk kelas.
Posisi bangku itu memang selalu menjadi incaran Ranum sedari SMP oleh sebab dua alasan.
Pertama, posisinya jarang mendapat perhatian para guru. Kedua, ia senang bersandar ke dinding. Jadilah akhirnya hampir setiap tahun Ranum mengincar posisi bangku ini.
Ketika sudah mendapatkan posisi bangku yang diincarnya, Ranum pun duduk di sana. Ia lalu menyembunyikan wajahnya di balik tangan yang bersedekap di atas meja dan memejamkan mata. Ia memilih untuk tidur.
***
"Ranum? Num?"
Samar-samar Ranum mendengar suara seorang gadis memanggilnya. Ia sontak terbangun dan mendapati di sampingnya sudah ada Tika yang tersenyum manis padanya.
"Ranum beneran tidur? Ihihii.. habis begadang kah?" Tanya Tika.
Secara spontan Ranum menyentuh ujung bibirnya. Saat disadarinya tak ada jejak tidur yang ditinggalkannya, ia merasa malu karena ketahuan tidur oleh Tika.
Ranum pun mengangguk malu. Dan segera beranjak keluar kelas.
Saat itu hampir semua bangku sudah diduduki oleh teman-teman barunya. Ranum tak menyangka kalau ia bisa ketiduran di hari pertamanya.
'Kebiasaan jelek nih. Kalo mata merem aja, ketiduran melulu,' keluh Ranum dalam hati.
Ranum bergegas ke kamar mandi perempuan yang terletak tak jauh dari ruang kelasnya berada. Ia mencuci mukanya dan merapihkan kembali kemejanya yang terlihat kusut di beberapa bagian.
Setelah penampilannya di cermin sudah cukup oke, Ranum pun kembali ke ruang kelasnya. Tak lama saat ia sudah duduk, bel tanda masuk pun berbunyi.
***
Tak lama setelah bel berbunyi, seorang guru pria masuk ke dalam kelas. Ia nampak masih cukup muda. Berumur sekitar 30-an.
Ia memperkenalkan diri sebagai Pak Amin, guru PAI (Pendidikan Agama Islam) sekaligus wali kelas X.1, kelas Ranum.
Pak Amin menjelaskan perihal pentingnya menjaga tata tertib sekolah serta menjalankan tugas dan kewajiban sebagai murid. Beliau kemudian mengambil buku absensi dan memanggil nama siswa kelas X.1 satu persatu.
Saat Pak amin memanggil nama siswa, siswa tersebut diminta untuk menyebutkan nama, alamat, serta hobinya. Ini membuat siswa tersebut menjadi pusat perhatian ke dua puluh sembilan temannya yang lain yang ada di kelas.
Sedikit jenuh dengan perkenalan yang bersifat monoton, pikiran Ranum sesekali melayang ke video musik terbaru dari artis Lazuli Nun, penyanyi wanita yang diidolakannya.
'Ku mencintai mu.. tapi tak dicinta..
Ku menyayangimu.. tapi tak kau rasa..
__ADS_1
Ku merasa apa yang kau rasa..
Bahwa ku tak berhak mencintai,
Biarlah ku sendiri..'
benak Ranum menyanyi sendiri.
"Adnan--"
Spontan saja Ranum berdiri saat nama belakangnya dipanggil.
"Nama saya Ranum Binna Adnan. Alamat di Kampung Jati. Hobi bernyanyi," Ujar Ranum dengan suara lantang, lalu kembali duduk.
"--Nasution. Mana Adnan Nasution?" Lanjut Pak Amin memanggil.
BRAK. Dunia serasa runtuh menimpa Ranum. Ia merasa teramat malu.
'Ternyata yang dipanggil bukan aku! Tapi Adnan Nasution!' gerutu Ranum. Di sampingnya, Tika terkikik pelan.
'Duh! Malu bangett!!' jerit hati Ranum.
"Kamu Adnan Nasution?" Kembali terdengar suara Pak amin.
Ranum pun memberanikan diri mengangkat wajahnya untuk melihat pemilik nama Adnan selain dirinya.
"Ya, pak. Saya Adnan Nasution. Alamat di Cicere. Hobi main gitar," ucap seorang siswa berperawakan tinggi kurus.
"Ooh.. kamu tinggal di Cicere? Deket itu sama rumah saya di Logak. Kapan-kapan mampir ya."
"Beres, Pak."
"Ngomong-ngomong kamu kenal sama neng--siapa tadi ya? Coba kamu yang tadi berdiri duluan. Siapa namanya?" Tanya Pak Amin tiba-tiba menatap Ranum.
'Habis deh aku! Malu habiis..!' jerit Ranum.
"Ranum, Pak. Ranum Binna Adnan," lirih suara Ranum.
"Iya. Kenal sama Ranum?"
"Enggak, Pak."
"Oo..kirain kenal. Kali aja buat namanya janjian gitu. Biar samaan," Kelakar Pak Amin..
Spontan seisi kelas ramai oleh suara siswa ber 'ciee-ciee'. Membuat wajah Ranum makin merah semerah kepiting rebus.
"Oke. Sudah. Sudah. Kita lanjut lagi ya!" Ujar Pak Amin.
Kemudian acara perkenalan pun berlanjut. Meninggalkan Ranum yang masih merutuki kejadian memalukan yang menimpanya tadi.
Matanya lalu menangkap lagi sosok Adnan yang duduk di bangku paling depan baris tengah. Dan seolah tahu kalau ada yang melihatnya, Adnan pun balas melihatnya.
Ranum terkejut dan menundukkan kepala. Tapi sebelum menunduk, ia sempat melihat cengiran lebar Adnan lengkap dengan gingsul di gigi sebelah kanannya.
'Dia kan!? Cowo yang waktu itu nguping obrolanku ama Kania, terus ngetawain aku!'
Hati Ranum tiba-tiba mendidih. Tak lagi oleh rasa malu, melainkan oleh rasa kesal yang ditujukannya pada sosok yang baru diketahuinya bernama Adnan.
__ADS_1
Nampaknya takdir mulai merajut kisah di antara keduanya sedari awal mereka berjumpa. Saat pertama kali mereka merenda hari mereka dalam seragam putih abu-abu.
***